
Ummi begitu sangat senang bahkan kini ummi memeluk Syifa dengan sangat erat.
''Ya sudah kalau begitu kita buat kue aja biar nanti kita ke rumah sakit untuk memastikan.'' Ummi segera beranjak meninggalkan Syifa yang sedikit kebingungan.
Syifa sendiri sedikit terkejut dengan prasangka ummi, ia hanya takut jika apa yang ummi harapkan akan melukai perasaan nya terlebih Hanif sudah sangat berharap banyak padanya membuat Syifa menjadi sedikit cemas.
Satu jam telah berlalu kini ummi dan Syifa sudah siap untuk pergi ke panti dengan membawa makanan yang telah ummi buat dengan Syifa.
''Mang Ali!?'' panggil ummi pada mang Ali.
Ummi hendak berangkat dengan mang Ali sebagai supirnya karena abi tidak bisa mengantarnya karena kini abi sedang pergi untuk mengisi acara di salah satu kajian yang selalu abi isi.
Mang Ali dengan cepat ia segera berjalan menghampiri ummi. Ada ummi?''
''Ummi mau pergi ke panti, mang Ali antar ya. Oh ya ini tolong berikan kunci rumah sebentar sama lastri dan bilang tolong bereskan udang yang tadi di masak dan jangan lupa bekasnya langsung cuci.'' Titah Ummi pada mang Ali.
Mang Ali segera pergi menemui bi Lastri yang tidak lain adalah istrinya. Bi Lastri yang sedang berada di dapur umum pesantren ia segera mengikuti suaminya.
Sementara mang Ali ia segera membawa mobil yang akan ia gunakan untuk membawa ummi dan juga Syifa untuk ke panti.
Kini mereka sudah meninggalkan kediaman ummi dan beralih di jalanan kota yang cukup ramai.
Namun ummi tidak akan langsung ke panti melainkan ummi akan membawa Syifa ke rumah sakit dulu untuk memastikan jika menantu nya sedang hamil atau tidak.
''Mang kita ke rumah sakit yang biasa dulu ya.'' Pinta ummi pada mang Ali.
Mang Ali mengikuti perintah ummi tanpa banyak bertanya karena memang keluarga ummi selalu memeriksakan kesehatan nya terutama abi yang selalu di periksa secara teratur membuat mang Ali tidak heran lagi.
Syifa semakin merasa cemas ia merasa sangat gugup bagaimana bisa ummi menyangka jika dirinya sedang hamil meski Syifa sudah yakin jika ia sudah telat datang bulan tapi apakah benar ia memang hamil.
Syifa hanya takut jika kemungkinan terburuk akan membuat ummi dan Hanif merasa sangat kecewa karena sudah sangat berharap l
padanya. Syifa hanya terdiam selama perjalanan ia tidak banyak bicara seperti biasa. Berbeda sekali dengan ummi terlihat sangat senang.
Ummi memang melihat perubahan sikap Syifa sejak tadi menjadi pendiam tapi ia tidak mempermasalahkan menurutnya Syifa sedang tidak enak badan karena memang orang yang sedang hamil di masa-masa awal kehamilan akan sering mudah lelah.
Tiga puluh menit berlaku kini Syifa sudah sampai di depan rumah sakit yang kini ia tuju.
Syifa mulai melangkahkan kakinya perlahan menuruni tangga dan menatap lekat-lekat rumah sakit yang sama saat ia dulu ke sini dengan Hanif suaminya.
''Ayo nak.'' Ummi menuntun lengan Syifa untuk segera masuk ke dalam rumah sakit.
Syifa dan ummi segera beralih ke dokter kandungan yang sudah memiliki jadwal dengan Syifa. Karena memang ummi sudah mengatakan perlu hal kedatangan nya kepada dokter keluarga nya itu.
''Ayo masuk nak.'' Pinta ummi pada Syifa yang langsung mendapat persetujuan.
Syifa.
Syifa yang sudah masuk ia segera di bawa beralih untuk menjalani pemeriksaan dengan dokter terbaik itu.
Beberapa menit telah berlalu bahkan Syifa sempat mendapat beberapa pertanyaan yang dokter tujukan padanya.
Syifa kembali duduk dengan ummi ia bahkan meremas jemari nya karena merasakan sangat gugup.
