Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris

Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris
Chapter 37 - Guam (3)


__ADS_3

Reza dan timnya tidak main-main lagi dalam menyelesaikan laga ini.


Pada babak pertama, Indonesia unggul 7-0 secara menakjubkan. 4 gol dicetak oleh Asyura, Kafiatur satu gol, Gilang juga satu gol, kemudian ada Reza satu gol.


7-0 itu membuat siapa saja merasa bosan. Itu karena pembantaian sepihak dari tim Indonesia kepada Guam. Namun, disatu sisi hal itu yang harus dilakukan untuk membuat anak didik pelatih Bima semakin percaya diri.


Apalagi tim Indonesia harus mengemban nama tim yang menjuarai Piala AFF U-16 2022. Dengan alasan itulah pelatih Bima ingin membuat anak didiknya mampu dan bisa dalam turnamen Kualifikasi ini.


Di ruang ganti. Pelatih Bima kembali memberikan arahan yang tak begitu mencolok dan langsung. Pelatih Bima mencoba memberi arahan dengan beberapa kalimat yang sulit dipahami. Dia ingin anak didiknya lah yang memecahkan kalimat sulit tersebut.


“Baiklah, babak kedua. Saya harap tambah gol. Di babak kedua juga, Nabil Asyura dan Achmad Zidan digantikan.


Mereka akan saya rotasi. I Komang naik menggantikan Nabil, kemudian Narendra menggantikan Zidan.


Saya rasa itu cukup. Dimengerti?”


“Siap, dimengerti coach!” Serentak dengan lantang semua pemain.


Reza sendiri hanya menyimak. Dia masih agak gugup sejauh ini. Melakukan pertandingan di depan ribuan bahkan ratusan ribu penonton dari seluruh penjuru tanah air. Pertandingan debutnya di timnas meski hanya kelompok umur.


***


Pertandingan babak kedua kembali dijalankan. Para pemain Indonesia mulai mencoba membangun serangan setelah mereka berhasil mencuri bola.


Pemain Guam yang hanya 10 tersebut benar-benar merasa kesulitan. Apalagi kapten terbaik mereka, Erwin ** harus keluar lebih awal.


Maka dari itu, para pemain Guam mulai sedikit goyah dan kurang fokus dalam menjaga pengendalian bola dan ritme permainan.


Para pemain Indonesia benar-benar leluasa dalam mengontrol bola. Beberapa pelanggaran juga sering terjadi di lapangan tengah karena bola terlalu lama berada di sana. Pelatih Bima dengan lantang menyerukan untuk segera maju.


Para penonton mulai bergemuruh setelah Timnas Indonesia kembali mendekati lini pertahanan Guam. Tak khayal, hampir semua pemain Indonesia telah berada di area kekuasaan Guam.


“Wah! Nampaknya Guam sangat tertekan!” Komentator ahli mulai mengomentari jalannya pertandingan yang berat sebelah.

__ADS_1


Sekarang, Narendra yang sedang memegang bola hanya melirik kanan dan kirinya. Dia melihat rekan-rekannya mulai satu persatu maju. Narendra dengan tegas mengirim bola datar ke arah Gilang yang berlari di sisi kanan.


Gilang yang mendapatkan bola pun segera melakukan gerakan mengecoh kepada pemain Guam yang mendekat. Gilang menggeser bola ke kiri dan langsung menyonteknya ke depan sehingga aliran bola benar-benar melewati pemain Guam yang mati langkah.


Para pemain Indonesia seakan bermain bersama anak-anak yang baru belajar bermain sepakbola, tetapi mereka juga tak meremehkan lawan.


Gilang berhasil melewati pemain Guam, sekarang dia melirik ke kiri. Di tengah, depan kotak penalti ada I Komang yang berdiri bebas tanpa pengawalan.


Gilang dengan cepat memberikan umpan mendatar kepada I Komang yang dengan segera mengambil ancang-ancang menendang. I Komang memiliki satu dua sentuhan pertama sebelum menendang bola ke arah bawah sudut gawang.


Bola yang mendatar melewati para pemain Guam. Mereka mencoba menghalau bola, tetapi bola sudah bergerak lebih cepat sehingga mereka hanya menendang rumput saja.


Bola bergulir begitu cepat, kiper merentangkan tangan kanannya sembari merebahkan tubuhnya begitu fleksibel. Namun, refleks yang terlambat membuat bola harus masuk kembali ke gawangnya.


8-0 pada menit ke 47. Para pemain Indonesia langsung mengambil bola dan tidak terlalu berselebrasi seperti awal-awal. Mereka tak ingin begitu menyombongkan diri, mereka masih punya hati.


