
Malam yang dingin, diiringi angin-angin sepoi-sepoi yang semakin kencang seiring waktu.
Di sebuah stadion yang begitu besar, Juve Stadium yang berkapasitas 41.000 penonton sedang berlangsungnya laga yang cukup sengit.
Kedua tim terus saling adu serangan dan juga mengandalkan adu strategi juga. Tidak ada yang mau mengalah, ini adalah putaran pertama enam belas besar UCL.
Kedua tim berniat memenangi enam belas besar UCL putaran pertama agar pada saat putaran kedua nanti bisa menurunkan skuad lapis kedua untuk mengistirahatkan skuad utama.
Apa yang dipikirkan para pelatih benar-benar mengadu keberuntungan di sini, siapa yang lengah maka tim itulah yang akan kalah.
Reza yang terus mengarahkan rekan-rekannya, kemudian rekan-rekannya juga yang terus bergerak begitu lihai dalam menjaga kesolidan pertahanan dan kekuatan serangan.
Tak ada yang bisa dikatakan untuk saat ini sebagai penilaian sejauh 30 menit berlangsungnya pertandingan.
Pertandingan ini menyuguhkan serangan-serangan kelas dunia dari Juve, tetapi pertahanan kelas dunia juga ditunjukkan oleh AS Trenčín.
Reza sebenarnya memiliki suatu niat untuk segera maju dan membantu serangan, tetapi dia urungkan terlebih dahulu karena takutnya tim ini saat dia pergi malah terpuruk karena terlalu mengandalkan Reza.
Dari sisi kanan, Witan yang bergerak mencoba memberikan efek kejut kepada pertahanan Juve, tetapi sayangnya masih terlalu sulit juga bergerak.
“Menit empat puluh tiga adalah aksiku,” gumam Reza.
“Kalian, kalau dapat bola, kasih ke saya! Ada yang mau saya lakukan lagi!” seru Reza.
Seluruh pemain AS Trenčín pun paham, sepertinya Reza akan melakukan aksi-aksi ajaibnya lagi. Pikiran mereka demi mengejar ketertinggalan jumlah gol di klasemen topscorer.
Reza terpaut 2 gol dari Mbappe yang mencetak tujuh gol sejauh ini dari klub PSG.
Hal ini menjadi bahan pertimbangan bahwa Reza berniat mencetak beberapa gol lagi demi mengejar posisi satu topscorer. Kiper ini adalah yang paling gila sejauh sepakbola tercipta.
“Reza!”
Witan mengangkat tangan, berniat membantu pergerakan Reza yang sebenarnya terlihat kesulitan melewati para pemain Juve. Kemungkinan terbesar adalah para pemain Juve sudah lebih dulu memahami apa yang akan dilakukan Reza.
Namun, bukan Reza namanya jikalau dia kesulitan, dia adalah satu dari banyak rakyat Indonesia yang pantang menyerah demi suatu tujuan baik.
Reza adalah contoh anak-anak muda zaman sekarang yang berjuang sepenuh hati, bukan hanya bisa merengek tanpa berjuang demi mencari penghasilan.
Kembali kepada Reza, dia menatap dingin setiap pemain Juve yang hendak mendatanginya.
Locatelli, gelandang bertahan Juve mencoba melakukan pergerakan kotor, hal itu demi menghentikan Reza yang terlalu ajaib.
__ADS_1
Seluncuran memotong dari depan, Reza sendiri sudah melihat apa yang akan datang, dia segera menggeser bola ke samping dan segera berakselerasi.
“Terlalu dini melalukan sliding tekel,” gumam Reza.
Reza terus bergerak, sebagai kiper yang istilahnya menjaga gawang dan juga menghancurkan gawang, dia seperti belut, bergerak begitu licin di antara pemain Juve.
Reza telah sampai di depan kotak penalti, kira-kira dari mulut gawang sejauh 27 meter. Menurutnya, ini adalah posisi yang pas untuk melepas tendangan.
Menyiapkan kaki kirinya, bergerak dengan condong ke depan, melirik gawang yang dijaga Perin, kiper Juve.
“Ambil ini, knuckle shoot!”
Dari arah belakang, Reza kurang menyadari dan terus fokus kepada apa yang ada di depannya, bola sudah terlepas, tetapi seluncuran berbahaya langsung menghantam jatuh dirinya.
Bola yang melaju kencang dengan pergerakan aneh, antara ingin bergerak ke kiri atau kanan membuat Perin kebingungan dan hanya mati langkah membiarkan bola masuk dengan bebas.
