
Penerbangan menuju Kota Palu berlangsung sekitar 2 jam lebih.
Terbang di udara selama 2 jam lagi, kali ini Reza mengeluh bosan. Dia memilih memainkan sebuah tablet yang memang tersedia di pesawat.
“Main bareng, Pak?”
Bryan merasa tertantang dan segera mengambil tablet bagiannya untuk melawan tantangan Reza.
“Yosh! Gim MMORPG yang kusukai akhirnya bisa kumainkan!” seru Reza.
***
Sebuah pesawat Garuda perlahan terbang rendah dan mengeluarkan rodanya. Perlahan, dengan lembut, pesawat menyentuh landasan untuk mendarat.
Dengan ancang-ancang akhiran, pesawat itu pun berhenti dengan sempurna dan segera memarkirkannya di tempat yang tersedia.
Tangga pesawat segera dibawa, para penumpang perlahan turun secara bergilir. Mulai terlihat Reza dan Agen Bryan yang turun.
Agen Bryan terlihat lemah lesu. Seperti tak ada harapan hidup.
“Ka–Kalah sebanyak dua … puluh kali … ha–harga diri …” gumam Agen Bryan.
Reza sendiri hanya tersenyum canggung.
Di dalam gedung bandara, sekelompok orang menunggu dengan merentangkan spanduk bertuliskan Selamat Datang Penjaga!
Mereka semua adalah murid-murid SMA Harapan, khususnya tim sepakbola mereka, juga ada Citra, kemudian beberapa penggemar setia yang memang menunggu kehadiran Reza.
“Reza!” teriak Citra, ibunya Reza yang langsung datang menyergahnya.
Reza pun menerima pelukan kerinduan dari seorang ibu tercinta. Tangis haru terdengar dari keduanya yang membuat ruang bandara cenderung hening dan hanya beberapa penumpang lain yang merekam momen mengharukan itu.
“Selamat datang, Nak! Kamu … sudah bertambah tinggi!”
“Ah! Perasaan ibu saja!”
Keduanya pun berjalan menuju motor kesayangan Citra. Melihat Agen Bryan yang membantu starter motor pun membuat Reza tersenyum tipis.
“Uang itu … kurs Euro ke Rupiah sangat besar! Mungkin tabunganku bisa membelikan ibu motor baru!” gumam Reza memikirkan beberapa hal.
Di otaknya, dia memikirkan uang sejumlah €3780 – Tiga ribu tujuh ratus delapan puluh Euro– yang akan dia konversi setengahnya menjadi Rupiah. Reza merasa itu akan cukup untuk membelikan ibunya motor baru yang lebih bagus.
Reza dan Citra pun menaiki motornya, sementara Reza yang mengendarainya. Untuk murid-murid SMA Harapan dan beberapa penggemar lainnya, mereka pulang dengan wajah yang berseri-seri.
Bagaimana tidak … mereka mendapatkan tanda tangan langsung dari Reza. Sekitar 179 orang yang meminta tanda tangannya. Itu mengapa ketika mengendarai motor, sesekali Reza menggerak-gerakkan jarinya.
Reza pun sampai di rumahnya dengan perasaan senang. Segera masuk ke rumah, mencuci tangan dan kaki, Reza langsung merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidurnya yang selalu rapi dan bersih itu.
“Kasurku!” seru Reza setelah merasakan kenyamanan tiada tara kasur sendiri daripada kasur di asrama.
Citra sendiri saat ini berada di dekat pintu masuk kamar Reza, dia hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan anaknya tersebut, sembari berjalan ke dapur, Citra berkata, “Nak! Mandi kemudian makan nih!”
__ADS_1
***
Siang harinya masih di hari yang sama –Selasa, 25 April 2023– Reza saat ini sedang berlari dengan senang menuju SMA Harapan.
Dia ingin melihat bagaimana keadaan teman-temannya selama beberapa bulan putus kontak. Reza juga kesulitan, karena dia memiliki jadwal padat di klub dan tak sempat saling berhubungan.
Saat sampai di gerbang sekolah, satpam di sana cukup terkejut.
“Wah! Ini nih, kiper yang lagi diperbincang!”
“Ah, Pak Udin bisa aja!”
“Heh! Kamu, 'kan yang main bersama komplotanmu waktu dulu itu di Stadion Celebes?!”
Reza tiba-tiba saja merasa merinding. Dia tak menyangka bahwa satpam yang mendapatkan mereka bermain bola saat itu ada di hadapannya. Terlepas dari semua itu, satpam itu pun hanya memeluk Reza kemudian dilepaskannya.
“Haa … sayang kamu bukan murid sini lagi, kalau masih murid sini, kamu akan mendapatkan hukuman kayak teman-temanmu empat bulan lalu!”
Reza pun akhirnya paham. Saat akhir semester satu, teman-temannya telah mengaku kepada satpam itu dan bertepatan juga hari kepindahan Reza ke Slowakia.
“Eh … itu …”
“Ah, sudahlah! Lupakan, ayo ke dalam!”
Keduanya pun masuk ke dalam sekolah. Menuju langsung ke gedung klub sepakbola yang saat itu seluruh tim bahkan penanggung jawab tim juga berkumpul di aula.
Membuka pintu aula, sontak seisi ruangan terdiam dan langsung berseru lantang.
“Reza!”
Reza langsung dikerumuni oleh rekan setimnya. Reza seperti adonan tepung yang langsung ditekan-tekan dan diguling-gulingkan secara bercanda.
“Nih … kiper terbaik klub saat ini!” Riyandi datang dan langsung menjitak kepala Reza.
“Bukannya kalian harus segera bersiap ujian kelulusan?” tanya Reza.
“Ayolah, saya murid tercerdas di kelas XII-A! Pelajaran itu gampang!”
