Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 99


__ADS_3

Sudah dua kali Hanif melakukan panggilan nya pada Syifa namun tak kunjung juga mendapat jawaban membuat Hanif merasa yakin jika Syifa sedang marah padanya.


Ia menyimpan kembali ponsel nya di atas meja dan beranjak pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya apalagi seharian ia habiskan waktu untuk menemani ummi nya berbelanja membuat tubuhnya terasa sangat lengket.


Waktu telah berlalu akhirnya Hanif sudah selesai dengan aktivitasnya ia kini merasa lebih segar.


Hanif berjalan ke arah balkon dan memandangi langit siang menjelang sore.


''Apa aku besok saja ke pesantren?'' gumam Hanif ia tidak dapat seperti ini dengan Syifa apalagi dengan hubungan jarak jauh mengingat Syifa juga memberontak karena ia tak kunjung mengunjungi dirinya membuat Hanif merasa sangat bersalah.


''Maaf kan mas sayang, mas janji gak akan membuat kamu kecewa lagi dan mas janji esok mas akan jujur sama kamu.'' Hanif menarik napasnya dalam ia sendiri sangat rindu pada istrinya yang sudah lama tidak bertemu dengan nya tapi Hanif hanya tidak ingin jika sering mengunjungi Syifa membuat Syifa sendiri mendapat curiga dari santri lain nya mengingat Syifa sendiri belum siap jika hubungan mereka banyak di ketahui banyak orang membuat Syifa dan Hanif harus dengan hati-hati menjaga hubungan mereka saat ini.


Walaupun kini hubungan Syifa dan Hanif berstatus suami istri tapi Syifa masih bersekolah.


.


.


Bandung.


Syifa masih ingin menyendiri kini ia merasa bingung harus bagaimana dengan suaminya. Syifa merasa salah tapi tak dapat di pungkiri jika dirinya saat ini sangat cemburu melihat Hanif dengan wanita lain apalagi Hanif sendiri bilang jika ia sedang mengantar ummi berbelanja tapi apa nyatanya bukan ummi yang berada dengan nya tapi wanita lain yang entah siapa.


Air mata yang sudah kering kini kembali membasahi wajahnya ia sangat sakit sekali mengingat Hanif kembali.


''Syifa.'' Arumi menghampiri Syifa yang terlihat masih saja bersedih.


Syifa menghapus air matanya ia tidak ingin memperlihatkan kesedihan dirinya pada Arumi.


''Gak perlu di hapus fa, aku tahu kamu sedang dalam masalah. Kamu bisa ko cerita sama aku, aku janji akan menjaga rahasia kamu.''


Syifa masih terdiam ia bingung apa sebaiknya ia bercerita pada Arumi, Arumi adalah teman yang paling dewasa pemikiran nya ia sendiri saat ini membutuhkan nasehat apa yang harus ia lakukan.

__ADS_1


''Jika kamu mau aku akan dengerin fa, tapi jika kamu tidak ingin bercerita sekarang aku juga akan mengerti posisi kamu saat ini.'' Arumi mengusap lengan Syifa ia sendiri merasa sedih melihat Syifa tak hentinya menangis.


Syifa berusaha menahan air mata nya ia pun akhirnya menceritakan segala kegundahannya pada Arumi.


Arumi tersenyum menanggapi apa yang di alami Syifa ia sendiri tidak menyalahkan sikap Syifa pada suaminya karena ia sendiri adalah wanita. Wajar saja jika wanita cemburu karena perasaan dirinya di abaikan apalagi Syifa dan Hanif menjalani hubungan dengan jarah jauh harusnya satu sama lain saling menjaga komunikasi agar tidak terjadi salah paham.


''Aku ngerti fa apa yang kamu rasakan, tapi tidak ada salahnya jika kamu memberi kesempatan pada Ustadz Hanif untuk menjelaskan terlebih dahulu. Aku yakin Ustadz Hanif tidak akan menduakan kamu apalagi ia memiliki perasaan pada wanita lain cobalah kalian mengobrol satu sama lain agar tidak terjadi salah paham lagi.'' Ucap Arumi dengan hati-hati.


