Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 10


__ADS_3

Syifa hanya terdiam ia sedikit murung, kejadian tadi saat di kantin cukup membuatnya merasa tercabik, perasaan yang tak bertemu bahkan tak terbalaskan untuk pertama kalinya ia merasa tercampakkan. Perasaan yang tak pernah ia rasakan menjadi awal dari kegundahannya.


Bel berbunyi saatnya untuk pulang, para santri dan santriwati pun bergegas keluar untuk menuju pondok.


Yusuf yang sedang berjalan keluar dari kantor bersamaan dengan Ustadzah Nadia, ia kembali bertemu dengan Syifa dan santriwati lainnya yang bersamaan dengan kepulangan santriwati.


''Kenapa aku cemburu melihat kebersamaan mereka, aku cukup tau diri jika harus bersaing dengan Ustadzah Nadia, dia sangat sempurna aku harus menghilangkan semua perasaan ini.'' Lirih Syifa yang berusaha menormalkan mimik mukanya.


Yusuf yang menyadari jika Syifa menatapnya, ia pun tersenyum simpul, namun Syifa malah memalingkan wajahnya dan bergegas untuk segera pergi tanpa membalas senyum bahkan terlihat jelas kalau Syifa tak memiliki perasaan apapun sekedar melihat pun ia seakan biasa saja tatapnya bahkan terlihat dingin.


''Rasanya aku tak mungkin mengungkapkan perasaan ini apa yang akan Syifa pikirkan jika aku benar mencintainya, mungkin aku akan terlihat sangat bodoh di matanya apakah aku harus menerima perjodohan ini?'' Lirih yusuf dalam hatinya, ia sangat bingung dengan keadaan yang baru Ia alami.


''Yusuf, aku mau berbicara sesuatu,'' Kata Ustadzah Nadia yang menatap Yusuf sesaat dan memalingkan kembali ke arah lain.


Nadia memang selalu memanggil Yusuf dengan sebutan nama saat mereka hanya berdua karena menurut Yusuf panggilan Ustadz Yusuf itu hanya untuk mereka katakan saat depan santri atau santriwati, begitu pula dengan Yusuf yang memanggil Nadia.


Sejak saat Abi Nadia menitipkan Nadia untuk pesantren disini jarak antara Yusuf dan Nadia tak pernah abah permasalahan karena Yusuf menganggap Nadia seperti adiknya sendiri mungkin seperti itulah Nadia juga menganggap sebaliknya.


''Ya silahkan.'' Yusuf menatap wajah Nadia dan kembali berjalan.


''Apakah kamu tak pernah memikirkan untuk kembali melanjutkan pendidikan mu? dulu kamu bilang kamu mau melanjutkan nya?'' Nadia mengalihkan perasaannya yang terasa tidak menentu.


''Iya aku pernah berfikir untuk melanjutkannya tapi sekarang, mungkin semua itu tidak akan aku lakukan, abah menitipkan pesantren ini sekarang, aku tidak mau membuat abah kecewa apalagi abah sekarang sudah cukup usia aku gak mau meninggalkannya, mungkin perbekalan ilmu yang sudah aku dapat akan lebih baik jika aku berikan pada santri disini.'' Tutur Yusuf yang menampilkan senyumnya pada Nadia.


''Iya aku setuju itu akan lebih baik.''


''Yus,'' Nadia menghentikan kata-katanya dan menundukkan kepalanya.


''Iya?'' Tanya Yusuf yang tidak menyadari kegugupan Nadia


Nadia yang sedikit gugup pun tak melanjutkan obrolannya.


''Kenapa,? Apa ada sesuatu yang kamu mau katakan?''


''Hmmm aku gak tau, aku hanya ingin memberikan ini pada mu.'' Nadia memberikan sebuah lipatan kertas dan tersenyum.


''Apa ini?''


''Bukalah nanti, aku pamit dulu ya, aku mau istirahat.''


Nadia berlalu dan pergi ke kamarnya dimana kamarnya berdampingan dengan kantor pondok.


Nadia tidak sendirian iya di berikan fasilitas untuk tinggal begitu pula guru pondok lainnya.

__ADS_1


Yusuf pun berjalan dan memasuki rumahnya, tak terlihat Abi Nadia mungkin ia sudah lama pulang dan abah pun tak ada di ruang keluarga mungkin juga sedang beristirahat ia pun segera naik ke kamarnya.


''bah, abah yakin dengan semua nya?'' Tanya ummi pada abah yang terduduk di kasur kamarnya.


''Iya tentu abah yakin, sebelumnya selalu seperti itu, Yusuf tak pernah membantah apa yang abah harapkan.''


''Tapi ini berbeda, ini soal masa depan Yusuf.''


''Abah tau tapi abah juga belum memberikan jawaban apapun pada Husein dia juga mengerti.''


