Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 16


__ADS_3

Yusuf segera pergi ke kamar dan merebahkan badannya ia cukup lelah dengan semua yang terjadi.


''Aku benar kecewa dengan sikap Nadia tapi itu bukan Nadia yang aku kenal dari dulu ia tidak pernah bersuara kasar apalagi sampai berperilaku yang tidak sepatutnya ia lakukan, tapi apa benar dengan semua keputusan ini.''


Yusuf mengambil nafasnya kasar pikirannya kacau ia benar mencintai Syifa namun ia pun menyayangi Nadia, Nadia yang selalu ada di sisinya seperti adiknya sendiri ia tidak ingin menyakiti hati Nadia. ''tapi apa yang harus aku lakukan tidak mungkin aku memilih Syifa dan membuat Nadia kecewa.''


.


.


Bayang- bayang Syifa yang merintih kesakitan terus terngiang di pikiran Hanif membuatnya tidak konsentrasi.


''Astagfirullah kenapa aku selalu memikirkan Syifa, apa karena dosaku telah menyentuhnya? Tapi aku sungguh tidak berniat demikian aku hanya ingin menolongnya.''


Hanif pun segera bergegas ke kelas karena memang ada kelas yang sedang menantinya.


.


.


Yusuf yang sudah sedikit tenang ia pun turun untuk pergi ke madrasah namun ia melihat Syifa yang mungkin akan kembali ke kamarnya.


''Syifa?'' Yusuf segera mempercepat langkahnya.


Syifa yang hanya menoleh Yusuf ia begitu takut dengan kejadian yang menimpanya tadi siang.


''Ada apa ustad?'' Tanya Syifa dengan gemetaran.


''Kamu sudah membaik? Sebaiknya kamu Istirahatlah dulu disini,'' ucap Yusuf yang melihat kondisi Syifa belum membaik ia pun melihat bekas tamparan di pipi syifa yang masih terlihat jelas.


''Alhamdulillah Ustadz sebaiknya saya kembali ke kamar.'' Jawab Syifa yang mulai berjalan.


''Syifa?''


Syifa yang hanya berdiri ia sama sekali tidak menoleh bahkan menjawab pun tidak.


''Syifa kenapa kamu menghindari saya?''


Syifa hanya terdiam ia memberanikan diri untuk mengungkapkan semua perasaannya.


''Ustadz, saya minta maaf saya tidak bisa menerima lamaran Ustadz.''


''Kenapa Syifa? Kenapa kamu tidak bisa menerima lamaran ku Syifa? apa kamu sudah memiliki laki-laki lain?'' tanya Yusuf dengan lirihnya.


Pertanyaan Yusuf yang begitu terdengar jelas di telinga Syifa ia seperti menorehkan luka yang dalam. ''Kenapa Ustadz berkata begitu padahal tidak sedikitpun hati ini memberi cinta pada orang lain.'' Lirih Syifa yang tak mampu mengungkapkannya.

__ADS_1


''Aku bukan wanita yang tepat untuk Ustadz jadikan istri, karena ada wanita yang benar-benar mencintai Ustadz saya minta maaf.'' Syifa pun berlari keluar sebelum air matanya benar-benar tumpah di hadapan Yusuf.


Yusuf yang menyadari itu ia hanya bernafas panjang ia sangat tahu perasaannya namun hatinya sangat sakit ketika seseorang yang sangat ia sayangi terluka karenanya.


Syifa pun segera berlari ke kamarnya hatinya sangat sakit namun mungkin ini yang lebih baik ia tidak ingin jika dirinya di cap sebagai perebut, cukup menyakitkan Ia pun mengunci kamarnya dan menangis sungguh ia merindukan ayah dan ibunya, tapi ia tidak ingin jika ayah dan ibunya tahu masalah ini mungkin ayah dan ibunya akan sangat khawatir.


''Aku tidak akan pernah mengecewakan kalian, aku akan lebih giat lagi belajar ayah ibu maafkan Syifa.'' Syifa yang tak hentinya menangis membuat matanya sedikit bengkak dan ia pun tertidur.


Yusuf yang mendengar dengan jelas apa yang Syifa katakan ia sangat tidak menyangka bahkan di saat ia mengharapkan cintanya terbalaskan.


''Mungkin ini adalah teguran dari Mu ya Allah hamba berharap kepada mahluk Mu, hamba benar-benar berdosa ampuni hamba ya Allah.''


Hanif yang baru saja datang ia melihat sahabat baiknya yang sedang melamun ia tahu karena apa Yusuf melamun.


Hanif pun menghampirinya dan menepuk pundaknya.


''Santai aja yus, semua akan baik-baik aja ko.''


''Andai aku bisa putar waktu aku tidak akan seceroboh ini.'' Yusuf menghela nafas panjang ia merasa sangat bersalah.


''Semuanya adalah takdir kita hanya menjalaninya saja, kamu serahkan semuanya kepada pemilik kita insyaaallah semuanya ada jalan terbaiknya.''


Hanif yang mencoba menenangkannya namun di hati kecilnya padahal dirinya sendiri pun sedang di fase yang tak jauh berbeda. Hanif justru sedang memikirkan bagaimana Syifa sekarang, ia tidak melihat Syifa saat tadi mengajar membuatnya memikirkan Syifa.


.


