
Berhari-hari Reza terus melakukan kegiatannya seperti biasa.
Bangun tidur, sarapan bersama ibunya, belajar di kelas dan segera latihan saat sore hari. Itu adalah jadwal Reza selama berada di SMA Harapan tanpa kompromi.
Reza yang sehari-harinya mencoba kembali beraktivitas seperti biasa dan tak terlalu memikirkan beberapa perasaan afeksinya saat itu. Dia mencoba menghindarinya terlebih dahulu dan mengejar karirnya.
Hingga tak terasa sudah tanggal 30 Oktober. Hari Minggu ini adalah laga kesembilan belas bagi timnya. Laga ini adalah berakhirnya fase pertama sebuah liga.
Kemudian fase kedua akan mereka jalani selama 19 pekan lagi ke depan. Tentunya kembali melawan tim yang sama, tetapi hanya berbeda kandang dan tandang saja. Jika sebelumnya SMA Harapan melawan suatu tim di kandang tim itu, maka laga kedua mereka beberapa pekan ke depan nantinya akan dilangsung di kandang sendiri.
Reza saat ini sedang berada di ruang ganti bersama teman setimnya. Karena ini laga kandang, jadi mereka tak terlalu memedulikan akomodasi yang jauh dan membuat fisik kelelahan.
SMKN 7 Ampana adalah tim yang akan mereka jamu. Tim yang saat ini tenggelam di posisi ketujuh belas harus melawan tim yang tak pernah kalah. Banyak orang yang mulai memprediksinya, bahwa SMA Harapan sudah pasti menang.
Namun, satu hal yang harus mereka ingat. Bola itu bundar, dia bisa saja membuat kejutan. Tim yang kuat, tiba-tiba saja dikalahkan tim yang berada di zona rendah. Itu … memalukan sekaligus sebuah kejutan.
“Hei, Reza? Seminggu ini saya melihatmu agak tidak bersemangat,” ucap pelatih Sofyan khawatir dengan punggawa timnya.
Reza menggeleng ringan kemudian menjawabnya. “Tak apa, pelatih! Saya baik-baik saja, hanya beberapa hal pribadi sedikit kepikiran. Seperti–”
“Kau harus profesional, jangan urusan pribadi menjadi beban timmu,” sela pelatih Berto yang kemudian diikuti anggukan pelatih Sofyan.
Reza kemudian ditatap semua temannya. Rasa penasaran terlihat jelas di sepasang mata mereka.
“Ah! Akan aku ingat itu!”
“Huh? Aku? Anak Palu kita sudah menjadi anak Jakarta, hahaha!” celetuk Bagus seraya merangkul Reza.
Seisi ruangan tertawa begitu menyenangkan. Tanpa tahu, ruang ganti tim lain sedang serius menerangkan kembali taktik yang akan mereka gunakan untuk melawan kedigdayaan tim SMA Harapan.
Tak terasa pertandingan pun segera dimulai. Para pemain sudah bersiap di lapangan setelah sesi koin tos dan sesi foto berlangsung.
Reza yang dipercaya sebagai kapten tim memenangkan koin tos untuk siapa yang memegang bola pertama. Alhasil timnya lah yang akan kick-off.
__ADS_1
“Rapatkan pertahanan! Komunikasi diperlukan!” teriak Reza yang sontak ketiga pemain bertahan pun mengangguk tegas.
Pemain bertahan membentuk formasi sejajar dengan tiga bek. Ada Arkhan yang kembali dipercaya menemani Amin dan juga Rafli. Adi Satria dan juga Haikal sementara dicadangkan menemani seorang pemain senior kelas 12.
Kemudian lini tengah diperkuat oleh nama-nama yang langganan dalam starting line-up SMA Harapan. Ada Jaka yang mendampingi Teguh, kemudian di sisi kanan dan kiri masih ada si kembar kita, Danar dan Dennis.
Di lini depan sendiri ada sedikit pergeseran posisi. Bagus yang awalnya sebagai pivot dan ujung tombak, digeser ke kanan digantikan posisinya oleh Cipto yang ke tengah seperti awal saat tes tim masuk dahulu. Kemudian di sisi kiri ada Angga Pratama.
Dia dimainkan kembali sejak tiga pertandingan belakang tak dimainkan dan hanya menjadi penghangat bangku cadangan. Angga sendiri menjadi seorang winger forward, berbeda dengan posisi alaminya yang sebagai gelandang tengah.
***
Kembali ke Reza dia saat ini menatap bola yang terus bergulir tanpa henti di antara kaki-kaki pemain SMKN 7 Ampana. Tak satupun dari mereka mengendalikan bola lebih dari 5 detik.
Umpan satu-dua, cepat dan akurat itu benar-benar memporak-porandakan lini tengah SMA Harapan yang diperkuat oleh gelandang-gelandang kreatif.
