Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris

Sistem Sepakbola : Kiper Legendaris
Chapter 92 - Musuh dari Asia Tenggara, Thailand.


__ADS_3

Takdir suatu makhluk ditentukan oleh dirinya sendiri. Ribuan, bahkan ratusan juta hingga miliaran makhluk hidup mencoba mencari takdir yang menurutnya terbaik dan memiliki akhir yang bahagia.


Seorang pemuda asal Indonesia, memiliki profesi sebagai atlet sepakbola, tepatnya seorang penjaga gawang –Kiper– yang perlahan tapi pasti takdir buruknya mulai tergantikan dengan takdir yang lebih baik lagi.


Memakai suatu bantuan dari yang bersangkutan untuk memajukan takdirmu adalah hal yang lumrah, seorang koruptor membayar hakim, dia bebas.


Sekarang, Reza yang menggunakan sistem yang entah darimana dan belum terkuak identitas asal sistem, mencoba yang terbaik demi meraih papan teratas dari tugu penghormatan dalam permainan sepakbola.


Seusai melawan Jepang U-17, Reza saat ini sedikit kelelahan. Dengan meminum isotonik bernutrisinya, lantas staminanya kembali menjadi seperti semula.


“Nah … sekarang tanggal 4 Mei, lusa adalah laga kedua melawan Thailand. Ya, sepertinya takdir tim Indonesia dalam pagelaran ini ada pada laga kedua itu!” gumam Reza.


Sebagaimana diketahui, jika sebuah tim memenangi dua laga dari tiga laga, kemungkinan lolos ke perempat final atau delapan besar sudah sangat besar. Hal itu yang membuat nyawa Indonesia di Piala Asia AFC U-17 2023 ada pada Thailand nantinya.


Reza saat ini sedang berlatih bersama rekannya. Hari-hari yang telah mereka lakukan terus dilakukan, ditambah dengan beberapa hasil evaluasi pertandingan terakhir.


Hasil evaluasi dari Pelatih Bima sendiri adalah tim Indonesia saat ini terlalu takut bermain terbuka dan menyerang dengan gencarnya.


Beberapa pemain juga masih terindikasi tak jarang melakukan kesalahan fatal di area permainan sendiri yang membuahkan ancaman bagi Indonesia.


Semua itu harus segera diselesaikan dengan baik agar tim ini bisa terus berkembang ke arah yang benar dan mampu bersaing di wilayah Asia atau bahkan dunia.


“Ayo! Satu putaran lagi! Maksimalkan tubuh kalian!” titah Pelatih Bima.


Dia terus memberi arahan demi arahan untuk anak asuhnya. Lagipula, tim ini bisa saja akan menjadi tim masa depan Indonesia, dengan itu Pelatih Bima ingin memupuk mereka dari usia muda.


“Nah! Bagus! Tangkap ini … refleks harus lebih cepat dari gerakan penentu! Selama ada refleks yang mumpuni dan pemahaman alur bola dari lawan, maka kalian bisa seperti Reza!” Pelatih Markus, asisten pelatih, pelatih penjaga gawang.


Reza telah menjadi acuan bagi mereka-mereka yang ingin lebih giat latihan untuk meningkatkan kemampuannya. Reza telah terbukti bisa menjadi acuan untuk saat ini, karena Andrika dan Ikram mampu menjadi lebih baik lagi setelah Reza menjadi inspirasi bagi keduanya.


Latihan demi latihan mereka lakukan, tentunya dengan makan makanan sehat yang telah diatur oleh tim ahli gizi. Tak ada satupun yang terlewat dalam persoalan pemberian gizi yang baik.


Hingga tak terasa, hari Pertandingan menghadapi Thailand pun datang. Musuh dari Asia Tenggara, itulah julukan yang sering terdengar dalam beberapa waktu belakangan ini. Mungkin karena sesama tim Asia Tenggara, bertemu dalam satu grup.

__ADS_1


Kedua tim yang saling bermusuhan di lapangan, pertandingan yang selalu intensitas tinggi, penuh hal-hal keras, penuh provokasi dari lawan.


Thailand, tim kuat di Asia Tenggara bersama Vietnam dan juga Malaysia. Indonesia … mungkin saat ini berada di tingkat yang berbeda dari sebelumnya.


Sementara tak perlu dipikirkan, saat ini di stadion Tokyo atau yang lebih dikenal sebagai stadion Ajinomoto. Salah satu tempat dilangsungkannya Piala Asia AFC U-17 2023.


Disinilah juga nanti laga akhir dari pagelaran ini, yaitu final. Harapan tentunya ada bagi Indonesia yang akan berlaga kembali di stadion ini dalam laga final.


