Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris

Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris
Chapter 167 - Perayaan Besar


__ADS_3

Stadion SoFi, Amerika Serikat, saat ini, tim nasional Indonesia sedang menunggu untuk sesi pengangkatan piala dunia mereka.


Ini adalah piala dunia pertama bagi Indonesia, dan juga bagi negara Asia yang akhirnya melepas senyuman bahagia mereka. Jelas satu Asia bangga, akhirnya ada tim dari regional Asia bisa mengangkat piala paling bergengsi dalam dunia sepakbola ini.


Ketika seisi stadion bergemuruh, saat itu juga para pemain Indonesia menaiki panggung yang telah disediakan dengan piala pada tempatnya.


Piala berlapis emas tersebut dengan garis-garis yang menanjak menuju bola dunia pada bagian atas, terlihat kepulauan Indonesia meski sedikit tertutupi bagian garis-garis tangan yang seperti memegang bola dunia.


Semua pemain bersiap, di leher mereka telah digantung medali emas sebagai pemenang piala dunia dan sekarang, kapten tim lah yang akan mengangkat piala dunia sebagai bentuk apresiasi.


Reza maju, dalam hatinya sedikit menggerutu, ‘Berat, nggak sih? Anjir, takut juga.’


Dan, kedua tangannya memegang bagian bawah piala dunia, dengan wajah yang ekspresif dan berseri-seri, inilah momen kebenaran ketika Indonesia mengangkat piala dunia untuk pertama kalinya dalam sejarah sepakbola.


Reza mengangkatnya, begitu meriah dengan ratusan ribu potongan konfeti beterbangan, rekan-rekannya Reza juga melompat-lompat begitu ekspresif, kebahagiaan benar-benar terpatri di wajah mereka tanpa terkecuali.


Reza langsung melompat turun dari panggung, dia segera membawa piala itu bersama rekan-rekannya, menuju pelatih yang sangat berjasa sejauh ini yang telah mendidik mereka hingga sampai saat ini.


“Pelatih!”


Pelatih Tae-yong membuka lebar tangannya, pelukan hangat seluruh pemain, mereka bersuka cita, benar-benar hari yang sangat panjang telah ditutup dengan puncak dunia sepakbola yang jelas dimenangkan oleh Indonesia.


Reza, rekan-rekannya, para staf pelatih berkeliling lapangan sambil membawa piala tersebut, mereka begitu antusias dengan senyuman sangat cerah.


Seisi stadion juga bergemuruh bahagia, tak ada yang tak bahagia, bahkan pendukung Jepang sekalipun mereka jelas bahagia karena tim Asia pertama adalah pemenang piala dunia edisi tahun 2026.


Malam yang panjang di Amerika Serikat, ditutup dengan kebahagiaan, tidur nyenyak adalah yang dipikirkan oleh semua orang di Amerika Serikat bahkan dunia setelah Indonesia memastikan kemenangannya.


Sementara itu, di Indonesia, pagi itu, fenomena ledakan euforia massa benar-benar tak terpikirkan oleh siapapun, teriakan sepanjang jalan yang ekspresif, kebahagiaan itu sangat jelas dari wajah mereka.


Indonesia meledakkan perasaan bahagia, mampu membuat pagi yang terasa dingin itu menjadi sebuah hal yang nampaknya sangat sulit terjadi ke depannya, tergantung bagaimana yang akan terjadi selanjutnya.


Palu, Indonesia.


Kota Palu tak kalah meledakkan euforia kemenangan, mereka turun ke jalan dengan menyanyikan lagu-lagu nasional Indonesia maupun lagu daerah, kesenangan ini jelas ada.


Sementara itu, Citra dan keluarga Vera serta Vera itu sendiri saat ini sedang menangis di rumahnya Citra, perasaan haru sangat jelas dari wajah mereka.

__ADS_1


“Me–Mereka berhasil!” seru Vera.


“Iya! Sepertinya … Sepertinya mimpi kita telah datang!” sahut Citra.


Rasanya ingin pingsan, Citra melemah, itu membuat Melani, suaminya dan juga Vera hanya bisa saling melirik, ini memang situasi yang jelas sulit diterima dengan ketenangan mental, pasti mental banyak orang akan berantakan karena bagaimanapun keajaiban ini akan mengejutkan banyak pihak.


Sementara itu, di Italia, gedung klub Milan, seorang pria yang sedang menatap layar ponsel pintarnya meneteskan air matanya.


“Wah … Dia berhasil,” gumam pria tersebut.


