
Pada suatu pagi yang cerah dengan matahari begitu terik menghantam ubun-ubun kepala.
Reza dan rekan-rekannya hanya bisa duduk di bawah pohon rindang untuk berteduh sejenak sembari menenggak minuman yang menyegarkan dahaga.
“Sebentar malam, ya, malam!” seru Reza sambil berdiri begitu bersemangat. “Mantan penjajah akan kita habisi, katakan pada mereka bahwa cakar dan paruh Garuda lebih tajam daripada senjata modern mereka!”
“Stadion Gillette di Boston akan menjadi saksi, ketika Garuda Asia mencoba merebut tiket ke final!” sahut Marselino begitu antusias.
Sikap ambisius dan begitu semangat tentu harus ada pada setiap pribadi, tanpa sikap ini, bisa saja hidup kalian akan hampa tanpa ambisi dan semangat yang kalian tuju kelak.
Ambisi dalam meraih sesuatu terkadang harus benar-benar diperhatikan, apa yang dilakukan apakah sudah benar atau salah, semuanya harus diperhatikan sebelum menjadi sebuah ambisi yang gagal total, semangat juga diperlukan agar perjalanan kalian dalam mencapai tujuan itu dipenuhi senyuman ceria.
Reza saat ini menatap cerahnya langit, sudut bibirnya naik membentuk seringaian tipis yang hanya beberapa rekannya saja yang sempat melihatnya.
Haikal, Sananta dan juga Witan benar-benar melihat betapa merindingnya mereka ketika menyadari senyuman seringaian tipis dari Reza.
“Oke, semuanya, saya berharap sebentar sore kita harus benar-benar siap!” ucap Pelatih Tae-yong yang menghampiri para pemain Indonesia yang saat ini sedang berteduh.
Di tangan Pelatih Tae-yong sendiri ada segelas kopi dingin, betapa panasnya udara benar-benar membuat orang yang tak ingin minum minuman dingin harus segera dilakukannya.
Pelatih Tae-yong pergi meninggalkan mereka dan menuju gedung staf kepelatihan. Sebagai hal yang umum, lingkungan asrama pelatihan yang digunakan oleh Indonesia adalah yang tercanggih di Amerika Serikat saat ini.
Berbagai alat yang menunjang latihan sangat lengkap, membuat Indonesia serasa sebagai tamu VVIP yang harus segera dilayani dengan kemewahan.
Namun, fasilitas di asrama pelatihan tim nasional lainnya pun tak kalah canggih.
Kembali kepada Pelatih Tae-yong yang saat ini duduk bersama rekan-rekan pelatihnya.
“Pelatih, Belanda seperti tidak begitu bagus akhir-akhir ini, mereka memiliki keberuntungan besar karena berhasil menang tipis 1-0 dari Argentina!” ucap Pelatih Bima. “Itupun gol bunuh diri dari Emiliano.”
“Kita tidak boleh meremehkan mereka, ada baiknya kita meletakkan formasi yang menunjang kejutan dari para pemain Belanda,” sahut Pelatih Indra.
__ADS_1
Di sini, demi piala dunia, federasi sepakbola Indonesia mengumpulkan pelatih-pelatih berbakat, hal ini membuat pelatih-pelatih veteran berkumpul saling bertukar pikiran.
“Saya tahu, tapi … Mari kita ambil jalan tengah,” balas Pelatih Tae-yong.
Rekan pelatih lainnya saling melirik, menunggu jawaban pasti yang akan diberikan oleh Pelatih Tae-yong.
“Seperti bukan saya sebenarnya, tapi ini jalan satu-satunya untuk jalan tengah. Manfaatkan berlian yang kita miliki,” ungkap Pelatih Tae-yong.
“Reza? Bolehlah, asalkan berlian mentahan ini harus didukung oleh alat-alat canggih yang membuat kemurniannya lebih terjamin!” jelas Pelatih Bima. “Tanpa dukungan rekan lapangan, Reza sebenarnya juga akan kesulitan!”
Pembahasan mereka tak berhenti sampai disitu, tetapi daripada melihat hal yang sangat membosankan, saat ini terjadi kekacauan di luar gedung.
Prang!
“Woy, Reza, vas bunga pajangan itu pasti mahal!” seru Witan cukup kesal.
“Ya, maaf, bola hasil tinjuanku tadi malah nyasar ke sini,” lirih Reza sambil menggaruk kepala bagian belakangnya.
