
Hingga malam hari, Reza terus menungg panggilan telepon. Dia juga sesekali mulai mengatur berkas-berkasnya untuk pengurusan KTP dan juga paspor jikalau dia memang akan dikontrak.
Walaupun tak jadi dikontrak oleh klub Slovakia tersebut, tetapi ada baiknya Reza tetap harus mengurus KTP dan juga pembuatan paspor karena pastinya kelak dia akan keluar dari habitatnya.
“Bu, apakah Eca bisa gemilang di sana? Eca rasa banyak pesaing, lagipula posisi kiper sangat penting tentunya dan akan seketat mungkin dalam perekrutan,” ucap Reza yang saat ini sedang makan bersama ibunya.
Ibunya melepas sendok yang dia pegang, kemudian dia menatap lekat anaknya tersebut. Dia merasa bahwa anak yang seperti kemarin baru dia gendong dan menyanyikan lagu Bintang Kecil, sekarang sudah tumbuh besar dengan segala impian yang tak kalah besar.
“Eca … berjuanglah untuk itu. Ibu merasa masa depanmu akan cerah, kata hati seorang ibu sangat besar, bukan?”
Reza menganggukkan kepalanya sambil kembali menyuapkan sesendok makanan di mulutnya. Dia kembali makan dengan tenang bersama ibunya.
***
Keesokan harinya, sekolah kembali dimulai. Saat Reza sedang bersiap-siap memakai seragam, sebuah notifikasi di smartphone nya berbunyi.
Notifikasi alamat email dari seseorang. Di sana tertulis alamat pengirim, yaitu Pencari Bakat AS Trencin dalam bahasa Inggris.
Reza membulatkan matanya. Alamat email itu tentunya diperuntukkan untuknya, dia pun segera membukanya dan membacanya dengan pelan untuk memahami setiap kata bahasa Inggris.
“Hmmm … Tuan ini mau bertemu denganku di sebuah restoran dekat pusat kota?”
Reza segera memberitahukan pada ibunya. Sontak ibunya segera menghubungi guru di sekolah karena pertemuan antara Pencari Bakat AS Trencin dan Reza tepat pukul 09.00.
“Halo, Pak Armyn. Apa bisa anak saya atas nama Reza Kusuma untuk izin hari ini? Dia … akan mengejar impiannya,” ucap Citra di panggilan telepon.
“Baik, Bu. Lagipula anak ibu nilainya aman-aman aja kok, jadi saya izinkan. Semoga beruntung mengejar impiannya!”
Setelah itu, Reza dengan berpakaian rapi. Dia memakai kemeja putih dengan rompi kain hitam dan celana kain hitam yang sangat cocok dengan ciri fisik tubuhnya yang memang tampan dan tinggi tegap.
“Bertemu Pencari Bakat harus serapi ini, hahah!” kata Citra membanggakan dirinya dengan pilihan outfit itu.
‘Ini outfitmu, Bram,’ batin Citra sedikit tersenyum nanar.
__ADS_1
“Cocok juga, baru tahu Eca ada setelan seperti ini!”
Reza pun diantar ibunya yang meminta izin masuk lebih lambat di kantornya. Beberapa menit menggunakan motor, keduanya sampai di sebuah restoran pusat kota.
Restoran ini terlihat biasa saja di pagi hari, karena hari Senin ini adalah hari sibuk. Hanya beberapa pelanggan yang datang untuk sekedar menikmati Wi-Fi dengan memesan kopi hangat saja sebagai kedok.
“Bu, sepertinya itu,” bisik Reza kepada ibunya.
Keduanya pun sampai di sebuah meja yang memiliki tiga buah kursi. Meja melingkar ini sudah terisi beberapa hiasan dan juga menu makanan.
Di sebuah kursi, seorang pria paruh baya bertubuh agak besar. Wajahnya terlihat ramah dengan janggut tipisnya. Bola matanya memiliki warna kecoklatan.
Pria ini memakai kemeja putih dengan blazer hitam dan juga celana kain hitam. Di depannya, tepat di atas meja ada sebuah map merah tua yang misterius.
“Sepertinya kalian?” Dengan bahasa Inggris fasih, dia menyapa lebih dahulu.
Reza tersenyum, ibunya menyapa balik pria itu. Reza dan Citra pun duduk berhadapan dengan pria yang katanya Pencari Bakat AS Trencin.
“Perkenalkan, saya Radko Sobìslav, Pencari Bakat AS Trencin. Saya sudah melihat performamu di Kualifikasi Piala Asia U-17 2023 dan Youth Tournament. Kurasa kemampuanmu mampu menjadi pengganti kiper kami yang telah tua, Vozinha. Ya, walaupun ada satu kiper muda lainnya.