''Ummi harap abah tidak memaksa Yusuf jika Yusuf memiliki pilihannya sendiri.'' ummi pun pergi dari kamar dan beranjak pergi ke dapur.


Ummi terlihat kaget saat Yusuf yang tengah sedang duduk di kursi dapur.


''Kamu sudah pulang yus,''


''Iya ummi Yusuf sudah pulang dari tadi, Yusuf sedikit lelah.''


‘’Istirahatlah ummi buatkan kamu teh mau?'' Yusuf hanya menganggukkan kepala dan berjalan meninggalkan ummi nya dan beralih menelpon adi yang Yusuf percaya untuk memegang perusahaan nya.


Yusuf bukan hanya seorang ustadz, ia juga terjun di bidang bisnis tambak udang, meski perusahaan nya masih terbilang kecil Yusuf terus berusaha mengembangkan bisnis nya, menurut berbisnis itu adalah hobinya.


.


.


''Kamu kenapa? Aku perhatikan dari tadi siang kamu diam aja tidak banyak bicara, apa kamu kangen sama ayah dan ibumu?'' tanya Arin dengan penuh selidik.


''Enggak aku suka ko disini aku cuman sedikit pusing, aku mau tidur dulu ya, bangunkan aku saat nanti mau ke masjid.'' Syifa pun menarik selimutnya untuk menutupi tubuh mungilnya ia berusaha memejamkan matanya.


''Iya sudah istirahat saja, tadinya aku mau kasih tau kamu kalau sekarang kamu dan aku ada jadwal untuk beres-beres di rumah abah.'' Tutur Arin menjelaskan.


setiap santri memang selalu berbagi tugas untuk membersihkan rumah abah sebagai tanda baktinya kepada seorang guru.


Syifa sedikit terkejut dan bangun kembali,


''Astaga aku lupa soal itu.'' Syifa segera duduk dan mengikat rambutnya kembali.


''Gapapa kamu tidur aja biar aku sendiri kamu kan sedang kurang enak badan,'' sahut Arini yang hendak berganti pakaian.


''Gapapa ko aku bakal beres-beres lagian itu juga tugas aku.''


Syifa pun segera merapikan bajunya dan mengenakan pasmina yang ia lilitkan di leher jenjangnya dan pergi bersama Arin untuk membereskan rumah abah.

__ADS_1


''Assalamualaikum.'' Salam Syifa dan Arin di depan pintu rumah abah.


Yusuf yang mendengar salam pun segera membuka pintu.


‘’Waalaikumusalam.'' Yusuf hanya diam ia tak bereaksi sampai Arin bersuara.


''Ustadz?''


''Oh iya mmm ada apa?'' tanya Yusuf yang kebingungan.


''Kami mau beres-beres Ustadz.''


''Oh masuklah!'' Yusuf memberikan jalan untuk Arin dan Syifa masuk ke dalam rumahnya.


Sementara Syifa membututi Arin ia tidak memperdulikan Yusuf yang padahal saat itu Yusuf terpesona karena Syifa.


''Syifa?'' Yusuf memanggil Syifa dengan sedikit ragu.


''Iya Ustadz?'' Arin yang mendengar Syifa di panggil Ustad Yusuf ia pun berjalan meninggalkan mereka berdua.


''Apa kamu tidak tahu aurat seorang muslimah?''


''Maksud Ustadz apa?'' Syifa yang sedikit kaget dan bingung malah balik bertanya.


Yusuf mengambil nafas kasar.


''Kerudung mu cobalah pakai yang benar, itu tidak baik tidak menutup aurat mu.'' Dengan sedikit kesal Yusuf pun berjalan meninggalkan Syifa yang malah diam mematung.


''Ih. Lagian kenapa sih, masa aku mau beres-beres harus pakai mukena, dasar Ustadz nyebelin Syifa pun menghentakkan kakinya ia begitu kesal karena Ustadz Yusuf menegurnya.


Namun Yusuf yang melihat Syifa begitu kesal ia hanya tersenyum menurutnya Syifa begitu menggemaskan.


''Aku denger ko!'' ledek Yusuf di balik tubuh Syifa.


Yusuf yang tadi pergi bermaksud kembali karena ponsel nya yang tertinggal di kursi.


''Ustadz.''


''Lain kali kalau mau bilang Ustadz nyebelin lihat-lihat dulu, biar Ustadz gak denger.'' Yusuf pun tertawa menggoda Syifa yang malu karena kelakuannya.


''Ih nyebelin Ustadz tahu, yang malu itu kalo aku cinta sama Ust….'' Syifa tidak melanjutkan perkataannya ia kaget karena ia tidak bisa mengontrol apa yang ia ucapkan.


Syifa pun segera pergi dan meninggalkan Yusuf yang sedang berbunga-bunga.

__ADS_1


''Benarkah, apa Syifa cinta sama aku?'' gumam Yusuf dalam hatinya.


__ADS_2