Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 92


__ADS_3

Andrian dan Nadia kini tengah berjalan ke arah kamar mereka.


Nadia hanya terdiam sejak tadi membuat Andrian merasa yakin jika Nadia memang tidak nyaman dengan pertanyaan-pertanyaan yang mereka tujukan saat dirinya mengenal Nadia.


Andrian memang terlahir dari keluarga yang sangat kekeluargaan ia selalu berkumpul dengan keluarga nya bahkan tak jarang bagi dirinya mendapat pertanyaan yang bersifat pribadi. Andrian tidak mempermasalahkan hal seperti itu ia menganggap jika keluarga nya perhatian pada dirinya bahkan ia merasa biasa saja dengan tingkah keluarganya.


Kini mereka telah sampai di kamar yang kini telah di dekorasi seperti kamar pengantin yang terlihat sangat indah dengan nuansa putih mendominasi ruangan itu.


Nadia kini berjalan ke arah lemari yang berada di sana ia mengambil beberapa pakaian yang akan ia kenakan dan beralih pergi ke kamar mandi.


Andrian terus saja memperhatikan tingkah istrinya. Ia berniat untuk menjelaskan tentang keluarga nya nanti saat Nadia sudah terlihat biasa lagi.


Tiga puluh menit berlalu akhirnya Nadia telah kembali ia terlihat lebih fresh dari sebelumnya.


Sementara Andrian ia malah tertidur di sofa karena lelahnya.


Nadia tidak mempermasalah kan hal itu dan melanjutkan aktivitas nya untuk segera shalat ashar.


Beberapa menit telah berlalu ia telah selesai namun lelaki yang kini telah dah menjadi suaminya ia masih terlihat nyaman dengan posisi tidur nya.


Nadia menghampiri Andrian ia melihat wajah tampan milik sang suami yang kini belum benar mengisi hatinya namun sepertinya akan.


''Mas.'' Nadia menggoyahkan tubuh kekar suaminya dengan perlahan.


Andrian yang merasa terganggu ia pun bangun dari tidurnya dan mengucek kedua bola matanya karena merasa kantuk yang tak bisa ia tahan.


''Oh Nad, apa apa sayang?'' ucao Andrian yang masih ingin tidur kembali karena ia merasa lelah.


''Ini sudah ashar mas, mas shalat dulu, biar nanti mas lanjut tidurnya kalo masih ngantuk.'' Tutur Nadia lembut.


Andrian tersenyum simpul mendengar ucapan sang istri yang kini mengingatkan dirinya untuk shalat.

__ADS_1


''Makasih sayang kamu sudah mengingatkan aku.'' Ucap Andrian yang kini mengusap puncak kepala Nadia dan segera berdiri meninggalkan Nadia karena ia akan mandi dan shalat.


Nadia sendiri ia merasa sangat bahagia dengan perlakukan Andrian pada dirinya. Ia sangat berharap jika Andrian tidak akan pernah menyakitinya dan akan selalu bersikap lembut pada dirinya.


Nadia sangat bersyukur bersuamikan Andrian ia akan berusaha mencintai Andrian.


Beberapa menit telah berlalu Andrian yang kini tengah berada di kamar mandi ia pun telah siap untuk shalat.


Terlihat Nadia kini sedang menggelar sajadah untuknya shalat membuat senyum Andrian kembali merekah.


''Terima kasih sayang.'' Ucap Andrian lembut.


''Mas tidak perlu berterima kasih. Karena memang kewajiban aku sebagai istri adalah menyiapkan segala keperluan untuk suaminya.'' Nadia berkata dengan mata yang tak hentinya menatap wajah suaminya.


Andrian hanya menganggukkan kepalanya dan segera shalat.


Lima belas menit telah berlalu Andrian kini telah selesai melaksanakan shalat.


Nadia menoleh ke arah Andrian. Ia ingin sekali menolak karena ia takut jika ada obrolan yang membahas dirinya dengan Andrian lagi tapi ia tidak enak hati jika menolak ajakan suaminya.


''Kamu kenapa Nadia? aku perhatikan kamu sepertinya tidak nyaman dengan keluarga aku.'' Ucap Andrian langsung.


