
''Fa bangun kita telat.'' Arumi membangunkan Syifa karena terdengar suara adzan sudah lewat.
Syifa segera bangun dari tidurnya bahkan ia melihat Arin dan Desi masih tertidur mungkin karena malam mereka malah menghabiskan waktu dengan mengobrol dan tidur sudah sangat larut.
Arumi segera pergi ke kamar mandi dan menyuruh Syifa untuk membangunkan ke dua sahabat nya.
''Arin, Desi bangun kita kesiangan!'' Teriak Syifa dengan menggoyahkan tubuh sahabat baiknya.
''Astagfirullah.'' Arin segera bangun di ikuti Desi yang tak kalah kaget nya.
Mereka semua bahkan masuk kamar mandi dengan berdesakan karena sudah sangat telat dan sudah di pastikan mereka akan mendapat hukuman.
Kini mereka berlari ke arah masjid dengan cepat mereka berlari dan sampai saat shalat sudah selesai dengan napas yang masih berburu mereka segera shalat.
Pukul enam kini semua santri dan santriwati sudah selesai mengaji kini mereka kembali ke kamar masing-masing dan ada yang membereskan masjid dan taman seperti biasa namun berbeda dengan ke empat santriwati yang tadi kesiangan mereka di tugaskan membersihkan kamar mandi dan juga membersihkan taman dengan dengan menggunakan kerudung yang bertuliskan hukuman selama seminggu berturut-turut di tambah tugas menyalin kitab oleh Ustadz Nurul.
Kini Arin dan Arumi sedang menyapu di taman yang kini terlihat sangat tinggi dengan rumput dengan kerudung yang bertuliskan hukuman membuat ia merasa sangat malu sekali.
Yusuf yang baru saja berjalan untuk kembali ke rumah nya ia melihat Arumi yang sedang mencabuti rumput liar dengan sapu ditangan nya. Ia tersenyum melihat tingkah calon istrinya yang kini sedang menjalani hukuman itu.
Yusuf dengan santai berjalan ke arah Arumi yang masih sibuk dengan cekatan ia mencabut rumput liar. Mungkin karena sibuk dengan pekerjaan nya ia tidak menyadari kehadiran sosok Yusuf ia terus saja bersusah payah menarik rumput di tanah.
''Assalamualaikum.'' Salam Yusuf tepat di belakang Arumi membuat Arumi seketika bangun dari jongkok nya.
''Waalaikunsalam. Ustadz.'' Cicit Arumi pelan ia sangat malu karena kini Yusuf melihat dirinya sedang menerima hukuman.
''Rajin sekali.'' Ucap Yusuf dengan nada memuji nya namun di hatinya ia ingin sekali tertawa mungkin kini Arumi sedang malu pikir nya.
Arumi diam ia jelas-jelas sangat malu andai saja ia bisa menghilang mungkin sudah sejak tadi ia lakukan.
''Mmmm iya dong Ustadz.'' Jawab Arumi sedikit ketus menyembunyikan rasa malu nya.
''Mana tangan mu.'' Yusuf melirik tangan Arumi yang terlihat sedikit kotor karena tanah.
''Untuk apa, Ustadz jangan macam-macam.'' Ucap Arumi penuh selidik.
__ADS_1
Arumi kira Yusuf hendak memegang nya karena meminta tangan nya.
''Udah mana tangan mu.'' Pinta Yusuf seolah tidak mau di bantah.
Arumi menjulurkan tangan nya perlahan ke depan Yusuf dengan debaran jantung yang kian bergemuruh kencang. Sementara Yusuf hanya tersenyum melihat tingkah Arumi yang terlihat gugup.
''Ambilah.'' Yusuf memberikan sebuah kotak perhiasan pada Arumi tanpa menyentuh nya.
''Ini untuk mu sebagai tanda kamu telah menerima lamaran ku.'' Ucap Yusuf karena Arumi tidak juga mengambilnya.
Seketika tubuh Arumi merasa kaku sesaat dan akhirnya ia mengambil nya.Ada perasaan senang namun bercampur malu karena waktu yang tidak tepat.
