
Pukul tiga malam Hanif sudah berada di masjid dan melaksanakan shalat sunnah yang selalu ia laksanakan.
Hang berdzikir dan memohon doa kepada sang Khalik agar ia selalu di tetapkan pada jalan kebaikan ia hanya berharap jika Allah selalu meridhoi atas apa yang akan ia lakukan.
Lama Hanif terdiam di masjid ia memandangi masjid yang masih terlihat sepi ia pun akhirnya berjalan keluar karena ia harus segera pergi untuk segera pulang .
''Han.'' Ucap Yusuf saat dirinya hendak masuk ke masjid.
Hanif hanya tersenyum simpul mendapati Yusuf di depan pintu masjid.
Terlihat raut wajah Yusuf seperti sedang dalam masalah.
Hanif oun mengajak Yusuf agar duduk di depan masjid karena ia tahu sepertinya Yusuf ingin menceritakan sesuatu padanya.
''Kenapa Yus?''
Yusuf menoleh ke arah Hanif yang masih setia menunggu ia berbicara. Hanif memnag selalu peka terhadap dirinya makan sulit sekali untuk dirinya menyembunyikan maslah pada Hanif karena Hanif akan selalu mengetahui keadaan dirinya.
''Aku gak tahu harus berbicara apa han, aku sendiri merasa semua ini terasa tiba-tiba.''
''Maksud kamu.''
''Aku sudah melamar Arumi saat malam.''
Hanif tersenyum mendapati pengakuan dari sahabat baiknya.
''Bukan kah itu adalah kabar gembira? aku ikut bahagia jika kalian bahagia.'' ucap Hanif dengan senyum yang kini terukir di bibirnya.
''Yah aku tak tahu harus bahagia atau biasa saja. Aku sendiri tidak tahu jika Arumi menginginkan aku atau tidak.''
''Itu hanya perasaan kamu, Mana ada seperti itu.''
''Hmmm'' Yusuf menarik napasnya panjang ia kini berpikir jika Arumi sama seperti Syifa yang menerima Hanif sebagai tunangan tapi hatinya jelas ia tahu waktu itu Syifa mencintai dirinya.
Seketika Yusuf tertawa kecil ia merasa takdir yang Allah berikan pada mereka amatlah lucu karena ia mengalami posisi yang sama seperti sahabatnya.
__ADS_1
Hanif mengerutkan kening nya ia merasa heran kenapa kini Yusuf malah tertawa disaat baru saja ia terlihat mengeluh.
''Kenapa yah posisi kita ternyata tidak jauh berbeda.''
''Maksud mu?'' Hanif masih belum mengetahui apa yang Yusuf pikirkan hingga kini ia menyadari kemana arah bicara Sahabatnya.
Mereka lama mengobrol dan berbagi cerita hingga ponsel Hanif kini bersuara.
Hanif segera merogoh ponselnya dari dalam saku jaket nya.
Ia melihat Syifa mengirimkan nya sebuah pesan.
''Mas kamu lupa? katanya kamu mau ajak aku beli perlengkapan buat di panti?''
''Astagfirullah.'' Gumam Hanif pelan namun terdengar di telinga Yusuf karena posisi mereka duduk sangat dekat.
Hanif segera mengetik sebuah pesan untuk istrinya.
''Ya sayang, maaf mas lupa ya sudah nanti siang setelah kamu pulang kita berangkat.''
''Untung saja aku ingat.'' Syifa kembali memperlihatkan senyum nya ia kembali merasa sedikit lega karena ia akan bersama Hanif kembali sebelum benar-benar ia akan kembali.
.
.
Para santri dan santriwati mulai berdatangan ke masjid untuk melaksanakan shalat subuh berjamaah. Bahkan terdengar lantunan ayat suci Al-Quran yang di bacakan oleh santri.
Hanya beberapa menit lagi adzan subuh akan berkumandang.
Syifa dan ke tiga sahabatnya segera berjalan ke arah masjid dengan memegang beberapa kitab di tangan nya dan juga mukena yang sudah lebih dulu mereka pakai.
