
Syifa yang tengah berjalan kembali ke pondok ia terus mengingat apa yang Yusuf katakan padanya. Ada perasaan kasihan pada sosok guru yang selama ini ia hormati meski berulang kali ia pernah menyakiti dirinya, tapi ia sudah memaafkan perlakuan Nadia yang membuat dirinya merasa sedikit trauma.
Tak terasa air mata membasahi pipinya ia tidak tahu apa yang ia rasakan. Syifa pun segera menghapusnya dan mempercepat langkahnya untuk segera ke kamarnya.
Dibukalah pintu yang selama ini ia tempati selama di pondok, terlihat ke tiga sahabatnya yang sedang menanti kedatangannya.
''Ada apa fa?'' tanya Arin yang menatap lekat pada sahabatnya itu
Arumi dan Desi pun segera mendekati Syifa yang diam mematung di ambang pintu.
Syifa pun segera menutup pintu kamarnya dan duduk diantaranya ke tiga sahabat yang selalu membuatnya merasa nyaman. Syifa pun menceritakan apa yang tadi ia dengar dari Yusuf kepada ke tiga sahabatnya.
''Apa benar?'' tanya Desi yang tidak percaya dengan kondisi Ustadzah Nadia.
Syifa menggelengkan kepalanya ia pun tidak tahu kebenarannya ''aku tidak tahu, tapi aku rasa jika Ustadz Yusuf tidak mungkin bohong.'' Tutur Syifa yang menundukkan pandangannya.
''Sudah fa, kamu gak usah sedih gitu, lagian jika benar, itu bukan salah kamu.'' Arin mengusap pundak Syifa dengan lembut.
''Aku kasihan rin, meski ia pernah menyakiti aku dia adalah guru yang mengajari kita banyak ilmu.'' Tutur Syifa yang kini menatap sahabat baiknya.
''Aku tahu, lalu apakah kamu akan menemuinya?'' tanya Arin sedikit penasaran
Mereka pun menatap ke arah Syifa menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut sahabatnya itu.
Syifa pun menganggukkan kepalanya dan menatap wajah ketiga sahabatnya bergantian.
''Jangan fa, bagaimana jika Ustadzah Nadia berbuat kasar lagi?'' Arin merasa tidak setuju dengan apa yang akan Syifa lakukan.
''Itu tidak akan terjadi rin, akan ada Ustadz Yusuf bersama aku.'' Ucap Syifa menatap Arin. Ia berharap jika Arin dan kedua sahabat baiknya akan merasa tenang.
Arin menarik napasnya panjang, ia hanya bisa pasrah dengan keputusan yang telah sahabatnya ambil. ''Semoga saja Ustadzah Nadia tidak berbuat kasar lagi.'' Gumam Arin pelan.
Adzan dzuhur telah berkumandang Syifa yang telah melaksanakan shalat berjamaah di masjid ia pun segera kembali ke kamarnya.
Ia pun segera bersiap karena akan menemui Ustadzah Nadia.
Ia mengenakan riasan tipis di wajah cantiknya dengan lipstik warna natural ia pun mengenakan kerudung instan agar memudahkannya untuk shalat ashar jika waktu shalat ia masih di rumah Ustadzah Nadia.
''Fa, kamu yakin?'' Arin menatap sahabat baiknya yang sudah terlihat rapih dengan balutan gamis yang simpel membuatnya terlihat sangat cantik.
''Mau bagaimana lagi rin, dia itu guru kita.''
Arin hanya bisa diam ia tidak bisa memaksa Syifa agar tidak menemui Ustadzah Nadia ia hanya bisa mendoakan sahabatnya agar di jauhkan dari mara bahaya.
Syifa pun berjalan keluar meninggalkan Arin yang menatap kepergiannya. Ia pun segera ke rumah abah karena ia tidak ingin jika abah dan keluarganya menanti kedatangannya.
Terlihat abah, ummi, dan juga Ustadz Yusuf yang sedang menanti kedatangan Syifa di teras rumahnya.
