
Hanif yang sudah selesai mengajar ia pun kembali kerumahnya, ia melihat jika abi Abdullah sedang duduk di kursi sambil mengobrol bersama ummi.
Hanif pun menghampiri abi nya, ia sangat senang karena abi nya sudah terlihat lebih segar.
''Assalamualaikum.'' Salam Hanif kepada abi Abdullah.
''Waalaikum salam, kamu sudah beres mengajarnya han.'' Abi tersenyum pada Hanif.
''Alhamdulillah udah abi, bagaimana abi sudah benar sehat kan.'' Tanya Hanif, ia berharap jika abi nya benar-benar sehat.
''Alhamdulillah abi sehat, kamu lihat sendiri abi sudah kuat untuk mengerjakan shalat ke masjid.''
Hanif menggaruk kepalanya yang tak gatal, Ia benar sedikit malu karena abi selalu melaksanakan shalat berjamaah di masjid, abi hanya akan memaksakan shalat sendirian jika memang abi tidak kuat untuk berangkat ke masjid.
Abi Abdullah menatap Hanif dengan sedikit selidik ia sangat tahu anaknya.
''Kamu sudah ketemu Lita kan?''
tanya abi Abdullah.
Sementara Hanif ia terkejut karena abi nya dapat mengetahui bahwa dirinya telah bertemu dengan Lita.
Hanif sedikit merasa gugup ia berusaha untuk bersikap biasa saja. Ia menarik nafasnya panjang dan mengeluarkannya secara perlahan
''Abi tahu dari mana jika aku sudah bertemu dengan Lita?'' tanya Hanif yang menatap abi nya lekat-lekat.
''Abi hanya menebak, tak mungkin saja setelah sekian lama kalian tidak bertemu kini di pertemukan kembali namun tidak bertemu hanya untuk mengobrol.''
Hanif merasa bersyukur ternyata abi nya tidak mengungkapkan keinginannya yang dulu pernah ia utarakan, sebelum hubungan mereka berakhir abi abdullah sangat berharap jika Hanif dapat berjodoh dengan Lita yang memang ayah Lita adalah teman baik abi, seperti halnya abi, ayah Lita pun berkeinginan yang sama, namun karena hubungan yang telah berakhir baik abi maupun ayah Lita mereka tak memaksakan apa yang bukan urusan mereka.''
Abi Abdullah tak pernah mengetahui jika Lita adalah sosok wanita yang sedikit modern, karena Lita akan berubah penampilan saat akan bertemu dengan abi, yang abi tahu Lita adalah sosok wanita yang tertutup dan dari keluarga baik.
__ADS_1
Tok...tok...tok....
Pintu kamar Lita di ketuk dari luar, Lita yang sedang asyik tiduran di kasurnya ia di buat kesal karena terdengar ketukan yang sedikit kencang.
''Siapa?'' tanya Lita dari dalam kamar.
''Mamah Lita, ayo buka pintunya!''
Lita yang mendengar jawaban dari luar kalau itu adalah mamahnya, ia pun bangun dari tidurnya, sebelum terdengar teriakan mamah yang akan membuatnya menutup telinga.
''Ada apa sih mah?'' Lita sedikit kesal.
''Harusnya kamu yang ada apa, kamu gak denger tuh suara mobil pacar kamu yang sudah masuk di depan rumah.''
Lita dibuat kesal ia lupa jika tadi Rian bilang akan ke rumahnya Lita pun menepuk jidatnya karena terakhir kali ia ke rumah Lita malah kabur dari rumahnya karena gak mau ketemu dengan Rian yang akhirnya ia kena semprotan dari ayahnya.
''Iya aku bakalan turun.'' Sahut Lita yang berlalu ke kamar mandi.
Setelah beberapa menit kemudian, Lita yang telah siap untuk menemui kekasihnya itu, ia segera turun.
Baik ayah Lita dan ayah Rian, mereka sangat akrab bahkan sangat berharap jika hubungan mereka akan berlanjut ke jenjang yang lebih serius.
