Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 109


__ADS_3

Ada rasa canggung di antara mereka entah kenapa mulut mereka terasa kelu hanya untuk saling mengungkap kan perasaan yang kini mereka rasakan.


''Saya harus kembali Ustadz.'' Arumi segera berjalan melewati Ustadz Yusuf yang masih saja berdiam mematung.


Arumi berjalan dengan langkah yang kini terasa berat. Ia bingung harus menjelaskan seperti apa pada ke tiga sahabatnya ia sendiri menerima lamaran ini karena ia merasa tak bisa menolak lamaran yang Ustadz Yusuf berikan pada dirinya.


Jangan tanyakan hatinya bahkan kini hatinya merasa beku entah kenapa ia sendiri tidak tahu cinta bukanlah hal mudah untuk ia ungkapkan ia sendiri belum bisa menerima Yusuf karena hatinya memang belum bisa mencintai Ustadz Yusuf ia hanya akan menjalani sebagimana Allah memberikan jalan kehidupan pada nya. Andaikan memang Ustadz Yusuf adalah jodohnya ia akan menerima segala kemungkinan yang akan terjadi dalam hidupnya.


Arumi membuka pintu kamar dengan perlahan ia sangat berharap jika ke tiga sahabatnya sudah terlelap.


Perlahan ia mendorong pintu dan masuk ke dalam kamarnya seperti orang yang hendak mencuri karena ia mendapati ke dua sahabatnya sedang terlelap sementara ia sama sekali tidak melihat Syifa.


Arumi segera berjalan ke kasur nya dan merebahkan tubuh nya karena ia tidak ingin membuat kedua sahabatnya terbangun dan berusaha memejamkan matanya berharap esok hari tidak akan terjadi apa-apa lagi dalam hidupnya.


.


.


''Mas aku harus kembali.'' Ucap Syifa karena sejak tadi ia mengobrol dengan suami di halangi oleh hijab pemisah untuk santri dan santriwati.


''Iya sayang, oh ya mas sepertinya akan kembali nanti menjelang subuh soalnya ada keperluan yang harus mas segera selesaikan kamu tidak apa-apa kan?'' tanya Hanif karena ia sendiri sebenarnya masih ingin bersama istrinya tapi ia juga khawatir jika kehadiran dirinya di pondok membuat mereka mendapat curiga


''Iya gak apa-apa mas.''


''Terima kasih yang, Ya sudah biar aku antar sampai depan sepertinya sekarang sudah sepi.''


Mereka pun berjalan ke arah pintu yang berbeda dan bertemu di depan halaman masjid.


Hanif kembali tersenyum mendapati Syifa yang kini setia menunggu nya.


Hanif berjalan lebih dekat ke arah Syifa dan mengusap puncak kepalanya dengan lembut.

__ADS_1


''Kamu hati-hati disini mas tidak bisa menemui seperti yang dulu mas janjikan.''


''Maaf karena mas tidak ingin jika orang menaruh curiga kamu harus sabar ya.'' Hanif mencium punggung tangan Syifa dan merengkuh tubuh kecil istrinya.


Syifa tak bisa berkata-kata ia sendiri kini merasa sedih mungkin apa yang Hanif katakan akan terjadi nanti. Ia harus menerima jika memang Hanif akan jarang sekali mengunjungi dirinya.


''Mas sayang sama kamu.'' Ucap Hanif yang mencium puncak kepala Syifa karena kini ia melihat tubuh mungil istrinya seperti bergetar karena tangis.


Syifa tidak menjawab ia hanya mengangguk dan semakin mempererat pelukan nya.


Beberapa menit berlalu kini Syifa melepas pelukan nya setelah ia merasa lebih tenang.


''Mas harus hati-hati di jalan esok hari.''


Hanif kembali tersenyum karena melihat wajah istrinya yang memerah karena tangis.


''Iya sayang tentu. Ya sudah kamu harus segera kembali ke kamar.''


Syifa menganggukkan kepalanya dan berlalu dari hadapan suaminya.