Bola sudah berada di titik tengah lapangan. Para pemain Guam kembali melakukan kick-off.


Kapten Guam yang baru, Levi Solomon Berg dengan bergegas maju. Rekan-rekannya juga mulai saling umpan satu-dua dengan lihai dan membuat para pemain Indonesia kesulitan.


“Jaga dia!” seru Iqbal yang saat ini sedang menjaga posisinya.


“Merapat!” tegas Reza sembari menunjuk.


Merasa situasi berbahaya, Reza kemudian memasang fokus tinggi miliknya. Dia tak ingin kebobolan, juga dia ingin segera menunjukkan kemampuannya dalam mengawal gawang.


Levi Solomon mendapatkan bola, dia menatap rekan setimnya untuk segera maju memborbardir Indonesia memakai semangat juang terakhir mereka.


Levi menyusuri sisi kanan lapangan. Dia kali ini dikawal langsung oleh Rizdjar yang begitu fokus dalam menjaga kedalaman pertahanan.


Levi dengan cerdik memberikan umpan kepada rekan di sampingnya dan dia segera berlari melewati Rizdjar. Bola juga segera kembali mendatanginya.


“Wah! Nampaknya Guam mulai bangkit!” Komentator mulai bersemangat, akhirnya dia bisa melihat Reza menyelamatkan gawangnya.

__ADS_1


Levi yang melewati Rizdjar tak menyia-nyiakan kesempatan. Dia melakukan potongan ke dalam atau cutting inside ke arah kotak penalti. Pada bagian mulut kotak penalti, dia segera melesatkan umpan mendatar memotong pertahanan.


Iqbal yang lebih dekat kepada bola mencoba memotong alur bola, tetapi karena bola yang bergulir begitu cepat, alhasil dia tak berhasil dan melewatkannya.


Bola bergulir menuju tengah kotak penalti, di sana sudah ada Samuel Jose yang bersiap melakukan tap in di depan mulut gawang.


Namun, sesosok tubuh yang penuh semangat segera menyergahnya. Alhasil tap in miliknya melenceng dan mengenai tiang gawang.


Bola rebound terjadi, kekacauan di kotak penalti tak terhindarkan. Dari arah kanan, Levi Solomon dengan tekadnya segera mengeluarkan tendangan yang benar-benar keras menurutnya.


Bola melesat membentuk peluru di udara, dentuman tendangan keras itu seakan mortir aktif.


Reza yang melihat tendangan kali ini, dia tersenyum lebar seraya merentangkan kedua tangannya ke depan.


Reza kemudian menunduk dan segera menguatkan ledakan lompatan besar pada kakinya. Dia melompat ke kiri dengan gaya postur menakjubkan.


Bola itu berhasil ditepis dan keluar dari lapangan. Semua penonton menahan napas dalam proses penyelamatan milik Reza, hingga setelah selesai penyelamatan, oksigen terasa menipis akibat rakusnya mereka menarik napas.


“Itu … penyelamatan menakjubkan! Sepertinya kiper Youth Tournament sektor Sulawesi Tengah ini tidak salah dipilih langsung oleh pelatih Bima!” seru komentator begitu bersemangat.


Pelatih Bima sendiri di pinggir lapangan tersenyum lebar. Dia begitu merasa senang telah mendapatkan berlian di tengah padang pasir yang tandus. Sosok masa depan Kiper Legendaris terlihat, itu menurut pengamatannya.


Tendangan penjuru dilangsungkan, Reza keluar dari area kekuasaannya dan segera memetik bola saat masih berada si udara. Tingginya yang telah menyentuh angka 180 cm membuatnya cukup mudah memetik bola di udara.


***


Menit demi menit terus berjalan. Gol demi gol disarangkan oleh para pemain Indonesia. Mereka benar-benar membantai secara sepihak kepada Guam.


Setelah gol I Komang yang kedelapan, 6 gol lagi masih tercipta. Reza juga menambah golnya. Dia menambah dua dari tendangan bebas, sehingga dia mencetak hattrick pertamanya sebagai kiper.


Kemudian Kafiatur juga menambah satu golnya, Figo mencetak gol pertamanya dan Iqbal yang mendapatkan jatah terakhir tersebut.


Pertandingan melawan Guam berakhir 14 gol tanpa balas. Itu juga dikarenakan penampilan Reza yang apik. Dia mampu menyelamatkan gawangnya dari 4 percobaan tendangan Guam. Keempat percobaan itu shoot on target. Jikalau Reza tak menyelamatkannya, maka telur milik Guam pecah menjadi 1 atau lebih.

__ADS_1


__ADS_2