Rian tersenyum manis pada Lita, saat ia melihat kedatangan Lita di sudut ruangan.
Namun berbalik dengan Lita ia malah bersikap acuh tak acuh, jika saja bukan karena orang tua Rian yang selalu membantu orang tua Lita saat menghadapi masalah di perusahaannya, mana mungkin ia akan bertahan.
Lita mendekati kursi dimana Rian sedang duduk menatapnya.
''Maaf ya kamu jadi nunggu.'' Sahut Lita yang berusaha menormalkan suasana hatinya.
Jakarta.
__ADS_1
Syifa yang tengah duduk di kamarnya ia menatap sendu foto-foto kenangan bersama ayah dan ibunya, ia akan segera kembali ke pesantren dimana ia akan menimba ilmu kembali.
''Secepat ini aku harus kembali.'' Syifa menarik nafasnya dalam-dalam hatinya tak sekuat apa yang ayah dan ibunya lihat, matanya terasa sangat perih saat mengingat harus kembali ke pondok.
''Aku harus kuat,'' gumam Syifa yang menghapus air mata dengan punggung tangannya.
Ia pun kembali merapikan album fotonya dan segera mengemasi barang-barang yang akan ia bawa ke pesantren. 6 bulan lagi ia akan segera lulus Syifa berharap jika ia tak akan mengecewakan ayah dan ibunya.
6 bulan memang bukan waktu yang lama dan itu akan terasa sangat singkat apalagi kali ini ia akan di sibukkan dengan berbagai ujian.
Syifa mulai memasukan baju-bajunya yang ia telah beli bersama ibu nya tadi siang ia memasukan beberapa perlengkapan yang mungkin akan ia butuhkan di pesantren, Syifa pun memasukan kerudung yang telah ia siapkan untuk ke tiga sahabatnya.
''Apa Ustadz Hanif sudah kembali ke pondok?'' tanya Syifa pada dirinya sendiri. Sebenarnya Syifa sudah membuka hatinya untuk Ustadz Hanif dan ia akan berusaha untuk melupakan Ustadz Yusuf.
Syifa kembali menatap foto Hanif yang berada di ponselnya ia tersenyum kecil karena mengingat Hanif yang selalu ada di saat ia di pondok.
Banten
Hanif yang berniat akan Menghubungi Syifa ia mengurungkan ketika melihat pesan WhatsApp yang Lita kirimkan.
''Han aku sangat bahagia karena kamu mau bertemu sama aku, makasih buat waktunya hari ini.''
Ia menarik nafasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, Hanif merasa jika Lita salah paham karena pertemuan itu.
''Apa yang harus aku lakukan... apa seharusnya aku memberitahu Lita jika aku sudah tak memiliki perasaan untuknya?'' Hanif bertanya dalam hatinya ia bingung harus apa yang ia katakan, karena Hanif tahu jika Lita suka berlebihan jika menanggapi sesuatu.
Hanif tak membalas pesan dari Lita, ia takut jika Lita salah paham, Hanif rasa Lita tak harus mengetahui perasaannya karena ia merasa jika Lita bukan siapa-siapa lagi dalam hidupnya, Lita hanya masa lalunya, dan itu tak akan pernah merubah keadaan.
Kini yang Hanif pikirkan hanyalah masa depannya bersama Syifa, ia berharap jika secepatnya ia bisa meresmikan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius.
''Maafkan aku ta, tapi aku hanya merasa kita akan lebih baik jika seperti ini,'' lirih Hanif menutup kembali pesan dari Lita.
__ADS_1
Hanif tak ingin jika perasaannya akan tumbuh lagi jika ia terus menerus saling berhubungan dengan Lita, karena jika itu terjadi akan ada hati yang terluka, Hanif tak ingin itu terjadi, karena Syifa lah sosok yang ia harapkan untuk menjadi pendamping hidupnya nanti.
......................