
Yusuf dan Ustadzah Nadia berjalan bersamaan, walau dengan jarak yang tetap memisahkan mereka, tapi tidak sedikit santriwati yang iri karena kedekatan Ustadzah Nadia, membuat mereka harus memendam perasaan suka mereka pada Ustadz Yusuf, tapi tidak sedikit pula yang mendukung jika memang benar Ustadzah Nadia bersama Ustadz Yusuf karena mereka rasa, jika Ustadzah Nadia dan Ustadz Yusuf sangat serasi.
Ustadzah Nadia adalah sosok Ustadzah yang sangat banyak di kagumi karena selain cantik tutur katanya sangat lembut dan tentunya pendidikannya yang tinggi membuat ia sangat pantas untuk bersanding dengan ustad Yusuf.
''Lihat deh Ustadz Yusuf dan Ustadzah Nadia, mereka memang pasangan serasi. Andai aja aku juga punya pasangan seperti Ustadz Yusuf aku gak bakalan bosen lihat wajahnya,'' kata salah seorang santriwati yang sedang duduk berdekatan dengan Syifa seketika Syifa mengikuti sorot matanya.
''apa benar, apa benar Ustadzah Nadia lah yang di maksud Arin kalau Ustadzah Nadia itu tunangan nya.''
Lirih Syifa dalam hatinya.
kedatangan Ustadzah Nadia bersama Ustadz Yusuf itu membuat Syifa sangat kecewa.
''Kenapa sih aku harus suka sama Ustadz Yusuf, seharusnya aku gak boleh suka sama Ustadz Yusuf, aku memang gak pantas untuk bersanding dengan Ustadz Yusuf.''
Syifa yang sedari tadi menatap Ustadz Yusuf tersadar saat tatapan mereka saling bertemu.
Syifa segera mengalihkan pandangan nya tanpa menoleh kembali ia hanya mengaduk-aduk makanan nya seperti tak ada niatan untuk memakannya.
Yusuf yang melihat sikap Syifa hanya acuh, dia tak memperhatikan Syifa dan beralih memesan makanan bersama Ustadzah Nadia.
''Ustadz mau pesan apa?'' Tanya Ustadzah Nadia dengan tersenyum manis.
‘’Aku mau kopi aja.''
''Hanya kopi?'' Tanya Ustadzah Nadia kembali
''Mmm aku pesan apa aja yang kamu pesan.''
Tak lama kemudian Ustadz Yusuf duduk bersama Ustadzah Nadia yang bersebelahan dengan Syifa yang juga duduk bersama Arin.
''Eh Syifa, gimana kamu betah tinggal disini?'' Tanya Ustadzah Nadia pada Syifa dengan senyum yang menghiasi wajah Ustadzah Nadia membuatnya terlihat sangat cantik.
''Iya Ustadzah alhamdulillah,'' Syifa cukup gugup menjawab pertanyaan Ustadzah Nadia ia kembali memakan makanan nya.
''Alhamdulillah kalo gitu Ustadzah ikut seneng,''
Syifa hanya tersenyum tanpa berniat menjawab.
''Rin kita pergi yuk aku udah kenyang.'' Tutur Syifa pelan, sebenarnya ia tidak begitu kenyang tapi ia sedikit tidak nyaman melihat Ustadz Yusuf dengan Ustadzah Nadia, ia cukup tahu diri sekarang. ''mungkin aku memang benar suka pada Ustadz Yusuf namun, sepertinya perasaan ini benar-benar harus aku buang.'' Lirih Syifa dalam hatinya, ia tak mengerti dengan perasaan yang terasa begitu cepat datang menghampirinya.
''Loh ko udahan, makanannya masih banyak ko, kamu sakit syifa?tanya Arin sedikit khawatir.
''Enggak rin ayo, aku mau cari buku ke perpustakaan.''
''Baiklah'' untungnya Arin sudah selesai makan, Syifa dan Arin pun segera bergegas pergi ke perpustakaan.
Sementara Yusuf yang memperhatikan Syifa ia hanya terdiam, ternyata perasaannya salah, Syifa bahkan terlihat biasa saja di saat dirinya bersama wanita lain. ''Mungkin perasaan aku aja kalau Syifa selalu memperhatikan aku,'' dalam hati Yusuf membenarkan agar ia tak memikirkan Syifa kembali.
''Ustad baik- baik aja kan? Ko makanannya gak di makan?'' Tanya Ustadzah Nadia yang melihat makanan Yusuf seperti tidak di sentuh.
__ADS_1
''Oh mmm enggak ko aku baik-baik saja, aku sedikit kepikiran abah yang belum pulang.'' Yusuf sedikit berbohong untuk menutupi pikirannya yang sedang memikirkan Syifa.
''Kenapa dengan abah? Aku ko gak di kasih tahu, timpal Ustadzah Nadia sedikit kaget.
''Enggak tadi pagi abah sedikit demam mungkin kelelahan, Adi sudah membawa abah untuk berobat ko mungkin abah sedang di perjalanan untuk pulang.'' Yusuf berusaha menjelaskan pada Ustadzah Nadia, ia tahu jika Ustadzah Nadia sedikit khawatir.
''Kalau gitu kita ke rumah abah, siapa tahu abah sudah pulang.'' Ustadzah Nadia menyarankan, karena memang Ustadzah Nadia cukup dekat dengan keluarga Ustadz Yusuf.
Syifa sedari tadi bertemu Ustad Yusuf di kantin ia sedikit tidak fokus bahkan dia sedikit melamun.