“Ini … Bagus, murid tercerdas juga! Ha-ha-ha!”
Reza hanya tersenyum seraya menanggapi beberapa dari mereka. Cukup harmonis, tetapi keharmonisan itu akan menghilang pada masanya. Di mana mereka semua akan berpisah untuk menempuh perjalanan yang baru.
“Reza! Kita buat tim kecil berjumlah lima orang dalam tim, saya ingin menjajal kemampuanmu!” Bagus langsung segera ke intinya.
“Hehehe! Sepertinya … lima pemain mengerikan pada masanya sedang dalam keadaan prima!” Pelatih Sofyan menyela di antara mereka.
“Saya, Bintang, Rizal, Bagus, dan Joko akan menjajalmu!” Riyandi langsung bersiap dengan sarung tangannya.
“Inikah … tim mengerikan pada masanya yang harus terpisah karena kesibukan menjelang kelulusan?” ucap Reza agak bingung.
“Riyandi, kiper terbaik sebelum ada Reza; Bintang, bek terbaik klub ini sebelum dia keluar secara sepihak; Rizal, gelandang serang yang memilih fokus ke sekolahnya; Bagus, penyerang yang masih aktif; Joko, rekan berdampingan dengan Bagus yang juga memfokuskan diri ke sekolah!” jelas Pelatih Sofyan. “Mungkin dua orang lain kau tidak pernah lihat, hanya Riyandi, Bagus dan juga Rizal saat masa penerimaan dulu,” lanjut Pelatih Sofyan.
__ADS_1
Akhirnya, Reza menerima tantangan sambutan itu. Timnya sendiri berisikan teman-temannya, seperti Arkhan, Haikal, Teguh, dan Cipto.
Pertandingan kedua tim kecil itu menjadi sorotan beberapa murid di sekolah. Mereka ingin melihat kemampuan Lima Keajaiban sebelum mereka lulus sekolah, sekaligus melihat kemampuan Reza.
“Wah! Reza, semangat!” seru Vera yang sontak Reza menatapnya.
‘Gadis itu … sial, saya jadi te fokus!’ batin Reza.
Pertandingan singkat itu pun dimulai. Pertama-tama, tim Bagus benar-benar mendominasi. Sebelumnya, ukuran lapangan hanya dipakai setengah dari ukuran asli. Bagus kemudian berlari dan melakukan manuver menuju gawang yang dijaga Reza.
Tak boleh dibiarkan, begitu pikiran Arkhan dan Haikal. Reza yang menyadari sesuatu pun, hendak memeringati, tetapi sudah terlambat.
Kombinasi mengerikan antara Joko dan Bagus terjadi. Joko yang bertubuh agak besar dengan rambut cepaknya, wajahnya terlihat tegas. Joko bermanuver indah, melewati Haikal dan segera menerima umpan dari Bagus.
“Heh! Kalian seperti ini? Generasi baru yang … lemah,” celetuk Joko sembari melewati Haikal.
Bola didapatkannya, Joko segera menendang bola itu dengan kuat. Dentuman keras terdengar, jarak yang sangat dekat membuat Reza mau tidak mau harus mengerahkan seluruh tenaganya untuk melakukan gerak refleksnya.
Reza mampu menahan tembakan itu dengan menepisnya sebelum memasuki gawang kecil setinggi dua meter dan lebar tiga meter tersebut.
“Wah … ini, ya?” Tatapan Joko semakin tak terkendali.
“Anak itu … dia tetap gila untuk membobol gawang!” gumam Bagus.
“Hei, Kakak-kakak senior! Kalian tahu, satu hal yang pasti, kalian mungkin akan membobol gawangku jika kombinasi kalian semakin bersatu!” Reza jelas memprovokasi.
Bintang yang berada dekat dengan Riyandi, dengan cepat berlari ke depan dan meninggalkan pertahanan yang hanya dijaga oleh Riyandi.
“Nah … kita empat siap bertempur!”
Bola diumpan kepada Haikal. Haikal mencoba memberikan bola itu kepada Cipto yang agak ke depan, tetapi tiba-tiba saja Rizal melakukan intersep gemilang.
“Terlambat sedetik!” ucap Rizal, tubuhnya cukup tinggi dengan rambut yang agak panjang menutupi telinga, matanya berwarna coklat kehitaman.
Rizal pun segera memberi bola jauh kepada Bagus. Melakukan duel bersama Arkhan, Bagus berhasil melewatinya dengan mudah.
“Argh! Kenapa, ya? Rasanya berbeda …” gumam Reza.
Tangannya bergerak cepat, melakukan tepisan tanda bergerak dari tempat. Tangannya menepis bola jauh keluar lapangan.
***
“Haa … haa … haa! Mereka berlima … monster tim!” keluh Haikal dan yang lainnya saat ini terbaring di tanah.
Reza sendiri berdiri dengan sempoyongan. Tangannya gemetar hebat. Tiga puluh tendangan tepat sasaran, semuanya diselamatkan dengan apik, tetapi harus dibayar dengan stamina yang hampir habis.
“Waahh! Kiper gila! Kiper gila! Kiper gila! Tiga belas tendangan tepat sasaranku ditahan terus!” seru Joko.
“Nah … sepertinya kau sudah berevolusi menjadi anakan kiper terbaik sesuai impianmu,” celetuk Bagus.
“Anakan, ya? Berarti saya harus lebih meningkatkan kemampuanku!”
__ADS_1
Pertandingan itu pun berakhir dan mereka semua berkumpul dengan begitu senang untuk menyambut Reza yang kembali ke tanah Kaili.
Namun, jelas keesokan harinya Reza harus pergi kembali menuju Bali dalam rangka Pemusatan Latihan 4 hari dari usulan Pelatih Bima.