Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 31


__ADS_3

Hanif hendak masuk ke kamar Abi nya ia ingin melihat kondisi Abi nya dan ia pun berniat akan mengutarakan maksudnya kepada Syifa.


Hanif pun hendak mengetuk pintu kamar abi, karena ia takut jika abi nya sedang tidur namun sebelum ia mengetuk pintu kamar abi, pintu kamar sudah terbuka.


''Oh ummi,'' Hanif sedikit gelagapan karena terkejut.


''Kamu mau bertemu Abi kan? Kebetulan ummi baru saja mau panggil kamu karena Abi mu ingin berbicara.'' Tutur ummi dengan lemah lembut.


Hanif pun masuk ke kamar Abi dan duduk di depannya.


''Apa Abi baik-baik saja?'' Tanya Hanif yang sedikit khawatir karena ummi bilang abi nya ingin berbicara.


''Abi baik-baik saja, Abi cuman mau bilang sesuatu,'' tutur Abi yang terlihat serius Hanif pun mendengarkan apa yang abi nya ucapkan.


''Han kamu kan sudah dewasa ada baiknya jika kamu segera menikah. Abi ingin kamu segera menikah dan meneruskan pondok ini.'' Tutur abi yang menatap Hanif penuh harap.


Hanif menarik nafasnya dalam dan menghembus kan perlahan ia sedikit gugup dengan apa yang akan ia katakan.


''Sebenarnya Hanif ingin meminta restu dari abi, Hanif ingin melamar seorang wanita dengan resmi kepada orang tuanya,'' tutur Hanif yang masih menahan kegugupannya.


Abi Abdullah sangat senang mendengar apa yang Hanif bicarakan ia mengusap tangan Hanif dan tersenyum lebar.


''Pasti nak abi pasti akan merestui kalian.''


Hanif pun bernafas lega karena ia telah mengutarakan niat baiknya kepada abi, meski Hanif telah melamar Syifa secara langsung namun ia belum mendapat restu dari kedua orang tua Syifa.


.


.


Tiga hari berlalu Syifa akhirnya sudah kembali ke pesantren ia sangat bahagia karena ia akan bertemu dengan teman-temannya.


Syifa yang sudah sampai ke area pondok ia segera berjalan ke kamarnya ia membawa beberapa oleh-oleh di tangannya untuk Arin, Arumi dan Desi ia sangat tidak sabar ingin bertemu dengan ke tiga sahabatnya itu.


Syifa pun masuk dan mengucap salam pada mereka.


Arin yang melihat Syifa telah kembali ke pesantren ia segera memeluk sahabat baiknya betapa mereka merindukannya apalagi terdengar gosip yang mengatakan jika Syifa terkena masalah dengan Ustadzah Nadia.


Kabar keluarnya Ustadzah Nadia pun menyeruak di kalangan santri namun tak sedikit santri yang mengira jika Syifa lah penyebab semua itu terjadi karena Ustadzah Nadia terkenal dengan baik dan berbudi luhur tidak mungkin jika Ustadzah Nadia berbuat hal yang sangat tercela.


''Aku kangen banget sama kalian'' seru Syifa yang masih memeluk arin


Arumi dan Desi pun ikut memeluk Syifa, mereka sangat bahagia melihat sahabat mereka telah kembali dengan keadaan yang sangat baik.

__ADS_1


''Kamu tenang aja Syifa, sekarang gak bakalan ada yang gangguin kamu lagi.'' Sahut Desi dengan bangganya.


Syifa hanya mengangguk karena sebenarnya, ia sudah tahu kalau Ustadzah Nadia telah di keluarkan oleh abah secara langsung.


''Iya nenek sihir itu udah gak bakalan ganggu kamu lagi.'' Arini dengan geramnya berkata ia sangat geram dengan apa yang Ustadzah Nadia lakukan.


''Iya-iya udah marahnya, aku udah memaafkan dia ko.'' Sahut Syifa ia pun melerai pelukannya.


''Ko kamu mau aja memaafkan dia, kalau aku jadi kamu aku akan seret balik dia biar kita Jambak-jambakan'' Desi tertawa kecil ia pun menutup mulutnya karena memang Desi orangnya yang sedikit bar-bar.


''Sudah ah kita jangan membicarakan orang, lagian aku sudah gak ada urusan lagi sama dia,'' sahut Syifa yang tak ingin membahas Nadia.


''Aku punya oleh-oleh buat kalian.'' Sahut Syifa ia pun mengeluarkan berbagai cemilan dan kerudung yang telah Syifa beli bersama ibunya untuk ke tiga sahabatnya itu.