Ditemani segelas tinggi cappucino membuat ketiga sama-sama tenang dan saling menilai sesama.
“Witan? Jadi … Kak Witan merekomendasikanku yang baginya saya adalah orang asing. Dia seharusnya pasti melihat penampilanku di Indonesia U17,” jawab Reza dengan bahasa Inggris yang terbilang masih kaku tapi cukup baik.
Memang, Reza sendiri mampu memahami beberapa bahasa asing. Terutama bahasa Inggris. Walaupun ketika dia buntu, dia akan melihat buku nota kecilnya untuk mencari kosa kata yang sulit.
Kembali ke pembahasan. Radko sendiri sudah memberikan map berwarna merah tua itu. Di dalamnya, Citra membaca dengan begitu teliti tentang kontrak pemuda usia muda yang bisa menjadi masa depan klub.
Kontrak dengan bahasa Indonesia, kemudian bahasa Inggris dan juga bahasa Slowakia itu sendiri.
Citra membacanya dengan teliti dan cermat. “Apa tak begitu cepat, lagipula transfer musim dingin Januari nanti?”
“Justru itu. Kami akan mengamankan dia. Menurut beberapa jaringan kami, beberapa klub asal negara ini juga meminatinya, kan? Performa gemilangnya menjadikan tawaran terbuka baginya!
__ADS_1
Status anak kamu saat ini adalah pemain dengan prospek bagus! Maka kami tak ingin menyia-nyiakan peluang terbukanya saat konferensi pers beberapa waktu lalu.”
Dengan penjelasan bahasa Inggris yang runtut, Citra memahaminya. Reza sendiri agak kebingungan dengan kosa kata yang banyak berubah dari dialek asli pria asal Slowakia ini.
“Bagaimana Reza?” Citra membisikkan kepada Reza.
“Boleh merokok?” tunjuk Radko di sebuah tiang restoran bahwa area bebas merokok.
“Ya, tak apa,” balas Citra.
Saat ini Reza dan Citra membahas masalah kontrak pemuda yang akan segera disahkan. Lagipula pemindahan kekuasaan baru dimulai saat bursa transfer musim dingin Januari tahun depan nanti.
“Eca rasa harus mencari pengalaman di Benua Biru, lebih tepatnya Eropa!”
Akhirnya keputusan yang bulat dari ibu dan anak telah tercipta. Perjalanan karir Reza akan dimulai dari sekarang untuk maju ke depannya dan tak tertahan terus di Youth Tournament.
‘Sepertinya kita tidak bisa menjadi rival lapangan, Kak Fajar,’ batin Reza.
Awalnya saat tawaran Persik Kediri. Dia berpikir pasti akan bertemu dengan Fajar dan menjadi rival lapangan dalam 90 menit pertandingan. Namun, sepertinya itu akan sangat sulit terjadi karena Reza dengan takdir beruntungnya mendapatkan tawaran dari klub Eropa.
“Sepertinya saya harus belajar banyak bahasa Inggris dan saya harus mengontrak agen Bryan segera, Agen dengan lisensi resmi Asia!” gumam Reza berpikir ke depan.
“Oke. Dengan akomodasi pergi dan biaya tempat tinggal sederhana untuk anak saya. Menurut pemahaman saya seperti itu, kan? Apakah mampu?”
Radko tak mempermasalahkannya, kemudian dengan menghubungi pihak klub atas negosiasi dan segala hal yang akan menjadikan Reza pemain termuda di AS Trencin jika negosiasi benar-benar berjalan.
Reza sendiri akan mengikuti beberapa hal penting sebelum benar-benar bisa bergabung dalam tim AS Trencin, seperti tes fisik dan lain sebagainya. Lagipula masih panjang perjalanannya.
“Hmm … nanti akan tes fisik, kemampuan dan beberapa hal lainnya. Itu bakalan panjang,” gumam Reza sambil melihat kertas kontrak yang sudah tercetak.
Kontrak awal bersama tim Pencari Bakat, dan jika pemain itu berhasil memenuhi syarat dari tim inti, maka kontrak profesional benar-benar akan disahkan.
Saat ini kontrak awal bagi Reza bernilai 10.000 Euro. Nilai yang baginya sangat besar, tetapi bagi istilahnya anak ‘bawang’ di klub, itu sangat murah! Hanya setara 164,41 juta rupiah jika dirupiahkan dalam nilai transfer awal. Dengan gaji 840 Euro per bulan atau 210 Euro per minggu.
__ADS_1
Nilai ini akan berubah jika kontrak profesional terjadi. Bisa saja naik atau juga turun.