Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 34


__ADS_3

''Lihat lah mi, benar kan apa yang abi katakan anak Abi itu harus segera di nikahkan.'' Abi tersenyum lebar melihat Hanif yang sedang memegangi ponselnya seperti orang yang sedang kasmaran.


Ummi kulsum yang melihat kelakuan anaknya pun ikut tersenyum.


''Seperti Abi nya dulu,'' ledek ummi kulsum sambil tertawa lepas.


''Enggak abi gak seperti Hanif, justru ummi yang tergila-gila pada pada abi.''


Kata-kata abi membuat ummi tertawa geli,


Abi pun memeluk ummi kulsum, usia mereka memang sudah tua tapi kemesraan ummi dan abi selalu tak pernah pudar bahkan abi tak pernah merasa malu jika Hanif melihat mereka seperti anak muda yang sedang dilanda cinta.


Hanif merasa sangat merindukan Syifa ia bahkan selalu terbayang jika Syifa saat ini sedang bersamanya senyum manisnya yang selalu membuat hatinya berbunga-bunga, perkataannya yang lembut seperti sihir yang menaklukkannya.


''Aku benar merindukan mu Syifa '' gumam Hanif yang masih melihat ponselnya.


Walaupun Syifa tak membalas pesan yang Hanif kirimkan ia sudah sangat merasa senang.


Hanif berencana untuk berkunjung ke rumah ayah Syifa yang terletak di Jakarta, Hanif yang telah sepakat bersama ummi dan abi nya ia tak ingin menundanya terlalu lama.


Terlebih melihat kondisi abi yang memang sudah membaik ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk segera menemui calon mertuanya.


.


Bandung.


yusuf yang tengah menjalankan mobilnya ia terus memikirkan Nadia betapa ia tak tega melihat Nadia yang seperti itu.


Meskipun Nadia pernah berbuat kesalahan dan membuatnya kecewa namun tetap di hati kecil Yusuf ia sangat menyayangi Nadia seperti pada adiknya sendiri, tak bisa ia pungkiri hatinya sedikit sakit ketika melihat kondisi Nadia yang menyedihkan apalagi itu semua penyebabnya adalah dirinya sendiri.


Nadia yang sangat ceria, ia bahkan selalu membuatnya nyaman ketika bersama, membuat Yusuf merindukan sosok Nadia yang dulu.


Setengah jam berlalu, Yusuf tengah sampai di pekarangan rumah abah karena memang kondisi jalan yang tidak macet membuatnya lebih cepat sampai.


Ia pun berjalan ke luar dan menghampiri ummi yang sedang memetik jeruk di depan rumahnya.

__ADS_1


''Assalamualaikum ummi,'' Yusuf menyalami ummi dan mengambil sebuah jeruk yang berada di tangan ummi nya.


''Waalaikum salam, kamu habis dari mana?'' tanya ummi yang kembali memetik jeruk dari pohon yang sudah sangat berbuah lebat.


Yusuf tak bisa berterus terang sekarang, ia tak ingin jika ummi nya memikirkan Nadia, dan merasa khawatir pada dirinya.


Yusuf pun terpaksa menutupi kepergiannya, ia tidak ingin jika ummi mengetahui kepergiannya dan sudah jelas Abah nya pun akan mengetahuinya.


Yusuf hanya tidak ingin jika ummi dan Abah nya terbebani dengan apa yang terjadi pada Nadia.


''Aku hanya habis jalan-jalan ummi, sambil memasukan buah jeruk ke dalam mulutnya dengan santai, namun hatinya sedikit tidak tenang dengan apa yang ia lakukan pada ummi nya.


''Oh, biasanya kamu beli sesuatu kesukaan ummi kalau abis jalan?'' tanya ummi yang sedikit curiga pada anaknya, ummi merasa jika Yusuf menyembunyikan sesuatu darinya.


Yusuf menggaruk kepalanya, ia mencari alasan agar ummi nya tidak curiga.


''Sepertinya kue cucur kesukaan ummi gak ada, soalnya tadi aku tidak melihatnya mi,'' jawab Yusuf yang sedikit terbata-bata ia memang tak pernah bisa untuk menyembunyikan sesuatu dari ummi nya.


