
Pertandingan kedua Youth Tournament dilakukan. SMA Harapan mulai membangun serangan dari bawah, tak begitu terburu-buru. Mereka masih paham kemampuan SMAN 1 dalam pengendalian bola.
SMAN 1 sejak dulu dikenal dengan taktik pengendalian bola yang sangat mendominasi. Ketika mereka dapat bola, maka serangan mereka akan berjalan sangat lama dengan penguasaan dan pengendalian bola yang mengerikan.
Maka dari itu, Reza dan kawan-kawannya mencoba untuk melawan taktik itu dengan taktik umpan-umpan pendek dan juga penguasaan bola yang lama. Mereka ingin membuat SMAN 1 kesal ketika taktik mereka dibalas dengan taktik yang sama.
Bola sekarang dikendalikan oleh Danar. Dia melirik ke sisi kanan, dia benar-benar dikawal dengan 2 orang. Di antaranya mencoba untuk merebut segera bola tersebut.
Danar dengan cerdik memutar bola ke belakang dan melewati tubuhnya, bola berputar ke belakang sebelum melewati ke depan yang mengecoh langsung pemain tersebut.
Setelahnya, Danar langsung mengumpan kepada Teguh di sana. Dia melirik Angga, sontak Angga paham dan segera maju menuju lapangan tengah.
Bola pun digulirkan kepada Angga yang meliriknya kembali setelah mendapatkan posisi yang pas. Di sana, Angga didatangi dua pemain.
“Tch!” Angga kembali memundurkan bola kepada Teguh yang langsung dilesatkan kepada Dennis.
Cipto, David dan juga Auff benar-benar terisolir pergerakannya. Mereka terus menerus dikawal tanpa kenal lelah.
David yang kesal pertandingan perdananya diganggu pun langsung mengajak lari pemain yang mengawalnya. Dia adalah Adrian Sang Tembok Raksasa Gesit dari SMAN 1.
David yang mencoba mengajak lari pun merasa dia telah mendahuluinya, tetapi Adrian menegur David.
“Hai.”
David hanya tercengang. Dia tidak terpikirkan, cepatnya larinya mampu didahului oleh Adrian. Bahkan pelatih Sofyan sendiri sudah menjuluki David sebagai pelari tercepat dari seluruh anak asuhnya.
David pun berhenti tiba-tiba sebelum bola bergulir ke arahnya, dia pun segera mencungkil bola ke arah depan untuk mencoba mengelabui Adrian yang tumpuannya sedikit goyah.
David langsung berlari kemudian mencoba mengambil bola, tetapi uluran kaki besar langsung menghantam bola dan mengeluarkannya dari garis lapangan.
David yang mendapat tekelan lanjutan hanya dibiarkan wasit, sebab bola terkena lebih dahulu kemudian langsung keluar.
David juga tak percaya secepat itu Adrian dalam bergerak. David sebelumnya melihat Adrian sedikit mati langkah, tetapi uluran kaki ke bola itu membuat pandangan David kepada Adrian terbuka.
David menganggap julukan Tembok Raksasa Gesit memanglah cocok.
__ADS_1
“Hati-hati dengan dia! Dia itu sejak pertama bertemu dengan kita, paling merepotkan! Serangan selalu patah saat berhadapan dengannya!” Bagus berteriak keras.
Seisi lapangan mendengar samar-samar suara itu. Sontak pandangan mereka kepada pemuda bertubuh besar itu berubah, yang mereka lihat sekarang adalah tembok besar yang begitu gesit dan sulit ditembus!
Reza sedikit gentar. Dia membayangkan jika posisinya sebagai penyerang akan seberapa frustasi untuk mencoba menembus pertahanan kuat tersebut.
Lemparan dalam dilesatkan oleh David. Dia melempar kepada Teguh yang ada di tengah lapangan. Di sana dengan kontrol dada, Teguh langsung menendang bola saat benda bulat itu hendak menyentuh tanah.
Bola yang melambung tinggi ke depan langsung dikejar oleh Dennis yang bersiap. Dennis mendapatkan bolanya, tetapi karena larinya yang kencang, tubuhnya jadi sulit diseimbangkan apalagi berduel dengan pemain lawan untuk memperebutkan bola.
Dennis dengan susah payah mencoba memberi umpan menusuk ke jantung pertahanan lawan. Di sana sudah ada David yang lepas dari Adrian dan juga Cipto yang bersiap. Auff juga sudah berada di posisi yang tepat.
David mendapatkan bola, dia berputar 180° membelakangi gawang lawan. Dia melirik rekan-rekannya yang mulai maju sambil terus mengontrol bola yang begitu sulit sebab saat ini dia sedang berduel dengan pemain bertahan lawan.
David melihat Adrian juga mendekatinya dari sudut mata kanannya. Lantas dia memberi umpan kepada Cipto di depannya yang bersiap mengambil ancang-ancang untuk menembak.