Dokter wanita itu kini duduk dan menatap Syifa dengan senyum lebarnya.
__ADS_1
''Ibu Syifa, dari hasil pemeriksaan dan juga hasil USG kini dinyatakan jika ibu Syifa positif hamil.'' Ucap seorang dokter yang memeriksa Syifa dengan wajah senyum nya.
''Selamat ya bu, usia kehamilan anda kini menginjak empat minggu.'' Dokter itu mengulurkan tangan nya tanda selamat pada Syifa.
Syifa juga mengulurkan tangan nya dengan perasaan hari nya ia memeluk tubuh ummi yang kini tak kalah haru nya.
''Selamat sayang.'' Ummi mengusap punggung Syifa di sela-sela pelukan mereka.
...
Syifa dan ummi kini sudah kembali ke mobilnya untuk kembali melanjutkan perjalanan nya untuk ke panti.
Syifa masih belum menyangka jika dirinya sedang hamil karena ia masih merasa hal yang belum pernah ia bayangkan dengan waktu secepat itu ia ia akan mengandung darah daging nya.
''Kamu jangan terlalu capek ya, ummi tidak ingin jika kamu kenapa-kenapa.'' Tegas ummi mengingatkan.
Ummi terlihat sangat senang meski begitu ummi sedikit khawatir dengan kandungan Syifa yang masih terbilang sangat rawan.
Syifa hanya tersenyum meski begitu ia mengangguk. Syifa sendiri tidak ingin ada sesuatu yang terjadi pada calon anak nya.
Ia sangat berharap jika kandungan nya akan berjalan dengan lancar hingga nanti ia bisa memeluk bayi nya sendiri.
...
Lima belas menit telah berlalu kini mereka sudah sampai di depan panti asuhan milik Hanif. Syifa bahkan baru pertama kali ke sini karena selama ia tinggal di sini Hanif selalu sibuk dengan pekerjaan nya hingga saat ini. Pagi tadi saja ia sempat di buat kesal karena ia ingin di jalan-jalan tapi suaminya itu tidak bisa dan alhasil sekaranglah ia berjalan-jalan dengan ummi.
Rasa kesal pada suaminya hilang seketika saat ia mendengar ummi mengajaknya untuk pergi ke panti terlebih saat dirinya tahu jika saat ini Syifa sedang mengandung buah hati nya membuat Syifa merasa sangat bersyukur ia dapat hamil secepat ini.
''Ummi.'' Teriak para anak-anak kecil itu yang berlarian pada ummi membuat Syifa tersenyum seketika.
Terlihat senyum dari bibir mereka apalagi saat ummi menanyakan kabar mereka membuat Syifa teringat akan sosok Raja. Anak lelaki yang kini sudah berada dalam asuhan orang lain yang tak ia ketahui.
''Semoga kamu baik-baik saja Raja.'' Gumam Syifa dalam lamunan nya.
Kini Syifa dan ummi duduk di taman memperhatikan setiap tingkah anak kecil yang sangat menggemaskan berlarian ke sana kemari.
Syifa merasa sangat senang bahkan sering terlihat di sudut bibirnya ia tersenyum bahagia.
''Ini semua berkat kamu Syifa, kamu membuat kami sangat senang, kamu membuat Hanif sangat berubah.'' Ucap Ummi sambil melihat anak-anak itu.
Syifa menoleh ke arah ummi ia merasa sangat malu dengan pujian itu.
''Ummi berlebihan aku hanya menjalan kan diri sebagai tugas seorang istri ummi tak ada yang lebih.'' Syifa berkata karena ia merasa pujian yang ummi berikan padanya terlalu berlebihan.
''Hanif sudah menceritakan kenapa ia membangun sebuah panti ini. Panti yang kamu impian untuk melihat senyum setiap anak yang membutuhkan kasih sayang kita. Kamu sangat baik Syifa ummi sangat bangga sama kamu.'' Ummi kembali menyungingkan senyum nya.
''Semua karena mas Hanif ummi. Andai mas Hanif tak mengajakku ke panti. Mungkin aku juga tidak akan pernah memimpikan hal seperti ini.'' Ucap Syifa dengan lembut karena memang sebenarnya bukan Syifa tapi Hanif lah yang merubah Syifa menjadi lebih baik.
