
Enam bulan telah berlalu sejak kejadian itu Ana sudah tinggal di kediaman Abi dan ummi meski begitu Hanif selalu menyempatkan Ana untuk mengunjungi paman Rahman dan bibi Aisyah bahkan sesekali paman Rahman dan bibi Aisyah akan mengunjungi dirinya.
Memang benar apa yang bibi Aisyah katakan jika Ana membutuhkan sosok seorang ibu mungkin kehadiran Syifa seolah pengganti ibu nya yang telah Allah takdir kan untuk Ana. entah apa yang membuat Ana begitu sepesial di hatinya istrinya juga Syifa sangat menyayangi Ana membuat Hanif sangat bersyukur dengan kehadiran nya yang membawa banyak kebahagian dalam hidup nya.
''Mas kamu mau makan apa?'' tanya Syifa yang baru saja mendudukkan Ana di samping Hanif.
''Apa saja sayang, apa yang kamu masak aku akan makan.'' Hanif tersenyum simpul pada Syifa dan beralih mengusap puncak kepala Ana dengan lembut.
''Ayah, Ana buat sesuatu tadi malam sama bunda ayah mau lihat?'' Ana berkata degan sangat menggemaskan.
''Boleh, Ana buat apa?'' Ucap Hanif antusias.
Sementara Syifa hanya tersenyum melihat tingkah Ana dan juga Hanif.
''Mas makan dulu ya, aku mau panggil ummi sama abi.'' Syifa segera beranjak pergi karena ummi dan abi belum ikut bergabung dengan mereka.
Ana sudah kembali dari kamar nya dengan cepat nya ia kembali berlari ke kursi yang tadi ia duduki.
''Ini ayah.'' Ana memberikan sebuah kertas yang memperlihatkan sebuah gambar yang masih sedikit berantakan.
Namun Hanif dapat memahami isi gambar itu ia kembali tersenyum dan mengecup puncak kepala Ana.
''Ayah suka?'' tanya Ana dengan senyum indah nya.
''Suka sayang, Ana bisa gambar dari mana?'' tanya Hanif dengan sedikit penasaran.
''Ana lihat di TV ayah bunda juga ajarin Ana melukis.''
''Ada apa cucu nenek pagi-pagi sekali sudan ceria.'' Ummi mengusap puncak kepala Ana.
''Ini ummi Ana belajar melukis.'' Hanif memberi kan sebuah gambar dengan hasil coretan Ana. Hanif tersenyum kembali saat mendapati ummi pun ikut tersenyum.
''Pintar sekali cucu nenek. Ana mau jadi seorang kakak?'' tanya Ummi karena ia melihat sebuah lukisan yang memperlihatkan sebuah keluarga kecil dengan seorang ibu yang sedang menggendong bayi nya dan seorang gadis yang sedang berdiri di samping ayah nya.
Seketika Ana mengangguk membuat Syifa tersenyum bahagia. Syifa mengusap puncak kepala dengan sayang nya. Entah perasaan apa yang selalu menghampiri dirinya. Namun kasih sayang pada Ana seolah tak pernah hilang Syifa sangat menyayangi Ana jauh sebelum ia tahu jika Ana akan memanggil dirinya bunda.
__ADS_1
...
''Hanif pamit dulu ummi,'' Hanif meraih tangan ummi dan abi nya ia tak lupa mencium puncak kepala Ana yang kini masih makan.
''Biar aku antar mas.'' Syifa segera berjalan dengan sedikit kesusahan ia bangun dari duduk nya dan mengantar Hanif yang akan pergi ke kantornya.
''Hati-hati sayang.'' Hanif menuntun lengan Syifa dengan langkah perlahan Hanif berjalan di ikuti oleh Syifa.
''Mas berangkat dulu ya sayang, kamu hati-hati di rumah sama Ana jangan lari-lari ingat apa kata dokter.'' Hanif mengusap puncak kepala Syifa dan mencium gemas pipi sang istri yang semakin hati semakin membuatnya sangat menggemaskan.
''Mas juga hati-hati.'' Syifa meraih tangan Hanif dan menciumi punggung tangan lelaki yang sudah sangat menyayangi dirinya.
