Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 155


__ADS_3

''Pasien mulai mengingat ingatan nya kembali meski belum di pastikan apakah ia akan segera mengingatnya atau tidak, hanya saja kita harus sabar menunggu dan satu lagi jangan paksakan pasien mengingat hal yang berat karena itu tidak baik untuk kondisi nya.'' Ucap salah satu dokter yang telah memantau perkembangan Hanif.


Syifa hanya menangis tersedu-sedu ia tidak bisa menyembunyikan rasa sakit yang kini semakin dalam.


''Sabar sayang, sebesar apapun masalah kita Allah lebih besar dari pada masalah kita kan? kasih sayang Allah amatlah besar mungkin dengan cara ini Allah akan menumbuhkan kasih sayang yang lebih besar untuk kalian.'' Ummi mengusap puncak kepala Syifa meski begitu ummi sendiri sangatlah rapuh tak ada yang berharap seperti ini tapi jika ini adalah kehendak dari Allah ummi sendiri akan sabar menanti kesembuhan pada putranya.


''Ummi.'' Syifa memeluk ummi, begitu banyaknya ia mengeluh begitu sering nya ia berputus asa karena seakan kebahagian tak berpihak padanya hingga kembali ummi menyadarkan dirinya kembali.


''Hanif akan segera mengingat mu lagi, ia akan segera bersama mu lagi sayang.'' Ucap ummi yakin.


...


Siang ini Syifa dan juga Hanif kembali pulang bahkan janji yang sempat Syifa janjikan pada Ana ia harus tunda karena tidak mungkin di saat Hanif seperti ini ia malah pergi membawa Ana jalan-jalan.


Syifa dengan Hanif berdua saja sedangkan Ana ikut pada ummi dan juga abi.


''Mas mau makan?'' tanya Syifa karena ia sangat tahu jelas kapan suaminya akan makan.


Hanif memang mempunyai jadwal makan yang teratur begitu pun dengan ummi dan juga abi membuat Syifa mudah mengetahui nya.


''Boleh,'' jawab Hanif singkat.


Sebenarnya Hanif masih pusing apalagi bayang-bayang wanita yang terus terbayang dalam ingatan nya sepertinya adalah orang yang sama meski masih samar dan Hanif belum bisa mengingat siapa wanita yang selalu hadir dalam ingatan nya kadang Hanif berpikir apakah dia memang Syifa karena hanya Syifa dan Ana saja yang belum ia ingat sampai saat ini.


''Kita makan bakso ya mas.'' Pinta Syifa karena ia ingin memakan bakso yang sangat pedas terlebih saat suasana hatinya yang buruk seperti ini.


Namun tak ada jawaban Hanif hanya diam saja membuat Syifa merasa terabaikan kembali meski begitu ia masih harus bersabar entah kenapa ada rasa sesak yang terus saja ia rasakan meski Syifa berusaha sabar.


''Berhenti di depan sana.'' Hanif menyuruh Syifa untuk memberhentikan mobil nya di depan panti yang sudah hampir satu tahun ia bangun itu.


Dengan cepat ia segera memarkirkan mobil di depan panti.


''Mas apa kamu mengingat semuanya, tapi kenapa harus aku yang kamu lupakan.'' Lirih Syifa dalam hatinya ia sangat sedih melihat kondisi suaminya seperti ini ia sangat merindukan Hanif yang selalu menghiasi harinya.


Hanif segera keluar dari dalam mobil ia menatap sekitar ia sangat ingat lahan ini adalah lahan kosong dimana ia membangun taman untuk menenangkan diri di saat itu bahkan ia juga ingat ketika ia membawa seorang wanita itu lagi,


''Indah sekali mas, ayo kita foto di sana mas, bukan gak mau rumah mas aku ingin tinggal bersama ummi dan abi, makasih mas, aku mencintai mu.'' Semua kata-kata itu kini jelas terngiang dalam pikiran nya bahkan pelukan dan sentuhan lembut itu kian terasa seolah nyata dalam kehidupan nya.

__ADS_1


''Mas!'' Syifa yang baru saja keluar dari dalam mobil ia segera berlari mendekati Hanif yang kini hampir terjatuh dengan tangan yang terus saja memegangi kepalanya.


''Mas ayo kita pergi,'' pinta Syifa ia mencoba membangunkan Hanif agar segera masuk kembali ke dalam mobil nya.


''Aku tak akan memaksa kamu mengingat aku mas, aku mohon kita pergi.''


''Syifa,'' lirih Hanif pelan ia segera bangun dan memeluk Syifa yang terlihat kacau ia sangat khawatir dengan dirinya.


''Maafkan mas sayang,'' Ucap Hanif sambil menghapus jejak air mata yang kini membasahi pipi keduanya.


''Mas ingat aku?'' tanya Syifa dengan cepat.


Hanif mengangguk cepat ia sangat ingat bahkan ia ingat kejadian yang menimpa dirinya hingga ia tak sadarkan diri dan melupakan wanita yang sangat berharga dalam hidupnya.


