
19 Desember 2023, hari dimana Reza dan rekan-rekannya akan menghadapi salah satu tim yang terbilang kuat, tim ini juga menang telak pada laga pertama saat itu.
Hal yang paling mengejutkan, pemain muda mereka, salah satu talenta muda yang sedang diasah hingga tajam mampu mencetak empat gol sekaligus!
Hal ini juga yang membuat Reza sempat curiga, apakah penyerang Uzbekistan adalah pengguna Sistem.
Lagipula terlalu mengejutkan seorang pemain dapat mencetak gol hingga berjumlah empat dalam satu pertandingan, apalagi menghadapi lawan yang tak kalah kuatnya juga –Irak.
Dengan segala pertimbangan dan pemikiran, Reza untuk sementara menetapkan bahwa Eldor itu adalah pengguna Sistem diusia yang sama seperti dirinya, yaitu 17 tahun.
“Sssh … Agak dingin,” gumam Reza sembari turun dari bus.
Reza dan rekan-rekannya pun langsung menuju ruang ganti yang kemudian setelahnya melakukan pemanasan sekitar lima belas menit di lapangan, bersama dengan para pemain Uzbekistan.
“Waaahh! Al-Bayt benar-benar megah!” seru Reza seraya mengedarkan pandangannya.
“Ayo, Za! Kita masuk!” ucap Marselino.
Reza menoleh yang kemudian langsung melangkahkan kakinya mengikuti rekan-rekannya dan juga para staf pelatih.
Di ruang ganti, beberapa arahan singkat diberikan oleh Pelatih Shin, rotasi pemain yang telah direncanakan juga kembali dijelaskan.
Untuk bek, starting saat ini, ada Asnawi bersama Jordi dan juga Irianto.
Posisi gelandang, masih sama dengan beberapa perubahan posisi.
Penyerang, disinilah titik paling banyak berubah. Tiga pemain awal starting tak diturunkan.
Saddil, Lilipaly hingga Sananta digantikan oleh Kwateh yang berdiri di posisi kiri, kemudian ada nama Rafli tepat di tengah sebagai penyerang murni yang setelahnya di sisi kanan ada Febri.
Pelatih Shin memang sering melakukan rotasi demi mencapai kenyamanan permainan yang tiada habisnya, tetapi itu juga sebenarnya taktiknya agar lawan kebingungan dalam menentukan apa yang harus dilakukan untuk menghadapi timnya.
Setelah pembahasan tentang semua hal yang harus diperhatikan, Pelatih Shin dan anak asuhnya pun sedikit melakukan seruan untuk menambah semangat.
“Ayo, ayo, ayo! Kita kalahkan mereka!” seru Reza yang langsung dibalas seruan tak kalah keras oleh rekan-rekannya.
Para pemain dan beberapa staf pelatih pun menuju lapangan, di lorong, kesebelasan Indonesia berbaris rapi sembari menunggu kesebelasan Uzbekistan.
Hingga sekitar semenit menunggu, kesebelasan Uzbekistan pun datang, tubuh mereka terlihat kekar dengan porsi yang kuat.
“Yo~” sapa Reza kepada kiper di sampingnya.
Kiper Uzbekistan, Nematov, hanya tersenyum sejenak yang kemudian memasang wajah datar dan tak memedulikan Reza setelahnya.
“Cih, sombong kali, hanya tubuhmu yang terlihat kuat dan tinggi itu,” gerutu Reza.
Di depannya, kapten tim, Asnawi, hanya menertawakannya karena Reza seperti menghadapi tembok yang jelas tak akan merespon. Istilahnya, gubris tembok.
__ADS_1
Wasit yang memimpin jalannya pertandingan, Lee Joon asal Korea Selatan pun berjalan diikuti kedua kesebelasan.
Berbaris menghadap tribun utama, mereka menyanyikan masing-masing lagu kebangsaan di tengah stadion yang dipenuhi fans Indonesia maupun Uzbekistan.
Sekitar tiga menit mengumandangkan lagu kebangsaan Indonesia Raya, para suporter langsung berseru dengan lantang sesuai chants yang telah dirangkai.
Indonesia~
Prok! prok!
Setelah sesi lagu kebangsaan, kedua kesebelasan berfoto dengan papan di depan mereka, di atas permukaan tanah yang bertuliskan ajang turnamen ini.
Setelahnya, kedua kesebelasan berpencar sesuai posisi masing-masing, terlihat jelas Indonesia memiliki posisi yang lebih maju.
Hal itu menandakan mereka akan bermain terbuka dengan taktik menyerang.
Kedua kapten saling bertemu untuk koin tos, Asnawi memenangkannya dan memilih untuk memegang bola terlebih dahulu.
Prit!
