Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 32


__ADS_3

Syifa sedang duduk di pinggir kelasnya, ia mulai mempelajari beberapa pelajaran untuk mengikuti ujian susulan.


Syifa memejamkan matanya kembali, ia berusaha mengingat dan beberapa kali menoleh bukunya.


Hingga ada kupu-kupu berterbangan di depannya, Syifa pun merogoh ponselnya ia memotret beberapa kali kupu-kupu itu.


''Sangat indah,'' sahut Syifa setelah kupu-kupu itu pergi.


Yusuf yang telah berada di hadapannya mendengar apa yang Syifa katakan.


''Aku juga menyukai kupu-kupu itu tapi segala sesuatu yang indah dia meninggalkan ku,'' tutur Yusuf yang memandangi langit yang cerah.


''Ustadz, sejak kapan Ustadz datang?'' tanya Syifa yang melihat Yusuf tengah berdiri di sampingnya.


Yusuf tertegun ia tak sadar apa yang telah ia katakan.


''Mmm apa kabar Syifa?'' tanya Yusuf mengalihkan pembicaraannya.


''Alhamdulillah Ustadz aku baik-baik saja.''


''Ustadz saya...'' Syifa tak bisa melanjutkan perkataannya, ia merasa sangat gugup untuk pertama kalinya ia merasakan seperti itu, biasanya Syifa selalu lebih banyak bicara ketika bertemu dengan Ustadz yusuf.


''Iya?'' Yusuf mencoba mendengarkan perkataan Syifa.


''Mmm saya hanya ingin mengucapkan Terimakasih.'' Syifa tersenyum manis ia memandangi Ustadz Yusuf dan menundukkan pandangannya kembali.


''Terima kasih untuk apa?'' Tanya Yusuf yang menaikan sebelah alisnya, ia tidak mengerti kenapa Syifa berterima kasih.


''Terima kasih karena Ustadz telah menolong saya,'' ucap Syifa pelan namun terdengar jelas di telinga Yusuf.


Yusuf tersenyum ia mengerti apa yang Syifa katakan, ia sangat ingin berkata jika ia tak akan membiarkan seorang pun menyakitinya namun tak mungkin baginya mengatakan seperti itu.


Yusuf pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


''Mungkin dengan melihat mu bahagia aku akan lebih bahagia Syifa.'' lirih yusuf dalam hatinya, ia pun berjalan masuk ke kelas meninggalkan syifa.


Syifa pun tersenyum ia sangat bahagia karena Ustadz Yusuf tak pernah berubah meskipun, ia tidak bisa menerima lamarannya dan setelah Ustadz Yusuf tahu jika Syifa telah menerima lamaran Ustadz Hanif. Ustadz Yusuf tak pernah sedikit pun berubah atau memperlihatkan kekecewaannya.


Syifa pun masuk ke kelas ia segera mengikuti ujian susulan nya. karena selama tiga hari ia tertinggal ujian dan selama tiga hari pula Ia akan mengikuti ujian susulan.


Banten.


Hanif telah selesai mengajar ia memutuskan untuk pulang ke rumahnya.


Terlihat bi Lastri yang sedang merapikan bunga-bunga di halaman.

__ADS_1


''Aden udah pulang?'' Tanya bi Lastri dengan ramah.


''Iya bi, kenapa dengan bunga-bunganya?'' Tanya Hanif karena terlihat bi Lastri memindahkan bunga kesukaan ummi kedalaman pot kecil.


''Ummi suruh bibi untuk memindahkannya den, katanya mau di taruh di dalam rumah.'' Sahut bi Lastri menjelaskan.


Hanif hanya mengangguk, Ia pun membuka pintu rumah tapi ternyata di dalam ummi dan Abi seperti sedang menunggunya.


''Kamu sudah pulang han, tanya ummi yang sedang duduk berdampingan dengan Abi.


''Iya ummi karena memang hari ini hanya ujian saja, jadi gak terlalu lama, apa abi baik-baik saja kan?'' tanya Hanif yang merasa abi dan ummi nya akan berbicara sesuatu.


''Alhamdulillah abi baik ko, abi hanya ingin berbicara.'' Sahut abi yang menjawab pertanyaan Hanif.


