
Pukul delapan pagi kini Hanif sudah memasuki daerah kota Bandung ia begitu tidak sabar karena ingin bertemu dengan istrinya hingga kini ia melewatkan makan pagi nya dan langsung saja menuju pondok pesantren dimana istrinya berada.
Jalanan yang cukup ramai dengan pengendara karena memang bertepatan dengan hari libur membuat suasana menjadi semakin ramai.
Kota Bandung dengan segala budaya Sunda yang masih melekat dengan banyak nya pohon membuat kota ini ini terlihat begitu asri dan membuat siapa saja yang pergi ke sana akan merasakan betah.
Hanya lima belas menit lagi saja ia akan segera sampai ke pondok. Hatinya kembali berdebar karena perasan rindu yang sudah sangat lama ia rasakan membuat dirinya selalu memperlihatkan senyum di bibirnya.
Kini Hanif pun telah sampai di depan gerbang pesantren dan segera memarkirkan mobilnya di depan rumah abah. Perlahan ia turun dari dari mobilnya dan berjalan menghampiri Yusuf yang sedang tersenyum kepadanya.
''Masyaallah.'' Yusuf segera memeluk tubuh Hanif yang baru saja menghampiri dirinya ia menepuk-nepuk punggung Hanif dan tertawa ringan. Karena perasaan senang nya melihat sahabat baiknya datang ke kediamannya.
''Apa kabar yus.'' Hanif melepas pelukan nya dan bersalaman dengan sahabat nya.
''Alhamdulillah seperti yang kamu lihat aku baik, apa kabar han? '' tanya Yusuf kembali bertanya keadaan dirinya dan sedikit mengobrol dan mempersilahkan Hanif agar segera duduk bersamanya.
''Bau-bau rindu nih?'' goda Yusuf dengan tawa nya.
Hanif sendiri tertawa dengan godaan Yusuf membuat dirinya sendiri menjadi malu.
''Apa kabar ummi dan abah?'' tanya Hanif ia mengalihkan pembicaraan.
''Alhamdulillah, tapi sekarang lagi keluar. Bagaimana kabar abi dan ummi mu?''
''Alhamdulillah baik.''
''Kamu mau ketemu Syifa langsung han?'' tanya Yusuf karena ia sendiri tahu maksud kedatangannya untuk menemui istrinya.
''Tentu, tapi aku mau ajak Syifa jalan sebentar tak apa kan?'' tanya Hanif pada Yusuf karena bagaimana pun Syifa adalah santri nya meski ia suaminya tetap saja selama Syifa berada di pondok ia harus mematuhi aturan.
''Tentu. Kamu adalah suaminya. Apa perlu di panggilkan?''
''Gak usah Yus biar aku sendiri ke sana.''
__ADS_1
Setelah mereka melanjutkan obrolan ringan Hanif memutuskan untuk segera menemui istrinya karena kini ia merasa sedikit lapar.
Hanif berjalan ke arah taman yang akan menghubungkan dengan kamar Syifa ia tidak ke kamarnya namun menunggunya di taman sambil melihat area pesantren.
Pesantren dimana dulu ia menimba ilmu yang selalu membuat nya rindu akan suasana yang selalu membuatnya tenang. Hanif memilih pesantren Nurul Huda karena tidak terlalu jauh dengan kediaman dan karena usulan paman nya juga yang memberitahu agar ia mondok kesini. Dimana ia pertama kali menimba ilmu saat ia masih remaja, Paman Amar lah yang selalu mengajarkan agar ia menjadi seorang yang mandiri membuat Hanif yakin jika dirinya akan mempu menjadi diri yang lebih baik lagi.
Abi dan Ummi nya sendiri selalu mendukung apa yang putranya inginkan selama baik untuknya.
Bayangan masa lalu kini seakan menghampiri dirinya ketika ia pertama kali menginjakan kaki di halaman rumah abah di sambut oleh Yusuf yang bahkan dirinya belum mengenal ia sama sekali.
Hanif kembali mengedarkan matanya ke arah kamar dimana istrinya berada ia memutuskan untuk menelpon Syifa agar ia segera keluar menemuinya.
