Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris

Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris
Chapter 106 - Ternyata Tidak Sekompetitif Itu


__ADS_3

Sebuah bola menghantam mistar gawang. Reza yang bersama rekan-rekannya saat ini sedang berlatih demi lanjutan Liga Super Slowakia serta Liga Champions yang beriringan.


1 September nanti lanjutan pekan kedelapan dari Liga Super Slowakia menghadapi Spartak Trnava.


Dua hari selanjutnya, tepatnya 3 September pertandingan kedua AS Trenčín pada fase grup C Liga Champions menghadapi Bayern.


Cukup padat minggu pertandingan kali ini, maka mereka harus terus me-recovery stamina agar terus terjaga hingga harinya.


Meski begitu, Pelatih Marian memiliki strategi khusus, demi target diam-diam miliknya, yaitu juara Liga Champions yang terlihat angan-angan itu, pelatih akan melakukan rotasi pemain.


Pada pekan kedelapan liga Slowakia, para staf pelatih bersepakat untuk menurunkan lapis kedua tim. Apapun itu, mereka masih yakin paling tidak menahan seri Spartak Trnava dengan tim lapis kedua.


Hal yang patut diperhatikan bagi mereka adalah tujuan musim ini. Liga Super Slowakia harus dijuarai, ditambah Piala Slowakia untuk melengkapi gelar lokal.


Setelahnya, tujuan diam-diam Pelatih Marian adalah menjuarai Liga Champions yang memang sebenarnya terlihat nampak mustahil ketika timnya berada di grup neraka.


Namun, dia mendapatkan solusinya. Reza akan menjadi kartu truf miliknya, dia pun langsung sekaligus mengeluarkannya saat menghadapi Barca sehingga mengejutkan banyak pihak.


“Ayo! Tendang lagi!”


Demi hal yang nampak angan-angan itu, Pelatih Marian akan melatih sekuat tenaga anak didiknya, jikalau dia tak lolos setelah kalah dari Bayern dan Milan nantinya, dia akan mengundurkan diri sebagai pelatih.


Kepercayaan dirinya sebenarnya tinggi karena ada dua pemain Asia yang memang kompeten dan terlihat kualitasnya. Bahkan Reza yang lebih muda dari Witan sendiri sudah semakin lebih bersinar daripada Witan.


“Pindahkan bola, fokus!”


Pelatih Marian tak henti-hentinya terus meneriakkan arahan-arahan miliknya yang memang cukup ampuh demi kekuatan timnya.


Berlatih dan terus berlatih, hingga sehari sebelum pekan kedelapan liga Slowakia, dia memberi waktu istirahat penuh bagi anak didiknya.


Keesokan harinya, tim lapis kedua saat bertanding nyaris mengalami kekalahan, beruntungnya hasil tendangan penalti pemain Spartak Trnava membentur tiang gawang dan keluar.


Gawang AS Trenčín lapis kedua selamat, dan mereka berhasil menahan serangan Spartak Trnava meski harus menahan imbang mereka.


Setelahnya, tim inti pun langsung berangkat menuju Jerman yang dimana mereka akan melakukan pertandingan tandang ke markas Bayern Munch.


“Setelah sampai, kita akan recovery, tetap berlatih tetapi pikirkan stamina kalian!”


Reza menggerakkan seluruh persendiannya sebelum memasuki pesawat. Dia sedikit bernostalgia, yang di mana dalam masa karirnya terus melakukan perjalanan panjang.


“Agen Bryan … ingat saat kau mendampingiku pertama kali ke sini.” Reza bermonolog.


“Cepatlah, Za! Naiki tangga itu, atau kita akan dimarahi!” bentak Witan karena melihat Reza yang melamun.


***


Allianz-arena, Munchen, Jerman.


Stadion yang sangat megah itu telah dipenuhi oleh para pendukung, tua muda hingga anak kecil sangat antusias demi menonton laga yang bisa dibilang akan panas nantinya.


Orang-orang sudah mengetahuinya ketika Barca dipecundangi, orang-orang sudah mengetahui seberapa kokoh kiper asal Asia itu.


Grroooo!

__ADS_1


Gemuruh stadion benar-benar terdengar, seluruh tribun terisi oleh fans Bayern Munch.


Tak terlihat sekelompok kecil pun dari fans AS Trenčín, meski begitu disela-sela antara fans Bayern jelas akan ada fans AS Trenčín yang terselip.


Reza saat ini sedang bersiap di bangku pemain, dia menyentuh bangku sejenak dan langsung berlari hingga ke sisi lapangan.


Ini adalah persiapan, pertandingan sendiri masih dimulai sekitar lima belas menit lagi.


“Waahh … Antusias sekali, ya?”


HUUU!


Gema suara merendahkan benar-benar sangat jelas terdengar. Reza yang mendengar dan melihat tingkah fans Bayern hanya merasa canggung.


“Yaa … dimaklumi sih, mereka bakalan jengkel dengan saya karena … Begitulah,” gumam Reza sembari memasuki lorong stadion untuk menuju ruang ganti.


Di dalam ruang ganti, teriakkan keras tiba-tiba terdengar sesaat Reza membuka pintu itu.


“Eh?”


“Tangkap kucing itu!!!” teriak Witan yang langsung menerjang Reza.


Bersamaan dari itu, beberapa rekan lain juga turut mengikuti pengejaran Witan.


