
''Ya Allah lindungilah hati ini jangan biarkan aku melupakan takdir yang telah engkau tuliskan untuk hamba. Ikhlaskan hati hamba kuatkan keimanan hamba. Ya Allah sungguh hati ini sangatlah lemah jiwa ini selalu berpaling dari mu aku mohon bimbing kembali aku agar kembali menuju jalan mu. dan aku mohon jagalah ia meski ia bukan untukku aamiin.'' Yusuf pun menutup doanya ia akan berusaha untuk melupakan semua rasa yang tak seharusnya ia jaga.
''Yusuf!'' Teriak ummi yang memanggilnya dari lantai bawah membuat Yusuf segera membereskan alat shalatnya.
''Iya ummi.'' Jawab Yusuf menyahuti panggilan ummi nya.
Yusuf yang telah selesai shalat sunnah ia pun segera berganti pakaian dengan pakaian rumahan karena hari ini ia tidak akan pergi kemana-mana.
Perlahan ia melangkahkan kakinya menuruni anak tangga sedangkan pandangannya terus tertuju pada benda pipih yang kini ia pegang.
''Ada apa ummi? kenapa ummi teriak-teriak.'' Ucap Yusuf yang kini sudah berada di lantai bawah.
Mata yang sejak tadi ia fokuskan pada ponsel kini beralih menatap sosok wanita yang sudah lama tak ia temui.
''Nadia.'' Yusuf terdiam sesaat ia tidak menyangka jika Nadia kini tengah berada di ruang tamu bersama ummi dan juga ke dua orang tuanya.
Yusuf pun berjalan menghampiri kedua orang tuanya dan juga Nadia yang kini menatap ke arah dirinya.
Terlihat seutas senyum dari bibir wanita yang entah kapan ia ke rumahnya namun kini ia terlihat lebih segar dari terakhir mereka bertemu. Yusuf pun membalas senyum dari Nadia yang sejak tadi menatapnya.
''Yus, apa kabar?'' Tanya Nadia memandangi Yusuf yang masih saja tersenyum ke arah Nadia yang masih sepertinya tidak menyangka kehadirannya.
''Alhamdulillah aku baik, apa kabar nad?'' tanya Yusuf yang kemudian duduk bersebelahan dengan abi nya.
''Alhamdulillah aku baik.''
''Kamu kok gak bilang-bilang jika kamu mau kembali ke pondok. Jika kamu bilang mungkin aku bisa menjemput mu.'' Tutur Yusuf dengan perasaan bahagianya karena ia melihat Nadia yang seperti dulu.
Nadia hanya tersenyum simpul mendengar perkataan dari lelaki yang pernah membuatnya jatuh cinta itu.
''Abi, kenapa abi tidak bilang jika Nadia akan kembali.'' Ucap Yusuf yang kini beralih menatap kedua orang tuanya.
''Oh maaf ummi, abi.'' Sahut seorang laki-laki yang kemudian duduk di kursi bersama Nadia namun dengan jarak yang memisahkan antara mereka.
__ADS_1
Ummi pun tersenyum menanggapi perkataan dari seorang pemuda yang kini duduk bersama mereka.
Yusuf mengalihkan pandangannya ia tidak mengetahui jika ada tamu lain yang kini bersamanya.
Nadia yang melihat Yusuf seperti kebingungan ia pun menjelaskan siapa yang kini bersamanya.
''Oh ya yus aku sebenarnya kesini mau ngasih ini buat kamu.'' Tutur Nadia yang kemudian menyodorkan selembar kertas undangan.
Ummi dan abi pun hanya tersenyum padanya karena memang sebenarnya ummi dan abi sudah mengetahui maksud kedatangan Nadia ke rumahnya.
''Apa ini?'' Tanya Yusuf mengerutkan dahinya ia tidak mengerti namun ia pun mengambil kertas itu dan membaca tulisan yang kini membuatnya sedikit terkejut.
''Aku harap kamu sama abi dan juga ummi berkenan untuk hadir di acara pernikahan kami.'' Tutur Nadia yang menatap ke arah ummi dan juga abi.
''Insya Allah nak, semoga Allah mempermudah Niatan baik kalian.'' Ummi merasa bahagia karena Nadia akan menikah dengan lelaki yang terlihat baik.