“Oke semua, tetap waspada. Tim Jepang mungkin waktu itu meremehkan kita dan lengah. Ini adalah Thailand, mereka sudah sering melawan kita!” Pelatih Bima memberi arahan.


Di ruang ganti tim Indonesia, mereka benar-benar menunjukkan raut wajah serius.


“Kalian, waspadai pemain nomor 9 dari Thailand, Tanawat Kittibun. Dia itu penyerang andal, mesin gol mereka!”


“Formasi masih seperti saat melawan Jepang. Namun, ada beberapa arahan yang harus diperjelas.”


“Jangan lengah, jangan kehilangan fokus dan jangan ketiduran.”


Seisi ruangan terdiam ketika mendengar perkataan terakhir Pelatih Bima. Tak ada yang merespon, sontak Pelatih lebih dahulu tertawa kecil.


***


Ribuan penonton sudah memadati tribun stadion. Kebanyakan dari mereka pendukung Indonesia yang kembali ke stadion ini dalam keadaan berkali-kali lipat dari waktu melawan Jepang.


Suara mereka menggema dan menenggelamkan suara-suara dari para pendukung Thailand.


“Ya, di mana pun kalian berada, selamat sore waktu Indonesia Barat. Kali ini, Indonesia U-17 akan menghadapi Thailand yang diperkuat para pemain andalan mereka!


Tentunya kita berharap Indonesia mampu atau bahkan memenangi laga ini!”


Setelah komentator menjelaskan beberapa hal, bola kick-off pun dimulai dari kaki-kaki para pemain Indonesia. Mereka terlebih dahulu sedikit mengendalikan bola dan tak terburu-buru ke depan.


Lebih baik pelan tapi pasti, daripada buru-buru dan akan kehilangan peluang itu. lagipula ini adalah salah satu taktik Pelatih Bima dalam menanggulangi Thailand.

__ADS_1


Sebenarnya taktik ini sudah dipakai waktu melawan Jepang, tetapi tak begitu efektif. Sekarang akan masa uji coba kedua baginya, apakah taktik merangkai pelan-pelan serangan dari bawah kemudian bola langsung ke depan.


“Di sana! Maju saja!” teriak Reza.


Reza juga memerhatikan Tanawat Kittibun, tubuhnya agak pendek dan kecil. Namun, ini adalah satu keunggulannya. Kecepatan dan akselerasi serta kemampuan geraknya benar-benar tak masuk akal.


Dia terlalu licin, terlalu sulit untuk dinetralisir, pergerakannya terlalu acak hingga membingungkan siapapun lawannya.


Hal itulah yang membuat Reza menaruh keseriusannya kepada Kittibun. Sekali mengedip, tiba-tiba Kittibun berpindah tempat ke beberapa meter di sampingnya.


Hal yang memang tak masuk akal, tetapi itu adalah kemampuan bawaannya sejak ada di muka bumi. Kemampuam istimewa para pemain sepakbola, anugerah terbaik mereka.


“Wah … terlalu lincah! Jaga dia!” seru Iqbal yang agak kewalahan.


Kali ini bola sedang dikendalikan Thailand, itu karena Thailand berhasil merebutnya.


Serangan cepat dari mereka pun tercipta, dari sisi sayap kanan, Phassakorn, melakukan tusukan ke dalam kotak penalti yang kemudian umpan cut-back kepada Kittibun.


Kittibun mendapatkan bola nyaman di depan mulut gawang.


“Ah! Dia … terlalu lincah, woy!” keluh Iqbal karena ketinggalan.


Kittibun menatap gawang, dia pun melepaskan tendangan yang terukur tetapi sayangnya kekuatannya sangat lemah.


Reza dengan melangkah ke samping kemudian melompat untuk mengantisipasinya, segera menangkap bola dengan cukup nyaman. Telapak tangannya melengket rapi.


“Wah! Gerakanmu … terlalu acak!” ucap Reza menggunakan bahasa Inggris.


Kittibun memiringkan kepalanya, sebuah tanda tanya besar benar-benar dapat dilihat oleh Reza.


‘Dia tidak paham bahasa Inggris …’ pikir Reza.


Reza kemudian melambungkan bola dan tak memerdulikan Kittibun.

__ADS_1


Bola diterima dengan baik di tengah lapangan oleh Femas. Di sana, Femas memberi bola kepada. Narendra.


Aktivitas itu terus berlangsung, mencoba merangkai serangan sambil tentunya dibayang-bayangi oleh pemain Thailand.


__ADS_2