
Keesokan harinya, para pemain mulai bersiap untuk berlatih dan membahas bersama taktik apa yang akan digunakan pelatih Bima dalam menanggulangi hal buruk saat melawan Malaysia nantinya.
Ketika semua pemain berkumpul di lapangan, hanya pelatih Bima sendiri yang tak datang. Beberapa staf kepelatihan lainnya datang.
Melihat tidak biasanya pelatih Bima tak datang, Reza mulai menginisiasi rekan setimnya untuk segera memanggil pelatih Bima. Para staf kepelatihan juga membolehkan karena taktik tim berada di pundak pelatih Bima.
Reza dan rekan setimnya menuju ruang kantor pelatih Bima. Saat sampai di sana, pintu ruangan terbuka dan menampakkan pelatih Bima sedang mencatat sesuatu di papan tulis yang dapat dipindahkan.
“Masuk saja, tapi hanya tiga orang saja!” ucap pelatih Bima seraya masih fokus pada apa yang di depannya.
Kali ini, Reza bersama Nabil Asyura dan juga Iqbal lah yang masuk untuk melihat dan memerhatikan apapun yang akan dikatakan pelatih Bima. Tanpa basa-basi, sang pelatih langsung menarik ketiga pemain muda ini untuk melihat papan tulis.
Di papan tulis, terdapat sebuah rangka formasi tim. Dengan formasi 4-3-3. Pada lini belakang masih ada Iqbal, Rizdjar, Sulthan, dan Habil Abdillah.
Kemudian trio di lini tengah permainan Indonesia akan dimainkan oleh Figo Dennis, Zidan, dan Kafiatur.
Sedangkan di lini depan Indonesia akan mengandalkan Nabil Asyura, Arkhan, dan Gilang.
Sama sekali tak berubah. Rotasi saja tak ada. Benar-benar membuat Reza sakit kepala. Dia tidak ingin rekannya kelelahan dan malah mengganggu kenyamanan situasi gawang miliknya.
“Apa kita tak melakukan rotasi, pelatih?” sahut Nabil sambil menatap lekat papan tulis itu.
Pelatih Bima mulai mengambil spidolnya. Dia juga memegang penghapus papan. Tanpa basa-basi, pelatih Bima menghapus seorang pemain belakang, seorang pemain tengah dan juga seorang lagi pemain depan.
Abdillah digantikan oleh Andre. Kemudian Zidan digantikan oleh Rizki Afrisal.
Setelahnya, Gilang yang notabene berkontribusi dalam tiga kemenangan Indonesia U-17 pun digantikan oleh Yanuar.
Pelatih Bima menatap Nabil Asyura. “Sudah cukup?”
Nabil Asyura dengan instingnya pun mundur selangkah ketika mendapatkan tatapan misterius dari pelatih Bima. Reza dan Iqbal sendiri hanya diam sambil mengamati papan tulis tersebut.
__ADS_1
“Rotasi besar,” gumam Reza sambil perlahan maju dan mengambil sebuah spidol serta penghapus papan.
Reza kemudian menghapus Rizdjar di lini belakang yang digantikan oleh Seva Aditya. Reza juga tanpa ragu mengubah posisi dari para pemain. Seva yang seharusnya di kiri harus berada dan menggantikan posisi Rizdjar di sisi kanan.
Reza kemudian bergeser ke lini tengah. Dia mengarahkan penghapus papan kepada Figo Dennis. Dengan tegas dia mengganti Figo Dennis menjadi Hanif. Posisi Hanif sendiri tepat di tengah, didampingi di sisi kiri ada Kafiatur dan di sisi kanan ada Riski Afrisal.
Reza kemudian bergeser ke kanan. Dia mendekati lini penyerangan. Reza menatap sejenak kemudian diletakkannya penghapus serta spidol itu di atas meja.
“Saya rasa cukup. Kita akan merotasi pemain agar mendapatkan waktu bermain yang bagus untuk mereka.”
Pelatih Bima memerhatikan semua yang diganti Reza dan juga dirinya. Formasi ini benar-benar berbeda dari apa yang dia rancang, tetapi masih cukup bisa beradaptasi banyak untuk setiap pemain.
Pelatih Bima kemudian menatap ketiga pemain inti dari timnya. Dia mulai menunjukkan mata penuh tekad dan semangat, senyuman pun terbentuk dari mulutnya.
“Haha! Bagus … dari semalam saya cukup sulit tidur. Karena memikirkan rotasi yang cocok, kali ini rotasinya dibantu oleh anak didik saya sendiri dan itu cocok!” seru pelatih Bima seraya tersenyum puas.