Suara sering ponsel Syifa membuat ia segera bangun dari tidurnya Syifa hanya menghabiskan hari ini dikamar dan membaca buku.
''Assalamu'alaikum mas?'' ucap Syifa sedikit pelan karena ia tidak ingin ke tiga sahabatnya mendengar percakapan mereka dan malah akan menggodanya.
''Waalaikumsalam. Yang kamu lagi dimana?''
''Aku lagi di kamar mas.'' Jawab Syifa berbisik.
''Hmmm.'' Syifa menanggapi dengan gumaman namun tetap pelan.
''Suara nya kurang jelas, kamu keluar dulu biar kita enak ngobrolnya.''
Hanif dengan setia menunggu kedatangan Syifa ia terus saja menatap pintu yang tepat lurus berada tak jauh dari tempat ia berdiri.
Syifa segera bangun dari duduknya ia merasa jika Hanif ingin berbicara serius dengan nya atau entahlah namun tanpa menjawab ia segera memakai kembali kerudung instan yang ia simpan di atas lemari dan dengan cepat berjalan ke luar kamarnya.
''Fa kamu mau kemana?'' tanya Arin karena melihat Syifa berjalan ke luar kamar mereka.
''Bentar.'' Syifa memperlihatkan ponselnya tanda jika Hanif sedang menelpon dirinya.
Ia segera keluar dan menempelkan kembali ponsel ke telinganya agar mendengar perkataan dari suaminya.
__ADS_1
Sesaat ia baru saja keluar kamar ia melihat ke area taman dan melihat sosok lelaki yang sangat ia rindukan.
''Mas.'' Ucap Syifa karena kini tatapan mereka saling bertemu. Hanif tersenyum kepada Syifa dan melambaikan tangan nya.
Syifa segera berjalan ke arah Hanif dan segera memeluk tubuh lelaki yang sangat ia rindukan.
Mereka saling memeluk satu sama lain melepas rindu yang telah lama mereka tahan.
''Aku rindu.'' Syifa berkata lirih dengan derai air mata yang tak bisa ia tahan. Syifa tak bisa menyembunyikan perasaan rindu nya hingga ia melupakan jika pernikahan mereka belum di ketahui orang.
Hanif hanya tersenyum bukan Syifa saja bahkan dirinya sendiri sangat merindukan wanita yang sudah sejak lama mengisi hatinya.
''Mas juga rindu sayang.'' Hanif menciumi puncak kepala Syifa ia sangat bersyukur karena dapat kembali bertemu dengan istrinya.
''Mas bohong. Kalau rindu mas sudah datang dari kemarin.'' Syifa melepas pelukannya dan kembali menatap wajah Hanif dengan perasaan sedikit kesal.
Hanif hanya terkekeh melihat tingkah Syifa. Betapa ia sangat bersusah payah menahan rasa rindu yang selalu ia rasakan hanya untuk menjaga agar Syifa tidak mendapat tudingan yang tidak benar hingga ia lulus nanti. Betapa ia sangat sayang pada wanita yang kini memanggil dirinya dengan kata mas hanya ia yang selalu berada dalam setiap doa dan permohonan nya kepada sang Khalik.
''Maafin mas sayang tapi mas juga sangat rindu.'' Hanif menarik kembali Syifa ke dalam dekapannya hanya perasaan nya yang dapat berbicara betapa ia merindukan wanita yang kini dalam pelukannya.
Untung saja suasana yang sepi membuat mereka bebas melepas rindu yang sudah lama mereka rasakan.
Terdengar suara perut Hanif yang meminta untuk di isi membuat Syifa melerai kembali pelukan nya.
''Mas lapar?'' tanya Syifa polos dan menunggu jawaban dari suaminya.
Hanif hanya tertawa kecil karena pertanyaan yang Syifa tujukan padanya.
''Kenapa mas gak makan dulu.'' Ucap Syifa dengan menautkan alisnya.
''Ya sudah kamu temani mas makan ya.'' Ajak Hanif berjalan ke arah mobil yang ia parkir di depan halaman abah.
Sementara Syifa ia hanya mengikuti langkah kaki suaminya tanpa sedikit pun penolakan yang ia katakan.
__ADS_1
Bahkan dengan senang hati Syifa menerima ajakan dari suaminya.
......................