''Syifa ini bukunya aku udah menemukan buku- bukunya.'' Seru Arin dari balik lemari.
Syifa hanya terdiam dan tak sedikit pun menjawab, ia hanya memikirkan Ustadz Yusuf.
‘’Hey ko melamun sih, kamu kenapa?''
Syifa yang kaget karena Arin menepuk pundaknya ia pun tersadar.
''Mmm apa rin?'' Tanya Syifa pada Arin yang sedang di hadapannya.
‘’kamu malah melamun sih ada apa? Dari tadi aku perhatikan kamu malah melamun aja, awas hati-hati nanti kerasukan loh.''
''Enggak ko, tadi kamu mau bilang apa rin?'' Tanya Syifa mengalihkan pembicaraan.
''Ini buku udah ketemu Syifa nadira.''
''Hmmm'' arin hanya menanggapi dengan gumaman
Tak lama bel berbunyi saat nya jam pelajaran dimulai kembali.
.
.
Di kediaman abah.
Yusuf dan Ustadzah Nadia yang berjalan mendekati pintu mendengar Adi sedang mengobrol dengan seseorang mungkin ada tamu pikir Yusuf.
''Assalamualaikum'' ucap Yusuf
''Waalaikumusalam'' kata Adi dan orang tua Nadia
''Abi.'' Nadia langsung bersalaman dengan ayahnya dan langsung memeluk ayahnya depan Adi dan Yusuf.
''Abi kapan ke sini kok gak bilang-bilang.'' Sahut Nadia yang duduk bersama abi nya.
''Abi tadi telepon abah, tapi malah Adi yang jawab dan bilang kalau abah sedang di periksa dokter jadi abi segera kesini.'' Tutur Abi Nadia menjelaskan kedatangannya pada putrinya.
''Oh jadi gitu, sekarang bagaimana kabar abah?''
__ADS_1
''Alhamdulillah abah sudah cukup membaik.'' Tutur Adi menjawab pertanyaan Nadia.
Yusuf pun bersalaman dengan ayah Nadia dan mengobrol sebentar, dan ia pun segera ke kamar untuk melihat keadaan abah.
''Assalamualikum bah.'' Tutur Yusuf yang hendak masuk ke kamar abi nya.
''Waalaikumusalam, Yusuf kamu gak mengajar nak?''
''Yusuf izin dulu sebentar bah, Yusuf mau lihat dulu keadaan abah.''
''alhamdulillah abah sudah jauh lebih baik, yus abah mau bilang sesuatu sama kamu.'' Abah berbicara dengan sedikit gugup.
''Iya bah, abah bicara saja.''
''Sebenarnya abah tidak mau kamu tahu dulu soal masalah ini, tapi mungkin lebih cepat kamu tahu mungkin lebih baik.''
''Maksud abah? memangnya soal apa yang aku belum tahu, abah baik-baik aja kan?''
Yusuf yang merasa khawatir dengan keadaan Abah nya, ia takut hal buruk menimpa Abah nya.
''Abah baik-baik saja yus, tapi ini bukan soal abah, ini soal kamu.''
''Maksud abah? Langsung aja bah aku tidak mengerti apa yang abah bicarakan.''
abah mengambil nafas panjang, ia benar-benar merasa bingung.
''Abi Nadia meminta kamu untuk di jodohkan dengan putrinya, abah tidak bisa menolak dan abah meminta waktu untuk itu, karena semua keputusan abah serahkan pada kamu.'' Abah menatap putranya dengan penuh harap, ia merasa jika Nadia memang sosok yang baik untuk mendampingi Yusuf putranya.
Degh.
Seketika Yusuf merasa lemas, ''kenapa harus aku, padahal banyak lelaki di luar sana yang berharap pada Nadia,'' lirih Yusuf, ia tak bisa menjawab semua perkataan abah dan itu membuatnya sulit untuk mengungkapkan semua perasaannya saat ini.
''Yusuf apa kamu sudah memiliki calon?'' Tanya abah dengan penuh selidik.
''Aku gak bisa bah, aku menganggap Nadia sudah seperti adik aku sendiri bah, aku rasa aku gak bisa memberikan lebih dari itu.'' Yusuf meminta pengertian dari Abah nya ia sangat berharap Abah nya tidak akan memaksa dirinya untuk menerima perjodohan itu.
''Tapi kan soal itu tidak ada salahnya, kalian sudah saling mengenal bukan? Itu tidak akan membuat kalian sulit untuk saling memahami, abah harap kamu memikirkannya kembali, usia kalian juga sudah cukup matang untuk menikah.''
''Yusuf tau bah soal itu, tapi bukan kah pernikahan itu atas dasar suka sama suka? bukan usia juga patokan seseorang untuk menikah, Yusuf benar-benar merasa tidak bisa bah.'' Lirih Yusuf memohon agar Abah nya dapat mengerti posisinya sekarang.
''Apa kamu sudah memiliki calon?'' Abah kembali menanyakannya untuk ke dua kalinya.
Yusuf menarik nafasnya kasar, ia bingung harus berkata apa, Abah nya seperti sangat menginginkannya untuk segera menikah.
''Aku belum memiliki nya, tapi Yusuf menaruh hati pada seorang wanita,'' lirih Yusuf yang tidak mau membuat Abah nya kecewa.
''Kalau begitu kamu istikharah lah mintalah petunjuk dari Allah, abah akan menunggu semua keputusan mu.''
Yusuf hanya terdiam ia tak mampu berkata kembali, ia takut jika ia mengecewakan abah dan keluarga nya.
__ADS_1