Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 41


__ADS_3

Syifa pun mempercepat langkahnya untuk segera pergi ke dapur pesantren.


Terlihat beberapa santriwati yang sedang sibuk menyiapkan berbagai makanan yang akan di hidangkan untuk sarapan para santri maupun para santriwati.


Sementara Yusuf ia pun begitu merasa sangat kesulitan menahan debaran jantung yang ia rasakan, meski pun begitu ia akan berusaha menghapus perasaannya pada Syifa. Ia tidak ingin jika perasaannya pada Syifa kian hari akan semakin tumbuh jika ia tidak segera belajar melupakannya.


Yusuf yang terus melamun sampai ia lupa mengucapkan salam, kakinya kini tengah berada di tangga hendak untuk ke kamarnya.


Ummi yang melihat putranya seperti melamun, ummi pun mencoba untuk memanggilnya.


''Yusuf?'' tanya ummi dari lantai bawah, namun benar saja Yusuf tidak menjawab, bahkan sekedar menatap umminya pun tidak ia lakukan.


''Yusuf!'' ummi menaikan nada bicaranya sedikit agar putranya tersadar.


''Astagfirullah, ummi ada apa?'' Yusuf menoleh ke arah ummi yang menatap heran padanya.


''Kenapa ummi?''


''Pagi-pagi seperti ini kamu sudah melamun saja, apa yang kamu pikirkan?'' tutur ummi menatap heran pada putranya.


''Oh, enggak ummi, Yusuf hanya terburu-buru.'' Yusuf berusaha menutupinya, Ia pun membalikan kembali badannya dan hendak kembali ke kamar, namun perkataan ummi kembali membuatnya terhenti.


''Abah minta kamu agar siap-siap pagi ini, katanya abah mau ke rumah abi Husein.''


Yusuf yang mendengar perkataan ummi pun teringat kembali pada Nadia.


Yusuf melirik kearah ummi dan diam sejenak.


''Sepertinya aku tidak bisa ummi, Yusuf minta maaf.'' Jawab Yusuf pelan, Yusuf tidak enak hati menolak permintaan dari Ummi nya.


''Kenapa?'' tanya ummi menatap putranya.


''Aku ada urusan ummi, hari ini aku harus ke kantor, ada masalah yang harus aku selesaikan.'' Yusuf berkata pelan, ia tidak mungkin meninggalkan perusahaannya dalam masalah, apa yang ia rintis sejak awal membuatnya tidak bisa menggambil pilihan lain.


Ummi mengerti dengan apa yang Yusuf katakan ia tidak bisa memaksa Yusuf untuk mengantar abah nya untuk bertemu sahabat baiknya itu.

__ADS_1


''Baiklah, kamu selesaikan dulu semuanya, mungkin esok hari jika urusan kamu sudah selesai, kamu bisa antar abah untuk menemui abi Husein.'' Ummi pun tersenyum hangat dan membiarkan Yusuf berlalu.


Yusuf yang baru memasuki kamarnya, ia pun duduk di kursi, ia kembali memikirkan kondisi Nadia yang saat ini memang menyedihkan, ia tidak bisa berbuat apa-apa, jika saja hatinya tidak mencintai Syifa mungkin bisa saja untuk dirinya belajar mencintai Nadia.


Yusuf pun mengacak rambutnya sepertinya masalah yang menghampirinya tidak kunjung selesai, ada saja yang membuatnya lelah.


Ia pun segera ke kamar mandi untuk segera bersiap.


Banten.


Pagi hari sekali terdengar suara ribut dari luar. Terdengar suara ayah dan ibu Lita yang dibuat pusing oleh putrinya.


Ayah yang sedang Tersulut emosinya pun segera menghampiri kamar Lita.


''Lita!'' teriak ayahnya dari luar pintu kamar.


Lita yang sedang tidurpun terbangun, ia beberapa kali mengerjap kan matanya. Ia pun menyingkapkan selimut yang menutupi tubuhnya dan bangun.


Lita yang masih mengantuk ia pun berjalan perlahan dan membuka pintu kamarnya.


Ayahnya yang sedikit emosi pun menatap tajam pada putri bungsunya itu.