''Wah ini beneran buat aku Syifa?'' tanya Arin yang melihat kerudung yang selama ini ia impikan.


''Aku bener- bener ingin ini dari dulu fa, tapi beneran ini buat kita lagian ini mahal,'' sahut Arumi yang masih memegangi kerudung pemberian dari Syifa.


''Iya itu buat kalian.'' Jawab Syifa yang masih mengeluarkan beberapa cemilan.


''Lebih baik kita ngemil ini aku sengaja beli banyak,'' Syifa membuka beberapa snack kesukaannya.


''Ngomong-ngomong bagaimana ujian kalian? Aku sudah banyak ketinggalan,'' Syifa menyenderkan tubuhnya pada dinding ia benar- benar sangat tidak bersemangat.


''Iya percaya lah nona ini kan biasa juara satu pasti bilang mudah.'' Desi memutar bola matanya.


Desi memang sedikit kurang pintar jika di bandingkan dengan Arini yang selalu mendapatkan prestasi yang unggul.


''Rin andai saja kamu bikin contekan buat aku.'' Seru Syifa ia pun tertawa kecil dan menutup mulutnya.


''Ih dasar kamu kan sudah lama liburannya masa otak kamu gak fresh fresh sih Syifa.'' Arini meledek Syifa yang cemberut.


''Oh iya tapi yang paling menegangkan nanti fa.''


''Apa?'' tanya Syifa yang sedikit khawatir karena ujian kali ini adalah penentu kelulusannya.


''Ujian hafalan alfiah Syifa, sama tata cara shalat jenazah itu,'' kata Arumi yang menarik nafasnya berat.


''Iya terus aku harus gimana dong.''


''Semangat dong, kita kan masih punya waktu satu minggu lagi untuk ujian lisannya.'' Arin yang tetap terlihat semangat, wajar sih Arin kan otaknya encer untuk urusan ujian ia tak pernah memiliki nilai di bawah rata-rata.


.

__ADS_1


Banten.


Hanif yang saat ini sedang mengawasi muridnya ujian ia teringat Syifa yang mungkin sama sedang menjalani ujian.


Ia berniat untuk segera menemui orang tua Syifa setelah Syifa lulus ujian.


''Apakah dia akan menerima aku jika aku ingin segera menikahinya.''


Lamunan Hanif pun buyar setelah terdengar bel berbunyi.


Para santri pun telah keluar ruangan, kini Hanif pun membereskan lembar per lembar jawaban dan mulai memeriksanya.


Setengah jam berlalu, ia sudah selesai memeriksa lembar jawaban itu. Hanif pun keluar ruangan untuk mencari udara segar ia mengeluarkan ponselnya dan memotret pemandangan di depan kelas yang cukup masih segar.


Udara siang ini memang sangat sejuk, karena selain di musim penghujan, Hanif memang sengaja memperbanyak pohon di sekitar kelas agar semakin sejuk.


Tring .


Ada sebuah pesan WhatsApp.


Hanif pun membukanya ternyata dari Yusuf.


Hanif tak berniat untuk membuka pesannya ia pun langsung menelpon Yusuf.


''Assalamualaikum.'' Salam Yusuf dari sebrang telepon.


''Waalaikumusalam apa kabarnya ustad?'' tanya Hanif dengan tertawa kecil.


''Alhamdulillah baik-baik, aku kira kamu tak akan lama tinggal di sana.''


''Iya yus abi sakit aku gak bisa tinggalkan abi sama ummi disini, mungkin aku bakalan sedikit lama untuk bisa ke sana,'' lirih Hanif.


''Kenapa kamu baru bilang, jika saja kamu bilang abi mu sakit mungkin aku akan segera pergi ke sana,'' seru Yusuf yang baru tahu alasan Hanif yang tak biasanya berlama-lama di rumahnya.


''Bagaimana keadaan Abi dan ummi? Sudah lama aku tak mengunjunginya,'' kata Yusuf pada Hanif.


''Alhamdulillah sudah cukup membaik, berkunjunglah kesini aku akan sangat senang jika kamu segera kesini.''


''Baik-baik, oh iya aku ada kelas sebentar lagi. Sampaikan salam ku pada ummi kulsum dan abi Abdullah.'' Yusuf pun menutup panggilannya setelah mengucap salam.


Hanif manarik nafasnya panjang ia tak menyangka jika dirinya lah yang akan meminang wanita yang sama dengan yang Yusuf cintai.


''Apa aku tidak keterlaluan sama Yusuf, apa aku akan menyakitinya,'' lirih Hanif ia pun duduk di bangku halaman, ia masih bingung dengan apa yang akan abi dan ummi Yusuf katakan soal dirinya.

__ADS_1


__ADS_2