Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 29


__ADS_3

35 menit berlalu, akhirnya Syifa bernafas lega karena ia telah sampai di rumah neneknya, sudah lama ia tidak bertemu dengan nenek kesayangannya, meski Syifa telah mengetahui jika neneknya lah yang menjadi sebab kedua orangtuanya dulu berpisah, namun Syifa yakin jika neneknya kini memang sudah sangat menyesal.


Syifa hanya manusia biasa, ia pun merasa kecewa karena nyatanya karena neneknya lah kedua orang tuanya bercerai, namun ia bersyukur karena orang tuanya telah kembali bersama.


Menurut Syifa, apapun yang terjadi dahulu pada kedua orang tuanya, itu hanya pelajaran bagi kedua orang tua Syifa, terlebih untuk dirinya sendiri, karena segala sesuatu yang terjadi pada kita itu pasti ada hikmahnya.


Syifa pun mengetuk pintu rumah nenek.


''Assalamualaikum?'' salam Syifa dan ibu di depan rumah nenek.


Suasana yang terasa sangat sepi seperti tak terlihat ada siapapun


Ibu kembali mengetuk pintu rumah nenek, karena tak kunjung terbuka.


Tak lama kemudian datanglah bi Hanum dengan sedikit terburu-buru menghampiri Syifa dan ibunya.


''Bi mana ibu?'' tanya ibu karena nenek tak keluar, ibu sedikit khawatir jika nenek kenapa-kenapa.


''Ibu di dalam nyonya, silahkan masuk.''


Bi hanum mempersilahkan Syifa dan juga ibunya untuk masuk.


Syifa dan ibunya pun segera masuk dan mencari keberadaan nenek.


''Kalian kemari?'' Sahut nenek yang sedang memberi makan ikan-ikan nya.


''Alhamdulillah ibu sehat,'' ibu bernafas lega karena melihat nenek yang sedang memberi makan ikan-ikannya.


Syifa pun segera mendekati neneknya dan memeluk nenek yang menyambut kedatangannya.


''Nenek... Syifa kangen,'' lirih Syifa yang memeluk erat nenek.


''Nenek pun sama sayang, kamu sekarang sudah berubah,'' nenek mencubit hidung mancung milik Syifa.


Ibu pun menghampiri nenek dan memeluk tubuh nenek yang masih dalam pelukan Syifa.


''Ikan ibu sudah besar-besar, kasihan jika terus di aquarium sebesar ini,'' sahut ibu yang beralih ke aquarium milik nenek.

__ADS_1


''Iya kasihan sekali, tapi aquarium itu aquarium kesayangan ayah mu. Sayang sekali jika tidak di pakai,'' tutur nenek yang beralih duduk di kursi.


Sejak kakek meninggal, nenek memang selalu merawat ikan-ikan kesayangannya, bahkan nenek tidak ingin meninggalkan rumahnya, nenek bersikeras untuk tinggal di rumahnya bersama bi Hanum yang selama ini bekerja untuknya.


Banten.


Hanif yang sudah sampai ke kediamannya, ia berjalan dengan cepat ke rumahnya.


Ia pun segera menaiki anak tangga dengan sedikit tergesa-gesa.


''Han?'' panggil ummi yang masih mengenakan mukenanya.


''Iya ummi?'' sahut Hanif dari tangga, ia pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah ummi nya.


''Kamu dari mana? ummi kira kamu sedang ke pondok.'' Tutur ummi sedikit penasaran.


''Aku hanya keluar sebentar ummi.''


''Oh, iya sudah sana, kamu cepat sana shalat ke masjid!'' seru ummi yang kembali ke kamarnya.


Hanif pun segera pergi ke kamarnya dan bersiap untuk segera ke masjid.


Abi Abdullah yang sudah cukup membaik ia pun mengikuti shalat berjamaah di masjid. Abi Abdullah hanya akan meninggalkan shalat berjamaah ketika ia benar-benar merasa sakit, karena ia ingin jika santri dan santriwati pun akan meneladani apa yang ia lakukan.


Namun kali ini Hanif tak mengikuti shalat berjamaah di masjid karena ia cukup terlambat, Ia melaksanakan shalat sendirian di kamarnya.


jika saja ia tidak mengantar Lita untuk pulang, ia pasti akan ke masjid, Lita memang sedikit manja jika bersama Hanif, ia memang selalu menuruti apa yang Lita mau, Hanif merasa selalu tak enak hati jika ia menolak kemauan perempuan itu.


