Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 56


__ADS_3

Berulang kali Hanif menatap Syifa namun Syifa hanya diam dan menundukkan pandangannya.


Hanif berusaha menepis pikiran yang menghantui dirinya sekarang. Meski tidak dapat di pungkiri hatinya sedikit sakit bahkan cemburu melihat sosok wanita yang ia cintai berjalan beriringan bersama sahabatnya.


Ia tahu benar jika Yusuf masih mencintai wanita yang kini ia akan lamar secara resmi itu, seharusnya Ia bisa menahan diri sampai Syifa benar-benar melupakan sosok sahabat baiknya itu sebelum ia memasuki kehidupan Syifa.


''Han, kenapa kamu gak bilang jika kamu mau ke sini. Mungkin aku akan menyambut kedatang kamu apalagi sama abi dan juga ummi.'' Tutur Yusuf yang segera menyalami kedua orang tua Hanif.


Syifa yang mendengar perkataan Ustadz Yusuf ia begitu terkejut karena ternyata Ustadz Hanif datang bersama Ummi dan juga abi nya. ''Apa benar apa yang di katakan Ustadz Hanif dulu, apa ia akan datang menjemput ku? tapi kenapa secepat ini, bahkan aku masih sekolah. Tidak itu tidak mungkin.'' Dalam hati Syifa terus berkata, meski Syifa sudah mulai menerima kehadiran Hanif tapi ia merasa belum siap jika ia akan menikah dalam waktu dekat.


Hanif hanya tersenyum ia sangat bingung dengan apa yang harus ia katakan.


''Kami sengaja tidak memberi tahu dulu kalian, soalnya Hanif ingin mengenalkan calon istrinya pada kami.'' Tutur ummi kulsum dengan bahagianya.


Ummi sangat bahagia karena putranya akan segera memperkenalkan calon menantunya.


Mereka semua yang tahu bahwa Syifa lah calon menantu yang mereka maksud. Mereka begitu terkejut. Hanya ayah Syifa dan kedua orang tua Hanif lah yang menanti siapa yang akan menjadi calon istri Hanif.


''Alhamdulillah pasti beruntung sekali wanita yang akan menjadi istrimu nak, semoga kalian di permudah kan jalannya untuk segera menikah.'' Sahut ayah Syifa yang menepuk pundak Hanif dengan senyum lebar yang menghiasi wajahnya. Ia tahu jika Hanif adalah sosok pemuda yang sangat baik karena terlihat jelas dari apa yang telah ia lakukan saat membantu dirinya di jalan tadi.


''Aamiin.'' Sahut ummi kulsum mengaminkan doa ayah Syifa. ''Apakah ini calon istrimu nak Yusuf?'' tanya Ummi kulsum yang memang sudah dekat bersama keluarga Ummi.


Ummi Khadijah saling bertatap muka dengan putranya. Ia sudah mengetahui jika Syifa adalah calon istri yang Hanif maksud.


Semua orang yang mengetahui jika Hanif mempunyai hubungan dengan Syifa mereka hanya terdiam. Mereka bingung dengan apa yang harus mereka ucapkan.


Sementara ayah Syifa yang mendengar perkataan ummi kulsum ia pun sedikit terkejut dengan apa yang ia ucapkan.


''Syifa?'' Ucap Aris yang menatap putrinya.


Syifa hanya terdiam ia sendiri bingung harus berkata apa. Ia belum siap dengan kemungkinan yang belum pernah ia bayangkan sama sekali.

__ADS_1


Yusuf menatap abah nya meminta jawaban yang harus ia ucapkan ia sendiri bingung harus menjawab apa karena ummi kulsum yang tidak berhenti berbicara.


Abah yang mengetahui jika putranya kebingungan ia pun segera menyuruh Yusuf dan juga Syifa agar duduk terlebih dahulu.


''Duduklah nak. Biar kita bicara lebih nyaman.'' Tutur abah lembut kepada Syifa dan juga Yusuf.


Syifa dan Yusuf pun menuruti apa yang di perintahkan oleh abah. Mereka semua tenggelam dalam pikiran masing-masing.


Abah pun membuka suara untuk menjelaskan apa yang seharusnya di luruskan.


''Sebelumnya begini ummi.'' Tutur abah membuka suara kepada ummi kulsum.


Ummi kulsum pun dengan seksama mendengar apa yang abah ingin katakan padanya.


''Saya ingin bertanya, apakah benar nak Hanif ini ingin memperkenalkan calon istrinya kepada ummi dan juga abi?'' tanya abah menatap kedua orang tua Hanif.