“Pelatih?”


“Tangan saya dicakar, padahal saya cuma membawanya ketika menemukannya di toko merchandise!” ketus Pelatih Marian.


Insiden kecil itu membuat petugas stadion sendiri kelimpungan. Kucing hitam itu sangat gesit, segesit belut di dalam lumpur, hingga tak bisa ditangkap.


“Oke, kita akan membahas kecil taktik yang akan saya pakai. Masih sama, dengan beberapa pergeseran posisi sedikit,” jelas Pelatih Marian setelah bekas cakarannya diperban.


***


Para pemain menjadi lebih antusias di lapangan. Mereka saat ini telah berada pada posisi masing-masing, koin tos dimenangkan oleh Bainovic yang membuat AS Trenčín memilih bola pertama.


Emeka saat itu, mengumpan ke belakang kepada Stojsavljevic yang saat itu langsung melakukan overlap dan langsung melambungkan bola ketika dia sampai di tengah lapangan.


Bola hasil umpan lambungnya, sedang dicoba dikejar oleh Witan yang berduel dengan Sadio M.


Sadio yang saat itu melakukan sedikit pergerakan, duel fisik di antara kedua pemain terjadi hingga Witan kehilangan keseimbangan dan terjatuh.


Sadio sempat melirik sejenak wasit Robert dari Inggris, tak ada indikasi pelanggaran dan dia pun langsung terus bergerak.


Transisi pertahanan AS Trenčín pun mengagetkan para pemain Bayern.


Mereka tak menyangka transisi pertahanan secepat itu. Sebagian dari pemain AS Trenčín telah bersiap di garis pertahanan membuat Sadio mengurungkan niatnya untuk terus maju.


Dia lantas memberi bola kepada Goretka.


Goretka yang saat itu agak mundur ke belakang melakukan pemindaian area sejenak.


Memberi bola kepada Musiala, lantas Musiala melakukan pergerakan sebelum dihadang oleh Emeka.

__ADS_1


Bola hasil chip di atas kepada Emeka diterima dengan baik oleh Gnabary di sisi kanan penyerangan.


“Di sana! Hadang dia, bentar lagi overlap!” seru Reza kepada Kozlovsky.


Tebakan, bukan, penglihatan Reza terbukti dan membuar Kozlovsky lagi-lagi berhasil menghadang pergerakan dari posisi miliknya.


Kozlovsky yang mendapatkan bola, mencoba menurunkan sejenak intensitas permainan. Terlalu cepat, membuat mereka kelimpungan nantinya.


Pergerakan dari Reza mulai menunjukkan tanda aneh. Dia kembali menunjukkan pergerakan maju ke depan, meninggalkan gawang tanpa kawalan.


“Jangan dulu! Reza! Mundur!” Pelatih Marian meski sudah agak terbiasa dengan sikap Reza, dia masih khawatir.


Namun, bagi Reza, kali ini dia sangat benar dan memiliki kesempatan untuk melewati hadangan pemain Bayern.


Mathys, pemain berusia 17 tahun yang sama seperti Reza, dengan mudahnya dilewati oleh Reza saat itu.


Mathys yang tak menyadarinya, dia hanya dapat melirik sejenak pergerakan Reza.


“Hai, sepantaran,” ucap Reza yang kemudian langsung berakselerasi.


Reza mendapatkan bola dari Pires saat itu, beruntungnya kendali atas bola masih lebih baik setelah menerima umpan cukup buruk.


“Shh …”


Pergerakan yang lihai, tubuhnya bermanuver indah di antara para pemain Bayern. Goretka yang menyadarinya, itu setelah Reza benar-benar melewatinya.


Transisi pertahanan mereka lambat sebab Reza yang mengagetkan mereka. Meski telah diberitahu akan bahaya kiper Asia itu, tetapi nampaknya sejak awal sikap meremehkan telah terlihat sehingga melupakan peringatan itu.


Pelatih kepala Bayern, Julian, terlihat frustasi melihat anak asuhnya yang kelimpungan hanya dari seorang pemain saja.


Reza yang dari gawangnya, sudah mendekati kotak penalti Bayern.


“Ambil ini, dan terobosan ke depan!”


Bukan ucapan, itu hanya terjemahan dari isyarat tangannya kepada Witan.


Witan mengerti, chemistry keduanya yang paling baik di klub, maka dari itu mereka jelas dari mengerti.


Witan mengembalikan bola ketika Reza selesai berduel dengan bek Bayern, Pavart.


Pavart terjatuh karena kehilangan keseimbangan, wasit tak menggubrisnya dan menerus pertandingan yang mana Reza sudah berhadapan dengan kiper terbaik pada masanya.


Sekarang, kiper terbaik itu telah menjadi sisa-sisa masa jayanya.


Newer, kiper asal Jerman yang berkontribusi membuat Jerman juara Piala Dunia 2014.


“Newer! Terima ini!”


Bum!


Bola ditendang, membentuk jalur peluru keras, membuat Newer tersentak kaget akan kekuatan tendangan Reza.


“Ini … Tendangan yang telah … Kutingkatkan!” teriak Reza.

__ADS_1


Bola berotasi sangat cepat, hingga tanpa sadar, bola telah menghantam jala gawang dari Newer. Newer sendiri hanya berdiri dalam posisi terkejut.


“Ternyata tidak sekompetitif itu.” Reza bermonolog.


__ADS_2