
Keluarga abah pun berniat kembali pulang, karena permasalahan Nadia telah selesai.
Nadia akan kembali ke pondok setelah ia di perbolehkan oleh dokter yang selama ini menangani kejiwaannya.
Meski Nadia terlihat sedikit membaik tapi abi Husein ingin jika Nadia benar-benar pulih agar ia tidak khawatir pada putrinya saat jauh dari mereka.
Syifa pun kembali memeluk Nadia sebelum ia benar-benar pergi kembali ke pondok. Ada rasa perasaan lega melihat kedua wanita yang berada di hadapan mereka saling berpelukan.
Ummi pun mengusap puncak kepala mereka berdua. Ia sangat terharu melihat Syifa dan Nadia yang berbaikan.
Syifa yang telah melepas pelukannya ia pun menyalami kedua orang tua Nadia bergantian.
''Kita pulang dulu ya Husein. Segera sembuh Nak, semoga kamu bisa segera kembali ke pondok.'' abah pun tersenyum dan bergegas masuk ke dalam mobil yang tengah siap membawanya kembali.
Yusuf pun menjalankan mobilnya perlahan meninggalkan kediaman abi Husein. Dan melajukan mobilnya di jalanan kota Bandung berbaur dengan kendaraan lain yang berada di jalanan yang sama.
Suasana yang sedikit cerah dengan matahari yang hendak kembali tenggelam memperlihatkan warna jingga yang sangat indah. Suasana yang begitu terasa menenangkan jiwa bagi setiap jiwa yang berada di dalam mobil itu.
''Syifa terima kasih, karena kamu telah bersedia memaafkan kesalahan Nadia.'' Ucap ummi merasa bahagia, ummi terus menampilkan senyumnya dan mengusap lembut tangan yang ia harapkan akan menjadi pendamping anaknya itu.
Yusuf yang mendengar perkataan ummi ia sendiripun begitu senang melihat kedekatan ummi dan juga Syifa. Namun ada perasaan yang kini kian berubah. Ia melihat sosok Syifa yang lain di dalam dirinya.
Yusuf yang sesekali mencuri pandangan kepada Syifa lewat kaca yang berada di hadapannya membuat abah nya tersenyum. Abah pun menepuk pundak putranya.
''Berhati-hati lah yus,'' abah tersenyum menggoda putranya. Abah jelas melihat cinta yang masih berdiam di hati putranya. Abah hanya sedikit khawatir jika Yusuf akan terluka karena perasaan yang belum juga ia bisa hilangkan.
Banten.
Hanif yang sedang berada di balkon kamarnya ia menatap sendu ke arah luar. Hatinya begitu merindukan sosok wanita yang telah lama membuatnya jatuh cinta. Meski sudah lama ia tidak bertemu dengan Syifa tetap saja bayangan wajahnya seperti menari-nari dalam benaknya.
Telah lama juga ia tidak menghubungi Syifa bahkan sejak ia membicarakan akan menemui kedua orang tua Syifa, sejak itulah ia merasa sedikit khawatir jika Syifa akan menolak dirinya meski Syifa tidak menjawab apapun.
Ia akan menerima segala takdir yang akan terjadi pada dirinya.
.
.
Lima hari berlalu sejak pertemuan Syifa dengan Nadia terjadi, namun Nadia belum juga menginjakkan kakinya di pondok pesantren Nurul Huda.
__ADS_1
Sejak pertemuannya dengan Nadia waktu itu, sejak itulah Yusuf selalu terbayang Nadia berharap jika ia akan segera ke pondok. Ada rasa rindu kepada sosok wanita yang selama ini selalu menemaninya.
Hingga suara ketukan pintu membuat Yusuf tersadar dari lamunannya.
Ia pun menyuruh orang di balik pintu itu agar masuk.
''Masuk.'' Ucap Yusuf yang terdengar sampai ke balik pintu.
Terlihat Nurul dengan membawa setumpuk lapor hasil ujian santri dan santriwati yang hendak ia berikan kepada Yusuf.
''Ini Ustadz saya sudah menyelesaikannya.'' Ucap Nurul dan hendak kembali.
''Terima kasih.'' Ucap Yusuf sebelum Nurul benar-benar keluar dari ruangannya.
Nurul hanya tersenyum manis dan menutup kembali pintu ruangan yang selalu membuatnya berdebar.
Yusuf menghela napasnya panjang ia pun segera membawa lapor yang telah Nurul berikan padanya dan bergegas pergi ke kelas.
Syifa dan ke tiga sahabatnya mereka bercengkrama sebelum kedatangan guru mereka. Perasaan yang begitu tidak karuan dengan debaran jantung yang mereka rasakan. Mereka sedikit tegang karena hari ini mereka akan mendapatkan hasil ujian mereka.