Nadia ingin sekali berbicara tapi ia sangat takut jika Andrian salah paham.


''Nad?'' Andrian kembali memanggilnya istrinya.


''Mas aku hanya tidak suka jika ada yang menanyakan bagaimana kita saling mengenal, mas aku sangat malu jika orang lain mengetahui jika aku pernah mengalami masa-masa buruk ku.'' Ucap Nadia yang kini menahan tangis nya.


Ia hanya tidak ingin jika orang lain mengetahui apa yang pernah ia alami sehingga orang lain mengorek masa lalunya dan mengetahui kebenaran yang pernah ia lakukan pada keluarganya. Nadia juga takut jika Andrian mengetahui jika dirinya pernah menyakiti Syifa adik sepupunya dan membuat hubungan pernikahan dirinya menjadi tidak sesuai harapan.


Andrian kini mengetahui apa yang istrinya pikirkan. Andrian pun mengusap punggung Nadia dengan lembut dan membawanya ke dalam pelukannya.

__ADS_1


''Iya nad, aku akan berusaha menjaga apa yang membuat mu merasa sangat malu, aku akan selalu berada di sisimu dan selalu menjaga kamu, jadi aku mohon maafkan keluarga aku jika mereka pernah menyakitimu.'' Ucap Andrian tulus.


Nadia menerima semua perlakuan dari lelaki yang kini telah dah menjadi suaminya ia tidak mempunyai hak untuk melarang Andrian memeluk dirinya karena ia telah dah menjadi istri nya.


Nadia pun mengangguk dengan semua perkataan yang keluar dari suaminya ia akan berusaha bersikap biasa pada keluarga Andrian.


Andrian bernapas lega karena Nadia luluh dan mah menerima keluarganya.


''Kalau begitu kita turun kita makan dulu karena mama sudah menunggu kita.''


Andrian dan Nadia pun kini berjalan ke luar kamar mereka untuk makan sore bersama karena Nadia sendiri sebenarnya tidak enak jika ia tidak mengikuti makan sore bersama.


Perlahan ia menuruni satu per satu anak tangga dengan tangan Nadia yang memegang tangan Andrian.


''Aku kira Andrian bakal nikah sama Syifa jeng, soalnya mereka terlihat sangat serasi apalagi sikap Andrian yang selalu perhatian saya saja yang baru pertama lihat mereka saat berkunjung ke rumah jeng Rosa mengira jika mereka adalah pasangan kekasih ternyata hanya sepupu doang.'' Ucap jeng Anis tamunya mama Rosa yang baru saja datang karena terlambat.


Andrian dan Nadia yang kini tengah berada di balik mereka, mereka sedikit terkejut dengan penuturan ibu-ibu yang kini sedang bersama mama rosa.


Bahkan terlihat kedua mertua Syifa yang sedikit kaget karena perkataan ibu-ibu yang sejak tadi berbicara.


''Mereka memang sudah sangat dekat jeng, jadi sudah seperti kakak adik sendiri.'' Ucap mama Rosa agar tidak mengundang ke salah pahaman untuk ke dua mertua Syifa.


''Iya sayang sekali padahal terlihat sangat serasi.'' Ucap Ibu itu tanpa merasa bersalah berkata seperti itu.


''Ayo jeng kita makan dulu, ayo cicipi karena jeng telat jadi maaf ya jeng hanya makan bersama.'' Rosa sedikit pun tidak menanggapi ocehan tamunya dan membiarkan ia makan bersama.


Kedua orang tua Syifa merasa sedikit geram karena membawa-bawa nama anaknya apalagi kini ucapan itu terdengar oleh kedua mertua Syifa membuat Aria dan Mira merasa kesal.


Ummi dan Abi hanya menganggap angin lalu mereka tidak menganggapi perkataan ibu-ibu itu karena menurutnya menantunya memang seperti apa yang tantenya bilang.


Sementara Nadia yang mendengar perkataan ibu itu merasa geram ia berpikir kenapa harus Syifa lagi yang kini terseret dalam pernikahan yang baru saja ia gelar.

__ADS_1


......................


__ADS_2