Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 69


__ADS_3

Syifa dan Hanif kini mereka sedang makan bersama tak ada obrolan yang keluar dari kedua insan itu mereka masih terdiam dengan pemikiran mereka masing-masing. Entah apa yang Syifa pikirkan namun Hanif yakin jika kini istrinya sedang memikirkan apa yang baru saja ummi nya katakan padanya.


Sebenarnya Hanif sendiri ia memikirkan apa yang baru saja ia dengar tapi Hanif tidak terlalu memikirkannya ia hanya ingin jika Syifa akan selalu bahagia ketika bersamanya itu yang terpenting untuknya dan soal keturunan. Ia akan menyerahkan pada yang Maha kuasa biarlah Allah mengatur nya dengan baik ia yakin jika Allah telah merencanakan yang terbaik dalam hidupnya seperti halnya Ia di persatu kan dalam ikatan suci pernikahan yang bahkan ia sendiri belum memikirkan kapan ia akan menikahinya tapi takdir yang Allah berikan di luar dugaannya justru ia menikah dalam waktu yang sangat dekat.


Hanif menatap wajah Syifa yang terlihat sedikit murung membuat dirinya merasa sangat bersalah karena apa yang ummi nya minta.


''Kamu kenapa sayang?'' tanya Hanif karena sejak tadi Syifa hanya mengaduk-aduk makanan nya tanpa sedikit pun memakannya.


Syifa menoleh ke arah Hanif yang kini setia menatap nya dengan lembut. Hanif pun menarik lengan Syifa berharap ia mengungkapkan apa yang membuatnya menjadi terlihat murung.


Syifa menarik napasnya panjang ia merasa bingung harus mengatakan apa pada Hanif ia sendiri memang sudah melakukannya dengan Hanif ada rasa khawatir jika Syifa kini hamil anak Hanif ia tidak memikirkan kemungkinan yang akan terjadi sementara ia belum menggunakan alat kontrasepsi karena Syifa yang lebih dulu pergi bersama Hanif ke rumahnya sehingga ia melupakan apa yang ibu nya perintahkan.


''Mas, bagaimana kalau aku Hamil.'' Ucap Syifa tertunduk lesu.


Hanif menatap wajah yang kini selalu membuatnya tenang membuat hatinya selalu merasa damai ketika melihat wajah istrinya yang selalu menemani harinya.


''Tidak apa-apa sayang, tentu aku akan senang. tapi sebaiknya kita menunda dulu kehamilan mu sampai nanti kamu sudah selesai sekolah.'' Ucap Hanif yang kemudian mengusap puncak kepala Syifa dengan sayangnya.


''Aku berharap seperti itu mas. Tapi,'' Syifa tidak melanjutkan perkataan nya ia bingung harus berkata apa.


''Tapi?'' tanya Hanif setia menanti apa yang akan keluar dari mulut istrinya.


''Tapi aku tidak menggunakan alat kontrasepsi nya, bagaimana jika aku hamil.'' Suara Syifa seakan tercekat memikirkan nya saja membuat ia merasa kebingungan bagaimana jika ia benar hamil apa yang harus ia katakan pada semua teman nya. ia takut jika hal itu terjadi.


Hanif begitu terkejutnya mendengar perkataan Syifa bukannya ia tidak siap untuk menjadi seorang ayah justru ia sangat bahagia tapi jika terjadi ia sangat khawatir pada istrinya.


Syifa yang akan kembali nanti setelah libur ia akan kembali ke pondok membuatnya menjadi ikut bingung bisa saja ia menjelaskan jika Syifa sudah menikah dengannya tapi bagaimana dengan kondisi Syifa saat ia jauh darinya. Hanif merasa sangat khawatir pada calon anaknya dan juga Syifa jika ia jauh darinya.

__ADS_1


Hanif menarik napasnya panjang ia memang terkejut tapi ia tidak ingin jika Syifa menjadi lebih kepikiran dan membuatnya merasa tertekan.


''Baiklah sepertinya kita akan pergi ke dokter kandungan dulu bagaimana? kita perlu tahu apakah kamu hamil atau tidak, jika kamu benar hamil aku akan berusaha menjelaskan pada abah agar tidak terjadi fitnah. Tapi, jika kamu tidak hamil bagaimana jika kamu pakai dulu alat kontrasepsi agar menunda kehamilan untuk sementara?'' Hanif mengusap lengan Syifa ia berusaha menenangkan Syifa agar tidak terus memikirkan hal yang belum jelas.


