Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 106


__ADS_3

''Kemana kamu pulang?'' tanya Yusuf saat ia melihat Maya masih saja diam tanpa menangis lagi. Ia terlihat lebih tenang dari sebelum nya.


''Dijalan sebrang sana saja pak.'' Ucap Maya merasa tidak enak hati karena atasan nya begitu baik. Maya memang mengenal Yusuf sebagai atasan yang baik sekali ia semakin merasa bersalah karena telah melibatkan Yusuf dalam masalah pribadinya.


Yusuf hanya mengangguk dan fokus kembali ke jalanan.


''Pak saya minta maaf karena saya jadi melibatkan bapak dalam masalah saya.'' Maya merasa sangat bersalah ia berbicara apa adanya tanpa ingin belas kasihan dari Yusuf.


Yusuf hanya menoleh sekilas tanpa berbuat menjawab. Dirinya sendiri merasa bimbang dengan keputusan yang ia ambil mendadak bahkan dirinya tidak mencintai sama sekali Maya ia hanya merasa kasihan pada Maya dan juga bayi yang kini berada di dalam rahimnya. Seperti halnya dulu ia berniat menikahi Nadia karena rasa bersalah dan kasihan padanya hingga Allah memberikan Nadia sosok pasangan yang menerima dia apa adanya bahkan terlihat jika ia mencintai nya.


Tapi kini pilihan Yusuf sangatlah berbeda ia sendiri bingung bagaimana mengungkapkan pada ummi dan juga abah nya soal masalah yang kini ia ambil.


''Aku tidak ingin pak Yusuf menikahi aku karena aku tahu bapak tak pernah mencintai aku begitu juga aku sebaliknya, jika bapak kasihan pada bayi yang kini berada dalam rahim ku, aku berjanji akan menjaga nya aku akan membesarkan dia walau sendirian meski aku tak tahu kehidupan seperti apa yang akan aku jalani.


''Tapi dia membutuhkan sosok seorang ayah may,''


''Aku tahu pak tapi bukan bapak yang harus bertanggung jawab. Jangan buat aku merasa lebih bersalah karena kesalahan aku pak, aku mohon.'' Maya tak setega itu membuat lelaki di hadapannya yang tak tahu apa-apa tapi harus menanggung masalah pribadinya ia tak ingin lebih jauh menyakiti hati atasannya dengan menerima dia sebagai ayah dari anak nya.


''Terima kasih pak atas bantuan nya aku mohon bapak jangan marah sama aku. Aku tahu bapak baik bahkan terlampau baik tapi bukan bapak yang aku inginkan.'' Ucap Maya yang kemudian keluar dari dalam mobil Yusuf.


Maya merasa kasihan pada Yusuf karena ia menyakiti Yusuf tapi Maya pikir Yusuf akan jauh lebih sakit hati jika ia memutuskan untuk hidup bersamanya.


Yusuf hanya menatap punggung wanita yang kini tengah berlaku dari hadapannya. Perkataan Maya begitu terngiang di dalam pikirannya memang benar dengan menolong dia dengan cara seperti itu tidak akan menyelesaikan masalah Maya namun justru menambah masalah baru dalam kehidupan mereka.


Maya memang sosok wanita yang baik Yusuf tahu jika ia melakukan itu karena tergelincir dalam kubangan dosa dan kini ia sudah menyadari nya. Menjadi seorang ayah dari anak yang bukan dari darah daging nya mungkin mudah saja Yusuf lakukan tapi menumbuhkan cinta diantara mereka itulah gak yang akan sulit apalagi kedua orang tua dirinya yang Yusuf rasa akan kecewa padanya.

__ADS_1


Yusuf menarik napas panjang kali ini ia terpukul lagi karena kenyataan jika dirinya mudah sekali masuk ke dalam lubang yang hampir saja membuat dirinya akan menyakiti orang.


Beberapa menit telah berlalu kini ia menjalankan mobilnya kembali ke jalanan untuk segera pulang karena kini sudah sangat larut.


.


.


