
''Ya sudah kakak tinggal bilang saja. Aku rasa mbak Arumi tidak akan apa-apa bukanlah dia juga sudah menerima kakak.'' Ucap Adi dengan santai nya.
Yusuf hanya menghembuskan napasnya memang seharusnya seperti itu tapi entahlah ia sendiri bingung.
''Sebaiknya kita pulang.'' Yusuf berjalan kembali keruangan nya ia melihat ponsel nya yang tadi sempat ia taruh sembarang.
Ada beberapa notifikasi yang masuk ke dalam ponsel nya memberitahu jika semua proses untuk pernikahan dirinya sudah siap. Yusuf hanya tersenyum dan kembali memasukan ponsel nya ke dalam saku celana nya.
Adi yang sudah mengikuti langkah kaki kakak nya ia juga segera membereskan berkas-berkas dan segera berjalan ke arah pintu luar.
Adik dan kakak itu memang selalu kompak bahkan para karyawan selalu menatap kagum kepada mereka bagaimana tidak di usia yang masih muda kedua kakak beradik itu sudah terbilang sukses apalagi mereka belum menikah membuat para karyawan perempuan selalu berharap jika mereka mampu memikat salah satu dari atasan mereka.
Yusuf berjalan dengan tatapan dingin ia segera melangkahkan kaki nya keluar gedung dan beralih ke perkiraan di ikuti oleh Adi.
''Biar aku saja yang nyetir.'' Ucap Adi langsung menyambar kunci mobil dan segera masuk.
Yusuf hanya bisa pasrah ia sendiri merasa lelah apalagi seharian ia datang ke satu tempat ke tempat lain bahkan dirinya sendiri yang memilih pakaian pengantin yang akan Arumi kenakan.
Yusuf sengaja memilih pakaian ha sendiri karena ia ingin nanti pakaian yang Arumi kenakan tidak terlalu pas dengan tubuh Arumi agar tidak memperlihatkan lekuk tubuh nya dan juga ia memilih seorang perias pengantin perempuan untuk Arumi tak lupa ia menyediakan berbagai keperluan untuk keluarga Arumi pula ia memesan sebuah hotel yang akan menjadi tempat untuk acara pernikahan mereka.
Jalanan yang sedikit ramai membuat laju kendaraan tidak terlalu cepat.
Yusuf menyandarkan kepalanya ia memejamkan matanya kembali ia merasa sangat ngantuk sekali hingga ia terlelap.
Beberapa menit telah berlalu kini mereka sudah sampai di kediaman nya dengan suara lantunan sholawat yang sudah terdengar membuat Yusuf segera bangun.
''Kita sudah sampai.'' Ucap Yusuf sedikit meregangkan tangan nya karena pegal.
''Udah lah kakak sejak tadi tidur.'' Ucap Adi ketus padahal ia memang sengaja tidak membangunkan kakak nya karena ia tahu jika kakak nya sedang banyak pekerjaan yang sengaja ia selesaikan sendiri membuat Adi merasa tidak tega.
__ADS_1
Yusuf segera turun dari dalam mobil nya dan segera melangkahkan kaki nya dan menyalami ummi yang sedang duduk di luar entah mungkin ummi sedang mencari udara segar Yusuf tidak bertanya.
Ia segera masuk ke dalam rumah dan duduk di kursi karena lelah.
Ummi sendiri ia mengikuti langkah kaki anak nya ummi akan membicarakan jika Arumi sudah mengetahui semuanya.
''Yus ummi mau bicara sesuatu.'' Ucap Ummi sambil duduk dan menatap Yusuf yang sedang menutup matanya.
''Ya bicara saja ummi.'' Tanpa sedikit pun membuka matanya karena ia sangat mengantuk andai saja masih lama waktu magrib mungkin ia akan tidur dulu.
''Ini soal Arumi yus. Arumi sudah mengetahui jika kalian akan melangsungkan pernikahan sebentar lagi.''
Yusuf segera membuka matanya bahkan ia merasa sangat terkejut bukan apa hanya saja Yusuf merasa tidak tega jika Arumi mengetahui sekarang karena ia masih ada ujian yang belum selesai.