Andai saja ia sudah lulus ia tak akan perlu menahan rindu yang sangat berat ia hanya berharap jika waktu akan berputar dengan cepat sehingga ia bisa bersama kembali dengan keluarganya.


Syifa melangkah kan kakinya ke arah kamar dan segera membuka pintu yang memang masih belum terkunci.


Ia masuk dengan perlahan namun ia mendapati Arumi yang kini terbangun dari tidurnya.


Arumi terbangun lagi karena ia memang belum bisa memejamkan matanya karena kantuk dari matanya seolah hilang begitu saja pikirannya sejak tadi tak karuan ia selalu memikirkan lamaran yang baru saja ia terima.


Arumi ingin sekali bercerita kepada Syifa karena ia merasa tidak enak hati karena ia telah menerima lamaran dari Ustadz Yusuf meski ia sudah tahu jika Syifa sudah menikah dengan Ustadz Hanif.


''Kamu belum tidur Arumi?'' tanya Syifa karena kini Arumi malah mendekat ke kasur dirinya.

__ADS_1


''Kamu habis menangis fa?'' Syifa kembali menatap Arumi dengan senyum yang ia tampilkan.


''Kamu boleh ko cerita sama aku fa.'' Ucap Arumi karena ia tahu Syifa tak akan mungkin langsung menceritakan kesedihan nya pada dirinya.


''Enggak ko Arumi aku hanya sedikit lelah.'' Ucap Syifa berbohong karena saat ini ia hanya ingin menenangkan pikirannya yang kini terasa berat di kelapanya.


Arumi menarik napasnya panjang ia tahu jika Syifa kini bersedih dan sudah jelas karena Ustadz Hanif lah alasan kenapa Syifa bersedih ia hanya berharap tak ada masalah serius di antara mereka.


''Ya sudah kalau kamu mau istirahat.'' Arumi kembali ke kasur nya ia bahkan mengurungkan niat nya untuk menceritakan pertunangan dirinya dengan Ustadz Yusuf karena ia tidak mungkin menceritakan hal itu sekarang.


Syifa merebahkan tubuhnya dan memalingkan pandangan nya dari arah sahabatnya ia tidak ingin jika Arumi melihat ia bersedih.


Syifa menatap dinding kamar tidurnya pikirannya kembali melayang mengingat kebersamaan dirinya dengan Hanif ia sangat ingin bersama ia ingin selalu bersama. Bukankah hal wajar jika seorang istri ingin selalu berada di samping lelaki yang kini telah menjadi suaminya.


Waktu telah berlalu entah berapa lama Syifa merenungi kehidupan dirinya hingga kini ia terlelap. Bahkan rutinitas shalat sunnah nya saja ia tinggalkan karena ia tertidur di larut malam.


.


.


Terpaan angin yang terasa menusuk ke kulit tubuhnya dengan suara hewan-hewan malam yang kini saling bersahutan mengisi kesunyian malam.


Yusuf sejak tadi ia duduk di balkon kamarnya ia tidak bisa tidur matanya seolah mengajak dirinya agar tetap terjaga.


Ia terus saja terbayang wajah wanita yang kini telah resmi menjadi calon istrinya. Semudah itu Allah mengirimkan pengganti dari wanita yang telah halal untuk sahabatnya dengan menggantikan Arumi sebagai calon istrinya kini.


Hati yang kini baru sembuh dari luka kini sempurna telah terobati meski ada satu halangan karena ia dan Arumi belum saling mencintai. Namun Yusuf akan berusaha menerima kehadiran Arumi jika memang benar ia jodoh yang Allah berikan untuk nya.


Yusuf masih belum menyangka ia sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi dalam hidupnya.


Yusuf hanya berharap semoga kebaikan yang akan menemani langkah nya dengan ridho Allah yang selalu menyertai ia dan juga Arumi kelak.

__ADS_1


Yusuf kembali masuk ke dalam kamarnya dan berniat untuk melaksanakan shalat ia ingin mengadukan perasaan nya kepada sang Khalik berharap Allah menunjukan jalan terbaik untuk dirinya.


......................


__ADS_2