Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 22


__ADS_3

Pagi hari semua santri dan santriwati di sibukkan dengan kegiatan untuk acara nanti malam.


Para santri membenahi halaman masjid yang akan di jadikan tempat pertemuan orang tua dan juga untuk penyambutan, di sebelah kirinya terdapat sebuah panggung untuk acara tablig akbar.


Sementara para santriwati bertugas untuk memasak, untuk menjamu para tamu undangan dan para orang tua santri.


Mereka saling membantu, Syifa dan Arumi yang sedang sibuk memasak di dapur sementara Arin mengikuti arahan Ustadzah Nadia untuk menyediakan minuman untuk para santri yang sedang membuat panggung untuk acara tablig akbar.


Nadia sedikit berubah sikapnya. Ia tidak seperti dulu, mungkin ia memang berubah atau mungkin ada niatan lain, Arin masih sedikit belum bisa mempercayai nya ia sengaja menawarkan diri untuk membatu Ustadzah Nadia karena ia tidak ingin jika Ustadzah Nadia memanfaatkan keadaaan menurutnya ia harus sedikit waspada.


Yusuf yang baru saja pulang dari kantor ia telah meninjau perusahaannya bersama Adi.


Ia turun dari mobilnya dan melihat lingkungan pesantren yang sedikit ramai untuk acara penyambutan Maulid Nabi.


Ia pun segera melihat langsung apa yang sedang santri kerjakan namun, sebuah panggilan telepon membuat ia mengurungkan niatnya.


''Hanif.''


Ternyata hanif lah yang menghubunginya.


''Halo assalamualaikum, han? Apa kabar han?'' tanya Yusuf yang antusias karena mendapat panggilan dari Hanif yang sudah beberapa hari tidak menerima kabar dari sahabat baiknya.


''Alhamdulillah yus aku baik-baik saja, aku hanya ingin tahu aja keadaan pesantren seperti apa sekarang?'' tanya Hanif yang sedikit menutupi maksud kegundahannya kepada Syifa.


Yusuf tertawa kecil ia pun beralih menjauh dari lapangan yang menghubungkan halaman rumahnya dengan lingkungan pesantren.


''Alhamdulillah semua baik-baik saja, dan alhamdulillah calon tunangan mu pun baik.'' Jawab Yusuf yang mengerti maksud dari Hanif.


Yusuf yang mulai mencoba merelakan Syifa ia tahu jika Syifa memang mencintainya namun, seakan cinta mereka tidak akan pernah bisa menyatu, ia mencoba untuk ikhlas dan mengembalikan semua harapannya kepada sang pemilikNya.


Hanif hanya tersenyum ia sangat bahagia mendengar kabar dari Yusuf, namun ia belum siap untuk kembali menjemputnya.


Karena keadaan yang memang sedikit tidak memungkinkan terlebih ia ingin jika Syifa sudah benar-benar dapat menerimanya dan melupakan Yusuf.


''Kamu kapan kesini dan jemput calon tunangan mu? Jangan lama-lama nanti bisa-bisa aku gagal untuk melupakannya.'' Yusuf tertawa menggoda.


''Entahlah yus, aku sedikit sibuk mungkin kapan-kapan aku ke sana aku titip dia sama kamu yus assalamualaikum.'' Hanif kembali menutup panggilannya.


Yusuf merasakan ada sesuatu yang berbeda kenapa dengan Hanif apakah ada sesuatu? Pikirannya mulai menebak-nebak.


.


Jam 11 siang.


''Han?'' ummi memanggil Hanif yang sedang bersantai di luar.

__ADS_1


‘’Iya ummi kenapa?''


''Bisa coba kamu bantu ummi? Ummi mau ke pasar untuk membeli beberapa stok makanan yang sudah mau habis.'' Tutur ummi yang sudah siap dengan menmbawa tas kecil.


''Baik mi sebentar, biar aku ambil kunci mobil dulu, ummi tunggulah di depan halaman aku akan segera keluar.'' Hanif segera bergegas ke kamarnya untuk membawa kunci mobil.


Uhuk...uhuk...uhuk...


Terdengar Abi yang terbatuk-batuk dari kamarnya.


Hanif segera menghampiri abi yang terbaring di atas kasurnya, kondisi abi semakin hari makin tidak stabil, memang usia abi sudah lanjut usia, namun Ummi tetap selalu rutin membawa Abi untuk berobat jalan.


''Abi.'' Segera Hanif mengambil segelas air di atas nakas dan mendudukkan abi nya agar lebih mudah untuk meminum airnya.


''Abi baik- baik aja ko han,'' jawab abi Abdullah yang terlihat sangat lemas.


''Abi lebih baik kita ke rumah sakit, abi lebih baik di rawat saja aku khawatir dengan kondisi abi yang seperti ini.'' hanif yang memang cemas karena kondisi abi yang kian hari kian memburuk.


''Han ayo!'' ummi yang kembali masuk ke rumah untuk memastikan jika Hanif sudah benar-benar siap untuk mengantarnya berbelanja.


''Ummi!'' teriak Hanif dari kamar abah.