Hanya saja, Reza sudah meringis kesakitan berguling-guling memegangi kakinya.
Meski gol, tetapi seluncuran memotong berbahaya itu membuat Reza kesakitan dan tak bisa berselebrasi.
Para pemain AS Trenčín mulai mengerubungi pemain yang menekel Reza, yaitu Iling Junior.
“Oy! Wasit, apa-apaan dia!” seru Witan tak terima.
Saling dorong semakin intens, Reza yang dibawa ke pinggir lapangan melihat rekan-rekannya yang terpancing emosi karena sliding tekel berbahaya Iling Junior.
Wasit menjadi tak ragu, tanpa peringatan aba-aba, Iling Junior diusir dari lapangan dengan hadiah kartu merah secara tegas.
Pelanggarannya terlihat jelas, mengangkat telapak sepatu, kemudian secara sengaja menghantamkannya ke betis bagian belakang Reza.
“Kamu masih bisa?” tanya tim medis sembari memeriksa dan memberi suatu semprotan pada betis Reza.
Reza melihat menit yang sudah tepat 47 dan juga itu adalah dua menit terakhir menit tambahan waktu.
“Masih bisa, istirahat sambil diobati lima belas menit, aman-aman!” ucap Reza.
Kakinya masih terasa ngilu, hanya saja menurutnya dia masih bisa bergerak. Lebih baik bertindak gegabah daripada timnya mengalami penurunan performa karena merasa terbebani akibat Reza yang digantikan.
Pertandingan kembali dilanjutkan, gol Reza juga telah disahkan membuat AS Trenčín unggul di babak pertama ini.
Jeda lima belas menit dimanfaatkan oleh kedua tim untuk paling tidak merangkai kembali formasi yang terlihat berantakan di babak pertama.
__ADS_1
Sementara itu, Reza yang ditanya beberapa pertanyaan oleh Pelatih Marian hanya terus menganggukkan kepala sembari menjawab iya atau bahkan tidak.
“Kamu masih bisa?”
“Iya.”
“Tidak sakit? Apa ada yang terasa aneh dengan kakimu?”
“Tidak.”
Bagai seorang ayah yang khawatir terhadap anaknya, Reza mendapatkan perasaan hangat dari Pelatih Marian.
Seusai jeda lima belas menit, pertandingan babak kedua dimulai. AS Trenčín yang unggul tak menyurutkan semangat untuk terus menyerang.
Bahkan Reza yang sudah agak lebih baik turut membantu serangan dari tengah maupun sisi kanan.
Pergerakan yang lihai dari Reza, penyelamatan indahnya, hingga pelanggaran dari para pemain Juve terus terjadi membuat beberapa kali pemain AS Trenčín jatuh bangun.
Itu tak seberapa, Juve yang sedang buru-buru mengejar ketertinggalannya menderita kerugian besar, 5 pemain mendapatkan kartu kuning, kemudian satu pemain harus menyingkir dari lapangan karena insiden babak pertama tadi.
“Jangan gegabah lagi!” teriak pelatih dari Juve.
Reza yang terpaku oleh perkataan itu, sedikit goyah dan mendapatkan pelanggaran di depan kotak penalti, sekitar 24 meter.
“Aiish! Kubilang jangan gegabah! Shiit!” Pelatih dari Juve hanya bisa melempar botol minumannya.
Sementara itu, Reza telah bersiap di belakang bola, empat langkah mundur ke belakang kemudian dua langkah ke samping.
Pandangannya fokus, menatap pagar pemain yang tinggi-tinggi, kemudian rekan-rekannya yang terus juga bergerak.
“Langsung tendang saja!” pekik Witan.
“Oke, lagi pula menit sudah delapan puluh tiga, ini kesempatan memperlebar keunggulan!” seru Reza.
Melangkah maju dengan cepat ketika wasit meniup peluit, Reza dengan posisi terbaiknya melepaskan bola yang membentuk kurva indah.
Kurva sempurna, dari pandangan seluruh orang, bola itu hendak keluar area gawang, tetapi tiba-tiba melakukan pergerakan indah, melengkung tegas dan langsung menghunjam sudut kiri atas gawang membuat Perin hanya bisa melongo saja.
“Oke, gol lagi, total tujuh gol!” seru Reza sambil berlari ke sudut lapangan demi memperagakan selebrasi yang sudah lama dia tak gunakan di Eropa.
Sementara berselebrasi, seluruh stadion bergemuruh, para penonton Juve hanya bisa mencerca para pemain andalan mereka dan pemain lawan pula.
__ADS_1