Seisi gedung juga meledak, mereka memiliki satu pemain berbakat yang mampu membawa negaranya memenangi piala dunia.


“Panggil staf administrasi kontrak, kita akan mencoba mempermanenkan Reza!”


“Tidak bisa, Tuan, Reza sangat sulit dibujuk, dia akan segera pindah nantinya!”


“Masih setahun, seharusnya kita segera mengambil keputusan!”


“Baik, Tuan, saya akan usahakan!”


***


Ketika sampai di bandara Soekarno-Hatta, petugas bandara dan kepolisian serta tentara sedikit kelimpungan, bagaimanapun lautan manusia benar-benar memenuhi area luar bandara yang jelas akan menyulitkan para pemain Indonesia dan juga staf pelatihnya untuk bisa keluar bandara.


“Reza!” seru Witan dengan senyuman cerahnya.


“Uh! Kau … Minum?!!” Reza mendorong Witan.


“Ayolah, Za, segelas anggur merah bolehlah,” sahut Witan.


“Sudahlah, terserah kau,” balas Reza cukup kesal karena dia sangat tak suka aroma bahan tersebut.


Mereka saat ini telah mendarat, turun dari pesawat, akhirnya mereka bisa menghirup udara segar kota Jakarta.


“Waahh … Kota polu– ah, Kota Jakarta yang indah!” seru Reza.


“Reza! Ambil nih,” ucap Haikal sembari memberikan tas ransel.

__ADS_1


“Yo! Kita akan berjuang keluar area lapangan, tuh lihat, lautan manusia mau merangsak masuk!” celetuk Reza sambil menggelengkan kepalanya.


“Tangkap, Za, tangkap!”


Reza mendengus ke arah Haikal, “Heh, yakali mereka bola.”


Para pemain Indonesia berjalan santai dengan wajah yang berseri-seri, staf pelatih yang dengan wajah mengantuk cukup berbeda daripada pemain Indonesia.


“Para pelatih bekerja keras,” gumam Reza.


Semuanya memasuki gedung utama bandara, ketika itu, teriakan dan nyanyian dari orang-orang membuat bandara benar-benar riuh dengan lautan manusia.


“Waahh …”


Para pemain Indonesia tak bisa berkata-kata, ini adalah sejenis ekspresi dari rakyat Indonesia yang jelas tak bisa ditahan, betapa mengerikan antusias dari rakyat Indonesia.


“Ayo, lewat pintu yang telah disiapkan TNI-POLRI,” ucap seorang petugas bandara.


Langkah kakinya cepat, maka dari itu para pemain Indonesia langsung mengikutinya dengan melangkahkan kaki cukup cepat, semuanya berjalan cepat sekitar tiga menit hingga sampai di sebuah pintu berwarna coklat.


Ketika pintu itu dibuka, sebuah bus yang cukup besar dengan warna merah dan putih telah menunggu, sopirnya segera berseru, “Ayo, kita harus segera menuju Monumen Nasional, di sana pusat kita merayakannya, juga keliling kota Jakarta!”


Dengan tertawa, semuanya pun segera menaiki bus dan bus itu pun melaju dengan cukup cepat, melewati lautan manusia tanpa dicurigai.


Namun, baru saja dua menit keluar area lapangan, akhirnya bus itu telah diketahui oleh rakyat Indonesia dan segera diikuti sembari menggaungkan nyanyian penuh kebanggaan.


“Merdeka!!! Indonesia pasti jaya!!!”


“Indonesia~ tanah airku, tanah tumpah darahku~”


Semua pemain hanya bisa tersenyum, tak bisa berkata-kata, ini jelas lebih ramai daripada saat mereka menjuarai Piala Asia 2023.


“Besok, kita besok berangkat ke Palu, kita rayakan juga di tanah kelahiran bintang kita!” seru Marselino.


“Ya! Benar, di tanah kelahiran Reza akan kita rayakan juga!” sahut Egy.


“Perayaan besar, ini adalah perayaan besar sebulan penuh, kita coba keliling Indonesia! Kalian minta izin sama klub masing-masing, hahaha!” sahut Witan dengan tawa pecahnya.

__ADS_1


Reza hanya bisa tersenyum lagi dan lagi, dia sudah tak bisa berkata-kata dengan situasi saat ini, rasanya mustahil, tetapi dia sudah alami.


“Ibu … Tunggulah Eca di sana,” gumam Reza sembari meneteskan air mata. “Dan … Apakah Ayah melihat ini?”


__ADS_2