''Ia benar gus, tapi sebenarnya apa yang terjadi?'' abi Abdullah yang merasa seperti ada yang ganjal.


''Sepertinya jika masalah itu biarlah kita serahkan kepada nak Hanif. Nak, apakah kamu ingin memperkenalkan calon istrimu sekarang?'' tutur abah yang menatap Hanif agar ia segera memperkenalkan Syifa sebagai calonnya agar tidak ada kesalahpahaman.


Hanif yang sejak tadi menundukkan kepalanya kini ia menatap abah dengan sedikit memohon. Ia sangat tidak yakin dengan apa yang harus ia katakan.


''Ayo nak.'' Tutur abah kembali.


Hanif menarik napasnya dan kembali menatap ummi nya yang sejak tadi merasa kebingungan.


''Siapa Han?'' tutur ummi kulsum tidak sabar.


''Ummi, abi, calon istri Hanif ialah wanita yang sedang bersama ummi.'' Tutur Hanif dengan napas yang berburu ia tidak tahu apakah yang ia lakukan benar atau tidak, ia hanya ingin menyampaikan apa yang telah menjadi niatannya.


Ayah Syifa dan kedua orang tua Hanif tak kalah terkejutnya dengan apa yang Hanif katakan. Ummi kulsum pun memeluk Syifa yang berada di sampingnya ia begitu bahagia karena wanita yang kini duduk bersamanya ternyata calon istri dari anaknya.

__ADS_1


''Maafkan ummi nak,'' ummi pun kembali melepas pelukannya dengan penuh senyum di bibirnya.


Aris hanya diam ia memandangi putrinya yang terus tertunduk karena merasa malu.


Sementara Yusuf ia benar-benar harus bisa mengikhlaskan Syifa untuk Hanif. Sungguh secepat ini Allah mengambil harapannya. Seakan takdir tidak akan pernah membuat mereka bersama. Namun ia tersenyum melihat kedua orang tua Hanif yang begitu bahagia karena kini mereka mempunyai calon menantu yang mereka harapkan.


''Bagaimana jika kita resmikan saja hubungan mereka. Semoga dengan rahmat Allah yang tercurah luas ini menjadi saksi kebahagian mereka.'' Tutur abah yang kemudian menepuk Aris yang terlihat masih syok.


Aris pun tersenyum ia pun menyetujuinya karena tidak ada yang lebih berharga dari pada kebahagiaan putrinya.


''bismillahirahmanirahim. Saya selaku orang tua Hanif berniat untuk melamar putri bapak untuk menjadikannya sebagai calon istri dari putra kami yang bernama Muhammad Hanif alhisyam. Apakah bapak bersedia menerima lamaran kami?'' tutur abi Abdullah yang ia utarakan kepada ayah Syifa.


Aris menatap lembut putrinya ia tahu jika Syifa kini sudah dewasa. Ia berhak untuk memutuskan hidupnya.


''Bagaimana Syifa? apa kamu bersedia untuk menjadi istrinya?'' Aris bertanya kepada putri semata wayangnya.


''Iya ayah Syifa bersedia.'' Ucap Syifa pelan namun terdengar di telinga semua orang yang berada di sana.


Semua orang berucap Syukur tak terkecuali Yusuf yang juga berada di sana meski hatinya merasakan sesak yang begitu menyesakan tapi ia akan bahagia melihat wanita yang kini telah resmi menjadi calon istri sahabatnya itu bahagia.


''Alhamdulillah.''


''Syifa, Hanif abah harap jika apa yang telah menjadi pengikat kalian ini tidak mendekatkan kalian kepada dosa. Ada baiknya jika kalian segera membawanya pada hubungan yang diridhoi Allah.'' abah pun menepuk bahu Hanif yang sejak tadi terlihat tegang.


''Iya bah. Semoga Allah mempermudah segala urusan kami. Terima kasih karena abah selalu mengingatkan aku pada kebaikan.''


Hanif pun mengeluarkan kotak perhiasan yang sengaja ia simpan di saku celananya ia memberikan kepada ummi nya untuk memberikan cincin itu kepada Syifa.


Ummi pun menerima kotak perhiasan itu dengan senang hati ia pun segera memasangkan cincin itu di jari manis calon menantunya.


Terlihat kebahagiaan yang ummi rasakan ia begitu terharu saat memasangkan cincin di jari manis Syifa ia pun mengusap punggung tangannya dan segera membawanya kedalam pelukannya.

__ADS_1


''Terima kasih nak.''


__ADS_2