''Ummi Syifa minta maaf sedikit terlambat.'' Syifa merasa tidak enak hati karena ia membuat guru besarnya menanti kedatangannya.
__ADS_1
Ummi pun tersenyum dan mengusap punggung Syifa. ''Tidak apa-apa ummi juga baru keluar rumah.'' Tutur ummi dan mengajak Syifa agar masuk kedalam mobil.
Yusuf pun mengemudikan mobil dan berdampingan dengan abah. Sedangkan Syifa dan ummi duduk di kursi belakang.
Yusuf pun melajukan mobilnya meninggalkan area pesantren. Ia melajukan mobil di jalanan yang terlihat sedikit lengang membuat perjalanan mereka sedikit cepat.
Yusuf merasa sangat bersyukur karena Syifa bersedia menemui Nadia. Ia sangat berharap Nadia tidak akan melakukan hal yang mungkin akan merugikan dirinya sendiri.
30 menit berlalu akhirnya mereka pun sampai di pekarangan rumah abi Husein.
Terlihat Rumah yang cukup besar dengan halaman yang terbilang luas dengan banyak pohon di samping rumah Ustadzah Nadia.
Syifa pun segera turun dari mobil dengan perlahan. Detak jantung yang kini terasa sangat begitu kencang ada rasa khawatir yang menyelimuti pikirannya ia sedikit takut jika Ustadzah Nadia akan berbuat kasar lagi padanya.
Ummi melihat Syifa dengan lembut ia merasa jika sedikit ketakutan ummi pun mengusap lengan Syifa dan berjalan beriringan. Ummi pun mencoba menenangkan Syifa, dan menyakinkan jika semua yang mereka lakukan akan baik-baik saja.
''Tenanglah nak, tidak akan terjadi apapun.'' Ummi pun tersenyum pada Syifa membuat Syifa sedikit merasa lega.
Abah pun mengetuk pintu rumah abi Husein dan mengucapkan salam.
Tidak lama terdengar sahutan dari dalam rumah.
Ummi Nur yang membukakan pintu rumah seraya menjawab salam abah. Ia pun sedikit terkejut dengan kedatangan abah dan keluarganya karena abah tidak memberi tahu soal kedatangan mereka.
Ummi Nur pun segera mempersilahkan masuk kepada abah dan juga keluarganya.
''Kenapa tidak memberitahu dulu jika ummi akan berkunjung.'' Ucap Ummi Nur menatap ummi dan menyalaminya.
''Biar saya ambilkan dulu minum, mau minum apa? tawar ummi Nur kepada ummi dan juga yang lainnya.
''Tidak usah repot-repot ummi kami hanya berkunjung saja.'' Ucap ummi yang merasa tidak enak hati.
Sementara ummi Nur pun segera berlalu dan memanggil abi Husein yang sedang berada di belakang pekarangan rumahnya.
Abi Husein pun segera menemui keluarga abah ia pun menyalami mereka dan duduk di kursi.
''Kenapa tidak memberi tahu aku gus, mungkin aku akan menyambut kedatangan mu.''
Mereka pun mengobrol dan menanyakan kondisi Nadia pada abi Husein. Abah menjelaskan kedatangan mereka pada abi Husein ia sangat berharap jika abi Husein tidak tersinggung dengan kedatangan mereka.
Abah hanya ingin meminta maaf dan menebus kesalahannya yang mungkin telah membuat anaknya menjadi seperti itu sekarang.
Abi Husein tersenyum bahagia mendengar penuturan abah. Ia pun berharap jika Nadia dapat berubah dan tidak mengulangi perbuatannya lagi.
Ummi yang kembali dengan membawa nampan berisi cemilan dan juga minuman di tangannya ia di temani Nadia yang terlihat lebih segar dari yang terakhir Yusuf lihat.
Nadia yang melihat kedatangan Syifa ia begitu terkejutnya, ada perasaan menyesal karena telah beberapa kali menyakitinya.
