Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 7


__ADS_3

''Kenapa harus Ustadz Yusuf sih, aku sangat malu jika dia melihat aku.'' Tutur Syifa dalam hatinya, ia sangat gelisah jika Ustadz Yusuf melihat keberadaannya.


''Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.''


''Waalaikumusalam warohmatullahiwabarokatuh.''


Acara pembukaan pun di mulai dan semua santri dan santriwati yang hadir dengan seksama mendengarkan dengan sangat khidmat.


Syifa begitu memperhatikan setiap apa yang keluar dari mulut Ustadz Yusuf, apa yang ia sampaikan begitu indah sampai ia lupa tentang rasa malu yang ia rasakan, Syifa pun terus menatap ke arah Ustadz Yusuf yang sedang memberikan tausiyahnya.


''Tampan sekali Ustadz Yusuf itu, andai aja dia belum memiliki pasangan aku mau ko jadi calon istrinya,'' Syifa berkata dalam hatinya, ia terus memandanginya tanpa memperhatikan apa yang Ustadz Yusuf sampaikan karena begitu terpesona. Hingga tatapan mereka saling bertemu.


''Astagfirullah apa yang aku lakukan.'' Syifa yang kaget ia pun segera menutup wajahnya dengan buku karena begitu malu, detak jantungnya yang terasa begitu bergemuruh tak karuan membuatnya sedikit gugup.


Yusuf yang menyadari akan kelakuan muridnya pun hanya mengulum senyum dan kembali melanjutkan tausiyahnya.


Setelah beberapa jam berlalu, akhirnya acara tausiyah selesai dan di lanjutkan shalat isya berjamaah.


Banyak santri maupun santriwati yang mengulang wudhu nya karena merasa wudhu nya telah batal, Syifa pun pergi ke tempat wudhu untuk mengulang wudhu nya dan bergegas kembali ke barisan shalat.


Setelah shalat selesai para santri maupun santriwati pulang ke kamar masing-masing karena jam juga sudah menunjukkan pukul sembilan.


''Aduh aku ngantuk banget.'' Syifa yang tak biasa tidur terlalu larut, ia beberapa menguap, bahkan matanya yang sudah terlihat merah karena rasa kantuk yang menyerang ia memang terbiasa tidur di awal-awal jam malam.


''Baru juga jam sembilan.'' Timpal Arini yang masih bergulat dengan buku-bukunya, sedangkan Arumi yang pergi ke kamar mandi dan Desi yang sudah langsung tidur mungkin karena kecapean.


''Iya nih aku gak biasa tidur di jam-jam malam, biasanya aku sudah mimpi indah kali.'' Syifa pun Menggeliat ia merentangkan tangan dan kakinya karena merasa pegal di sekujur tubuh.


''Yah gak bakalan cerita dong.'' Sahut Arin yang berharap jika Syifa tidak langsung tidur.


''Emang kamu mau cerita apa sih, ini tuh udah malam.'' Syifa merasa sedikit heran dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


''Aku mau tanya Syifa.''


''iya tanya apa soal apa?'' Syifa menjawab pertanyaan Arin, namun matanya tertutup.


''Menurutmu Ustadz Yusuf itu gimana?''


''Apa yang gimana nya?'' tanya Syifa tidak mengerti pertanyaan Arin.


Rasa kantuk yang sejak tadi datang menghampiri dirinya kini terasa hilang setelah Arin menanyakan Ustadz Yusuf, apakah Arin memiliki perasaan pada Ustadz Yusuf?'' dalam hati Syifa bertanya-tanya.


''Iya gimana gitu? aku perhatikan dari tadi kamu senyum aja lihat Ustadz Yusuf,'' tutur Arin dengan tatapan penuh selidik.


''Enggak, mungkin perasaan kamu aja kali?'' Syifa berusaha mengalihkan pembicaraan Arin, karena ia sendiri tidak tau soal perasaan apa yang ada, apa itu hanya sekedar kagum atau karena perasaan malu, karena Syifa sebelumnya tak pernah memiliki seorang kekasih.

__ADS_1


''Yakin? jadi kamu gak suka sama Ustadz Yusuf nih?'' tanya Arin yang mulai menggoda Syifa.


Syifa hanya diam ia berusaha untuk tidur kembali.


''Benar kan kamu suka? buktinya kamu sudah gak ngantuk lagi tuh dengar nama Ustadz Yusuf.'' Arin tak hentinya menggoda Syifa yang terlihat salah tingkah.


''Ya kalo aku suka, ya wajar lah orang dia ganteng rin,'' jawab Syifa datar dan menutupi wajahnya dengan selimut.


''Oh ya sih, tapi hati-hati jatuh cinta, katanya sih kalau Ustadz Yusuf itu sudah punya tunangan loh.'' Arin mengingatkan, ia menatap tak percaya pada Syifa.


Sementara Syifa ia merasa jika itu bukan urusannya.


''Iya udah lagian stok ustad ganteng kayak Ustad Yusuf banyak ko, aku mau tidur yah dah.'' Syifa kembali menarik selimut kembali agar menutupi seluruh wajahnya agar Arin tidak terus mengajaknya mengobrol.


''Tapi apa benar Ustadz Yusuf sudah punya tunangan? tapi kan baru tunangan belum nikah, lagian kenapa aku harus memikirkan omongan si Arin sih.'' Syifa menggerutu pada dirinya sendiri.


Ia pun segera menutup matanya agar segera tertidur.


Arumi yang baru keluar dari kamar mandi ia sempat mendengar percakapan Syifa dan Arin.


''Kenapa kamu belum tidur rin?'' Arumi menoleh ke arah Syifa yang sepertinya sedang berusaha tidur.


