Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 84


__ADS_3

Kini Syifa dan Hanif telah sampai di depan kediaman ummi setelah menempuh perjalanan yang terbilang lama itu. Syifa yang masih terlelap pun akhirnya membuat Hanif memutuskan untuk membangunkan nya.


''Yang kita sudah sampai.'' Ucap Hanif mengelus pipi Syifa.


Syifa mengerjap kan matanya mengatur cahaya yang kini masuk ke dalam matanya.


''Sudah sampai mas,'' ucap Syifa dengan khas suara bangun tidur


Hanif tersenyum melihat tingkah istrinya yang mudah sekali tertidur.


''Ayo kita turun, biar nanti tidurnya kamu lanjutkan di kamar lagi.''


Syifa pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Mereka pun melangkahkan kakinya untuk memasuki rumah. Namun sebelum mereka masuk ke dalam terlihat Ummi yang kini berdiri di hadapan mereka.


''Ummi.'' Syifa pun segera menyalami wanita yang kini tersenyum ke arah mereka.


''Kalian baru pulang. Ummi sampai bingung kemana kalian pergi. kekeh Ummi karena tidak menyangka sepasang suami istri itu menghilang bahkan tidak ada kabar membuat ummi sedikit cemas.


Namun setelah ummi mengetahui jika putranya kini sedang berlibur membuat ummi sangat bahagia.


''Ya sudah ayo masuk, kalian pasti capek sudah berlibur dua hari.''


Syifa tersenyum malu karena ummi yang terus saja menggoda nya.


''Syifa mau ke kamar dulu ummi, mau istirahat sebentar.'' Pinta Syifa yang kemudian berlalu ke kamarnya di susul Hanif yang juga mengikuti langkah istrinya.


Syifa melangkahkan kakinya menaiki anak tangga untuk segera membaringkan tubuhnya karena merasa lelah.


''Han,'' panggil ummi pada putra nya sebelum Hanif melangkahkan kakinya ke atas.


''Iya ummi?''


Hanif berhenti sejenak karena panggilan ummi padanya.


Syifa yang mendengar Hanif di panggil ummi ia memilih segera ke kamar saja dan membiarkan Hanif menghampiri ummi kembali.


Syifa langsung saja membaringkan tubuhnya di kasur yang sudah dua hari mereka tinggalkan.

__ADS_1


''Iya ummi?'' tanya Hanif kembali karena ummi hanya berdiam hingga Syifa berlalu barulah Ummi menyuruhnya untuk menghampiri nya.


Dengan perasaan yang bertanya-tanya Hanif pun turun kembali ke lantai bawah dimana ummi nya menunggu.


''Ada apa ummi kenapa ummi terlihat serius?'' tanya Hanif kini dan mulai duduk di hadapan ummi.


''Kemarin Lita ke sini, Ia memberikan kado pernikahan untuk kalian. Tapi ummi merasa ada yang berbeda, ummi hanya khawatir.'' Ucap Ummi pada Hanif berterus terang. Entah perasaan apa yang kini menghampiri seorang ibu itu ummi hanya merasa ada sesuatu yang membuat hatinya merasa tidak tenang.


''Ummi tidak usah khawatir mungkin itu hanya perasaan ummi saja. Lagian aku sama Lita sudah pernah ketemu saat aku dan Syifa memeriksa ke dokter waktu itu. Jadi ummi tidak usah khawatir.''


Hanif mencoba menenangkan ummi walau hatinya sendiri juga memiliki perasaan yang sama.


''Ini adalah kado pemberian dari Lita.'' Ummi menyerahkan sebuah bingkisan kecil kepada Hanif.


Hanif menatap bingkisan kecil yang kini ummi berikan padanya.


''Lalu apa dia menitipkan sesuatu lagi?'' tanya Hanif yang kemudian membuka bingkisan kado itu dan melihat sebuah sorban untuknya.


''Gak apa-apa ini hanya sebuah sorban. Aku akan menyimpan nya bagaimana pun ini adalah kado pernikahan untuk ku dari Lita.'' Ucap Hanif kemudian mengusap lembut tangan ummi yang kini masih menatap pada putranya.