''Hmmm.'' Ummi hanya menjawab dengan gumaman ummi yakin jika memang Yusuf menyembunyikan sesuatu darinya.


.


Lita merasa bingung, ia selalu memikirkan Hanif yang ia rasa jika Hanif sedikit berubah.


Ia memutar otaknya mencari cara agar Hanif dapat kembali kepadanya seperti dulu,


''Han aku sangat mencintaimu....'' Lirih Nadia.


Kali ini ia benar sangat menyesal karena pernah meninggalkan Hanif. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan pernah melepaskan Hanif kembali.


Terdengar suara ketukan pintu di balik kamarnya, dan membuat Lita tersadar dari lamunannya, ''iya siapa?'' teriak Lita dari dalam kamarnya.


''Ini bibi non ada den Rian di bawah.''


Lita tak habis pikir dengan Rian yang sekarang menjadi pacarnya, ''tapi ini bisa jadi kesempatan bagus,'' gumam Lita dalam hatinya, ia merencanakan sesuatu.

__ADS_1


Lita pun segera berganti pakaian, dan memoleskan make up agar terlihat lebih terlihat segar. Namun ia memakai pakaian yang tidak terbuka ia mengenakan celana kain panjang, di padukan dengan kaos lengan pendek, dengan pakaian seperti itu saja Lita terlihat sangat cantik, ia pun berjalan perlahan menuruni anak tangga.


Lita tersenyum bahagia melihat Rian yang sedang duduk di ruang tamu, sementara di rumahnya hanya ada Lita dan asisten rumah tangganya saja.


''Hai..'' Lita menyapa Rian yang sedang menutup matanya, sedangkan kepalanya ia sandarkan pada kursi.


Rian mengerjapkan matanya, matanya menangkap wajah sang kekasih yang sedang ia tunggu, Rian pun tersenyum yang membuat dirinya terlihat sangat tampan, namun sayang ketampanannya tak bisa membuat Lita untuk jatuh cinta padanya.


''Eh hai....'' Rian sedikit gugup.


''Tumben kamu kesini gak bilang-bilang dulu,'' Lita pun duduk bersama Rian.


''Aku hanya ingin mengajak mu untuk jalan-jalan aja ta,'' Rian tersenyum hangat sambil menatap sang kekasih yang masih setia mendengarkan.


Lita yang sempat merencanakan untuk memutuskan Rian, ia pun melupakannya setelah ia melihat perlakuan Rian pada dirinya yang begitu lembut.


Lita hanya terdiam, ia memikirkan apa yang harus ia lakukan.


''Ta? kamu denger aku?''


Seketika ia tersadar dari lamunan nya, ''oh iya, aku akan kembali ke sini setelah bersiap.'' Lita pun berdiri dan segera bersiap, ia menyetujui ajakan Rian yang berniat mengajaknya pergi.


Bandung.


Yusuf yang masih saja mengingat kejadian tadi siang, pikirannya tak bisa teralihkan ia selalu merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Nadia, ia merasa kasihan tapi dengan cara apa ia akan bisa menebus kesalahannya, Yusuf menggaruk kepalanya yang tak gatal. Pikirannya yang terus memikirkan Nadia membuatnya sangat frustasi.


''Apa yang harus hamba lakukan,'' gumam Yusuf dengan lirihnya, ia dengan jelas mencintai Syifa namun ia merasa sangat sulit untuk dapat mendapatkannya kembali, seperti ada sebuah benteng yang menghalangi mereka untuk bersama, kedua orang yang berbeda yang mencintai mereka membuatnya tak bisa bisa bersama.


Yusuf yang sedang melamun tanpa di sadari sepasang mata yang sedang memperhatikannya, kebiasaan Yusuf yang tak berubah ia melupakan pintu dan membiarkannya terbuka membuat Abah nya melihat dirinya yang sedang dalam kebingungan.


Abah pun masuk ke dalam kamar Yusuf, bahkan keberadaan abah tak sedikit pun membuat nya tersadar.


Abah yang melihat kelakuan anaknya, ia tersenyum dan menepuk pundak Yusuf.


''Apa yang membuatmu seperti ini?''

__ADS_1


__ADS_2