Ummi melempar senyumnya ia merasa sangat beruntung memiliki seorang menantu yang sangat rendah hati. Ummi hanya berpikir pantas saja Hanif mencintai Syifa sikap lemah lembutnya dan penuh kasih sayang membuat ia terlihat sangat spesial.
Setengah jam telah berlalu Hanif yang sudah selesai dengan pekerjaan nya ia segera pergi ke panti karena ummi memberitahu jika ummi akan membawa Syifa ke sana. Tak butuh waktu lama kini ia sudah sampai di depan panti.
Terlihat mobil ummi yang masih terparkir dengan rapih menandakan jika ummi masih berada di dalam.
Hanif segera berjalan menyusuri panti itu tapi kini tatapan nya tertuju pada dua orang wanita yang sedang duduk di taman.
__ADS_1
''Ummi.'' Ucap Hanif sambil meraih tangan ummi untuk menyalami nya.
''Sudah pulang nak?'' tanya Ummi karena kini masih siang.
''Udah ummi alhamdulillah semuanya sudah beres.''
''Mas ko ke sini?'' tanya Syifa sambil meraih tangan suaminya.
''Hoeekkk.'' Syifa kembali merasa mual saat mencium bau aneh dari tangan suaminya.
''Kamu kenapa sayang?'' Hanif sedikit khawatir.
''Tangan kamu bau aneh mas.'' Ucap Syifa sambil sedikit menjauhkan tangan suaminya.
Hanif yang mendengar perkataan Syifa ia segera mencium tangan nya dan yang ia cium hanya bau parfum seseorang mungkin seseorang yang tadi ia jabat tangan nya saat habis menemui pertemuan.
''Ini cuman parfum orang yang, lagian parfum laki-laki ko.'' Ucap Hanif sedikit khawatir jika Syifa berpikir ia menjawab lengan perempuan.
''Aku tahu mas itu parfum lelaki wangi nya aja bau laki-laki. Kamu cuci tangan sana.'' Syifa merasa kesal dengan ucapan Hanif yang menjelaskan bau laki-laki karena ia sendiri sudah mengetahui nya.
Sementara ummi hanya terkekeh melihat perdebatan di depan nya.
''Ummi malah tertawa sih.'' Hanif sedikit kesal karena ummi malah menertawakan dirinya.
''Lagian kamu gak peka.'' Kekeh ummi lagi membuat Hanif mengernyitkan kening nya karena tidak paham dengan ucapan ummi.
''Maksud ummi?'' tanya Hanif dengan polosnya.
''Ya kamu gak paham jika akhir-akhir ini Syifa suka mengomel tidak suka dengan bau parfum laki-laki karena ia sedang-'' Ucapan ummi terhenti karena Syifa langsung menepuk ummi artinya Syifa ingin memberitahu Hanif sendiri.
Tapi karena ummi sudah tidak sabar akhirnya ummi melanjutkan perkataan nya pada Hanif.
''Sedang hamil.'' Ummi berkata dengan senyum lebar.
''Ummi.'' Lirih Syifa karena rencana nya gagal untuk memberitahu Hanif sendiri.
Sementara ummi hanya terkekeh sambil menepuk Syifa.
''Benarkan sayang?'' Hanif sedikit terkejut dengan perkataan ummi dan balik bertanya pada Syifa.
Syifa hanya tersenyum dengan senyum penuh arti.
''Makasih sayang.'' Hanif segera memeluk Syifa tanpa aba-aba bahkan ia tidak sadar jika kini ia berada di depan ummi.
''Mas ummi.'' Syifa mengingatkan pelan.
Hanif segera melepas pelukan nya dengan perasaan malu karena ummi melihatnya.
''Udah gak apa-apa ko.'' Kekeh ummi karena ummi sendiri merasa sangat senang. Tak ada kebahagian yang lebih berharga saat melihat anak dan menantunya bahagia.
Hanif kembali melepas pelukan nya ia beralih memeluk ummi karena rasa senang nya.
''Udah-udah selamat buat kalian yang terpenting sekarang ummi ingin jika kalian menjaga kehamilannya.'' Ucap ummi tak kalah senang nya membuat Hanif dan Syifa mengangguk kan kepalanya.
......................
__ADS_1