Kini ia kembali berjalan ke kamarnya karena ia sendiri sangat merasa lelah. Hanif membuka pintu perlahan karena ia takut jika Syifa sedang tidur.


Hanif berjalan perlahan memasuki kamar nya dan menyimpan sorban pemberian Lita ke dalam lemari pakaian nya.


Dua puluh menit berlalu Hanif telah selesai ia pun keluar dari kamar mandi karena ia lupa membawa pakaian ganti.


Ia membuka pintu perlahan namun ternyata kini Syifa telah bangun.


''Mas udah mandi? maaf ya aku tadi ngantuk banget jadi gak nunggu mas masuk dulu.''


''Gak apa-apa yang lagian kamu juga lagi gak shalat kalau kamu mau lanjut tidur gak apa-apa.''


Hanif yang kini masih berdiri di ambang pintu kamar mandi ia hanya mengenakan handuk yang sengaja ia lilitkan di pinggangnya.


''Biar aku ambilkan baju untuk mu.'' Syifa bergegas berdiri dari tempat tidurnya ia merasa bersemangat untuk menyiapkan apa yang Hanif butuhkan.


Apalagi ia belum pernah menyiapkan pakaian untuk suaminya itu maka Syifa sangat bersemangat.


Syifa memilih sarung, baju Koko, juga sorban yang selalu Hanif gunakan saat shalat tidak lupa pakaian dalamnya.

__ADS_1


''Nih mas,'' Syifa menyodorkan pakaian nya pada Hanif karena ia akan mengenakan pakaian dikamar mandi.


Hanif pun menerima pakaian dari tangan Syifa dengan senang hati.


''Makasih sayang.'' Ucap Hanif yang kemudian berlalu ke kamar mandi.


Ia segera memakai pakaian itu dan tidak lama ia pun telah siap.


Hanif keluar dari kamar mandi dan terlihat Syifa masih sibuk dengan ponselnya entah dengan siapa ia berkomunikasi.


''Yang aku minta sorban yang lain.'' Pinta Hanif karena Syifa memberikan sorban yang baru saja ia simpan dan itu adalah pemberian Lita.


''Memangnya kenapa sorban yang itu mas?'' tanya Syifa merasa heran.


Hanif berpikir sejenak ia bingung harus menjawab apa.


''Mas?'' tanya Syifa kembali.


''Sorbannya belum aku cuci sayang,'' jawab Hanif beralasan karena memang sorban yang dari Lita baru sudah pasti harus ia cuci dulu untuk ia kenakan saat shalat.


.


.


Waktu telah berlalu tapi wanita itu tetap diam di kamar nya ia selalu mengingat perkataan Rian yang kini membuat hatinya merasa sangat gundah.


Sebenarnya Lita sadar jika apa yang ia ambil adalah salah dengan cara ia berusaha masuk ke dalam rumah tangga orang lain besar kemungkinan ia akan membuat Syifa dan Hanif mengalami pertengkaran bahkan bisa jadi ia adalah sebab utama kehancuran rumah tangga mereka.


Lita sendiri tidak yakin setelah mendengar perkataan Rian ia tidak yakin jika ia akan bahagia bersama Hanif atau bahkan jika saat ia menjadi istri kedua Hanif ia akan merasa tenang.


Lita menarik napasnya panjang ia mengambil ponsel yang ia taruh sembarangan.


Perlahan jari lentik itu menghapus kontak Hanif dan menghapus semua kenangan ia bersama Hanif.


Lita sadar jika ia sudah berbuat salah ia juga menyadari jika ia tidak layak untuk Hanif melainkan Syifa lah yang pantas untuk dirinya.


''Aku akan belajar melupakan mu han, aku akan belajar bahagia di saat kamu telah menemukan cinta mu aku janji aku tidak akan mengganggu kehidupan mu lagi.''


Setetes air mata yang kini membasahi pipinya besar rasa cinta Lita ketika ia bertemu dengan Hanif kembali tapi takdir berkata lain ia hanya masa lalunya dan entah siapa yang akan menjadi pilihan hatinya.

__ADS_1


Lita hanya ingin sendiri dulu ia ingin merubah dirinya yang sudah terlalu jauh melangkah dalam kesalahan.


......................


__ADS_2