Yusuf yang telah berada di luar kelas ia mempercepat langkahnya dan masuk ke kelasnya.
Syifa yang duduk di bangku depan membuatnya dapat dengan jelas melihat wajah tampan sang guru yang kian hari kian dingin padanya. Syifa tidak lagi merasa sakit hati ia sudah tahu jika itu konsekuensinya yang akan ia dapatkan.
Yusuf memanggil satu persatu nama santri dan santriwati dan memberikan lapor mereka. Hingga sampai di nama Syifa yang terpanggil, membuat dada Syifa bergemuruh tangannya begitu dingin karena kegugupannya bahkan suhu ruangan yang terasa sangat dingin menyentuh kulitnya.
Syifa berjalan perlahan dan menghampiri bangku Ustadz Yusuf.
Yusuf tersenyum dan memberikan lapor hasil ujiannya dan memberikannya selamat karena Syifa mendapat nilai yang memuaskan bahkan ia mendapat peringkat ketiga si kelasnya.
Syifa pun membalas senyum dari gurunya itu dan mengatupkan tangannya sebagai salam. Ia pun mengambil lapor yang tengah Yusuf serahkan padanya.
Banten.
Hanif yang sedang berada di ruang keluarga ia sedang memakan makanan yang telah ummi nya buat.
''Han?'' tanya Ummi yang melihat putranya sedang bersantai.
''Iya ummi?'' jawab Hanif yang menatap lembut ummi nya.
__ADS_1
''Kamu tidak akan bohong kan jika esok hari kita akan ke Bandung?'' tanya ummi nya sedikit khawatir jika putranya berkata seperti hanya untuk membuat mereka tidak menyinggung soal calon mantu yang mereka harapkan.
Hanif menarik napasnya dan tersenyum pada Ummi yang sudah terlihat sedikit berusia, ia mengusap lembut lengan yang selama ini membesarkan dan merawatnya.
''Iya ummi aku janji esok pagi kita akan berangkat, ummi tidak usah khawatir, aku hanya ingin meminta doa agar apa yang ummi harapkan semoga Allah mempermudah niat baik aku.'' Ucap Hanif pelan. Hatinya sedikit gugup ia sendiri takut akan reaksi Syifa.
''Aku akan pergi dulu sebentar ummi,'' tutur Hanif yang berdiri dari duduknya ia mencium punggung ummi nya dan berlalu pergi ke kamarnya.
Jujur hatinya sedikit gelisah memikirkan pertemuan yang akan terjadi. Hanif pun segera bersiap dengan ia mengenakan celana jeans dengan kaos polos warna putih dan jaket jeans yang ia kenakan membuatnya terlihat sangat tampan.
Hanif mengambil kunci mobil dan berjalan menuruni tangga dengan perlahan.
''Kamu mau kemana han?'' tanya Ummi yang mendapati putranya terlihat sangat rapih.
''Aku ada sedikit urusan ummi.'' Tutur Hanif yang berjalan menghampiri ummi dan juga abi nya yang sedang duduk di kursi yang mereka habiskan di ruang keluarga.
Ia pun pergi setelah menyalami kedua orang tua yang sangat ia hormati.
Hanif mempercepat langkahnya dan melajukan mobilnya dengan perlahan meninggalkan pekarangan rumah yang sudah terlihat sedikit sepi karena para santri dan santriwati yang sudah mulai kembali ke kediaman mereka.
Ia melajukan mobilnya di jalanan yang terlihat ramai. Cuaca yang terlihat sangat terik membuat terasa sangat gerah.
Ia pun memarkirkan mobilnya di depan sebuah toko perhiasan terkenal.
Terlihat seorang pelayan menyambut kedatangannya.
''Bagaimana apa sudah selesai?'' tanya Hanif pada pelayan yang menanyakan sebuah cincin pesanannya yang telah ia pesan dengan desain yang ia pilih sendiri.
Pelayan itu pun mengeluarkan sebuah kotak yang menampilkan sebuah cincin yang terlihat sangat indah dengan balutan emas putih yang terdapat desain lengkung yang saling beradu memperlihatkan bulatan berlian di tengahnya yang membuat cincin itu terlihat sangat indah.
Hanif pun tersenyum dan mengambil cincin itu dan segera membayarnya.
Ia pun berjalan menghampiri mobil yang tengah ia parkir kan di depan toko itu.
''Han?'' Seseorang memanggil namanya dengan sangat jelas Hanif dengar. Hanif berdiam diri ia sangat mengenal suara lembut yang sedang menyapanya.
Hanif pun menoleh ke belakang dan mendapati sosok wanita yang mematung menatapnya.
......................
__ADS_1