Karena ia sendiri belum menikah dan tidak mengerti sikap Ustadz Hanif tapi ia yakin jika Ustadz Hanif bukan tipe lelaki yang mudah berpaling mengingat Ustadz Hanif sudah lama berpisah dengan Syifa tapi ia kembali untuk meresmikan hubungan nya dengan Syifa dengan cara melamarnya kembali.


Syifa menatap wajah Arumi ia merasa apa yang Arumi katakan memang benar.


''Makasih ya Arumi kamu membuat aku merasa lebih baik.'' Syifa memeluk Arumi ia kembali merasa tenang.


''Ya sudah aku mau keluar kamu segera telepon Ustadz Hanif aku akan menjaga kamar ini agar Arin dan Desi tidak dulu masuk.'' Ucap Arumi mengusap punggung Syifa.


Syifa menganggukkan kepala nya dan menyetujui saran dari Arin karena ia merasa tidak ada lagi waktu untuknya berbicara dengan Hanif karena sebentar lagi ia akan mengaji ke masjid.


Syifa kembali memegang ponselnya ia menatap nomor ponsel Hanif sebelum ia memanggil nomor suaminya. namun belum juga ia menekan tombol panggil Hanif sudah lebih dulu menelpon nya kembali.


Dengan cepat Syifa segera menggeser panggilannya dan mengangkat panggilan dari suaminya.


''Assalamualaikum mas.'' Ucap Syifa dengan debaran jantung yang kini ia rasakan.


''Waalaikumsalam. Yang kamu marah sama mas?'' terdengar suara lembut dari suaminya.


''Mas,''


''Ya sayang, kamu marah sama mas, mas minta maaf jika selama ini menyakiti kamu.''


Syifa mendengar semua perkataan dari suaminya belum juga ia mengungkapkan kekesalannya ia sudah merasa leleh kembali ia tidak bisa menahan kembali air mata yang kini mulai jatuh kembali ke pipi mulusnya.

__ADS_1


''Kenapa mas minta maaf. Apa mas merasa membuat kesalahan?'' Syifa berkata dengan isak tangis yang tak bisa ia hilangkan.


Seketika Hanif terdiam ia tahu jika dirinya membuat Syifa terluka tapi ia merasa jika ia tidak membuat kesalahan karena ia sendiri waktu itu akan menjelaskan siapa wanita yang saat itu bersamanya. Namun panggilan nya sudah berakhir membuat ia yakin jika Syifa salah paham.


''Ya mas bersalah karena tidak mengenalkan dia sejak awal kita menikah mas minta maaf sayang, mas sudah buat kamu kecewa.''


degh.


Syifa yang baru saja merasa lega kini ia kembali merasa sakit apa maksud dari perkataan suaminya.


''Maksud mas.'' Syifa berkata dengan nada yang kini mulai tidak bersahabat.


''Ya sayang mas minta maaf karena mas tidak mengenal kan dia bahkan setelah kita menikah mas tidak juga mengenalkan dia sama kamu.''


''Aku gak suka mas kaya gini. Mas jahat banget sama aku. Memangnya aku tak berarti buat mas kenapa enggak jujur sih mas. Aku sebel sama kamu.''


Syifa hendak mengakhiri panggilan nya dengan Hanif karena sesak yang kini ia rasakan tak bisa ia tahan lagi namun ia mengurungkan niatnya setelah ia mendengar tawa suaminya.


''Maaf sayang maaf enggak kamu salah paham.''


''Salah paham dimana jelas-jelas mas bilang kan.''


''Enggak kamu salah paham, dia itu santri di pondok dan sudah sejak lama begitu apa aku salah bilang jika aku tidak mengenalkan dia sama kamu.'' kekeh Hanif pelan.


''Aku gak suka mas.''


''Iya maaf, lagian kamu bukannya nanya dulu main putusin saja panggilan nya mana mas bisa jelasin yang.''


Syifa terdiam hatinya kembali menghangat setelah apa yang Hanif katakan ia sangat kesal pada Hanif karena ia berani-beraninya mengerjai dirinya tapi tak dapat di pungkiri ia merasa lega karena apa yang ia pikirkan tidaklah benar.


......................

__ADS_1


__ADS_2