Lupakan, sepertinya kekacauan itu akan mudah diatasi oleh Reza, mari kita lebih baik menyingkat waktu langsung ke jam di mana pertandingan akan segera dimulai.
20 Juli 2026, Stadion Gillette, Boston, Amerika Serikat.
Stadion yang berkapasitas sebesar 70.000 penonton itu telah dipadati oleh lautan merah dan juga lautan oranye, benar-benar warna yang nyaris menyerupai, tetapi sangat kontras di malam yang dingin dan kelam ini.
Teriakan dari para pendukung saling sahut-sahutan, tak ada yang ingin mengalah, benar-benar antusias tiada batas membuat stadion ini menjadi sangat bising.
Sementara itu, para pemain Indonesia saat ini sedang bersiap di ruang ganti, mereka memakai sepatu dan menyiapkan pelindung tulang kering serta sebagainya, tentu tak ada yang ingin cedera.
Reza sendiri memakai sarung tangan favoritnya yang berwarna hitam dengan garis putih, sarung tangan versi dua dari sponsor produk, dengan fitur lebih ringan, nyaris tanpa hambatan udara saat bermanuver.
“Semuanya, siap!” seru Pelatih Tae-yong.
__ADS_1
Para pemain Indonesia berteriak, Reza yang sudah dalam kondisi fit sekarang semakin bersemangat.
“Oke, selangkah lagi menuju puncak dunia! Konflik bagaimana nantinya, entah Korea Selatan atau Jepang, tapi rasanya final piala dunia itu tidak akan terlalu berkesan,” gumam Reza. “Ya, bagaimana pun, final tetaplah final!”
Berlaga di stadion Gillette, sementara itu pertandingan semifinal lain antara Korea Selatan dan Jepang dilangsungkan di stadion Hard Rock, Miami, Amerika Serikat.
Dua pertandingan yang dilangsungkan dalam waktu sama, menjadikan dua pilihan akan menonton pertandingan antara Indonesia dan Belanda atau Korea Selatan dan Jepang.
Namun, tentu Ultras Garuda tetap setia, duduk di stadion di mana Indonesia bertanding.
Dua kesebelasan memasuki lapangan, harum semerbak rumput di tambah rintik hujan di tengah musim panas membuat suasana malam ini terasa berat, entah membuat mengantuk atau tidak sama sekali, tak ada yang peduli tentang rintik hujan ini.
Semuanya peduli tentang laga Indonesia menghadapi “Mantan” penjajah di masa lalu, ini menjadikan pertandingan yang akan menentukan apakah cakar dan paruh Garuda bisa mengoyak jala gawang dari Belanda.
Tak ada yang tahu, saat iniz Reza dan Noopert sedang saling berhadapan, kiper dan kiper, sebagai kapten tim yang akan melakukan koin tos bersama wasit.
“Hai, selamat bertanding, ya, mantan penjajah, hihihi,” ucap Reza dengan nada candaan, benar-benar tengil dengan senyuman seringaian tipisnya.
Noopert beruntungnya tidak terpancing, sedangkan wasit asal Prancis hanya bisa tertegun, lagi pula negara kebangsaannya juga adalah mantan penjajah, tetapi tak selama Belanda.
“Oke, yang sportif, sportif dan sportif!” seru wasit bernama Henry Dennant.
Reza dan Noopert menganggukkan kepalanya, bola kick-off berada pada Belanda yang membuat Reza sedikit bergumam tentang sesuatu.
“Semifinal yang entah mudah atau tidak, saya tidak peduli, jalani pertandingan seperti biasa!”
Reza saat ini telah bersiap di bawah mistar gawang, di depannya ada Haikal, Kakang dan juga Arhan yang setia dan begitu solid menjaga kedalaman pertahanan.
Kick-off dimulai dari kaki Depay yang langsung memundurkan bola ke belakang, kepada De Jong yang bersiap melepaskan tendangan lambung ke sisi kanan pertahanan Indonesia, atau sisi kiri sayap mereka.
Di sana, ada Gakpo yang berlari begitu cepat, tetapi tak begitu mudah karena langsung dikawal oleh Marselino yang diplot sebagai pemain bebas.
__ADS_1
Marselino melakukan sapuan bola keluar sehingga menghasilkan lemparan ke dalam.
“Oke, semuanya, sesuai arahan! Tenang dan … Maju layaknya para pejuang di masa lampau!” pekik Reza dengan begitu lantang.