Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 86


__ADS_3

Syifa merasa sangat mengantuk keinginannya untuk menemani Hanif pun tak bisa ia lakukan karena kini matanya mulai mengajaknya untuk segera terpejam.


''Kamu tidur aja yang, lagian aku gak apa-apa ko sendiri juga.'' Ucap Hanif pada Syifa karena ia merasa tidak tega jika Syifa masih terjaga di tengah malam seperti ini.


''Ya udah aku tidur nih benar gak apa-apa mas?'' tanya Syifa yang merasa tidak yakin ia sangat khawatir jika Hanif pun mengantuk karena tidak ada yang menemaninya.


''Gak apa-apa yang, lagian aku gak ngantuk paling setengah jam lagi kita akan sampai.'' Ucap Hanif agar Syifa merasa tenang.


Syifa pun akhirnya memutuskan untuk tidur menyusul ummi dan juga abi yang jauh lebih dulu tertidur.


Kini Hanif tinggal sendirian yang masih terjaga ia memang selalu menjalankan mobil di keadaan malam membuat dirinya sudah terbiasa.


Kini mobil yang Hanif kendarai telah keluar dari jalan tol dan beralih ke jalanan kota Bandung yang terlihat tidak terlalu banyak kendaraan di sana karena kini sudah sangat malam.


tak berselang waktu Hanif memarkirkan mobilnya ke area penginapan yang telah ia pesan dan di saat pagi saja ia kan ke tempat pernikahan.


''Kita sudah sampai?'' tanya abi yang diam-diam sudah bangun dan berkata perlahan karena tidak enak jika menganggu ke dua wanita yang kini masih terlelap.


Sebenarnya abi tidak benar-benar tidur karena sesekali ia terbangun takut jika putranya mengantuk.


Tapi setelah lama ternyata dengan setia Syifa menemani Hanif membuat abi senang.


''Sudah bi, abi bagun kan saja ummi kasihan.'' Ucap Hanif agar mereka segera pergi untuk istirahat.


.


.


Pukul Delapan Pagi.


''Yang kamu sudah siap?'' tanya Hanif karena Syifa masih berada di kamar mandi.


''Bentar mas.'' Teriak Syifa dari dalam kamar mandi karena ia belum selesai memakai baju.


''Aduh kita telat.'' Tutur Syifa yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah.


''Gak apa-apa kita santai saja, lagian cuman sepuluh menit juga sampai.'' Hanif memang sosok yang tidak memperoleh masalahkan ha-hal sepele ia selalu bersikap santai bahkan di saat Syifa merasa gelisah.


Syifa segera memakai riasan di wajahnya agar terlihat cantik.


''Jangan tebal-tebal yang kamu sudah cantik ko.'' Ucap Hanif masih dengan posisi santai nya. Ia selalu memperhatikan gerak gerik dari sang istri yang terlihat sedikit gelisah.

__ADS_1


Syifa tidak menghiraukan perkataan Hanif ia terus saja memoles kan riasan pada wajahnya.


''Jelek yang.''


''Apa sih mas.'' Syifa merasa kesal karena Hanif terus saja berbicara padahal dirinya sudah telat ia takut jika melewatkan momen berharga kaka sepupunya.


''Riasan nya jelek tebal amat, lagian kenapa kamu pakai eyeliner jelek tahu.''


''Ih mas....'' Syifa merasa tidak terima karena perkataan Hanif yang mengatakan dirinya jelek.


''Sudah ah, mas diem aja lagian mas gak tahu soal make up.''


''Tahu lah, makanya aku bilang kamu jelek yang. Sudah kamu hapus dulu eyeliner nya kalau tidak kita gak bakan jadi berangkat.''


''Mas ini sudah siang!'' Syifa semakin merasa kesal karena sikap Hanif yang kini malah mengajak dirinya beradu argumen. Lagian Syifa rasa jika Hanif sok tahu mana ada riasan kayak gini jelek yang ada makin terlihat cantik.


Syifa tetap tidak menghiraukan perkataan Hanif dan kini beralih mengenakan softlens pada matanya.