Yusuf berlalu dari hadapan Arumi tanpa berkata-kata namun bibir nya mengulas senyum ia sangat bahagia karena kini Arumi telah menerima kalung pemberian nya itu. Ada getaran aneh yang selalu ia rasakan tak lupa ucapan Syukur yang selalu ia panjatkan karena kini Allah memberikan nya petunjuk.
''Semoga kita segera menjadi pasangan suami istri.'' Gumam Yusuf pelan sambil berjalan dengan langkah yang cepat ia masuk ke dalam rumah nya.
Arin yang melihat adegan itu ia tak lepas dari sifat alay nya.
''Uuuhhh so sweet nya.'' Arin segera memeluk sahabat nya meski diiringi tawa karena ia tahu jika sekarang Arumi bahagia bercampur malu.
''Coba lihat dong apa isi nya.'' Pinta Arin dengan rasa penasaran nya.
''Gak boleh.'' Ucap Arumi dengan ketus nya.
''Ih pelit banget sih.'' Arin mencubit lengan Arumi yang sedikit kesal.
''Nanti sayang tangan aku kotor.'' Arumi tertawa karena melihat Arin yang kesal padanya.
Acara beres-beres kini telah selesai bahkan mandi juga sudah selesai kini ke empat santriwati itu sedang bersiap untuk ke madrasah.
''Arumi kamu udah buka?'' tanya Arin yang masih saja penasaran.
''Ih kepo banget sih.'' Tawa Arumi dengan raut wajah bahagia.
''Ada apa sih.'' Syifa ikut bergabung dengan percakapan kedua sahabat nya.
__ADS_1
''Ih kamu sih tadi beresin kamar mandi jadi-'' Perkataan Arin di potong karena kini mulut nya di tutup oleh tangan Arumi.
Arumi merasa malu kalau Arin menceritakan adegan tadi memikirkan nya saja dirinya sudah malu batin arumi.
''Apa sih jangan bikin aku penasaran.'' Syifa menatap selidik pada kedua sahabat nya.
Arumi membuka separuh hijab nya ia memperlihatkan kalung yang sangat indah sudah terpasang dengan rapih di leher nya.
''Masyaallah indah sekali.'' Arin berkata dengan meta yang melotot.
''Bagus sih tapi aku gak ngerti.'' Ucap Syifa yang sedikit kebingungan.
''Dari Ustadz Yusuf.'' Ucap Arin sontak membuat Syifa ikut senang.
''Alhamdulillah.'' Syifa memeluk Arumi ia ikut senang saat ini karena sahabatnya mendapatkan sosok Ustadz Yusuf meski di akui dalam hatinya dulu ia berharap jika Ustadz Yusuf lah yang akan menjadi suaminya tapi ia tidak sama sekali menyesal ia malah sangat bersyukur karena Allah memberikan sosok suami yang sangat menyayanginya dan juga sangat baik Syifa sudah jauh lebih ikhlas sejak dulu ia menerima Hanif sebagai suaminya dan ia juga sudah ikhlas menerima kepergian Yusuf dari harapan nya.
Tak ada sedikit pun rasa sakit di hati atau apalah yang membuat Syifa merasa tidak senang justru ia sangat bahagia dengan kebahagiaan yang kini Arumi rasakan.
.
.
''Ummi Yusuf berangkat dulu ya.'' Ucap Yusuf saat ia melihat ummi nya sedang menyiram tanaman di depan rumah nya.
''Iya hati-hati nak.'' Ucap Ummi setelah Yusuf menyalami tangan nya.
Terlihat raut wajah bahagia dari wajah tampan milik anak nya ummi sendiri merasa senang entah apa yang membuatnya seperti itu.
Mobil hitam itu kini telah melakukan dengan cepat meninggalkan kediaman nya. Yusuf saat ini akan menemui klien nya dan membiarkan Adi yang akan mengurus pekerjaan nya di kantor.
Bayangan Arumi kian selalu menghiasi wajahnya tidak dapat di pungkiri mungkin ia sudah jatuh hati pada sosok wanita yang tidak lain adalah calon istrinya itu.
Kini harapkan Yusuf hanya satu ia ingin segera menikahi Arumi terlepas dari dosa karena tanpa ia sadari pikiran nya kini selalu memikirkan wanita itu.
......................
__ADS_1