
''Lita.'' Hanif masih tidak bergeming ia sedikit kaget melihat Lita yang tiba-tiba berada di belakangnya. Hanif menatap wanita yang sudah sejak lama ia lupakan namun terlihat wanita itu sangat bahagia melihat dirinya kembali. Sudah seminggu lamanya ia tidak bertemu dengannya. Bahkan sejak saat itu Lita pun tidak pernah menghubunginya. Hanif hanya bisa bernapas lega berharap Lita dapat melupakannya.
Lita segera menghampirinya dengan senyum yang masih terukir di bibirnya mungilnya. Dengan polesan lipstik berwarna pink membuat wajahnya terlihat berseri dan terlihat lebih segar.
''Kamu sedang apa han disini?'' tanya Lita yang menatap lembut sosok lelaki yang kini masih ia cintai dan masih ia harapkan kehadirannya kembali meski ia sudah tahu jika Hanif tidak bisa menerimanya kembali. Tapi Lita akan setia menunggu dirinya hingga mereka dapat kembali bersama. Hanya harapan yang selalu menemaninya tatkala Lita mengingat Hanif dan perasaannya.
Hanif memikirkan sesuatu dan ia bingung harus berkata apa. Ia mengedarkan pandangannya mencari alasan yang tepat agar Lita tidak mencurigainya, namun ia bingung saat melihat mobilnya terparkir rapih di depan toko perhiasan yang baru saja ia datangi.
''Ko malah diam sih?'' Ucap Lita yang sedikit heran, dengan setia ia menatap sang pemilik hatinya.
''Kamu sendiri ta?'' Hanif berusaha mengalihkan pembicaraan mereka. Hanif belum siap jika harus memberitahu Lita sekarang. Ia merasa jika Lita hanya akan sakit hati jika ia mengetahui yang sebenarnya yang telah ia lakukan. Ia tidak ingin melukai wanita di hadapannya saat ini.
''Iya aku sendiri. Aku mau ke restoran sebelah sana.'' tunjuk Lita yang menunjukan ke arah restoran seafood yang terletak di samping mereka. ''aku melihat kamu yang juga sedang berada disini jadi ya sudah aku ingin memastikannya.'' tutur Lita yang menatap Hanif. Ia sangat bahagia karena ia kembali bertemu Hanif.
Hanif hanya mengangguk mengerti dengan apa yang Lita katakan padanya.
''Kalau begitu bagaimana jika kamu temani aku makan? lagian itu tidak akan lama kan!'' ajak Lita yang menatap sedikit memohon. Lita sangat berharap jika Hanif akan bersedia menemaninya.
Hanif tidak bisa menolaknya dan mereka pun berjalan berdampingan ke restoran yang akan Lita datangi.
Terlihat restoran yang sedang ramai dengan pengunjung yang juga sedang bertepatan dengan jam makan siang. Tidak heran karena memang tempat ini sangat di gemari banyak kalangan yang menyukai hidangan laut.
Lita mengedarkan pandangannya mencari kursi yang sedikit tidak berkerumun dengan banyak orang. Lita melihat kursi yang terletak di ujung sebelah kanan dan ia pun menjalankan kembali kakinya dengan santai sementara Hanif ia hanya membuntuti wanita yang mengajaknya untuk makan siang itu.
Hanif tidak mempermasalahkan apa yang Lita lakukan cukup menuruti kemauannya saja membuatnya merasa sedikit tidak nyaman tapi ia merasa tidak enak jika menolak permintaannya.
Selama di dalam sana Lita tidak berhenti berbicara seakan Hanif tahu jika Lita sedang merasa bahagia. Hingga seorang pelayan datang menghampiri mereka dengan makanan yang telah mereka pesan.
Mereka pun memakan hidangan itu dengan diam dan menikmatinya tanpa di ada obrolan.
Lita yang tidak terlalu banyak makan ia pun tidak menghabiskan makanan yang ada di depannya. Lita menatap lembut sosok lelaki yang membuatnya tergila-gila hatinya sangat mencintai sosok lelaki yang tidak terlalu banyak bicara itu.
''Han,'' Ucap Lita kembali. Sementara Hanif ia sedang memakan makanan yang telah ia pesan.
''Iya?'' Jawab Hanif sesaat dan masih fokus dengan makanan yang selalu ia sukai.
__ADS_1
''Han bisa kan kita seperti dulu lagi.'' Ucap Lita yang kembali terdengar di telinga Hanif.
Hanif pun melirik ke arah Lita yang sedang menatapnya dengan sedikit memohon. Membuat Hanif bernapas panjang lagi ia merasa bingung dengan keadaan yang terus saja seperti ini.
''Ta aku mohon jangan seperti ini.'' Tutur Hanif yang merasa sangat tidak nyaman.
''Kasih aku kesempatan Han, aku berjanji, aku akan berubah seperti apa yang kamu mau.'' Tatapan Lita terus tertuju pada Hanif yang kali ini ia terlihat dingin.