''Maafkan mas sayang, maaf.''


Syifa hanya menggeleng. '' Mas tidak salah semua ini sudah takdir mas.'' Ucap Syifa dengan lembut Syifa memeluk kembali Hanif ada rasa lega bercampur sedih dan bahagia yang kini mereka rasakan entahlah meski begitu Syifa sangat bersyukur karena kini suaminya sudah ingat kembali padanya.


...


''Mas aku minta maaf.'' Lirih Syifa pelan.


''Aku belum sempurna mas, karena aku tidak bisa menjaga buah hati kita aku sangat menyesal mas aku minta maaf.'' Bulir bening yang sudah ia tahan tak mampu ia tahan lagi seakan kesedihan yang pernah ia rasakan kembali menyayat hatinya.


''Semua sudah takdir sayang, aku tetap berterima kasih pada kamu karena telah sabar menunggu, jangan menangis lagi simpan semua air mata mu untuk menyambut kebahagian anak kita nanti sayang.'' Hanif menghapus jejak air mata Syifa ia sendiri merasa sedih mengingat buah hatinya sudah tiada terlebih ia merasa sangat bersalah di saat Syifa membutuhkan dirinya ia malah tidak bisa berbuat apa-apa ia bahkan melupakan wanita itu.


Syifa meraih tangan Hanif dan menciumi punggung tangan suaminya.


''Jangan tinggalin aku lagi mas, jangan lupakan aku dan Ana.'' Pinta Syifa dengan harapan yang dalam.


Sungguh ia tak akan sanggup lagi jika Hanif melupakan nya ia tak sekuat itu bahkan ia hampir putus asa menghadapi ujian yang sangat berat itu sendirian.


''Aku tak akan pernah melupakan mu lagi sayang semoga Allah senantiasa menjaga hubungan kita.''


''Aku mencintai kamu Syifa Nadira.'' Hanif mengecup puncak kepala Syifa dengan lembut.


...

__ADS_1


Satu tahun telah berlalu semua kejadian itu telah berlalu dengan cepat kejadian di mana Syifa menjadi sosok yang berusaha kuat di tengah ujian yang sangat menyiksa hatinya.


''Bunda.....'' Ana berlari menghampiri Syifa yang kini sedang duduk di kursi.


''Sudah capek ya anak bunda lari-lari aja.'' Kekeh Syifa sambil memeluk Ana.


''Capek bunda, ayah kalah.'' Ucap Ana dengan senang.


''Yah ko ayah kalah sih ya.''


Hanif terkekeh sambil berjalan mendekati Syifa dan juga Ana yang kini sedang asik mengobrol.


''Udah sini Ana peluk ayah aja kasihan dede bayinya ke tekan sama Ana.'' Ucap Hanif sambil meraih Ana ke dalam pelukan nya.


''Assalamualaikum.'' Salam ummi dan juga abi yang sudah kembali dari kajian.


''Waalaikum salam, ummi sudah pulang? tumben masih siang,'' Tanya Syifa karena biasanya ummi akan sore pulang nya.


''Iya tadi abi kepikiran sama kamu ya sudah selesai kajian kita langsung pulang.'' Kekeh ummi karena sungguh di saat kehamilan Syifa yang kedua kalinya ini Syifa selalu mendapat perhatian dari mereka. Mereka sangat takut jika kejadian tempo hari akan terulang kembali.


''Sini Ana main sama sama nenek dan kakek.'' Ajak ummi pada Ana membuat gadis kecil itu segera menghampiri kakek dan nenek nya.


Hanif mendekati Syifa ia memeluk Syifa dan mengecup puncak kepalanya.


"Makasih sayang, makasih karena sudah hadir dalam hidup kita, makasih karena telah membawa kebahagiaan.'' Hanif mengecup kembali puncak kepala Syifa.


''Bukan aku mas yang membawa kebahagian Allah lah yang telah mentakdirkan kita bersama Allah juga yang membuat kita bahagia.'' Syifa memeluk Hanif dengan erat membuat Hanif terkekeh.


''Awas bayi aku sayang.'' Kekeh Hanif kerena kini ia kalah dengan ucapan istrinya. Syifa semakin cerdas saja bahkan tak jarang ia mati kutu dengan ucapan-ucapan Syifa yang membuat dirinya semakin gemas.


......................


Selesai...


Hay buat para pembaca setia Ustadz impian author sangat berterima kasih banget sama kalian atas dukungan dan semuanya yang telah banyak membuat Author semangat dalam menulis hingga kini selesai semoga kalian di berikan kesehatan aamiin,


Terima kasih juga untuk para Author yang saling mendukung semoga kalian di berikan kesehatan juga dan semangat untuk membuat karya-karya ya pokonya makasih banyak🥰

__ADS_1


dan bagi yang berkenan silahkan mampir juga di karya baru Author makasih ya 🥰



__ADS_2