Cipto menguatkan kaki kirinya yang sebagai tumpuan. Kaki kanan diayunkan begitu kuat, sisi bagian dalam mengenai bola.
Bola melesat menyusuri tanah menuju gawang. Kiper bernomor punggung 1 dengan nama Husin pun segera bersiap di titik arah bola.
Semuanya tercengang, Adrian yang masih dekat dengan David langsung berada di belakangnya tanpa disadari banyak orang. Adrian melakukan sliding tekel dan menerbangkan bola ke angkasa sebelum adu duel kepala terjadi.
Di tengah terkejutnya orang-orang, Cipto mencoba berduel dengan bek tengah tim lawan yang berada satu posisi dengan Adrian, ia adalah Novriansyah.
Novriansyah mendapatkan ledakan lompatan lebih dahulu sehingga Cipto yang sedikit terlambat hanya menanduk angin. Sedangkan Novriansyah langsung menjauhkan bola ke tengah lapangan.
Sementara itu, David menatap tajam Adrian yang kembali menghalangi tendangan Cipto. Dia begitu kesal, di pertandingan perdananya dalam Youth Tournament harus dihalangi tembok besar untuk mencetak gol.
Reza di gawangnya hanya melihat sekilas apa yang terjadi di depan kotak penalti tim lawan. Dia sedikit bergetar ketika Adrian begitu gesit dalam menjaga pertahanannya. Adrian seperti sebuah tembok besar Cina!
Lantas Reza berteriak lantang.
“Serang lagi! Kelebihan mereka hanya di sana! Jangan patah semangat! Tim SMAN 1 saat itu sudah patah semangat dan frustasi terlebih dahulu, jadi mereka lengah dan kebobolan!
Ayo, semangat!”
__ADS_1
Semuanya menatap Reza penuh arti. Baru kali ini mereka mendengar kata-kata yang begitu mendominasi dan seperti tak terbantahkan.
Setelah itu, bola masih kembali dikuasai Reza dan kawan-kawannya.
Bola hanya terus bergulir di pertahanan. Haikal, Adi Satria dan Rafli saling mengumpan untuk menciptakan ruang kosong. Setelah melihat ruang kosong, niat mereka akan melakukan umpan direct.
Namun, pertahanan yang begitu memukau diciptakan oleh Adrian dan kawan-kawannya. Beberapa ruang kosong yang disadari Haikal langsung ditutup begitu dia ingin melakukan umpan direct. Akhirnya, hingga mendekati menit ke 30, pertandingan berjalan sangat alot.
Serangan dari kedua tim tak berarti. SMAN 1 yang hanya parkir bus dan mencoba menyerang jika lawan lengah membuat pertandingan terlihat membosankan.
Hingga persentase penguasaan bola dari SMA Harapan menyentuh 80%!
Penguasaan bola yang menakutkan, tetapi tak ada artinya bila serangan tak bisa dilakukan. Semuanya selalu ditahan oleh Adrian.
“Buat trik!” teriak Reza kesal.
Haikal yang menyadarinya pun mendekati Reza. Karena bola masih bergulir di antara mereka, jadi tidak perlu terlalu waspada, menurut Haikal.
“Begini, bagaimana kalau kalian membuat mereka melakukan gerakan kecil yang dilihat wasit sebagai pelanggaran?”
Haikal memiringkan kepalanya, sedikit bingung.
“Ya, misalnya dengan kecepatan David dia melewati Adrian yang kokoh itu. Namun, manusia 'kan pasti ada salahnya, ya kali Adrian melakukan gerakan kesalahan dan berakhir pelanggaran?”
Mendengar penjelasan milik Reza, akhirnya Haikal benar-benar paham apa yang dimaksud olehnya. Haikal pun kembali ke depan dan beberapa kali berbisik kepada Teguh ataupun Angga.
Mereka berdua kemudian meneruskan kepada teman-teman yang berada di depan sambil terus menjaga penguasaan bola.
Melihat beberapa orang saling berbisik, pelatih SMAN 1 memiliki firasat buruk.
Pelatih yang memiliki perawakan gemuk dengan kepala botak terlihat menggigit ujung kukunya. Pelatih yang bernama Syaifudin atau biasa dipanggil pelatih Udin tersebut mulai memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi.
Pelatih Sofyan melirik sebentar kepada pelatih Udin, dia menyunggingkan senyuman misterius.
“Kena kau, Udin!” gumam pelatih Sofyan setelah paham akan rencana Reza.
__ADS_1
Tidak, sebenarnya itu adalah rencana cadangan yang hanya diketahui oleh Reza dan pelatih Sofyan. Sehingga jika pertandingan terus berjalan alot, maka Reza yang diberikan rencana itu harus menjelaskan secara runtut apa yang harus dilakukan oleh kawan-kawannya.