
''Memangnya apa yang kamu pikirkan tentang Nadia, Yusuf?'' Ummi memandangi putra sulungnya. Ia tidak paham dengan apa yang Yusuf katakan.
Yusuf melirik ke arah abah dan kembali menatap wajah sang ummi yang sedang menatapnya.
Ia mencoba mengumpulkan segala keberaniannya untuk mengutarakan maksudnya.
''Ada apa yus?'' abah bertanya kepada Yusuf yang terlihat sangat gugup.
Yusuf kembali menatap wajah sang ummi dan abah nya bergantian, hatinya sedikit takut akan reaksi apa yang akan ia terima dari kedua orang tuanya.
Ia menarik nafasnya perlahan.
''Ummi, abah, sebelumnya Yusuf minta maaf sama kalian, Yusuf berniat untuk menjadikan Nadia calon istri Yusuf.'' Yusuf pun tidak mampu berkata-kata lagi jantungnya terasa berdetak begitu kencang, ia tidak bisa menyembunyikan kegugupan yang sejak awal ia rasakan sampai saat ia telah mengutarakan maksudnya kepada ummi dan juga Abah nya.
Abah dan ummi yang mendengar langsung perkataan dari putranya keduanya sangat tidak menyangka jika Yusuf akan berniat memperistri Nadia.
''Ummi tidak setuju!'' ummi memalingkan mukanya dari Yusuf ia merasa sangat kecewa kepada Yusuf karena ummi merasa jika Yusuf tidak pantas jika bersanding dengan Nadia.
Abah yang mengetahui perasaan istrinya ia mengusap lembut punggung ummi, berharap agar ummi bisa sedikit tenang.
Yusuf yang terkejut ia pun menatap ke arah ummi nya dengan perasaan yang terasa sakit, hatinya sangat sakit ketika ia mengutarakan niatan baiknya, namun ummi nya tidak menyetujui keinginannya.
''Ummi,'' Lirih Yusuf berusaha ingin meyakinkan ummi nya.
''Banyak wanita yang sholehah, banyak wanita yang mendambakan kamu sebagai imamnya, tapi kenapa harus Nadia, kenapa harus Nadia yang kamu pilih Yusuf.'' Ummi pun meneteskan air matanya, ummi hanya takut jika Nadia akan berbuat hal yang tidak sepatutnya apalagi ia menyerahkan putranya sebagai suaminya.
''Ummi.'' Abah mencoba berbicara kepada ummi agar ia bisa tenang.
''Abah mendukung keinginan Yusuf? abah tidak peduli dengan ke khawatiran ummi? Abah hanya memikirkan perasaan orang tua Nadia, tapi abah tidak mengkhawatirkan putra abah sendiri.'' Lirih ummi yang mulai berlinang air mata.
''Ummi maafkan Yusuf. Tapi bukankan manusia tempatnya salah dan khilaf, ummi mengajarkan Yusuf banyak hal tenang kehidupan ummi yang membuat aku memilih dia, ummi tahu jika seseorang yang telah jatuh kedalam kubangan dosa akan lebih mulia jika ia bertobat, andai saja Nadia bertobat ia akan lebih mulia dari aku ummi, andai dia tidak bertobat, lalu siapa yang akan menyelamatkan Nadia dari kubangan dosa? aku menyayangi dia seperti aku menyayangi adik aku sendiri ummi.''
__ADS_1
Ummi terdiam meski sesekali ia menghapus air matanya.
''Ummi harap kamu memikirkan ulang lagi Yusuf, ummi tahu soal itu, tapi ummi merasa ummi belum siap.'' Ummi pun pergi ke kamarnya meninggalkan abah dan Yusuf berdua.
''Jika saja Nadia tidak berbuat hal yang membuat ummi tidak percaya kepadanya, sudah pasti ia akan mendapat restu dari ummi.'' gumam ummi dalam hatinya.
Yusuf menarik nafasnya kasar hatinya perih melihat ummi menangis dihadapannya. Ia sangat tidak berdaya.
''Sudahlah, apa yang kamu katakan ada benarnya, dan apa yang ummi mu katakan juga ada benarnya, berpikirlah kembali nak, karena apapun yang akan kamu ambil abah akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu.'' Abah pun berjalan meninggalkan Yusuf sendirian. Abah tidak ingin jika ummi menangis dan salah paham.
Yusuf bingung ia harus bagaimana pilihannya untuk memperistri Nadia mendapat penolakan dari ummi nya. Yusuf memang tidak mencintai Nadia tapi ia menyayangi Nadia, melihat kondisi Nadia yang menyedihkan membuat hatinya iba, ia ingin memberikannya kesempatan kedua, dan mungkin dengan kesempatan kedua yang akan ia berikan Yusuf berharap Nadia akan berubah.