Ummi pun segera mempercepat langkahnya dan memasuki kamar abi.


''Abi kenapa?'' tanya ummi yang melihat abi berada di pangkuan Hanif.


Namun karena tak kunjung mendapat jawaban Hanif pun segera memanggil ambulans agar abi segera di bawa ke rumah sakit.


Ummi hanya menangis ia terus memanjatkan doa untuk kesembuhan abi.


20 menit berlalu kini Abi telah memasuki ruangan ICU.


Hanif yang benar-benar khawatir namun melihat ummi yang terdiam menangis di ruang tunggu membuat hatinya sangat rapuh.


Hanif pun memeluk tubuh ummi dan berusaha menenangkannya.


Ia sendiri sangatlah rapuh melihat orang tuanya terbaring lemas dan melihat ummi menangis seperti sayatan yang menghunus bersamaan Hanif pun terus melantunkan sholawat untuk kesembuhan abi nya.


30 menit kemudian, abi berpindah ke ruang rawat kondisi abi yang sedikit membaik membuat sedikit harapan baru muncul, hanif dan ummi sangat bersyukur atas doa-doanya yang telah Allah kabulkan.


Hanif pun memasuki ruangan itu terlihat abi yang masih belum sadarkan diri, ia masih menutup matanya, air mata yang dengan susah payah hanif tahan tak bisa ia bendung lagi, air matanya kini tumpah di hadapan abi nya, betapa rapuhnya Hanif saat melihat sosok ayah yang selalu mendukungnya selalu mendoakannya bahkan selalu ada di saat ia jauh darinya tapi kini ia terbaring tak berdaya.


Air mata Hanif yang jatuh di tangan abi nya ia terus menciumi tangan kokoh abi yang selama ini membesarkannya, Hanif sangat berharap agar abi nya segera sadar.


''Han, sudahlah biarkan diri kamu istirahat, biar ummi yang akan menjaga abi.'' Tutur ummi yang tidak tega melihat kondisi putranya yang berantakan.

__ADS_1


''Aku baik-baik saja ko mi.'' Lebih baik ummi yang istirahat, biar aku yang menjaga abi,'' jawab Hanif yang sama tidak tega melihat ummi nya sendiri menjaga abi.


.


.


Ayah dan ibu yang sudah sampai di pekarangan pesantren, ayah pun menepikan mobilnya di sebelah kiri rumah abah.


Ayah pun hendak ke rumah abah untuk bersilaturahmi sebelum bertemu dengan Syifa.


''Assalamualaikum?'' Salam ayah di depan pintu rumah abah.


‘’Waalaikum salam.'' Jawab ummi yang hendak keluar.


''Oh saya kira siapa ayo silahkan duduk.'' ummi segera mempersilahkan kedua orang tua Syifa untuk duduk.


''Abah ayo sini lihatlah siapa yang datang,'' ummi begitu antusias melihat ibu dan ayah Syifa yang telah datang.


''Alhamdulillah kalian datang, apa kabar Aris?'' Abah menyalami ayah dan ibu Syifa dan sedikit berbincang.


Ummi yang telah datang dari dapur membawa berbagai cemilan dan teh hangat untuk di sajikan.


''Ummi akan ke kamar Syifa dulu bah, pasti Syifa sangat bahagia.'' Tutur ummi yang segera pergi keluar.


Sepasang mata Nadia yang memperhatikan ummi dari kejauhan ia sedikit bertanya-tanya ia masih sangat mengingat jika kedua orang tua yang sedang di rumah abah itu adalah ayah dan ibu Syifa, Nadia sangat khawatir jika Yusuf akan melamar Syifa langsung kepada ayah dan ibunya.


Nadia dengan cepat menghampiri ummi.


''Ummi, ummi mau kemana?'' tanya Nadia karena ummi terlihat sangat terburu-buru.


''Ummi mau cari Syifa, orang tuanya sudah ada di rumah mungkin Syifa akan sangat bahagia jika ia segera bertemu dengan kedua orang tuanya.''


''Kalau begitu biar Nadia aja ummi yang akan bantu cari Syifa.'' tawar Nadia dengan lemah lembut.


Ummi menatap Nadia, ia sedikit tidak percaya ummi takut jika Nadia berbuat yang hal-hal yang tidak di inginkan.


''Ummi bisa percaya sama aku, Nadia tidak akan berbuat macam-macam ummi.''


Ummi mau tak mau membiarkan Nadia yang mencari Syifa, sementara ummi kembali ke rumah.


Nadia segera bergegas ke dapur karena Syifa memang Nadia tugaskan untuk membantu memasak.


''Syifa!'' panggil Nadia.


Syifa yang merasa terpanggil ia segera menghampiri Nadia.

__ADS_1


''Ada apa Ustadzah, kamu ikut aku tadi ummi mencari kamu.'' Jelas Nadia kepada Syifa.


Nadia pun berjalan di depan, ia membawa Syifa lewat jalan yang sedikit sepi melewati perpustakaan yang tidak ada orang di sana.


__ADS_2