Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 44


__ADS_3

Hanif yang baru saja bangun dari tidurnya karena ketukan ummi, ia merasa ingin tidur kembali ia mengambil ponsel yang berada tidak jauh dari kasurnya, Hanif beberapa kali mengerjap kan matanya saat ia melihat jam di layar ponselnya yang hampir menunjukan pukul dua siang.


''Astagfirulla.'' Hanif mengusap wajahnya ia akan terlambat lagi untuk bertemu dengan Lita. Hanif segera bangun dari kasurnya dan segera membasuh badannya dan bersiap untuk melaksanakan shalat.


Ia melaksanakan shalat di kamarnya dan bergegas mengganti pakaiannya.


Ponsel Hanif yang terus berdering ia pun tidak menghiraukannya, ia merasa kalau itu adalah panggilan Lita.


Lita menarik nafasnya kasar untuk ke dua kalinya ia merasa jika Hanif berniat untuk menghindarinya, ia sangat kecewa atas apa yang Hanif lakukan terhadapnya.


sudah tiga kali panggilan yang ia lakukan, namun tetap saja ia tidak mendapatkan jawaban, Lita yang tadi terlihat begitu bahagia kini menampilkan kekecewaannya kembali.


''Kenapa kamu berubah.'' Lita menundukkan kepalanya ia sangat kecewa.


Hanif yang sedang dalam perjalanan menuju restoran dimana ia akan bertemu dengan Lita, ia mempercepat jalan mobilnya karena jam sudah menunjukan hampir jam tiga sore.


Untung saja jalanan tidak terlalu macet membuatnya bernapas sedikit lega.


Suasana sore dengan udara yang cukup terasa hangat dengan angin yang bertiup sedikit kencang membuat Lita menyibakan rambutnya yang sengaja ia gerai.


Lita berjalan meninggalkan restoran, ia kemudian duduk di bangku taman yang tidak jauh dari sana. Hatinya seakan sudah tahu jawaban apa yang sebenarnya ia harap dari seorang pria yang ia cintai.


Terasa ngilu saat ia berharap namun ternyata Hanif sepertinya tidak seperti dulu, angan ingin bersamanya kembali sepertinya ia harus buang jauh-jauh.


Lita menarik napasnya panjang, ia merasakan udara yang begitu sejuk masuk kedalam indra penciumannya. ''Andai saja dulu aku tidak melepaskan kamu semudah itu han, aku menyesal.'' Lita berkata pelan sambil menatap sinar matahari sore di taman.


Ia merasa sudah lelah menunggu Hanif. Satu jam lamanya ia menunggu sosok pria itu, namun tak kunjung datang juga, Lita berjalan kembali ke restoran tadi dimana ia meninggalkan mobilnya di sana.


Netra nya menangkap sosok pria yang ia tunggu dari kejauhan. Ia melihat senyum yang melengkung dari bibirnya membuat Lita sangat bahagia.


Lita pun mempercepat langkahnya dan diam tepat di hadapan Hanif yang sedang berdiri menatapnya.


''Aku minta maaf.'' Lirih Hanif pelan. Namun jelas di pendengaran Lita.

__ADS_1


Lita tidak bisa marah, bibirnya serasa kelu ia hanya bisa menganggukkan kepalanya dan tersenyum kepada Hanif.


''Kita ke dalam?'' Ajak Hanif yang berlalu berjalan meninggalkan Lita yang masih diam mematung.


Lita pun mengikuti kemana Hanif mengajaknya pergi.


Merekapun duduk di kursi yang terletak di sudut ruangan membuatnya sedikit jauh dari kerumunan orang.


''Apa kamu sudah pesan makan?'' tanya Hanif kembali, ia tahu jika Lita sangat kecewa padanya namun ia berusaha setenang mungkin agar Lita tidak marah.


''Aku kira kamu gak akan datang.'' Jawab Lita yang tidak bisa menahannya lagi, matanya sedikit berair menahan perasaan yang seolah di permainkan Hanif.


Hanif hanya tersenyum ternyata Lita masih sama seperti dulu. ''Aku gak sengaja ketiduran.'' Tutur Hanif yang kemudian memanggil seorang pelayan dan memesan makanan untuk mereka.


Lita hanya terdiam, menunggu pelayan itu berlalu dari hadapan mereka.


