Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 140


__ADS_3

Syifa hanya bisa pasrah dengan keadaan nya memang dirinya juga tidak boleh menolak juga pikir Syifa membuat Syifa menjadi salah tingkah.


Kini mereka sudah berada di penginapan kembali Syifa segera berjalan masuk ke kamar nya dan beralih ke kamar mandi karena ia merasa sangat lengket. Sedangkan Hanif entah kemana lelaki itu Syifa tidak memikirkan lagi soal suaminya ia lebih memilih berendam dan melepas lelah nya.


Tiga puluh menit telah berlalu ia sudah rapih dengan pakaian santai nya dengan wajah yang terlihat free dan wangi bunga di seluruh tubuhnya.


''Mas dari mana?'' tanya Syifa pada Hanif karena selama ia diam di kamar mandi tidak terdengar suara dari suaminya itu.


''Ini.'' Hanif tersenyum ke arah Syifa ia menyediakan makan malam untuk mereka berdua ia juga pergi ke tempat kemarin untuk membeli makanan kesukaan istrinya.


''Ih sweet nya.'' Syifa tersenyum senang bahkan ia mencium Hanif sebelum ia beralih pada makanan di hadapan nya.


Hal sederhana tapi cukup membuat Syifa sangat senang.


''Mas gak mandi dulu?'' tanya Syifa karena suaminya malah ikut duduk bersama dirinya.


''Nanti aja mas mau di suapin.'' Kekeh Hanif membuat Syifa mengerutkan kening nya meski akhirnya ia menyuapi Hanif dengan senang hati.


''Enak.'' Syifa berkata dan terus saja menikmati seblak yang menurut Hanif sangat pedas.


''Aku mandi dulu ya.'' Hanif mencium sekilas Syifa dan berjalan ke kamar mandi.


.


.


Pesta pernikahan sudah berakhir sejak tadi sore bahkan banyak keluarga yang sudah kembali ke kediaman masing-masing.


Kini hanya tinggal sepasang pengantin dan juga keluarga inti saja.


Arumi kini sedang mengganti pakaian nya dan segera mandi ia merasa sangat lelah apalagi berdiri cukup lama menyambut para tamu undangan yang menurutnya sangat banyak. Bahkan Arumi dan Yusuf banyak menerima bingkisan kado pernikahan dari pada sahabat nya dan juga banyak kerabat yang memberikan nya kado pernikahan.


Arumi telah selesai dengan acara mandi nya ia segera berganti pakaian dengan baju yang telah di siapkan oleh ibu nya dan mbak Dini.

__ADS_1


Ia bahkan membawa alat make up nya ke kamar mandi karena ia tidak nyaman ketika ia berdandan tapi ada Ustadz Yusuf. Meski kini Yusuf adalah suami nya ia merasa sangat tidak nyaman.


Hal yang baru yang kini ia rasakan ia merasa bahwa kini ada seseorang yang berhak atas dirinya dan memiliki dirinya seutuhnya.


Arumi sendiri bahagia dengan pernikahan nya meski ia belum tahu pasti apakah ia mencintai Ustadz Yusuf atau hanya kasihan pada nya yang jelas ia sangat bahagia ia juga berharap jika Ustadz Yusuf sama bahagia nya seperti dirinya.


''Aku balik ya yus. Maaf karena terlambat.'' Andrean memeluk Yusuf dan segera memasuki mobil nya. Yusuf sendiri ia segera masuk kembali ke dalam hotel.


Ia berjalan hendak ke kamar nya yang tidak lain adalah kamar dari Arumi juga. Ia menatap pintu kamar nya dengan perasaan yang sulit ia artikan hanya degup jantung yang kini ia rasakan.


''Yus.'' Ummi memanggil Yusuf saat mendapati Yusuf sedang berdiri di balik pintu kamar nya sendiri.


Yusuf membalikan tubuhnya saat mendengar suara ummi nya.


''Iya ummi.''


''Kamu belum ganti pakaian?''


Yusuf menggaruk kepalanya sebenarnya ia sangat ingin sejak tadi tapi karena Arumi yang tak kunjung keluar dari kamar nya membuat Yusuf menjadi serba salah bahkan saat ia hendak ke kamar Andrean langsung menghubungi dirinya membuat ia mengurungkan niat nya dan beralih menemui Andrean.