''Baru mau, ayo kita tidur nanti kita kesiangan.'' Arin pun membaringkan tubuhnya dan mencoba untuk tidur.


.


.


Yusuf yang baru pulang ke rumahnya ia tak mendapati siapapun, ia pun berjalan menaiki tangga untuk masuk ke kamarnya, namun langkahnya terhenti karena terdengar abah baru menjawab salamnnya.


''Waalaikumusalam''


''Kamu baru pulang Yusuf ?''


Yusuf pun menoleh ke arah Abah nya berdiri.


''Iya bah, abah belum tidur? Ini kan sudah malam abah harus istirahat.'' Tutur Yusuf dengan hormat.


''Abah gak bisa tidur yus lagian ada sesuatu yang abah mau bicarakan sama kamu.''


Yusuf yang melihat raut wajah Abah nya yang terlihat serius, Ia pun kembali menuruni tangga dan duduk di kursi.


''Abah mau bicara apa?''


Yusuf yang duduk di kursi berhadapan dengan Abah nya karena ia rasa akan ada pembicaraan yang serius.

__ADS_1


''Yus abah mau titip pesantren sama kamu, abah rasa mungkin untuk ke depannya pesantren ini bakal kamu juga yang pegang, sebaiknya kamu harus belajar dari sekarang, dan abah mau kamu fokus dulu buat pesantren ini. Semua yang abah lakukan abah mau jika kamu yang meneruskan ini. Tutur abah yang sangat berharap pada putranya.


Yusuf menarik nafasnya panjang, ia tahu maksud abah pada dirinya, meski jika harus memegang pesantren dengan utuh ia belum sepenuhnya siap, tapi ia tidak ingin jika harus mengecewakan Abah nya.


''Yusuf akan berusaha yang terbaik bah untuk pondok pesantren, apapun yang abah mau Yusuf akan coba berusaha menjalankannya, tapi Yusuf juga minta waktu bah, Yusuf juga harus kontrol perusahaan Yusuf mungkin Yusuf akan sesekali meninjau langsung. Ya meski kantor akan Yusuf serahkan pada Adi untuk sementara waktu.''


Yusuf sangat berharap jika Abah nya dapat mengerti posisinya sekarang.


''Abah tau dan itu terserah kamu aja, tapi abah harap kamu bisa abah percaya.''


Abah pun menepuk pundak Yusuf dan tersenyum padanya.


''Iya bah, terima kasih karena abah mengerti aku juga, ini sudah malam abah harus istirahat.'' Tutur Yusuf yang hendak bangun dari duduknya.


''yus.''


Seketika Yusuf yang akan berdiri mengurungkan niat nya, Ia pun kembali menatap sosok wajah Abah nya yang telah membesarkannya.


''Apa kamu sudah mempunyai calon?''


''Kenapa bah? Yusuf perlu waktu untuk itu Yusuf harap abah bisa mengerti Yusuf.''


''Iya abah tahu, tapi kamu ini sudah cukup dewasa, abah mau kamu segera mempunyai calon menantu untuk abah dan segera menikah, itu lebih baik daripada kamu sendirian.'' Abah mengingatkan.


''Yusuf akan membawa calon menantu untuk abah, dan Yusuf akan kenalkan saat waktunya tiba bah.''


Yusuf mencoba memberi pengertian, karena selama ini abah selalu memintanya agar segera menikah.


''Kapan? nanti yang ada kamu keburu ke duluan sama si Adi, abah harap secepatnya.'' Tutur abah pada Yusuf penuh dengan harapan.


''Baik bah, kalau gitu Yusuf mau ke kamar dulu Yusuf mau istirahat bah, abah juga istirahat tidak baik tidur terlalu malam untuk kesehatan abah.''


Yusuf segera pergi ke kamar nya dan mengganti pakaian.


''Bah.....''


ummi yang tadinya akan tidur, tapi ia mendengar apa yang abah dan Yusuf bicarakan, ia pun menghampiri suaminya yang sedang duduk di kursi.


''Abah kenapa maksa Yusuf terus gitu sih? mungkin memang benar apa yang di katakan Yusuf ada saatnya untuk dia memperkenalkan calonnya itu, abah doakan saja yang terbaik untuk Yusuf.'' Ummi mengusap punggung suaminya, ia tahu benar apa yang Abah nya pikirkan.


''Abah tau abah terlalu memaksa tapi, b abah selalu memikirkan apa yang di katakan Kyai Husein mi, ia meminta agar Yusuf di jodohkan dengan putrinya, abah tidak mau memaksakan abah mau kalau Yusuf memang menginginkan seseorang itu dengan kemauannya bukan karena paksaan mi. Tutur abah yang merasa bersalah karena selalu mendesak Yusuf.


''Terus kapan abah akan katakan semua itu pada Yusuf? Ummi kira tadi abah mau bilang soal perjodohan itu.''


''Mungkin minggu depan, abah akan katakan itu pada Yusuf, abah tidak mau Yusuf terbebani masalah ini. karena abah tidak tau apa Yusuf akan menerima lamarannya atau malah sebaliknya, abah hanya ingin Yusuf fokus untuk mengelola pesantren dulu yang seharusnya memang tangung jawab Yusuf ke depan nya ummi.''

__ADS_1


''Iya abah benar.. apapun yang terbaik menurut abah ummi akan mendukungnya, kalau begitu ayo abah istirahat ini sudah larut malam.''


Abah dan ummi segera masuk kamar meski abah bersikap tegas pada anak-anaknya, tapi abah tetap menghargai keputusan yang akan di ambil oleh anak-anaknya


__ADS_2