
Waktu telah berlalu bahkan sudah kini mereka telah sampai di kediaman Hanif.
Terlihat mang Ali segera membuka pintu gerbang dan tersenyum ke arah dirinya.
''Sayang ayo bangun kita sudah sampai.'' Hanif menggoyahkan tubuh Syifa karena ia belum juga bangun.
''Yang.''
''Apa mas.'' Syifa mengerjapkan karena kantuk yang masih menyerang.
''Kita sudah sampai.'' Ucap Hanif lagi membuat Syifa menatap sekeliling.
Hanif segera turun setelah mobilnya ia parkir kan dengan rapih di depan rumah nya dan menghampiri Syifa yang masih diam saja.
''Mau aku gendong?'' tanya Hanif karena sejak tadi istri nya malah diam saja.
Syifa menggeleng dan segera turun dari dalam mobil.
''Baru pulang den? eh non Syifa apa kabar?'' Tanya mang Ali menghampiri mereka berdua.
Syifa tersenyum dan menjawab pertanyaan mang Ali yang ia tujukan pada dirinya.
''Alhamdulillah mang baik. Mang apa kabar?''
''Alhamdulillah. Ya sudah non masuk dulu sudah malam.'' Kekeh mang Ali sambil mempersilahkan Hanif dan Syifa untuk masuk ke rumah nya sementara Itu mang Ali membantu mengeluarkan beberapa barang milik kedua pasangan itu karena Hanif mengeluarkan barang-barang bawaan nya.
''Assalamu'alaikum?'' Hanif mengetuk pintu rumah nya dan tidak lama abi membuka pintu nya.
''Waalaikumsalam.'' Abi membuka pintu nya dengan senyum lebar nya ia melihat putra dan menantu nya yang baru saja pulang.
''Ayo masuk nak.'' Titah abi pada Syifa dan juga Hanif. Abi memang baru saja mau tidur namun saat mendengar suara salam dari balik pintu ia segera bergegas membuka nya.
''Kita istirahat dulu ya abi.'' Pamit Hanif karena memang sudah malam. Hanif berjalan ke karena nya dengan Syifa apalagi Syifa masih terlihat masih mengantuk.
Kini mereka sudah berada di kamar mereka Hanif menyimpan koper Syifa dan barang bawaan lain nya di samping pintu kamar nya. Ia segera ke kamar mandi untuk membersihkan dulu badan nya.
Syifa yang sudah berjalan lebih dulu ke kamar mandi ia sangat kaget saat satu tangan yang sangat ia kenal sedang memeluk nya.
''Astagfirullah mas. Bikin kaget aja.'' Suara Syifa terdengar begitu kaget membuat Hanif terkekeh.
''Lagian masuk ke kamar mandi gak di tutup pintu nya.'' Hanif membalikan tubuh Syifa dengan mata yang terlihat masih bengkak karena lelah nya ia mengecup mata milik sang istri dengan lembut.
''Mas.''
''Apa sayang?'' Hanif tersenyum menanggapi panggilan dari istrinya.
''Aku mau cuci muka dulu.'' Ucap Syifa malu karena ia belum juga sempat mencuci muka nya Hanif sudah saja masuk dan mengagetkan dirinya.
Hanif melepas pelukan nya ia beralih membawa sabun muka mereka mencuci muka bersama membuat Syifa menggelengkan kepala nya ia tidak habis pikir jika Hanif suaminya sangat berbeda dari yang ia kenal dulu.
''Kenapa?'' tanya Hanif karena Syifa yang sudah selesai ia malah melihat dirinya dengan senyum manis nya.
__ADS_1
''Ya sudah mas keluar dulu aku mau pipis.'' Ucap Syifa jujur membuat Hanif menyetujui permintaan nya.
...
Waktu telah berlalu bahkan mereka sudah kembali terlelap dengan sangat nyenyak. Bagaimana tidak sejak kemarin seolah waktu mereka habiskan dengan terus berjalan-jalan membuat mereka sangat lelah.
Bahkan rutinitas Syifa yang selalu ia laksanakan untuk shalat malam kini mereka tinggalkan karena untuk bangun saja seolah mata mereka sangat enggan.
Hingga kini pukul setengah lima subuh kedua pasangan suami istri itu belum juga bangun.
Alarm yang sejak tadi berbunyi tak sedikitpun membangunkan mereka berdua.
Hingga suara alarm dari ponsel Hanif yang bersuara lagi mengganggu pendengaran Hanif membuat lelaki itu membuka matanya.
''Astagfirullah.'' Hanif segera bangun ia mematikan alarm itu dan beralih membangunkan Syifa.
''Sayang ayo bangun sudah telat kita.'' Hanif menggoyahkan tubuh Syifa agar segera bangun.
''Apa sih mas kita kan udah balik.'' Ucap Syifa merasa terganggu dengan Hanif yang terus saja menggoyahkan tubuh nya.
''Udah siang kita belum shalat.'' Ucap Hanif lagi membuat Syifa menatap wajah Hanif dengan terlihat sedikit samar ia mengerjapkan kembali matanya agar apa yang ia lihat dapat terlihat jelas.
''Jam berapa mas?'' tanya Syifa lagi saat melihat Hanif mulai berjalan ke kamar mandi namun Hanif yang sudah mulai masuk ke kamar mandi seolah lelaki itu tidak mendengar nya.
Syifa segera mengambil ponsel milik suami nya yang tergeletak di kasur nya ia melihat jam di ponsel nya hampir menunjukan pukul lima.