Ummi sangat bersyukur dengan kabar yang ia dengar sebelum Yusuf mengetahuinya meski Nadia pernah membuatnya kecewa namun ummi yakin jika Nadia adalah sosok wanita yang baik hanya saja ia pernah tergelincir dalam kubangan kesalahan tapi apa yang membuatnya seperti itu tak terlepas dari kehendak Allah yang mengatur segala hal.
Nadia tersenyum bahagia karena Ummi dan juga abi bersikap baik pada mereka dan ikut mendoakan kelancaran pernikahan mereka.
''Terima kasih ummi.'' Nadia sangat bersyukur .
Nadia akan menikah dengan seorang dokter yang menangani pengobatan nya.
Mereka memang tidak terlalu lama saling mengenal namun sikap dokter muda itu yang terlihat sangat baik dan Andrian sendri yang melamar langsung Nadia di hadapan kedua orang tuanya membuat Nadia sedikit berpikir jika cinta tidak bisa di paksakan ia sadar sebelum Andrian melamarnya Nadia sudah sadar untuk tidak memaksakan keinginan nya untuk memiliki Yusuf lagi.
Akhirnya Nadia pun menerima lamaran Andrian ia yakin cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu dan Nadia yakin apa yang terjadi padanya adalah kehendak dari Allah dengan caranya Allah mempertemukan sosok yang benar-benar mencintainya.
Yusuf pun tersenyum ia turut ikut bahagia dengan rencana pernikahannya Nadia.
Cukup lama mereka berbincang hingga akhirnya Nadia pun berniat untuk pamit karena hari sudah siang.
''Kalau begitu Nadia pamit untuk pulang ummi, abi, yus.'' ucap Nadia yang kemudian menyalami mereka yang kemudian di susuk oleh Andrian yang juga mengalami mereka.
__ADS_1
Nadia pun keluar dari rumah ummi ia menatap sendu ke arah area pesantren ia sangat menyesal karena pernah membuat kesalahan pada santriwatinya.
Ummi yang mengikuti Nadia karena ia mengantar kepulangan Nadia hingga keluar dari rumahnya.
''Ummi andai saja aku bisa bertemu lagi dengan Syifa. Aku ingin sekali meminta maaf padanya. Aku sangat menyesal ummi.'' Ucap Nadia yang merasa bersalah. Meski Nadia sendiri pernah meminta maaf pada Syifa saat Syifa mengunjungi nya tapi ia merasa sangat bersalah rasanya ucapan maaf tidak akan cukup.
''Sudahlah nak, Syifa sudah memaafkan kamu yang terpenting sekarang adalah bagaimana kita ke depannya.'' Ucap ummi yang mengusap lengan Nadia.
''Baiklah ayo, kasihan Andrian menunggumu.'' Sahut ummi yang menatap mobil Andrian yang mulai menyalakan mesinnya.
''Baik ummi terima kasih,'' Nadia pun memeluk ummi dengan erat ia sangat bahagia karena ummi memperlakukannya dengan sangat baik.
Lita pun segera berjalan kembali menghampiri mobil karena Andrian sudah menunggunya.
Terlihat kebahagian dari keluarga ummi mereka memang sangat bahagia karena keluarga Nadia memang sudah sangat dekat dengan keluarga ummi.
.
Jakarta.
''Mas.'' Mira sedikit berlari karena suaminya kini telah pulang ia begitu bahagia dengan kabar baik yang akan ia berikan pada suaminya itu.
''Ada apa mir?'' Karena melihat Mira yang terlihat begitu bahagia menghampiri nya.
Mira pun tersenyum ia pun memberikan kertas hasil pemeriksaan dari Rosa saat ia menjalani pemeriksaan.
''Apa ini?'' tanya Aris yang kemudian membuka isi amplop yang baru saja Mira berikan padanya.
''Benarkan, alhamdulillah Terima kasih ya Allah.'' Aria pun tak kalah bahagianya ia pun memeluk erat istrinya. Arus sangat bersyukur karena kini istrinya telah hamil kembali.
Ada rasa haru yang mereka rasakan. Disaat putri kecilnya kini sudah menikah mereka mendapatkan kebahagian lain yang membuat mereka sangat bahagia.
......................
__ADS_1