Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 28


__ADS_3

Hanif pun segera memesan makanan untuknya dan juga untuk Lita.


''Saya mau lemon tea sama easy cereamy pesto pasta aja mba.''


''Kamu mau apa ta?'' tanya Hanif pada Lita.


''Aku sama aja han,'' sahut Lita yang sedang membuka ponselnya.


''Oke jadi 2 mbak.''


Pelayan itu pun kembali ke dapur.


Hanif melirik Lita ia menatap sosok wanita di hadapannya, ia merasa jika Lita masih sama seperti dulu.


''Han?'' Tanya Lita yang melihat Hanif menatapnya dengan tatapan kosong.


''Oh iya maaf.''


''Kamu kenapa? tanya Lita menatap Hanif, ia pun meraih tangan Hanif dan menggenggamnya.


Namun Hanif tersentak kaget, Hanif pun berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Lita.


Lita tahu jika Hanif memang tidak suka jika ia menyentuhnya, menurut Hanif tak sepantasnya untuk bersentuhan, apalagi Lita dan Hanif bukan muhrim.


Bahkan Hanif sering memberikan saran untuk Lita, agar ia segera menutup auratnya, yang terkadang Hanif selalu memujinya, jika Lita mengenakan pakaian muslimah yang mungkin secara tidak langsung ia menyarankannya agar memakai pakaian yang tertutup.


Lita memang selalu mengenakan pakaian sedikit terbuka, tubuhnya yang ideal membuatnya selalu percaya diri jika mengenakan pakaian yang menurut Hanif sedikit kurang bahan, Lita hanya mengenakan pakaian tertutup jika ia akan mengikuti pengajian dan itupun jarang atau sesekali jika ia akan mengunjungi Hanif kerumahnya, ia sadar jika Hanif adalah anak dari keluarga yang terpandang apalagi Hanif adalah anak dari seorang kiai besar.


Meskipun Hanif adalah seorang ustad sekarang, namun ia tak pernah memaksa agar Lita mengenakan apa yang menurutnya itu adalah kewajiban.


''Han aku mau kita kayak dulu lagi,'' lirih Lita berharap jika Hanif dapat menerimanya kembali.


Hanif tak bisa berkata-kata mulutnya sangat kaku, ia takut jika kata-katanya akan melukai hati Lita.


''Han?'' Lita berkata lirih ia sedikit sakit hati untuk kali ini tangannya di tepis ia merasa sedikit tersinggung.


''Aku masih sangat mencintai mu han, kamu mau kan kalau kita seperti dulu lagi ... han?''


.


.


''Ini pesanan anda tuan,'' pelayan itu pun datang dan menaruh makanannya di meja.


Lita sedikit kesal karena merasa terganggu.


Ia mengalihkan pandangannya dan menata rambutnya kembali.

__ADS_1


''Han kamu denger aku kan?'' Tanya Lita yang kembali dengan pertanyaannya.


Lita menatap lekat-lekat pada Hanif.


Hanif menatap lembut Lita, ia merasa bukan waktunya untuk menjawab sekarang.


''Sebaiknya kita makan dulu ta,'' Hanif mengambil sumpit dan mulai memasukan makanannya ke dalam mulutnya.


Sementara Lita ia merasa sedikit kesal karena Hanif tak kunjung menjawab pertanyaannya.


''Kamu masih tau han makanan favorit aku,'' Lita kembali berkata dan memakan makanannya.


''Aku memang menyukainya,'' Hanif memandang Lita dan tersenyum ia sedikit takut jika mengatakannya sekarang, ia tahu jika Lita kadang suka berlebihan jika menanggapi sesuatu.


''Han apa kamu sudah mempunyai pasangan?'' tanya Lita ia benar-benar takut jika Hanif memang sudah memiliki pasangan.


''Hmmm.'' Hanif hanya menanggapi dengan gumaman.


''Han jawab aku!'' Lita sedikit kesal ia menarik tangan Hanif kembali.


''Ta kita makan dulu, kita gak usah bicarakan itu sekarang!'' tegas Hanif yang tak ingin berdebat.


Lita pun menurutinya dan menghabiskan makanannya.


.


.


''Bu kita jalan dulu yu bentar,'' rengek Syifa yang bergelayut di tangan ibunya.


''Emang kamu gak capek?'' tanya ibu yang tak habis pikir dengan anaknya.


