Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 90


__ADS_3

''Apa.'' Yusuf sangat terkejut dengan apa yang ia dengar ia sangat tidak menyangka jika Hanif dan Syifa sudah menikah.


Syifa menundukkan kepalanya ia sangat tahu jika menikah di saat ia masih bersekolah tidak di perbolehkan tapi sebenarnya keputusan itu bukan keinginan nya.


''Maaf bah, yus aku tahu jika santri yang masih bersekolah tidak boleh menikah tapi.'' Hanif tidak melanjutkan perkataan nya ia merasa bingung apa yang harus ia katakan namun akhirnya Hanif menceritakan kejadian yang ia alami dengan Syifa hingga dirinya menikah dengan Syifa.


Abah hanya tersenyum memang sebenarnya bukan keinginan mereka berdua tapi abah mengerti dengan kejadian yang mereka alami.


''Tidak apa-apa nak, Syifa masih bisa mondok dan melanjutkan sekolahnya di sini, tapi abah hanya ingin jika Syifa menunda kehamilan agar tidak timbul fitnah untuk kalian berdua.'' Abah berkata dengan tatapan yang kini ia tujukan pada Hanif.


Abah sendiri memang terkejut dengan perkataan Hanif namun ketika Hanif menceritakan kejadian yang sebenarnya ia pun dapat menerima semuanya.


''Terima kasih bah,'' ucap Hanif merasa bersyukur karena abah dan Yusuf dapat menerima kembali Syifa untuk melanjutkan pendidikannya. Karena sangat di sayangkan jika Syifa tidak bisa melanjutkan pendidikan nya karena hanya enam bulan lagi ia akan lulus.


Mereka mengobrol ringan hingga tak terasa hampir mendekati waktu shalat ashar.


''Ya sudah bah saya mau antar Syifa ke depan, saya juga mau ijin shalat berjamaah di masjid.'' Ucap Hanif karena para santri akan melaksanakan pengajian.


Abah mengangguk menyetujui karena ia sendiri dan juga Yusuf akan ikut mengaji.


''Baiklah kalau begitu saya permisi bah.''


Hanif dan Syifa pun berjalan ke luar, Hanif mengantarkan Syifa hanya sampai depan rumah abah karena ia tidak ingin membuat santri lain mempertanyakan kebersamaan mereka.


''Yang aku antar kamu sampai sini aja gak apa-apa kan? nanti aku akan berjalan di belakang kamu karena aku juga mau ke masjid.'' Jelas Hanif ia tidak ingin jika Syifa salah mengartikan.


''Iya gak apa-apa mas aku juga mengerti. Oh ya mas kamu hati-hati di jalan saat pulang dan sebaiknya kamu jangan pulang dulu ke Banten lagian kamu juga belum istirahat mas,'' Syifa merasa khawatir jika Hanif memaksakan diri untuk kembali ke kediaman ummi apalagi ia tidak cukup istirahat bahkan sekarang pun sudah menjelang asar namun Hanif belum juga istirahat.


''Iya tenang sayang aku bakal menginap di penginapan yang semalam mungkin sudah shalat subuh aku baru kembali.'' Ucap Hanif agar Syifa tidak cemas karena kepulangannya.


''Kamu baik-baik di sini jika ada sesuatu kamu langsung aja hubungi aku ya, aku kan selalu menyempatkan untuk mengunjungi mu.'' Hanif kembali memeluk Syifa dan menciumi puncak kepala Syifa.

__ADS_1


Ia merasa sangat sedih karena harus berpisah dengan Syifa kembali.


"Ya Allah ampuni hamba karena hamba belum juga bisa melupakan wanita yang kini menjadi istri dari sahabat hamba. Hamba yakin apa yang engkau berikan padanya adalah yang terbaik untuk nya dan juga yang terbaik untuk ku.''


Yusuf yang baru saja menutup pintu kamarnya karena ia biarkan terbuka dengan tidak sengaja ia melihat Syifa dan Hanif yang kini saling berpelukan ia pun segera berbalik dan kembali bersiap di kamarnya.


Syifa kini berjalan di menuju kamarnya dan Hanif berada di belangnya dengan jarak yang memisahkan mereka.