''Ya sudah sana ganti pakaian mu dulu kita makan bersama.'' Titah ummi berjalan meninggal kan Yusuf yang masih diam mematung.


''Kenapa sih aku jadi begini.'' Yusuf merasa dirinya seperti orang yang bodoh karena saking gugup nya masuk ke kamar nya sendiri.


Yusuf mendorong pintu nya dan segera masuk dengan perlahan ia melangkahkan kaki nya. Ia sendiri melihat Arumi sedang selonjoran di atas kasur mungkin di sedang meluruskan kakinya karena lelah karena Yusuf sendiri ia merasakan hal yang sama.


''Ekhm.'' Deham Yusuf agar memberitahu keberadaan dirinya yang belum di sadari oleh Arumi.


Seketika Arumi segera melipat kembali kaki nya dan menatap Yusuf yang kini menatap dirinya dengan sekilas senyum yang ia lihat.


''Maaf aku ganggu.'' Yusuf membuka suara dan menghampiri Arumi. Ia duduk di depan Arumi dengan degup jantung yang semakin terasa membuat ia sendiri merasa gugup.


''Tidak Ustadz.'' Arumi berkata sedikit gugup bagaimana tidak ini adalah pertama kalinya ia satu kamar dengan lelaki apalagi lelaki yang kini sedang di hadapan nya adalah sosok guru yang telah lama idolakan meski hanya idola karena ketampanan nya bukan berarti ia mencintai nya.

__ADS_1


Yusuf tersenyum meski dengar ucapan Arumi bahkan ia juga merasakan hal yang sama.


''Kamu lelah?'' tanya Yusuf lagi membuat Arumi dengan cepat mengangguk tanpa berniat menjawab.


Yusuf sedikit tertawa dengan tingkah Arumi yang ia rasa sangat lucu.


Yusuf mengusap kepala Arumi membuat Arumi sedikit terkesiap dengan perlakuan nya.


''Ustadz mau apa?'' cicit Arumi merasa sangat tidak nyaman bahkan ia sedikit takut.


Yusuf mengulas senyum dan memaklumi tingkah Arumi.


''Panggil aku mas Arumi atau setidak nya jangan panggil aku Ustadz karena aku suamimu.'' Ucap Yusuf kini beralih memegang tangan Arumi yang terasa sangat dingin.


''Iya Ustadz. Eh maksudku mas.'' Ralat Arumi dengan cepat membuat Yusuf kembali tertawa.


''Ya sudah aku mau mandi dulu.'' Yusuf berjalan meninggalkan Arumi yang masih terdiam.


''Kenapa aku seperti ini.'' Ucap Arumi dengan tangan nya memegangi dadanya yang terasa sangat berdebar.


Beberapa menit telah berlalu Arumi dan Yusuf sudah terlihat siap karena mereka akan malam bersama keluarga mereka bahkan kini keluarganya sudah menunggu kedatangan sepasang pengantin baru itu.


Arumi berjalan perlahan ia merasa kaki nya masih sakit membuat langkahnya menjadi pelan.


''Kakimu sakit?'' tanya Yusuf melihat Arumi berjalan sangat pelan bahkan ia terlihat sangat tidak bersemangat.


Arumi mendongak menatap Yusuf yang kini menatap ke arah dirinya.


''Sedikit tapi tidak apa-apa.'' Arumi mengulas senyum dan kembali berjalan. Namun langkahnya terhenti saat satu tangan nya di pegang oleh Yusuf.


''Biar aku bantu.'' Yusuf menuntun lengan Arumi ia hanya takut jika Arumi akan terjatuh saat di tangga.


Arumi tidak bisa menolak ia pun akhirnya menyamai langkah Yusuf dan ikut turun dengan nya.

__ADS_1


Ada rasa bahagia yang kini Yusuf rasakan bahkan mungkin ini adalah awal dari sebuah kebahagiaan nya membuat Yusuf tidak hentinya selalu mengucap Syukur kepada Allah yang telah mempersatukan dirinya dengan Arumi.


......................


__ADS_2