''Astagfirullah.'' Gumam Syifa pelan ia segera bangun dan menghampiri lemari nya. Jemari lentiknya mulai mencari mukena dan sajadah untuk nya dan juga sarung untuk suaminya.
Mereka kini shalat berjamaah setelah Syifa sudah berwudhu.
Hanya beberapa menit saja mereka sudah selesai. Syifa kembali membereskan alat shalat nya.
Terdengar suara alat masak yang saling beradu membuat Syifa berniat untuk membantu ummi sudah di pastikan jika ummi sedang memasak.
''Mas aku turun dulu ya.'' Ijin Syifa pada Hanif karena ia malu jika sampai dirinya tidak membantu ummi seperti saat dulu.
Hanif hanya mengangguk ia masih sibuk dengan laptop di tangan nya.
Syifa segera turun setelah Hanif menganggukkan kepalanya ia berjalan ke arah dapur dan benar saja jika ummi sedang memasak.
Belum juga Syifa menyapa ummi ia lebih dulu mendapat sambutan pagi hari oleh sang mertua dengan raut wajah bahagia ummi menghampiri Syifa.
''Pagi menantu ummi apa kabar sayang?'' tanya ummi pada Syifa
''Alhamdulillah ummi. Ummi apa kabar?'' Syifa menyalami ummi tak lupa ia memeluk tubuh sang ibu mertua yang sudah sangat ia rindukan.
''Alhamdulillah ummi baik. Kata abah kamu pulang malam ya ummi sudah tidur jadi gak tahu.'' Kekeh ummi di sela-sela pelukan nya.
''Iya ummi tidak apa.'' Syifa kembali melepas pelukan nya. Ia menatap begitu banyak nya masakan yang ummi buat.
''Ummi banyak sekali masak nya.''
__ADS_1
Ummi terkekeh mendengar perkataan yang keluar dari mulut menantunya itu.
''Iya dong kan ummi sengaja buat untuk kalian. Hitung-hitung syukuran karena kamu sudah pulang.'' Ucap Ummi merasa senang membuat Syifa tersenyum senang.
''Ya sudah bantu ummi masak lagi yuk. Tinggal dikit lagi ko.'' Ummi beranjak pergi ke dekat kompor dan memastikan jika masakan nya sudah matang atau belum.
Tak berselang lama kini mereka sudah siap untuk makan.
''Syifa panggil dulu mas Hanif ya ummi.'' Syifa segera beranjak pergi ke kamar nya karena ummi dan abi sudah menunggu kedatangan suaminya.
''Mas?'' Syifa membuka pintu kamar nya ia masih melihat suaminya masih sibuk dengan laptop di tangan nya.
''Iya sayang?'' Jawab Hanif namun matanya tetap fokus pada laptop di tangan nya.
''Kebiasaan deh aku disini mas.'' Ucap Syifa sambil cemberut karena kini suaminya tak sedikitpun menatap ke arah nya.
Hanif tertawa kecil menanggapi perkataan Syifa ia seakan teringat saat dirinya mengajak bicara Syifa tapi istrinya tetap saja sibuk dengan ponsel di tangan nya.
''Maaf sayang. Mungkin karma.'' Kekeh Hanif kembali menutup laptopnya sebelum Syifa bertambah kesal.
''Ih ko gitu sih.'' Syifa semakin cemberut membuat Hanif semakin gemas.
''Ya sudah kita turun yu, mau ajak makan kan?'' tanya Hanif membuat Syifa menganggukkan kepalanya.
Syifa dan Hanif segera turun dan ikut bergabung dengan kedua orang tuanya.
Mereka makan dengan diam seperti biasa.
''Mas mau tambah lagi?'' tanya Syifa karena suaminya hanya makan sedikit.
''Boleh sayang.'' Ucap Hanif membuat ummi dan abi tersenyum kembali.
Syifa yang sadar dengan tingkah kedua mertuanya menjadi semakin malu. Ia segera membawakan nasi berikut lauk pauknya ke piring Hanif.
''Han, nanti siang ummi dan abi mau pergi ke rumah paman mu jika kamu pergi bagaimana jika Syifa ikut ummi saja? kamu mau ikut nak?'' tanya ummi menatap Syifa dan Hanif bergantian.
''Kalau aku sih gimana Syifa saja ummi, Hanif tidak bisa ikut karena ada sesuatu yang harus Hanif bereskan.'' Ucap Hanif menatap ke arah ummi.
''Boleh ummi aku ikut ummi saja.'' Syifa merasa akan bosan juga jika ia tinggal di rumah hanya sendirian apalagi ini hari pertama dirinya tinggal disini ia harus kembali beradaptasi dengan lingkungan nya sekarang.
...
''Mas akan jemput kamu saja nanti tapi jika mas sudah selesai.'' Hanif mengusap kepala Syifa yang masih mengenakan hijab.
''Iya gak apa-apa lagian ada ummi dan abi. Mas gak usah khawatir aku juga tahu mas banyak sekali pekerjaan yang tertunda.''
Hanif tersenyum mendengar ucapan Syifa yang begitu pengertian pada dirinya.
''Ya sudah biar aku antar.'' Syifa mengantar Hanif sampai depan dan menyalami punggung tangan Hanif dengan hormat.
Semua tingkah Syifa dan Hanif tak luput dari pandangan ummi membuat ummi merasa sangat senang. Ia merasa sangat bahagia melihat putra dan menantunya yang saling perhatian.
__ADS_1
......................