Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 36


__ADS_3

Sore ini Hanif mengantar ummi nya untuk berbelanja keperluan dapur, ia memasuki pusat perbelanjaan bersama ummi.


Ummi memilih berbagai keperluan dapur, sedangkan Hanif ia membantu membawa belanjaan ummi nya.


Setelah semua selesai Hanif segera beranjak pergi ke mobilnya dan memasukan belanjaannya ke dalam mobil.


Hanif yang hendak memasuki mobil, ia terkejut saat melihat ke arah seberang, ia melihat Lita yang sedang bergandengan tangan dengan seorang laki-laki yang tidak ia kenal.


''Lita....'' gumam Hanif pelan.


Hanif tidak menyangka jika Lita bersama laki-laki lain setelah apa yang ia katakan padanya, pandangannya terus tertuju kepada sosok wanita yang pernah menjadi pemilik hatinya setelah sekian lama, meski kini ia tidak memiliki perasaan seperti dulu namun, ia merasa tidak menyangka akan perlakuan Lita yang memainkan hati seorang laki-laki.


Hanif yang masih berdiri di dekat mobilnya, ia tidak beralih, Hanif terus memandangi Lita hingga ia masuk ke dalam sebuah cafe.


''Han?'' ummi memanggil namanya, sesaat Lita tak terlihat.


''Kamu sedang apa? ummi kira kamu lupa sesuatu dan pergi membelinya lagi.'' Tutur ummi yang telah keluar mobil.


''Oh enggak ummi, Hanif hanya sedikit lapar.'' Tutur Hanif yang mengalihkan perhatian ummi.


Ummi memandangi sekitar dan pandangannya terpusat pada cafe di seberang jalan.


''Kita ke sana saja, bukan kah kamu suka makanan di sana?'' tanya ummi yang menunjuk ke arah cafe yang terletak di sebrang jalan.


''Iya,'' tutur Hanif yang merasa sedikit gugup atas ajakan ummi nya.


''Ayo masuk, katanya lapar.'' Ummi yang telah masuk di dalam mobil memandangi anaknya yang masih tetap saja berdiri di luar.


Hanif pun membuka pintu mobilnya dan segera melajukan mobilnya ke cafe yang di sebrang jalan sana.


Pikiran Hanif sedikit terganggu, ia memang penasaran akan sosok lelaki yang bersama Lita, apalagi Lita sempat menggandeng tangannya, rasanya itu tidak mungkin jika saudaranya, ia tahu betul keluarga Lita meski tidak semua.


''Bagaimana kalau ummi melihat Lita, apalagi dengan penampilan Lita yang terlihat seperti itu di tambah dengan laki-laki yang berada bersamanya sekarang.'' Gumam Hanif dalam hatinya ia memikirkan reaksi ummi saat bertemu dengan Lita.


Hanif yang terlihat memikirkan sesuatu membuat ummi sedikit khawatir apalagi di jalanan.

__ADS_1


''Han, kalau menyetir jangan sambil melamun, bahaya.'' Tutur ummi mengingatkan.


Hanif hanya menoleh ke arah ummi dan berniat untuk melewati cafe yang akan ia tuju. karena ia tak ingin jika ummi nya bertemu dengan Lita, namun ummi segera menyadarkan Hanif karena ummi mengira jika Hanif tidak fokus menyetir.


''Han sudah di sini belok.'' Tutur ummi yang menaikan suaranya.


Hanif yang terkejut ia pun mematuhi perintah ummi nya, ia tidak bisa beralasan untuk melewatinya.


Setelah mobil terparkir Hanif menyalahkan dirinya sendiri ''kenapa malah mengikuti perintah ummi sih.'' Hanif mengusap wajahnya dengan kasar ia sangat bingung dengan keadaannya sekarang.


''Ayo han!'' ummi yang telah keluar dari mobil berjalan memasuki cafe.


''Bagaimana ini,'' lirih Hanif ia hanya bisa pasrah akan apa yang terjadi.


Hanif pun turun dari dalam mobilnya, ia mendorong pintu dan segera masuk, Hanif memperhatikan sekeliling mencari kemana ummi nya pergi.


Hanif berjalan terus ke depan ternyata ummi nya sedang duduk di kursi pojok, Hanif pun berjalan mendekati ummi nya.


''Ummi sudah pesan makan?'' tanya Hanif yang menatap ummi nya lembut.