''Kenapa Arumi bisa tahu ummi.'' Yusuf bertanya dengan sangat penasaran yang menyelimuti hati nya.
''Ya karena kartu undangan yang kamu taruh di meja.'' Jawab ummi jujur karena jika bukan karena kartu itu Arumi tidak akan mengetahui nya.
''Ya sudah gak apa-apa.'' Ucap Yusuf pasrah mendengar apa yang akan ummi katakan tentang reaksi Arumi.
Ummi menjelaskan semuanya bahkan ummi sempat mengatakan jika Arumi sedikit kesal karena ia kecewa karena sikap kamu yang tidak memberitahu dulu dirinya.
''Ya sudah Yusuf siap-siap dulu ummi. Nanti biar Yusuf berbicara pada Arumi.'' Yusuf segera bangun dari duduk nya dan beranjak pergi ke kamar nya.
.
.
Hanif yang sedang berkutat dengan segala pekerjaan nya meski kini ia sudah tidak terlalu sibuk dengan pondok karena ia membagi tugas nya pada Ustadz Rizal karena Hanif tak bisa mengatasi semuanya karena banyak pekerjaan pribadi nya yang harus tetap ia pantau meski Hanif tetap mengutamakan pondok di bandung pekerjaan nya.
__ADS_1
''Sibuk aja.'' Ummi memberikan sebuah cemilan untuk anak nya dengan senyum ummi segera duduk di samping putranya.
''Bagaimana pekerjaan mu han?'' tanya ummi dengan lembut.
''Alhamdulillah ummi semuanya baik-baik saja.'' Hanif tersenyum dan meminum kopi yang telah ummi berikan padanya.
''Kapan kamu akan menjemput Syifa?'' tanya ummi lagi karena tiga hari lagi Syifa sudah selesai ujian nya dan di perbolehkan untuk pulang.
''Sepertinya sesudah ujian Syifa selesai saja ummi.'' Hanif tersenyum dan menyimpan kembali cangkir yang ia pegang.
''Syukurlah. Ummi merasa senang karena akhirnya anak ummi akan segera bersama istrinya.'' Kekeh ummi dengan rasa senang karena melihat Hanif saja senang tentu membuat ummi juga senang.
''Oh ya ummi. Apa ummi mau ikut untuk menjemput Syifa? soalnya Yusuf akan menikah.'' Hanif mengingat jika Yusuf akan menikah dengan Arumi dan dirinya sudah di beritahu kemarin.
''Sepertinya Ummi tidak bisa kasihan abi mu sekarang abi sering lelah jika perjalan jauh gak apa-apa kan?'' tanya ummi karena memang seperi itu adanya meski sebenarnya ummi ingin sekali ikut tapi abi lebih penting untuk ummi.
''Ya ummi tidak apa-apa. Tapi boleh kan Hanif meminta ijin untuk Dua hari saja di sana?'' pinta Hanif karena ia ingin merasakan liburan bersama istrinya.
Ummi tersenyum menatap wajah Hanif yang penuh harap.
''Boleh lah.'' Ucap abi yang mendengar permintaan dari putra nya karena abi tahu jika Hanif ingin menghabiskan waktunya bersama Syifa hanya berdua.
Mereka tertawa melihat abi yang langsung ikut dalam obrolan mereka.
''Jangan-jangan memang kamu gak mau ummi ikut ya.'' Ummi terkekeh karena ummi kira jika Hanif akan sedih jika pergi hanya sendiri namun tebakan nya salah karen putra nya malah merencanakan liburan dengan sang istri.
''Ummi juga waktu muda selalu seperti Hanif,'' goda abi membuat ummi tertawa sebenarnya justru suami nya yang mempunyai kelakuan seperti Hanif membuat ummi terkekeh mengingat mereka.
Hanif sangat senang karena memiliki kedua orang tua yang sangat pengertian apalagi terlihat jelas di mata kedua orang tuanya mereka sangat menyayangi Syifa seperti pada dirinya sendiri membuat rasa senang pada dirinya sendiri.
__ADS_1
......................