Hanif berdecak kesal karena melihat Syifa yang kini tidak menghiraukannya.


''Yang kamu itu sudah aku bilang jangan pakai riasan aneh-aneh di mata kamu. Sebenarnya kamu ingin terlihat cantik di depan siapa sih yang aku heran.''


Hanif menangkap wajah kekesalan dari raut wajah istrinya ia pun menghampiri Syifa.


''Aku hanya tidak ingin jika mata lelaki lain malah terpesona karena kecantikan yang kini kamu perlihatkan di depan mereka, kamu begitu berharga sayang untuk di lihat mata lelaki yang tidak bertanggung jawab.''


Syifa menelan saliva nya, sebenarnya ia masih belum bisa menerima perkataan Hanif yang kini malah mengaturnya padahal momen pernikahan itu adalah momen yang sangat di nanti-nanti dan begitu berharga.


Tanpa basa basi ia pun akhirnya pergi ke kamar mandi dan kembali membasuh wajahnya dan mengeluarkan softlens yang sempat tadi ia pakai.


''Ih nyebelin banget sih mas.'' Gerutu Syifa meluapkan kekesalannya tapi ia tidak bisa menolak perintah Hanif.


Seutas senyum kini terlihat di sudut bibir Hanif. Ia merasa sangat senang karena Syifa menuruti keinginannya dengan berdandan seperti biasa meski terlihat jelas jika Syifa melakukan nya dengan terpaksa.


Syifa kembali dari kamar mandi dan ia merias kembali wajahnya namun kini dengan riasan yang terlihat natural.


''Ayo yang.'' Ajak Syifa yang telah siap untuk berangkat.


Mereka pun berangkat ke acara pernikahan Andrian.


.

__ADS_1


.


Detak jantung wanita ini kerasa begitu terasa kencang hatinya kini berbunga dengan apa yang kini akan ia rasakan.


Tok... tok... tok....


Ketukan seseorang di balik pintu kini menyadarkan ia kembali dari lamunannya.


''Mbak, sudah selesai?'' tanya wanita yang kini sudah cukup usia.


''Sudah bu,''


''Ya sudah saya minta untuk tunggu d luar sebentar.'' Ucap wanita yang ini ikut andil dalam kebahagiaan putrinya.


Perlahan Ummi Nur berjalan ke arah Nadia yang telah siap dengan riasan pengantin dan juga balutan kebaya moderen yang terlihat sangat cantik.


''Kamu sangat cantik Nadia.'' Ucap ummi Nur menahan tangis bahagia nya.


Ummi Nur kini tepat berada di hadapan putri nya yang sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan dengan seorang laki-laki tampan yang sangat baik hati.


Ummi Nur pun memeluk tubuh Nadia ia sangat bahagia karena kini putrinya akan segera menikah dengan lelaki pilihannya yang belum lama ia kenal.


Nadia pun membalas pelukan ummi Nur ia merasa sedih ketika ummi berkata seperti itu.


Ummi Nur kembali melepaskan pelukannya ia menatap kembali wajah putrinya.


''Jangan menangis nanti riasannya luntur.'' Ucap ummi Nur namun Nadia makin terisak.


''Ini pernikahan mu sayang berbahagialah ummi akan sangat bahagia jika ummi melihat mu bahagia. Bersikap baiklah kepada suami mu nad, berbahagialah bersamanya.'' Ucap ummi Nur sambil menghapus jejak air mata dengan tisu.


.


Para tamu undangan sudah sejak lama berdatangan bahkan dari keluarga abah dan ummi sudah datang sejak lima bekas menit yang lalu.


Mereka kini sedang berada di aula hotel saling bercengkrama begitu juga dengan Yusuf.


mereka sangat menanti acara yang sebentar lagi akan segera di mulai.


Terlihat pengantin pria di sebelah sudut sana berkumpul dengan keluarga ia terlihat sangat tampan dengan balutan tuxedo berwarna abu dengan dasi kupu-kupu itu terlihat sangat tampan.


......................

__ADS_1


__ADS_2