Tok...tok... tok....


Arin mengetuk pintu kamar yang terkunci.


''Mungkin Syifa sakit?'' Tanya desi yang khawatir tidak biasanya Syifa sakit tidak memberi tahu mereka.


''Aku gak tahu tapi tadi siang dia baik-baik aja ko.'' Arumi menimpali.


''Syifa, buka pintunya! kamu ada di dalam kan?'' Sahut Arin yang tak sabar.


Tok...tok... tok...


Arin kembali mengetuk pintu kamarnya.


Syifa yang baru saja bangun dari tidurnya ia kaget karena ketukan pintu yang cukup keras ia segera berlari ke arah pintu.


''Sebentar!''


''Kalian sudah pulang? Maaf aku ketiduran,'' jawab Syifa yang hendak kembali ke kasurnya.

__ADS_1


''Astagfirullah Syifa.'' Arin menutup mulutnya ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


Syifa yang baru sadar ia mencoba memalingkan mukanya, ia lupa akan lebam di mukanya masih belum sembuh.


Sementara Arumi dan Desi mereka saling pandang mereka tidak mengerti kenapa wajah Syifa biru-biru seperti bekas tamparan yang cukup keras.


''Aku tadi terjatuh,'' jawab Syifa yang berbohong ia tidak mau jika teman-temannya salah menilai Syifa baik pun Nadia menurutnya biar saja itu menjadi urusannya sendiri.


''Kamu bohong!'' Arin membalikan badan Syifa ia tak percaya akan perkataan temannya itu.


''Kamu bohong Syifa, mana ada bekas jatuh tapi lukanya di pipi kanan dan kiri bahkan sudut bibir mu jelas-jelas terluka! terus kamu anggap kita ini siapa? Kamu anggap kita ini orang asing bagi kamu hah?'' Arin yang kecewa karena Syifa seolah menutupi bebannya sendiri ia tidak menyangka jika Syifa mengalami hal yang buruk itu sendirian.


''Tenang lah rin.'' Desi menggenggam tangan Arin yang berniat meninggalkan kamar.


''Biarkan aku keluar! aku menganggap kalian ini keluarga aku sendiri, aku berharap kalian juga seperti itu, jika masalah kecil, oke aku bisa menghargai itu mungkin itu privasi kalian, tapi aku gak mau kalau seperti ini.'' Arin terduduk di lantai ia menangis karena ia merasa sakit melihat temannya sendiri mengalami hal yang menurutnya sangat mengerikan.


''Aku minta maaf rin, bukan maksud aku seperti itu,'' Syifa pun menangis ia merasa bersalah karena berniat menutupinya tapi bukan seperti yang Arin tuduhkan.


Arumi pun menghampiri Syifa dan mencoba menenangkannya.


''Jika kamu belum siap untuk berbagi itu tidak apa-apa Syifa, tapi yang harus kamu tahu kita bakalan selalu ada jika kamu membutuhkan, kita itu keluarga.''


Beberapa menit berlalu hanya keheningan yang mengisi ruang kecil yang sangat membuat setiap orang terasa membeku tidak ada percakapan tidak ada canda tawa seperti biasanya kini mereka terdiam hingga Syifa membuka suara.


''Aku minta maaf sama kalian semua, bukan maksud aku menutupi ini semua dari kalian tapi aku pikir jika aku menutupinya itu akan lebih baik.''


Arin menatap acuh pada Syifa ia tidak ingin mendengarkan apa yang Syifa katakan.


''Jika kamu belum siap bercerita gak apa-apa ko Syifa, kita ngerti, kita bakalan coba mengerti posisi kamu.


Syifa merasa tidak ada gunanya menyembunyikan semuanya lagi yang terpenting sekarang adalah pertemanan mereka.


Syifa pun menceritakan semuanya tidak ada yang Syifa tutupi bahkan saat dirinya berada di dalam pelukan Ustadz Hanif yang menolongnya namun setelah itu ia tidak sadarkan diri dan ia tersadar di rumah ummi bahkan Syifa pun menceritakan soal lamaran Ustadz Yusuf kepadanya.


Syifa terdiam ia tak mampu berkata kembali hanya air mata yang mewakilkan perasaannya.


''Kami minta maaf Syifa, seharusnya kami bisa mengerti keadaan kamu, kami minta maaf,'' mereka pun saling berpelukan mencoba menenangkan Syifa.


''Gak apa-apa ko aku sudah lebih baik sekarang.'' Syifa menghapus air matanya.


''Syukurlah, terus apa yang akan kamu lakukan sekarang bagaimana keputusan kamu sama Ustadz Yusuf?''


''Aku sudah putusin untuk tidak menerima lamarannya, aku gak mau jika hubungan ku dengan Ustadz Yusuf hanya akan membuat hubungan antara Ustadz Yusuf dan Ustadzah Nadia menjadi memburuk.


''Tapi itu tidak benar Syifa, jika memang kalian saling mencintai tidak ada salahnya jika kalian bersama.'' Jawab Arin yang menahan emosinya menurutnya itu bukan keputusan yang tepat.

__ADS_1


Syifa hanya terdiam jujur di lubuk hati terdalamnya ia memang benar mencintai Ustadz Yusuf tapi ia sangat takut jika Ustadzah Nadia berbuat lebih nekat lagi.


__ADS_2