Syifa terlihat bersemangat bahkan ia banyak berbicara saat menuju masjid bersama ke dua sahabatnya sementara Arumi entah kenapa ia lebih sering terdiam tanpa banyak ikut dalam obrolan mereka.
Adzan kini telah berkumandang Yusuf lah yang kini mengumandangkan adzan dengan suara yang begitu merdu dengan suara khas indah nya membuat siapa saja pasti sudah mengetahui siapa pemilik nya.
__ADS_1
''Ustadz Yusuf. Suara nya bagus sekali sih aku rasanya terlena karena adzan Ustadz Yusuf.'' Ucap Desi yang terlihat begitu menikmati suara adzan dari Ustadz Yusuf.
''Biasa aja kali des.'' Arumi berkata karena ia merasa kesal saat Desi memuji-muji suara Ustadz Yusuf.
Sementara Syifa dan Arin mereka hanya tertawa dan segera mempercepat langkah nya sebelum mereka terlambat.
Shalat subuh telah selesai kini seperti biasa mereka mengikuti kuliah subuh yang akan di isi oleh abah.
Semua santri dan santriwati sudah siap mendengarkan tausiyah yang akan di bawakan oleh abah.
''Assalamu'alaikum wr.wb.'' Ucap Abah membuka tausiyah nya.
Dengan serempak para santri dan santriwati menjawab salam dari kyai besar mereka.
''Waalaikumsalam wr.wb.''
Abah pun memberikan tausiyah nya dengan kata-kata yang penuh makna seolah para santri ikut dalam setiap kalimat yang abah berikan.
Para santri dan santriwati hanya diam dan patuh mendengarkan segala yang keluar dari mulut sang guru besar.
''Kalian tahu keimanan yang kuat itu seperti apa?'' tanya abah namun para santri baik santriwati terdiam tak ada yang menjawab.
Keimanan yang kuat adalah rasa iman yang akan selalu tumbuh di setiap harinya, di setiap waktunya, di setiap detiknya, bahkan di setiap hembusan nafas yang keluar dan masuk ia tetap mengingat Allah baik dalam keadaan sehat, baik dalam keadaan sakit, baik dalam tertimpa musibah atau pun senang sekalian. Keimanan itu seperti ponsel yang kita gunakan tapi harus di cas setiap saat seperti itulah keimanan kita di mana kita merasa iman kita berkurang makan segeralah ingat kan hati kita kepada Allah.
Kita hanya mengingat Allah di saat kita membutuhkan nya astagfirullah. Kita hanya sering meminta, kita hanya sering mengadu di saat kita sedih dan melupakan Allah di saat kita senang, tapi apakah kalian tahu Allah akan selalu mengingat hambanya walau ia sedang jauh ia selalu mengharap agar hambanya mengingat ku mengingat aku yang selalu ada di setiap harinya.
Bayangkan kita saja di cuekin oleh manusia di beri harapan palsu kita akan menangis kita akan marah tapi andai kan Allah memiliki sifat seperti manusia sungguh sengsara sungguh kita tak akan berdaya makan perbaikilah iman kita sebelum Allah mengambil nyawa kita karena Allah akan selalu menunggu kita bahkan sampai maut di depan kita sendiri.
Para santri dan santriwati ku sekalian abah hanya ingin kalian melibatkan Allah di setiap urusan yang akan kalian ambil sejatinya segala sesuatu yang telah terjadi tidak lain adalah takdir dari Allah yang ia tunjukan kepada Kita.''
Lama abah memberikan tausiyah nya hingga kini tepat di pukul enam saat nya untuk para santri dan santriwati kembali ke kamarnya karena mereka akan bersekolah.
Abah kembali menutup tausiyah nya dengan doa bersama dan bersalaman sebelum mereka ke kembali.
Abah tersenyum melihat Yusuf yang kini mencium lengan nya sebelum abah keluar dari masjid. Abah tahu kini putra nya telah sadar jika apa yang ia ambil adalah benar tak ada sesuatu yang terjadi dalam hidupnya melainkan Allah sendiri lah yang menggerakkan hati setiap hambanya.
__ADS_1
......................