''Enggak lah bu, lagian kan bentar lagi aku akan berangkat lagi ke pondok.''


''Memangnya kamu mau kemana?'' tanya ibu menatap heran anaknya.


''Aku mau jalan-jalan ke rumah nenek bu, lagian sudah lama aku gak bertemu nenek,'' sahut Syifa yang mulai berjalan.


Ibu merasa sangat bahagia, ternyata Syifa tidak pernah menyimpan dendam di hatinya meski dulu ia bercerai dengan ayah Syifa karena ibunya sendiri.


Nenek Syifa memang sejak dulu tidak terlalu suka pada ayahnya, karena sebelum mengenal ayah Syifa ibunya telah di jodohkan oleh nenek.


Kebencian nenek hingga ibu sudah melahirkan Syifa ke dunia, karena menurutnya pernikahan antara ibunya dan ayah Syifa adalah kesalahan.


.


Pukul 15.00 sore.

__ADS_1


''Ta, aku rasa aku akan pulang sekarang.'' Tutur Hanif pada Lita karena ia merasa sudah cukup pertemuannya dengan Lita.


''Kenapa terburu-buru sih han, kita baru bertemu kembali.'' Lita sedikit cemberut ia memajukan bibirnya karena kesal.


''Aku harus mengajar anak-anak di pondok ta, kamu tahu itu kan, tak mungkin aku meninggalkan tugas aku.'' Hanif menjelaskan ia pun hendak berdiri dari kursinya.


''Kalau gitu boleh kan aku ikut kamu?'' tanya Lita yang sedikit memohon.


Hanif hanya bisa pasrah ia tahu jika Lita sudah berkeinginan ia tak akan bisa menolaknya.


Lita tersenyum bahagia ia tahu jika Hanif tak akan bisa menolaknya.


''Kamu yakin akan ke rumah Abi dengan pakaian seperti itu?'' Hanif berkata tanpa sedikit pun menoleh pada Lita ia terus berjalan ke arah pintu keluar.


Lita memperhatikan tubuhnya ia sendiri tak berpikir sampai sana, ia mengeluh karena memang tak mungkin jika ke rumah Abi dengan pakaian seperti ini.


''Han!'' teriak Lita yang mempercepat langkahnya karena Hanif berjalan sedikit cepat.


Namun Hanif tak mendengarnya, ia terus berjalan dan membuka pintu mobilnya.


Lita terus di buat kesal oleh Hanif ia sangat menyesal karena kesalahannya telah meninggalkan Hanif dulu, mungkin Hanif masih sedikit kecewa pada dirinya.


Lita pun membuka pintu mobil untuk dirinya sendiri, ia masuk dan membanting pintu mobil dengan keras.


Hanif yang menyadari jika Lita marah padanya ia menoleh ke arah Lita.


''Lita?''


Lita pun menoleh ke arah Hanif namun ia tak bisa benar-benar marah, tatapan Hanif yang selalu membuatnya sedikit tenang.


''Ya.'' jawab Lita yang kemudian mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela.


''Aku hanya tak ingin jika Abi melihat mu seperti itu,'' tutur Hanif dengan lembut.


''Iya aku tahu, kalau gitu kamu mau kan antar aku pulang saja? mungkin lain kali aku akan ke rumah mu,'' tutur Lita yang tak mengalihkan pandangannya.


Hanif pun menjalan kan mobilnya ke arah rumah Lita.


Tak ada obrolan selama perjalanan mereka saling terdiam hanya suara kendaraan yang memecah kesunyian mereka.


Hingga akhirnya mobil Hanif telah di seberang pintu gerbang rumah Lita. Hanif sengaja berhenti di sana ia tak berniat untuk masuk ke rumah Lita ia merasa belum siap untuk bertemu dengan ayah dan ibu Lita.


''Loh kok disini? kamu gak masuk dulu han?'' tanya Lita yang kini membuka suara.


''Aku harus segara pulang ta, kapan-kapan saja aku mampir.''


Lita pun tersenyum bahagia ia pun menganggukkan kepalanya dan segera keluar mobil.

__ADS_1


Lita pun melambaikan tangannya setelah Hanif menjalan kan mobilnya, sementara Hanif ia merasa lega karena Lita tak jadi ikut dengannya ke rumah, ia takut jika Abi nya menyangka hubungan mereka kembali berlanjut.


__ADS_2