Rafli yang baru saja menendang ke belakang dan diterima dengan baik oleh Evan, sontak terkejut ketika dari sudut matanya melihat sesosok berpakaian putih.
Dia adalah Eldor Shukurov yang langsung melesat bagai cheetah mencoba merebut bola dari kaki Evan.
Evan tak ambil pusing, dia menggeser bola secara tepat ke arah kanannya yang diterima dengan baik oleh Marselino.
Kejadian ini berlangsung sangat cepat, apapun itu, jelas para pemain Indonesia sangat terkejut.
Lagipula Pelatih Shin juga sudah mengatakan bahwa ada beberapa pemain Uzbekistan yang berbahaya, salah satunya adalah Eldor, tetapi mereka tak berpikir bahwa Eldor akan seberapa bahaya, padahal sudah mencetak empat gol.
“Awas!” seru Irianto yang sontak langsung mundur.
Jordi dan juga Asnawi pun ikut mundur, para pemain Indonesia pun melakukan skema pertahanan.
“Apakah dia?!” seru Reza.
Reza pun menyiapkan kakinya, menggerakkan tubuhnya sefleksibel mungkin, kemudian diregangkan tangannya.
Reza menunggu, serangan seperti apa yang akan dilakukan oleh pemain seusianya tersebut, yang memang lebih tinggi, sekitar 193 cm.
Dari jarak 30 meter, Eldor yang tiba-tiba lepas dari penjagaan, dia melirik gawang sejenak yang mana Reza terkejut.
“Ouuh … Langsung tendang, ya?”
Reza mengaktifkan Mata Bijaknya, kilauan cahaya terlintas dari manik matanya, hingga Reza langsung menggeser posisi condong ke kanan.
Sedetik kemudian, bola datang begitu cepat dan tepat, kekuatannya di udara sangat supermasif, desingan bola terdengar oleh beberapa pemain Indonesia yang memang dekat dari jalur tendangan.
__ADS_1
Reza melompat, dia meraung ke arah kanan, tangannya mengulur begitu tegas dan disatu sisi fleksibel.
Bola yang datang dapat diibaratkan seekor banteng yang mampu menerobos apa saja, kekuatannya tak sebanding dengan fitur redam dari sarung tangan Reza.
“Bahaya!”
Dengan cepat, merubah posisi tangan yang hanya berniat menepis dengan satu tangan, menjadi dua tangan yang kemudian menampar bola begitu keras untuk menghalau bola masuk ke arah gawang.
“Wohoo~! Tendangan meriam!”
Reza berseru senang sembari mendarat dengan indah, dia langsung beranjak dan menatap bola yang keluar garis gawang dan menghasilkan tendangan sudut.
“Itu dia! Tendangan supermasif! Ledakannya, kekuatannya, akurasinya tiada tara! Anjirlah!” seru Reza yang didengar oleh rekan-rekannya.
“Sekuat itu kah?!” sahut Irianto yang memang ada niat untuk menghalaunya menggunakan kakinya tadi, tetapi tak jadi.
‘Bisa patah, itu kemungkinan yang terjadi,’ batin Irianto menatap kakinya dengan ngeri.
“Kau, tendang lah lagi bola seperti tadi!” teriak Reza kepada Eldor menggunakan bahasa Inggris.
Entah dimengerti atau tidak, lagipula dia hanya mencoba mengekspresikan dirinya atas kesenangannya saat ini.
Tendangan sudut dilangsungkan, bola melambung tinggi hingga mengarah ke kepala Eldor dengan tepat, dia menyundul dengan keras.
“Ssshh …”
Reza melompat dengan tepat, dia menampar sekali lagi bola, menjauhkannya dari kotak penalti hingga nyaris ke tengah lapangan.
‘Eh, anjir! Sundulannya macam tendangan juga, kuat sekali!’ batin Reza sembari menatap sarung tangannya.
Bola hasil halauan Reza didapatkan oleh Sandy yang langsung melakukan overlap demi skema serangan balik mengejutkan.
Sandy yang didukung oleh Marselino saling melakukan umpan satu-dua di antara para pemain Uzbekistan, mereka mampu membawa bola hingga sepertiga lapangan lawan.
“Evan!” seru Marselino.
Evan mendapatkannya, dia melakukan gerakan tipuan yang menghasilkan gelandang Shamirov mengalami mati langkah.
Setelahnya, Evan memberi umpan terobosan yang langsung didapatkan oleh Marselino.
Saat ini, Marselino mendekati tepi kotak penalti, dia menendang dengan keras dan akurat.
Bola seperti terpelintir, tetapi kekuatan tendangan ini masih kalah jauh dengan tendangan Eldor.
Bola itu berhasil dimentahkan oleh kiper Uzbekistan, Nematov.
“Uuuh … Nyaris!” gumam Reza sembari terus mengawasi pergerakan Eldor.
__ADS_1