Hanif memandangi tubuh istrinya dengan perasaan yang sangat sulit ia jelaskan.


''Aku akan sabar yang hingga kita bisa kembali bersama.'' Gumam Hanif dalam hatinya.


''Syifa....'' Teriak Arin dan Desi yang kini berada di ambang pintu kamarnya. Terlihat Arumi juga sedang berada di sana namun ia sama sekali tidak menyambut Syifa seperti yang lain nya.


Arumi menatap wajah Syifa yang terlihat habis menangis dan tepat di belakang nya ada Ustadz Hanif yang langsung pergi ke area taman yang menghubungkan dengan masjid.


''Hai.'' Syifa langsung berhambur ke dalam pelukan ke tinggal sahabatnya yang kini saling melepas rindu.


Syifa tersenyum menanggapi pertanyaan Arin dan kini melepas kembali pelukan yang sudah tadi Arin lakukan.


''Kalian kenapa di luar Jangan-jangan nunggu aku datang yah?'' tanya Syifa dengan tawanya.


''Enggak lah buat apa nunggu kamu.'' Arin mengelak karena memang mereka sedang mencari udara segar meski sebenarnya iya juga.


Mereka pun tertawa dengan obrolan-obrolan yang kini mengisi waktu mereka.


''Udah yuk ah kita siap-siap lagian sudah hampir ashar.'' Ucap Syifa yang kemudian masuk ke dalam kamarnya.


Syifa memandangi kamar tempat ia tinggal sudah dua minggu lamanya ia meninggalkan kamar yang kini menjadi tempat ternyaman nya saat di pondok.


Syifa menarik napasnya panjang kini buliran bening yang sudah lama ia tahan kini kembali jatuh tanpa ia bisa tahan.

__ADS_1


Syifa merasa sangat berat hatinya sangat perih ketika ia akan berpisah dengan suaminya dan selama ia tinggal di sini ia akan begitu.


Arumi yang sejak tadi melihat Syifa tanpa terlalu ikut dengan obrolan mereka ia pun menghampiri Syifa yang kini sedang menatap kasurnya.


''Fa,'' Arumi menepuk pundak Syifa membuat Syifa segera menghapus jejak air mata yang kini membasahi pipi nya.


''Kamu gak usah hapus fa, aku akan selalu ada buat kamu, kamu bisa cerita segala kegundahan hati kamu fa.'' Ucap Arumi pelan karena ia tidak ingin jika kedua temannya mendengar.


Syifa kembalikan tubuhnya dan menatap Arumi yang kini tersenyum padanya.


''Makasih ya Arumi.'' Syifa pun tersenyum ke arah Arumi.


''Kamu shalat gak Arumi? tanya Syifa karena dirinya akan masih belum beres datang bukannya.


''Enggak aku lagi libur.'' Ucap Arumi yang langsung mendudukkan dirinya di kasur Syifa.


''Ya udah kamu sana siap-siap buat ke masjid.'' Karena Arin dan Desi kini terlihat sudah siap.


''Aku lagi libur juga.'' Ucap Syifa sedikit canggung dengan keadaan yang ia rasakan.


''Syifa ayo sebentar lagi adzan.'' Arin yang baru saja mengambil mukena nya tapi ia melihat Syifa masih diam-diam aja karena Arin sudah tahu jika Arumi sedang datang bulan.


''Kalian duluan aja aku lagi libur. "


''Ya udah kita berangkat dulu ya bye.'' Ucap Arin yang di ikuti oleh Desi juga.


Desi dan Arin kini sudah berangkat ke masjid membuat Syifa dan Arumi hanya berdua di kamar.


Arumi membuka suara pada Syifa karena sebenarnya ia sangat tidak nyaman jika Syifa dan dirinya bersikap seolah-olah berbeda dari biasanya meski ia sudah tahu jika Syifa sudah menikah.


''Fa, aku mau kita biasa aja, aku janji akan jaga semua rahasia kamu aku ingin kita bersikap biasa saja saat bersama atau pun tidak dengan Arin dan juga Desi kamu juga bisa kan kita seperti biasa? kamu bisa ko cerita segala nya sama aku.'' Pita Arumi yang masih setia menunggu jawaban dari Syifa.

__ADS_1


......................


__ADS_2