Hanif menarik napasnya kembali dengan kasar namun ia merasa tidak tega ketika melihat wajah Lita yang menatapnya dengan sendu.
''Ta aku mohon jangan seperti ini, aku yakin akan ada lelaki yang lebih baik dari aku. Semoga kamu dapat lelaki yang lebih pantas dari aku.'' Tutur Hanif berusaha membujuk Lita.
''Aku gak mau han. Aku mau kamu kembali sama aku.'' Lita tetap bersikeras dengan keinginannya.
''Aku tidak bisa.'' Tutur Hanif yang kembali menjawab keinginan Lita.
Lita tidak percaya dengan apa yang ia dengar berulang kali ia meminta agar Hanif kembali bersamanya tapi Hanif selalu menolaknya.
''Aku sudah memiliki wanita lain dalam hidupku ta, aku mohon kamu bisa mengerti.'' Akhirnya Hanif memberanikan diri mengatakan semuanya ia tidak ingin jika lebih menyakitinya dengan menutupi kebenaran yang seharusnya membuat Lita berhenti untuk menggapainya kembali.
''Oh ya maaf ta aku harus segera kembali ada urusan yang sedang menanti.'' Hanif pun berdiri dan meninggalkan Lita sendiri di kursinya meski tidak tega tapi ia yakin itu adalah keputusan yang terbaik.
Lita yang sejak tadi terdiam ia segera mengikuti langkah kaki lelaki yang membuatnya sakit hati itu dengan cepat ia berjalan namun tetap saja langkah kaki lelaki itu jauh lebih cepat meninggalkannya.
Hanif yang sudah berada di samping mobilnya ia segera masuk ke dalam mobil yang terparkir rapih di depan toko perhiasan itu. Ia segera menjalankan mobilnya ke jalanan dengan cepat.
Perasaan Lita kini kembali terasa sakit karena perlakuan Hanif padanya. Kebahagian yang baru saja ia rasakan kini berubah kembali dalam sekejap. Ia menatap mobil berwarna hitam itu kembali berada di jalur jalan dan meninggalkan dirinya yang sedang memandangi kepergiannya.
''Kenapa kamu selalu menyakiti aku Han,'' lirih Lita yang merasakan sesak di dadanya.
Lita merasa sedikit putus asa karena sepertinya ia tidak akan mendapatkan Hanif kembali.
.
Bandung.
__ADS_1
Syifa yang sedang berada di taman samping perpustakaan. Ia menatap sayu pada tempat yang selama ini ia paling sukai saat ingin menyendiri.
Tempat yang selalu menjadi favoritnya di saat merasa lelah dengan keadaan menjadi saksi bisu dimana ia mengadu dalam diamnya.
Syifa menatap daun yang berjatuhan karena tiupan angin bersama dengan harapan yang ia tinggalkan disini.
''Fa?'' Arin yang tiba-tiba duduk di sampingnya tanpa ia sadari kehadirannya membuat Syifa menoleh dengan sedikit terkejut.
''Apa yang kamu pikirkan?'' tanya Arin yang menatap sahabat baiknya itu.
''Aku hanya sedih rin, rasanya berat ketika akan meninggalkan pondok ini meski hanya dalam hitungan minggu.'' Lirih Syifa yang tidak sedikitpun menatap Arin yang berada di sampingnya.
''Iya aku juga, sore ini orang tua aku akan menjemput ku.'' Lirih Arin yang sama merasakan sedih ketika akan berpisah dengan sahabatnya itu. Ia merasa akan kembali kepada keluarga yang tidak pernah menyadari kehadirannya membuat Arin sejujurnya enggan untuk pulang.
Syifa yang mengetahui apa yang Arin rasakan ia mengusap tangan sahabatnya itu dan tersenyum.
''Semua akan baik-baik saja.'' Syifa tetap mengusap lembut punggung tangan Arin.
''Lalu kapan kamu akan pulang?'' tanya Arin yang tetap memandang pemandangan indah di hadapannya.
Syifa menarik napasnya memikirkan kepulangannya kali ini ia merasa sangat sedih seakan ia merasa tidak akan kembali lagi.
''Mungkin esok hari aku aku akan kembali.'' Syifa tersenyum dengan senyum yang ia paksakan.
Mereka pun terdiam hanyut dalam lamunan masing-masing. Hanya kesunyian yang mereka rasakan. Suasana sepi yang kian terasa setelah banyak santriwati yang telah berpulang ke kediaman mereka hingga masa libur berakhir.
.
Yusuf yang sejak tadi kembali dari madrasah ia sedikit banyak berdiam ia tidak terlalu banyak bicara.
Entah apa yang ia pikirkan hanya mata yang terlihat menerawang jauh entah kemana ia membawa pikirannya sekarang.
Abah yang sejak tadi melihat putranya hanya bisa membiarkannya. Abah berharap jika Yusuf dapat memahami dirinya sebelum ia memutuskan apa yang putranya akan ambil.
Abah hanya takut jika Yusuf masih memikirkan untuk memperistri Nadia namun hatinya belum sepenuhnya untuk Nadia.
__ADS_1