''Mas benar tidak capek? sebaiknya mas istirahat dulu dulu di pondok.'' Pinta Syifa karena ia sendiri masih rindu dengan suaminya dan Syifa takut jika Hanif kelelahan karena harus kembali ke kediaman nya apalagi sangat jauh.


''Gak apa-apa yang lagian jika mas disini nanti kamu malah tidak fokus lagi.'' Hanif mengusap puncak kepala Syifa dengan lembut ia sendiri sebenarnya masih ingin menikmati kebersamaan mereka sebelum ia akan kembali ke tempat kediaman nya.


Kali ini Syifa terlihat sedikit cemberut karena ia merasa pernikahan mereka seperti aneh kadang ia merasa menyesal karena menerima Hanif dengan cepat akhirnya ia menikah dan harus berpisah.


''Ya udah biar besok saja mas akan kembali.''


''Janji?'' Ucap Syifa dengan memberikan tatapan mananya.


''Iya, kamu besok sekolah kan? habis pulang sekolah kita beli sesuatu untuk di panti oke? lagian bentar lagi panti nya akan mas resmikan.'' Ucap Hanif karena ia sendiri yang ingin membeli beberapa perlengkapan untuk isian nya.


''Iya mas, makasih ya.'' Syifa kembali memeluk Hanif ia menghirup bau wangi yang sudah sejak lama ia rindukan.


Lama mereka berjalan-jalan sampai akhirnya kini Hanif memutuskan untuk segera pulang ke pondok karena Syifa sudah melewatkan pengajian rutin santri di waktu ashar.


Hanif kembali melajukan mobilnya meninggalkan area masjid alun-alun kota yang jadi pilihan mereka bersantai setelah shalat ashar.

__ADS_1


Jalanan yang cukup ramai pengendara membuat Syifa merasa senang karena kali ini bisa menghabiskan waktu bersama suaminya dan menatap bebas wajah tampan suami nya yang selalu mengisi hatinya sekarang.


''Udah jangan liatin mulu, mas sudah tahu kalau mas tampan.'' Kekeh Hanif karena ia melihat Syifa terus saja memandangi dirinya.


''Ih mas pede banget sih.'' Syifa tertawa karena ia ketahuan diam-diam mengagumi wajah tampan milik suaminya. Syifa pun bahkan kembali mencubit pinggang suami nya sebelum ia mencuri kesempatan mencium pipi sang suami.


''Aw yang.'' Hanif kesakitan namun kini ia tertawa karena tingkah istrinya yang jahil namun hatinya kembali menghangat karena kini istrinya dengan terang-terangan mencium dirinya.


Syifa hanya terkekeh melihat Hanif yang kesakitan tanpa berniat menjahili nya lagi.


''Kamu nakal yah, lagian kamu ini kuku nya panjang banget yang potong dong kuku nya enggak baik tahu.'' Hanif berkata sambil matanya melirik ke arah kuku istrinya yang sengaja ia panjangkan.


''Iya, iya nanti kalau mas udah pulang.'' Kekeh Syifa yang membenahi posisi duduknya.


Berkali-kali dalam hatinya Syifa selalu mengucap syukur karena ia memiliki suami yang begitu sayang padanya meski kadang ia juga merasa menyesal karena harus berpisah dengan suaminya karena ia belum menyelesaikan sekolah tahap akhirnya hanya empat bulan lagi ia harus kembali bersabar hingga mereka akan kembali bersama.


Setengah jam telah berlalu kini mobil telah terparkir dengan rapih di depan kediaman abah Hanif segera turun dari mobil nya diikuti oleh Syifa yang keluar bersamaan.


''Mas aku kembali ke kamar ya.'' Ucap Syifa bersiap biasa agar tidak di curigai santri lain.


Hanif hanya mengangguk dan menghampiri kediaman abah.


Mereka kembali dengan posisi mereka seolah mereka sedang bersandiwara di depan orang banyak hanya untuk menutupi status hubungan mereka karena memang santri tidak boleh dulu menikah selama masih bersekolah.


......................

__ADS_1


__ADS_2