Yusuf pun kembali ke kamarnya ia berjalan perlahan menaiki tangga dengan perasaan yang tidak karuan.
Yusuf membuka pintu kamarnya, ia menatap setiap detail kamar yang selalu membuatnya nyaman. Tapi kini ia merasa tidak ada kenyamanan di kamarnya hanya terasa hampa. Hatinya masih merasakan perih yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan.
Yusuf pun berjalan keluar balkon ia menatap gelapnya malam yang bertabur bintang di atasnya.
Ia berpikir jika keindahan saja mempu tersembunyi kan karena gelapnya malam, maka setiap hati yang baik tersembunyi kan karena dosa yang mereka perbuat, maka tugasnya adalah menghilangkan dosa itu.
Yusuf tersenyum lebar ia mengerti apa yang harus ia lakukan.
Banten.
Malam yang kini Hanif rasakan sangat terasa sepi, ia merasakan hatinya yang bimbang.
''Apa yang harus aku lakukan.'' Gumam Hanif yang menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Hanif masih memikirkan permintaan abi nya yang terasa selalu mendadak.
Hanif mengambil ponselnya dan melihat poto Syifa yang terpanggang di akun WhatsApp nya.
__ADS_1
''Semoga kamu dapat menerima aku apa adanya Syifa.'' Lirih Hanif pelan yang memandangi poto Syifa.
Hanif pun menyimpan kembali ponselnya ia memikirkan apa yang akan terjadi nanti saat ummi dan abi nya bertemu langsung dengan Syifa, Hanif sedikit takut jika Syifa akan berubah.
Tapi ia berpikir akan lebih baik jika ia mempertemukan ummi dan abi nya terlebih dahulu daripada ia bertemu langsung dengan kedua orang tua Syifa langsung.
Hanif pun kembali membaringkan badannya yang sejak tadi ia paksakan untuk melakukan aktivitasnya padahal ia merasa sedikit letih karena kondisi badan yang terasa sedikit kurang fit.
Ia meregangkan badannya dan kembali terbangun, Hanif pun mengambil vitamin untuk dirinya berharap agar esok hari lebih baik lagi.
Bandung.
Syifa yang tengah membuka bukunya ia belum juga bisa tidur meski ke tiga sahabatnya sudah tertidur pulas tapi ia masih belum bisa merasakan kantuk yang akan menyerang.
Ia pun memutuskan untuk menghafal beberapa pelajaran yang menurutnya ia belum benar bisa memahaminya.
Meski ujiannya telah selesai dan esok hari hanya akan di adakan remedial bagi santri maupun santriwati yang mendapat nilai di bawah rata-rata, tapi Syifa bersiap agar ujian nanti ia akan mendapatkan nilai yang lebih baik.
Ia teringat akan rencananya yang berharap untuk melanjutkan pendidikannya nanti ke jenjang yang lebih tinggi, Syifa tak mungkin dapat melanjutkannya dengan nilai yang rendah ia tidak ingin membuat kedua orang tuanya kecewa.
Malam semakin larut, Syifa membereskan buku-bukunya dan berjalan perlahan ke kamar mandi agar tidak terlalu menimbulkan suara, ia pun segera membasuh wajahnya dan berwudhu.
Syifa hendak shalat sunnah sebelum tidur, kebiasaan yang mulai ia sukai sebelum tidur adalah melaksanakan shalat sunnah yang membuat hatinya tenang dan terasa lebih nyaman.
Syifa pun yang telah selesai berwudhu ia kembali berjalan ke kamarnya dan menggelar sajadah ia pun shalat.
Keheningan menjadi teman baiknya di saat malam yang mulai ia sukai, membuatnya semakin yakin jika mondok adalah keputusan yang sangat tepat tapi hati kecilnya merasa sedih ketika Syifa akan meninggalkan pondok dan menjalani hari seperti dulu, hanya enam bulan lagi mungkin ia akan keluar dari pondok ini.
Syifa yang telah selesai melaksanakan shalat ia pun mengambil tasbih yang Hanif berikan. Ia pun berzikir dan mengakhiri dengan doa. Ia menengadahkan tangannya memohon ampun kepada sang Khalik dan meminta agar hatinya selalu berada dalam kebaikan, berharap agar kedua orang tuanya sehat ia pun menutup doanya.
Syifa pun membereskan kembali mukena yang ia pakaian dan menyimpan pada lemari.
__ADS_1
Matanya kini tertuju pada ke tiga sahabatnya yang tertidur sangat pulas. Hatinya merasa sedih Syifa berharap waktu akan sedikit panjang untuk mereka lalui bersama.