''Buda.'' Ana berlari menghampiri Syifa yang masih diam mematung di ambang pintu.
''Kita masuk yuk sayang.'' Syifa membawa Ana kembali ke meja makan karena ia sendiri belum selesai makan.
''Nak, apa kamu sudah membeli perlengkapan bayi?'' ummi bertanya pada Syifa karena ummi belum mengetahui apa sebenarnya anak nya sudah berbelanja kebutuhan bayi atau belum.
''Belum ummi, mungkin esok hari saja mas Hanif masih sibuk dengan semua pekerjaan nya.'' Ucap Syifa lembut.
Syifa bukan nya tidak mengingat hanya saja ia juga tidak ingin membuat suaminya menjadi bertambah beban jika ia harus banyak menyimpan pekerjaan nya.
''Iya ummi.'' Syifa kembali makan sementara Ana juga ia sedang makan dengan lahapnya.
''Nenek, Nenek.'' Ana berkata dengan menggoyahkan lengan nenek nya.
''Apa sayang?''
''Dede bayinya akan lahir?'' tanya Ana dengan serius membuat ummi dan Syifa seketika menoleh.
''Bukan sayang, dede bayi nya akan berjalan-jalan nanti sama-sama kita beli hadiah buat dede bayi Ana oke.''
Ana mengangguk dan kembali memakan makanan yang sejak tadi berada di hadapan nya.
...
__ADS_1
''Iya halo? oke baik.'' Hanif segera mempercepat langkah nya untuk segera masuk ke dalam ruangan nya. ia dengan cepat kembali mematikan ponsel nya.
Hanif segera memeriksa berbagai berkas kerja sama nya dengan pengusaha muda yang sudah beberapa hari lalu mengajak nya untuk bekerja sama.
Pengusaha mudah yang belum ia tahu siapa identitas nya itu ia menawarkan kerja sama dengan tawaran yang akan menguntungkan dirinya.
''Permisi pak ada seseorang yang kini ingin bertemu dengan bapak.'' Ucap salah seorang tenaga kerjanya.
''Baik suruh dia menunggu di ruang tamu.''
Hanif kembali merapikan pakaian nya dan beralih ke arah pintu untuk menemui pengusaha muda itu.
Perlahan tapi pasti Hanif segera berjalan mengitari ruangan itu dengan langkah yang lebar nya kini ia sudah sampai di depan pintu ruang tamu.
Hanif perlahan membuka pintu ruangan nya yang dulu ia melihat seulas senyum dari sudut bibir lelaki yang ia rasa pernah ia temui.
''Selamat siang Pak.'' Ucap Hanif mengulurkan tangan nya pada lelaki yang kini tersenyum lebar padanya.
''Pagi, apa kabar han?'' tanya lelaki itu saat melihat Hanif seolah melupakan dirinya.
Hanif sedikit berpikir meski begitu ia merasa sangat yakin jika ia mengenal lelaki yang kini sedang menyapa dirinya.
''Oh maaf aku sedikit lupa.'' Kekeh Hanif karena ia tidak bisa mengingat lelaki yang kini menyapanya.
''Andrean? kamu lupa?'' tutur Andrean mengingatkan.
''Oh ya maaf-maaf aku tidak bermaksud melupakan mu.'' Hanif dan Andrean saling berpelukan dan sedikit berbincang.
''Aku dengar kamu sudah menikah?''
''Ya pernikahan ku mendadak maaf jika tidak mengundang.'' Kekeh Hanif sambil menyeruput minuman nya.
''Oh ya ngomong-ngomong dari mana kamu tahu aku disini?'' tanya Hanif sedikit penasaran pasalnya ia merasa tidak pernah memberitahu Andrean.
''Yusuf, ya bulan lalu aku menemuinya aku juga sedikit berbincang soal pekerjaan aku sedikit kesulitan mencari rekan bisnis yang bisa aku ajak kerja sama, dan karena Yusuf lah dia memberikan saran untuk berkerja sama dengan kamu.'' jujur Andrean pada Hanif.
__ADS_1
Kini Hanif tahu jika itulah sebab nya Andrean mengetahui dimana membangun usahanya.
......................