Sementara Lita ia duduk kembali ke kasurnya dan menatap wajah sang ayah yang memang terlihat marah.


''Maksud ayah? aku tidak mengerti.'' Sambil menguap Lita menutup mulutnya.


''Kata orang tua Rian kalian sudah tidak memiliki hubungan? apa yang kamu lakukan? ayah sangat malu pada keluarga Rian, mereka selalu membantu ayah ketika ayah dalam kesulitan.'' tutur ayah pada Lita, ia sangat ingin mendapat penjelasan dari putrinya.


''Aku enggak cinta sama Rian ayah.''


Jawab Lita santai.


Ayah Lita yang mendengar perkataan anaknya sungguh di buat kesal. Ia menarik nafasnya kasar berharap jika apa yang di katakan anaknya itu tidak benar.


''Ayah tidak ingin tahu apapun, kamu harus minta maaf dan balikan lagi sama Rian, lagian apa yang membuat kamu berpikir seperti itu? Rian itu mapan, ganteng, kaya, hidupnya tidak akan membuat kamu kesusahan Lita.'' Terang ayah Lita berharap putrinya memikirkan ulang.

__ADS_1


''Tapi satu saja ayah, aku tidak mencintai Rian.'' Tutur Lita melipat tangannya di dada, ia kesal karena ayahnya begitu mendambakan sosok Rian untuk menjadi pendamping hidupnya.


''Cinta itu dapat tumbuh kapan saja, mungkin saja setelah kalian menikah, kalian dapat saling mencintai, ayah tidak ingin dengar alasan apapun lagi.'' Ayah Lita pun keluar dari kamarnya dengan emosi yang masih memuncak.


Lita hanya bisa terdiam lesu, ia tahu jika ayahnya sudah menginginkannya ia akan sulit untuk mendapatkan keinginannya.


''Sialan apa sih yang kamu bilang pada orang tua kamu.'' Lita menggeram ia sangat kesal pada Rian yang membuatnya mendapat kemarahan dari sang ayah.


Lita pun menggambil ponsel yang ia simpan di kasur, ia kembali mencari kontak WhatsApp Hanif.


''Han, aku mau ketemu.'' Lita pun mengirimkan pesannya kepada Hanif. Ia sangat berharap jika Hanif dapat menemuinya.


Bandung.


Syifa yang sedang membantu di bagian dapur pesantren ia sedikit kesusahan karena ia belum terbiasa dengan bumbu-bumbu dapur ia pun akhirnya memilih untuk menyajikan lauk pauk yang akan ia hidangkan di piring untuk para santri dan santriwati.


Setelah beberapa menit berlalu ia pun telah selesai dan gilirannya untuk segera sarapan, karena sebentar lagi ia akan sekolah.


Syifa pun segera memakan makanannya dengan cepat karena jam sudah menunjukan pukul 06.30.


Syifa yang telah selesai pun segera kembali ke kamarnya setelah ia membantu membereskan beberapa piring kotor yang berserakan.


Ia pun masuk ke dalam kamarnya dan segera mengambil perlengkapan mandinya.


''Ayo dong cepat.'' Teriak Syifa di luar pintu kamar mandi.


Arin dan Arumi yang sudah siap untuk pergi ke sekolah merekapun menunggu kedua temannya yang belum bersiap.


''Bentar!'' Terdengar sahutan Desi dari dalam kamar mandi.


Desi pun keluar dari kamar mandi dan bergegas untuk bersiap.


Sementara Syifa ia pun terburu-buru masuk ke kamar mandi, ia sangat takut jika ia akan kesiangan.


Beberapa menit berlalu akhirnya mereka pun telah siap, mereka pun segera berlari menuju madrasah yang letaknya memang tidak terlalu jauh namun tetap saja jika jam menunjukan pukul 07.00 maka pintu gerbang madrasah akan di tutup.

__ADS_1


Mereka pun akhirinya sampai sebelum penjaga gerbang benar-benar menutupnya. Tidak berhenti di sana mereka pun tetap berlari menuju kelas yang akan segera di mulai. Apalagi sekarang masih ujian mereka harus lebih awal dari guru mereka.


Pintu yang masih terbuka membuat mereka sedikit bahagia karena mungkin belum ada guru yang masuk.


__ADS_2