''Lita....'' Ummi berkata dengan sorot mata yang memandangi Lita di sebelah kanan mereka.


Hanif terkejut karena ternyata Lita berada di samping mereka.


Lita yang merasa dirinya terpanggil, ia pun menoleh ke arah suara yang memanggilnya.


''Ummi,'' lirih Lita yang tidak kalah terkejutnya.


Lita pun mau tak mau ia menghampiri ummi kulsum, ia sangat malu karena di saat seperti ini ia bertemu dengan Hanif dan ummi bersamaan.


''Ummi,'' Lita segera menyalami ummi yang masih memandanginya, ummi memperhatikan penampilan Lita yang membuat ummi merasa heran, karena tak pernah sama sekali ummi melihatnya dengan pakaian yang seperti itu, ditambah ia bersama lelaki.


''Kamu apa kabar?'' tutur ummi berusaha mengalihkan prasangka nya.


''Alhamdulillah ummi aku baik, apa kabar han?'' Tanya Lita yang beralih memandangi Hanif.

__ADS_1


Hanif tersenyum dan menerima salaman tangan Lita dengan mengatupkan tangannya, laki-laki yang bersama Lita pun berdiri di samping Lita.


''Ngomong-ngomong kamu bersama siapa Lita?'' tanya ummi sedikit penasaran, sementara Hanif ia terus berusaha menenangkan pikirannya.


''Oh ini ummi kenalin, ini Rian.'' Sahut Lita yang mengenalkan Rian pada ummi.


Rian pun menyalami ummi dengan hormat, dan beralih menjabat tangan Hanif.


''Oh Rian namanya, pacar kamu?'' Tanya ummi kembali


Dengan cepat Lita berkata ''bukan ummi Rian ini teman aku.'' Dengan debaran jantung yang terasa sangat kencang Lita menepis jika Rian adalah pacarnya.


Sementara Rian, ia tidak habis pikir dengan apa yang di dengarnya. Rian hanya tersenyum miris ketika ia mendengar pengakuan Lita kalau dia hanya sebagai temannya.


''Lita, aku pergi dulu ya, ada urusan mendadak, maaf aku tinggal yah, kalian masih mau ngobrol kan?'' tanya Rian yang berusaha menahan amarahnya.


Lita hanya mengangguk pelan menyetujui kepergian Rian. Sungguh ia tidak ingin jika ummi dan Hanif mengetahui jika Rian adalah pacarnya, Ia tidak ingin jika Hanif akan meninggalkannya setelah sekian lama Lita dan Hanif berpisah.


Rian pun segera bergegas pergi, hatinya sedikit perih mendengar perkataan Lita, padahal ia mengajak Lita pergi berencana untuk memberinya surprise karena ia akan memberinya sebuah cincin tunangan.


Rian menyalahkan dirinya sendiri ia beberapa kali memukul stir mobilnya, karena tak habis pikir dengan apa yang ia dengar, ia hanyalah seorang teman bagi Lita.


Mobil sedan putih itu pun berlalu dengan cepat. Rian menjalankannya dengan kecepatan tinggi, ia tak memperdulikan dengan jalanan hatinya yang terlanjur sakit tanpa sebuah penjelasan.


''Mengapa kamu tak mengakui aku sebagai pacar kamu Lita? Padahal ayah dan ibumu saja sudah merestui kita.''


.


Hanif masih terdiam, ia seperti tak bisa berbicara ia masih gugup dengan keadaan yang seperti ini ia rasakan,


''Kamu kenapa tidak pernah main lagi ke rumah ummi? padahal ummi kangen sama kamu.'' Tutur ummi yang membuat Lita sedikit bernafas lega, karena ummi tidak mempermasalahkan penampilannya.


''Iya ummi aku sedikit sibuk dengan pekerjaan ku,'' tutur Lita dengan sedikit bergetar.


Ummi tersenyum ia mengetahui jika Lita sangat malu karena penampilannya, padahal saat Lita bekerja di rumah sakit ia mengenakan pakaian tertutup bahkan memakai kerudung.

__ADS_1


''Han, kapan-kapan kamu ajak Lita ke rumah, apa karena kalian sudah putus lantas hubungan kalian tidak berlanjut?'' Ummi memandangi Hanif dan Lita bergantian.


__ADS_2