“Kak, di sana!” teriak Teguh.
Dia mengarahkan Dennis untuk sedikit merapat ke tengah karena dalam pengamatannya, lini tengah cukup kosong dan bisa saja dijadikan peluang bagi lawan.
“Hei, performa mereka sedikit menurun, bukan?” tanya pelatih Sofyan kepada pelatih Berto.
“Saya rasa mereka mulai kehabisan bensin deh, kemenangan delapan belas kali membuat mereka sedikit santai. Jadi mereka benar-benar menganggap remeh beberapa lawan!”
“Berto! Kau tahu? Mereka ini bersungguh-sungguh, lihat dari raut wajah mereka yang penuh ketegasan tanpa memandang remeh lawan,” jawab pelatih Sofyan mencoba membela anak didiknya itu.
‘Kau akan tahu, Sofyan! Kau akan tahu,’ batin pelatih Berto sambil menatap lekat wajah pelatih Sofyan yang menatap fokus ke lapangan.
Percakapan kedua pelatih ini sedikit membuat beberapa pemain di bangku cadangan merasa tak nyaman. Lagipula awalnya ada secercah kesombongan di dalam hati mereka, jadi mereka merasa telah berada di atas angin.
Tang!
Tiba-tiba saja bola menghantam mistar gawang milik Reza. Seisi tribun menghela nafas lega karena tak membuahkan gol. Beberapa pendukung SMKN 7 Ampana sendiri menyayangkan peluang yang gagal.
__ADS_1
“Woy! Jangan membuka ruang tembak!” keluh Reza sambil menatap Arkhan yang sempat lengah.
Seorang pemain lawan mampu menembak dari luar kotak penalti karena Arkhan yang membuka ruang tembak. Beruntungnya hanya mengenai mistar gawang dan keluar lapangan.
Reza sendiri sempat mati langkah dan terlambat bereaksi. Bayangkan jika itu membuahkan gol, dia hanya akan menangkap angin saja.
Reza kemudian melakukan tendangan gawang. Dia melambungkan bola hingga melewati garis tengah lapangan dan terus melesat hingga mendekati kotak penalti lawan.
Bola kemudian menukik jatuh tepat di kotak penalti SMKN 7 Ampana. Bola pantulan membuat kiper menjadi mati langkah, beruntungnya lagi bola itu bergerak sedikit ke atas mistar gawang sehingga tak membuahkan gol.
“Lah! Bisa jauh gitu,” gumam Reza dengan tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya.
Pertandingan terus menerus berjalan. Serangan dari kedua tim membuat cukup seru untuk dinikmati. Apalagi tak jarang SMA Harapan yang biasanya menekan malah menjadi yang tertekan, jadi ini adalah sebuah pertandingan yang membuat kedigdayaan SMA Harapan sedikit merosot.
“Itu! Lakukan man marking!” seru Reza sembari menunjuk.
Dia terus mengarahkan teman-temannya akan tak menghasilkan peluang bagi tim lawan. Setidaknya itu usaha yang bagus, tetapi takdir berkata lain.
Reza harus kebobolan dengan sebuah kesalahan fatal dari Arkhan.
Awalnya pemain SMKN 7 Ampana melakukan gerakan menyusuri sisi lapangan kanan. Dia terus menggiring bola dengan pengawalan dari Amin.
Kemudian gerakan menusuk dari pemain itu langsung memasuki kotak penalti, melewati Amin dan memberikan umpan cut back. Umpan itu bukannya disambar oleh rekan setimnya, melainkan disambar oleh Arkhan yang membentur Rafli dan bola bergeser sehingga membuat Reza mati langkah.
Reza tak menyalahkan Rafli yang terkejut tiba-tiba saja bola menyambar dirinya dan membelokkan arah, hanya saja sambaran pertama dari Arkhan adalah titik bencana pertama. Dia benar-benar kesal, benar-benar mereka telah goyah dan terlena akan hasil delapan belas kali kemenangan.
Arkhan yang mentalnya pun jatuh, dia tertunduk lesu saat memasuki lorong pemain saat laga babak pertama berakhir dengan keunggulan sementara 1-0 bagi SMKN 7 Ampana.
Di ruang ganti pemain SMA Harapan.
Pelatih Sofyan khawatir terhadap anak didiknya yang terlena, menjadi murka. Dia bahkan membanting papan taktik portabel miliknya hingga hancur beberapa bagian.
“Terlalu terlena kalian!”
__ADS_1
Pelatih Berto sendiri tak berani menyanggah Sofyan yang sedang murka. Dia sudah berpengalaman menangani tim SMA Harapan sebagai asisten pelatih sejak 10 tahun lalu. Dia sudah tahu watak pelatih Sofyan yang baik jika anak didiknya disiplin dan kompeten, tetapi dia akan murka saat anak didiknya membuat kesalahan fatal apalagi gol bunuh diri!