Reza, Nabil dan juga Iqbal pun secara serentak bersenyum untuk membalas senyuman pelatih Bima.
Keempatnya keluar dari ruangan. Di depan ruangan hampir seisi tim Indonesia U-17 berkumpul menunggu apa yang terjadi di dalam ruangan.
***
Senin, 10 Oktober 2022
“Ya! Dimana pun kamu berada, kembali lagi bersama saya Bung Rendra dan ditemani rekan saya Bung Binder. Kali ini Indonesia U-17 dalam laga terakhir akan melawan Malaysia!
Indonesia U-17 sendiri diunggulkan dengan kemenangan tiga kali berturut-turut. Berbeda dari Malaysia yang masih mendulang sebuah kemenangan dari Guam dan kekalahan sekali dari Palestina.”
Komentator dari sebuah stasiun televisi mulai membuka sesi komentator nya.
Sementara itu, masih ada setengah jam lagi dari waktu kick-off dimulai. Para pemain pun belum mendatangi stadion PakanJati
__ADS_1
Ya, mengapa tiba-tiba dipindahkan kesana. Karena alasan dari federasi sepakbola Indonesia, SUGBK akan dipersiapkan dengan segera untuk Piala Dunia U-20 2023 yang akan digelar di Indonesia nanti tahun depan dan tentunya ada sebuah konser akhir tahun nantinya.
Akhirnya laga terakhir pun dijalankan di stadion PakanJati yang berada di Bogor.
***
Bus dari tim Indonesia U-17 telah datang, begitupun dari Malaysia. Kedua tim ini pergi menuju ke ruang ganti masing-masing untuk mempersiapkan segalanya.
Indonesia yang memakai jersey kebanggaan, yaitu merah–merah.
Malaysia sendiri memakai jersey kuning–kuning.
Di ruang ganti Indonesia U-17, para pemain mulai mempersiapkan segalanya. Pelatih Bima pun kembali mengingatkan untuk mengimplementasikan taktik dan formasi baru miliknya secepat mungkin.
Kali ini taktik mengandalkan bola daerah dan kecepatan para pemain sayap Indonesia U-17. Umpan pendek hanya sebagai pelengkap, umpan lambung yang langsung mengarah ke jantung pertahanan Malaysia pun adalah intinya.
Waktu demi waktu, akhirnya kedua kesebelasan telah menunggu di lorong menuju lapangan. Mereka saling melirik, apalagi Reza saat ini menjadi bahan perbincangan banyak orang.
Tentunya para pemain Malaysia mengetahuinya. Reza sangat amat diwaspadai, tendangan bebasnya yang mengerikan dan juga penyelamatannya yang ajaib.
Wasit kemudian maju dan kedua kesebelasan mengikutinya. Mereka berbaris untuk kemudian menyanyikan lagu kebangsaan.
Pertama Indonesia. Stadion bergemuruh mengikutii setiap lirik lagu Indonesia Raya. Sangat khidmat, membuat siapa saja merinding yang mendengarnya. Setelahnya lagu kebangsaan milik Malaysia.
Setelah menyanyikan lagu kebangsaan kedua tim, mereka pun saling bersalaman sebelum menyebar dan membentuk formasi yang sesuai.
Sementara Iqbal dan kapten dari tim Malaysia, Danish sedang melakukan koin tos dengan wasit yang akan memimpin jalannya pertandingan.
Sang wasit melempar koin, dan sisi biru didapatkan oleh Iqbal yang membuatnya berhak memegang bola pertama. Lantas ketiganya saling berangkulan untuk difoto.
Kali ini, Malaysia benar-benar mewaspadai Indonesia tanpa kompromi. Mereka yang telah terguling pada laga awal kontra Palestina pun harus merajut asah dan wajib memenangi laga saat ini.
__ADS_1
Wasit kemudian meniup peluit tanda babak pertama dimulai. Arkhan dengan tegas mengumpan pada Nabil.
Sentuhan pertama dari dua pemain itu akan membuka laga terakhir bagi Indonesia di Kualifikasi Piala Asia U-17 2023 dan laga hidup mati bagi Malaysia karena kesempatan lolos menjadi juara grup sangat mustahil bahkan tidak bisa. Mereka hanya berkesempatan menjadi Runner-up jika memenangkan pertandingan terakhir mereka nantinya melawan Uni Emirat Arab pada tanggal 12 Oktober.