''Sudah dua kali han, kamu seperti ini sama aku, apa kamu tidak peduli lagi sama aku,'' raut wajah Lita terlihat sangat kecewa.


Hanif menarik napasnya ia benar bingung dengan perkataan Lita yang seperti itu.


''Han aku mau seperti dulu. Aku mau kita balikan lagi.'' Lita menatap Hanif dengan penuh harapan.


Wanita yang sejak lama Hanif cintai dan sejak lama ia harapkan menjadi sosok pendamping hidupnya, sudah sekian lama Hanif menanti saat-saat seperti ini namun kini hatinya tidak seperti dulu, hatinya telah lelah menanti wanita yang telah lama mengisi hatinya.


''Aku tidak bisa Lita, aku minta maaf.'' Lirih Hanif pelan, ia sangat tidak ingin menyakiti hati Lita, tapi apa daya ia tidak bisa menerimanya kembali.


''Kenapa han?'' Tanya Lita yang mulai berlinang air mata.


''Aku tidak bisa, aku harap kamu bisa mengerti.'' Tutur Hanif menegaskannya kembali. Ia tidak ingin jika Lita semakin tersakiti jika ia memberi tahu kalau ia sudah memiliki cinta yang lain.


Pelayan pun datang dengan berbagai makanan yang telah Hanif pesan untuknya dan juga untuk Lita.


Lita pun berusaha menghapus jejak air mata yang tertinggal, ia berusaha terlihat baik-baik saja di hadapan orang lain.

__ADS_1


''Sebaiknya kita makan.'' Hanif mulai mengambil makanannya dan membiarkan Lita yang hanya mematung memandangi dirinya.


Hanif merasa tidak tega melihat Lita yang menatap sendu kepada dirinya, ia tahu perasaan Lita sekarang tapi ia harus bisa karena Lita akan lebih sakit hati jika ia membohonginya.


Lita pun menyuapkan makanan kedalam mulutnya, ia tidak bisa meninggalkan Hanif begitu saja meski ia sangat perih hatinya mendengar apa yang telah Hanif katakan.


Ia akan berusaha agar Hanif bisa kembali kepadanya.


''Han.'' Panggil Lita setelah selesai dengan makanannya.


Hanif hanya menoleh nya sesaat dan kembali memasukan makanan kedalam mulutnya, ia terlihat sangat biasa saja bahkan setelah ia melihat Lita yang menangis Hanif masih terlihat seperti tidak ada yang terjadi pada mereka.


''Apa kamu sudah memiliki seorang kekasih?'' Tanya Lita sedikit gugup, hatinya berdebar menunggu jawaban yang akan Hanif katakan padanya.


Hanif menatap Lita dengan lembut dan kembali menjawab pertanyaan Lita.


''Kita masih bisa bersama sebagai teman baik ta, tak akan ada yang berubah.'' Ucap Hanif dan meminum minuman yang berada dihadapannya.


Lita hanya diam ia tidak bisa berkata-kata lagi, apa yang Hanif katakan padanya membuat sedikit hatinya tenang, setidaknya ia masih bisa bersama dengan Hanif.


Bandung.


Syifa yang sedang duduk di taman ia kembali mengingat sikap Ustadz Yusuf yang terlihat seolah memang menghindarinya.


''Astagfirullah.'' Syifa tersadar dari lamunannya. Ia pun segera kembali ke kamarnya ia tidak ingin jika ia terus memikirkan laki-laki yang tidak seharusnya ia pikirkan.


Ia berjalan dengan perlahan menikmati suasana sore di pondok pesantren, ia merasa sangat bosan karena ketika datang bulan ia hanya akan berdiam diri kamar, Syifa hanya akan menghafal hafalannya selama waktu haid sampai selesai.


Terlihat Arin, Arumi, dan Desi sedang bersiap untuk ke masjid karena sebentar lagi akan memasuki waktu ashar.


''Kita berangkat dulu ya fa!'' Sahut Arin si depan pintu karena mereka berpapasan .


''Iya!'' Syifa pun melangkahkan kakinya kedalam kamar yang selama ini ia tinggali bersama ke tiga sahabatnya.

__ADS_1


Ia merebahkan dirinya di kasur, Syifa menatap langit-langit terlihat sedikit cahaya yang masuk kedalam kamarnya.


''Enam bulan lagi.'' Gumam Syifa.


__ADS_2