Sementara itu Lita yang begitu bahagia, ia merasa sangat beruntung karena ia dapat bertemu kembali bersama mantan kekasihnya dulu.


Lita membaringkan tubuhnya di atas kasur, ''semoga kita dapat bersama kembali han... aku sangat mencintaimu.''


Lita meraih tas yang ia taruh sembarang, ia mengambil ponselnya berniat untuk menghubungi Hanif, namun tangannya berhenti ketika Lita melihat sebuah panggilan masuk.


Ia berdecak kesal karena Rian kekasihnya menelpon.


'' iya halo.'' Jawab Lita malas, ia memang menjalin hubungan dengan Rian, tapi tidak dengan hatinya. Hatinya tetap mencintai Hanif.

__ADS_1


''Halo sayang, kamu sedang dimana?'' tanya Rian di sebrang telepon.


''Aku sedang di rumah, kenapa?'' Lita tetap bersikap dingin.


''Oke aku akan ke rumah mu.'' Rian memutus sambungan teleponnya tanpa mendengarkan jawaban Lita.


Lita menarik nafasnya kasar, ia benar-benar muak pada Rian. ''Harusnya aku putusin dia dari dulu,'' gumam Lita yang merasa kesal.


Lita pun kembali mencari kontak Hanif dan mengirimkan sebuah pesan.


''Han aku sangat bahagia karena kamu mau bertemu sama aku, makasih buat waktunya hari ini.'' Lita pun mengirimkan pesannya, ia sangat berharap jika Hanif memiliki perasaan yang sama dengannya.


Bandung.


''Yus bagaimana perkembangan santri sekarang?'' tanya abah yang duduk bersama Yusuf.


Yusuf yang sedang sibuk dengan laptopnya ia menoleh kearah abah yang terlihat sedikit serius.


''Alhamdulillah bah, semuanya baik-baik saja,'' jawab Yusuf santai. Ia kembali mengecek email yang Adi kirimkan.


''Alhamdulillah, abah senang jika semuanya baik-baik saja, abah tahu jika kamu mampu untuk mengambil alih pesantren yus,'' abah menepuk pundak Yusuf dengan rasa bangga.


''Lalu, bagaimana dengan perusahaan mu?'' Tanya abah kembali.


''Inayaaallah bah... Adi bakal bisa Yusuf andalkan, Adi selalu memberiku kabar tentang apa saja yang akan ia ambil dan semua itu aku selalu mengontrolnya bah, abah tak perlu khawatir.'' Tutur Yusuf yang meyakinkan abah nya, ia tahu jika abah merasa sedikit tak enak karena semuanya kini Yusuf lah yang ambil alih. Namun Yusuf tak pernah mengeluh ia sadar jika tanggung jawabnya sekarang harus benar-benar di tuntut, abah sudah tua harusnya abah memang sudah harus istirahat, tubuhnya yang sering sakit-sakitan membuat dirinya lah yang menjadi tumpuan bagi abah.


''Aku harus pergi dulu ke pondok bah, ada jadwal untuk pengajian nanti malam yang harus aku atur.'' Tutur Yusuf yang segera merapikan berkas-berkasnya dan berlalu ke pesantren.


Yusuf berniat akan mempercayakan perusahaannya sepenuhnya kepada Adi. Ia yakin jika Adi akan bisa mengatasi perusahaannya, sementara Yusuf ia akan benar-benar fokus pada pesantren milik abah nya, ia tidak ingin membuat Abah nya kecewa, bagaimana pun pesantren ini lah yang abah dirikan dengan susah payah.


Banten.


Hanif yang sedang mengajar para santri ia memberikan berbagai ilmu yang selama ini ia dapatkan di berbagai pesantren lain.


''Jadi kalian paham kan? Selama wudhu kalian tidak memenuhi syarat, air yang kalian gunakan tidak memenuhi syarat, bahkan tata cara berwudhu yang kalian lakukan tidak sesuai, maka wudhu kalian tidak sah.'' Hanif menjelaskan panjang lebar.


Setelah apa yang di sampaikan Hanif selesai, Hanif pun menutupnya dengan doa bersama.

__ADS_1


Hanif pun keluar dari mesjid dan kembali ke rumahnya, Hanif hanya akan melakukan aktivitasnya di pesantren selama hari Senin sampai hari Jumat, sedangkan di hari Sabtu, ia akan pergi ke restoran milik dirinya sendiri.


Hanif membangun restoran Sunda di pusat kota, agar lebih strategis, ia sengaja memilih ala Sunda karena memang ibu Hanif yang berasal dari Sunda.


__ADS_2