Syifa menganggukkan kepalanya ia setuju usulan Hanif. Ia sangat berharap jika dirinya tidak dulu hamil karena ia sendiri tidak ingin jika saat hamil namun harus berjauhan dari suaminya.


''Lalu kapan kita akan pergi ke dokter?'' tanya Syifa yang mulai sedikit merasa lega karena saran Hanif.


''Mungkin besok pagi bagaimana?'' tanya Hanif meminta pendapat Syifa.


''Aku mau sekarang, aku takut jika mas malah melakukannya lagi.'' Tutur Syifa yang kemudian tertunduk lesu.


Hanif pun tersenyum memang benar dirinya kini merasa selalu tergoda jika berduaan bersama Syifa ia merasa selalu tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuh dirinya.


''Baiklah kalau begitu habiskan dulu makannya. Setelah selesai baru nanti kita pergi.'' Tutur Hanif mengulum senyum. Sungguh ia sangat gemas melihat wajah istrinya itu. Ia sangat ingin sekali berada bersamanya.


.


.


Mira yang baru saja selesai? olahraga di rumahnya membuatnya terduduk di lantai dan memegangi perut yang terasa perih.


Lama ia terdiam hingga rasa sakit yang ia rasakan mulai mereda. Mira pun segera mengambil ponselnya berharap Aris suaminya segera pulang.


Namun sayang dua kali panggilan yang ia lakukan tak ada jawaban dari sang suami membuat Mira tak mempunyai pilihan. Ia pun segera memesan taksi online dari ponselnya karena ia merasa sakit yang ia rasakan terasa sangat sakit ia khawatir jika ia tidak bisa konsentrasi saat menjalankan mobil.


Lima belas menit berlalu akhirnya taksi pesanannya sudah tiba. Mira yang sudah siap ia pun segera pergi keluar untuk segera pergi ke rumah sakit.

__ADS_1


Jalanan yang cukup ramai membuat laju lalulintas sedikit terhambat. Mira yang kini merasakan sakit yang ia rasakan di daerah perutnya kembali meringis kesakitan.


''Pak ayo jalan!'' Ucap Mira dengan suara yang bergetar karena perut nya kini terasa sakit yang tak bisa ia tahan.


''Jalannya macet bu.'' Ucap sang sopir membuat Mira menghembuskan napas kasar. Ia hanya bisa pasrah dengan kondisi jalanan yang memang membuat ia tidak mempunyai pilihan lain akhirnya setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit Mira pun sampai di rumah sakit yang ia tuju.


Mira yang memang mempunyai hubungan kerabat dengan pemilik rumah sakit membuatnya tidak membuang waktu lagi ia pun segera masuk ke ruangan dokter yang sudah membuat janji sebelum ia pergi ke rumah sakit.


''Kenapa mir?'' tanya Anisa yang tidak lain adalah saudara sepupunya.


''Entahlah aku tidak tahu nis, cuman perutku sakit.'' Mira pun menjelaskan apa yang ia rasakan.


Mira pun membaringkan tubuhnya setelah Nisa memerintahkan nya untuk tidur sebelum melakukan pemeriksaan lebih lanjut.


Nisa memutar bola matanya ke arah Mira yang kini menunggu hasil dari pemeriksaan nya.


''Kenapa Nis?'' tanya Mira karena melihat Nisa tidak terlalu bersahabat.


''Kapan kamu terakhir datang bulan?'' tanya Nisa yang kemudian menaruh alat medis yang telah ia gunakan.


''Entahlah aku tidak mengingat nya. Apa aku hamil?'' tanya Mira dengan hati-hati ia sangat khawatir jika ia hamil mengingat kondisi rahimnya yang tidak terlalu cukup kuat.


Nisa pun mengangguk dan tersenyum. '' Usia kandungan mu kini menginjak tiga bulan. Bagaimana bisa kamu tidak mengingatnya?'' Nisa pun kembali ke meja kerjanya dan menuliskan resep obat untuk Mira konsumsi.


Mira begitu terkejut ia sangat bahagia karena ia kini kembali hamil.


''Maafkan ibu nak, ibu tidak tahu keberadaan kamu.'' Ucap Mira yang mengusap perut datarnya.

__ADS_1


......................


__ADS_2