''Syifa.'' ucap Nadia yang menyalaminya, dan juga kepada keluarga abah.
__ADS_1
''Nadia, ajaklah Syifa keluar untuk berkeliling.'' ucap abi Husein yang telah mengetahui maksud kedatangan abah dan keluarganya.
Nadia pun menuruti perintah abi nya. Ia berjalan dengan Syifa yang mengikuti langkahnya.
Nadia mengajak Syifa ke taman depan rumahnya ia pun duduk si kursi taman dengan berdampingan dengan Syifa yang berada di sisinya.
''Ustadzah apa kabar?'' tanya Syifa yang membuka suara.
Nadia pun tersenyum dan menatap muridnya yang pernah ia sakiti.
''Aku baik, bagaimana kabarmu?'' tanya Nadia kembali.
''Seperti yang Ustadzah lihat, alhamdulillah aku baik.'' Syifa menarik napasnya ia berusaha menetralkan perasaannya agar lebih tenang.
''Syifa jangan kamu panggil aku Ustadzah, aku merasa sangat malu, aku tidak pantas dengan sebutan itu.'' Lirih Nadia yang menahan tangisnya. Matanya memerah menahan tangis yang ia pendam ia sangat terpukul atas apa yang ia lakukan.
''Tidak Ustadzah, Ustadzah adalah sosok guru yang selalu di rindukan.'' Jawab Syifa lembut.
''Apa yang membuat aku di rindukan. Aku tidak pantas fa menjadi guru di pondok.'' Ucap Nadia dengan tatapan kosong.
''Syifa aku minta maaf sama kamu, aku mohon kamu mau kan memaafkan aku?'' tanya Nadia yang meraih tangan Syifa dan memohon padanya.
''Ustadzah, Ustadzah tidak perlu seperti itu, aku sudah memaafkan Ustadzah sejak dulu.'' Syifa pun memeluk Nadia yang tengah Terisak.
Mereka pun saling berpelukan melepas jarak diantara mereka.
Nadia yang telah merasa lega, perlahan ia melepas pelukannya. Ia menatap Syifa dengan hati yang sedikit lebih lega.
''aku sadar jika aku telah menyakitimu, aku sadar kenapa Yusuf lebih memilih kamu, kamu sungguh berhati mulia kamu mempu memaafkan seseorang yang telah menyakitimu Syifa aku minta Maaf.'' Lirih Nadia kembali berucap dengan berlinang air mata yang tidak bisa ia tahan.
''Sudahlah Ustadzah, Ustadzah tidak boleh terus meminta maaf sudah aku bilang aku sudah memaafkan semuanya.'' Syifa pun menangis hatinya sangat sakit melihat Nadia yang tersedu-sedu dihadapannya.
Yusuf yang sejak tadi berdiri di belakang mereka ia sangat terharu. Ia sangat bersyukur karena Nadia telah menyadari kesalahannya.
Yusuf pun berjalan menghampiri kedua wanita yang sedang saling melepas perasaan mereka.
''Aku bersyukur nad, kamu dapat berubah.'' Ucap Yusuf membuat kedua perempuan di hadapannya menoleh ke arah Yusuf.
''Kamu mau kan kembali ke pondok?'' tanya Yusuf pada Nadia.
Nadia pun menundukkan kembali kepalanya ia sangat malu atas apa yang telah ia lakukan.
''Aku sudah meminta ijin kepada abi mu, semua keputusan ada di tangan kamu nad, aku harap kamu dapat kembali ke pondok dan aku harap kamu benar-benar akan berubah.''
Nadia pun kembali menatap Yusuf dan beralih menatap Syifa.
Syifa pun menganggukkan kepalanya ia pun berharap jika Ustadzah Nadia akan kembali ke pondok.
''Iya aku mau.'' Ucap Nadia pelan.
__ADS_1
Syifa pun memeluk Nadia kembali ia sangat bahagia dengan apa yang ia rasakan hari ini.