''Abi mau kamu menikah di bulan depan han''


Hanif terkejut ia sendiri belum memikirkan kapan ia akan menikah.


''Abi apa ini tidak terlalu terburu-buru?'' tanya Hanif karena ia merasa jika sebulan lagi itu waktu yang sangat singkat.


''Tentu tidak han, abi tidak mau jika kamu terlena hubungan antara lawan jenis, jika belum terikat pernikahan itu tidak di benarkan dalam agama kita, tentunya kamu tahu itu kan, lagian bukankah kamu sudah meminta restu dari kami? abi hanya berharap jika kamu segera untuk menikah saja, itu lebih baik.'' Tutur abi panjang lebar.


''Tapi... Hanif rasa itu tidak mungkin bi,'' lirih Hanif pelan, ia tak ingin jika abi dan ummi nya kecewa ia tahu benar jika abi dan ummi nya sangat berharap agar Hanif segera menikah.


''Kenapa tidak mungkin han, semua itu kehendak Allah han, abi akan selalu mendukungmu selama itu dalam kebaikan.''


''Kalau begitu biar kita temui keluarganya, abi hanya tidak ingin kamu terjerumus dalam dosa han, setiap hubungan yang belum terikat pernikahan tidak pernah di benarkan dalam agama kita.'' Tutur abi mengingatkan.


Hanif tak mampu berkata lagi apa yang di katakan abi memang benar namun apakah Syifa akan siap jika menikah dalam waktu dekat.


Bandung.


Yusuf membuka buku di depannya untuk sedikit mengalihkan pandangannya, ia sangat merasa tak nyaman jika harus berlama-lama di ruangan apalagi berdua bersama Syifa.


Syifa yang telah selesai mengerjakan ujian pertamanya ia menghampiri meja Yusuf.


''Ustadz ini lembar jawaban saya, boleh saya minta ujian yang satu lagi?'' tanya Syifa sedikit gugup.


''Istirahat lah dulu biar nanti kamu lanjutkan.'' Kata Yusuf yang tak beralih dari buku di tangannya.


Syifa yang mendengar kata-kata yusuf ia tak menyerah begitu saja, ia hanya ingin menyelesaikan ujiannya sekarang.


''Tapi Ustadz, biar aku kerjakan sekarang. lagian aku belum cukup lapar.'' Syifa memberi alasan.


Yusuf tak percaya dengan apa yang ia dengar ia pun menengadahkan pandangannya sehingga membuat tatapan mereka pun saling bertemu, ingin rasanya ia mengatakan tidak agar Syifa beristirahat, tapi tidak dengan hatinya, ia tak bisa menolak permintaan dari wanita yang dihadapannya itu, Yusuf pun menganggukkan kepalanya sebagai tanda ia membolehkan Syifa melanjutkan kembali ujiannya.

__ADS_1


Ia pun segera mengambil lembar ujian selanjutnya untuk syifa kerjakan.


.


.


''Assalamualaikum ummi?'' Salam Nurul yang melihat ummi sedang akan masuk kerumahnya.


''Waalaikumusalam Nurul, ada apa nak?'' tanya ummi dengan lemah lembut.


Nurul memang sudah sangat dekat dengan ummi ia mondok sejak duduk di bangku Mts namun karena kedua orang tua Nurul yang meninggal karena kecelakaan, Nurul keluar dari pondok pesantren karena ia harus ikut dengan tantenya.


Nurul memang santriwati yang terbilang penuh dengan prestasi ia selalu mengikuti lomba di berbagai mata pelajaran, ia juga adalah seorang Hafidz Quran membuatnya sangat terlihat sempurna.


Namun, setelah dewasa Nurul memutuskan untuk kembali kerumahnya yang letaknya tak terlalu terjauh dari dari alun-alun kota Bandung hingga akhirnya Yusuf bertemu dengannya dan mengajaknya untuk mengajar kembali.


''Nurul hanya ingin mencari Ustadz Yusuf ummi karena tadi ada seorang tamu yang mencari Ustadz Yusuf,'' tutur Nurul menjelaskan kedatangannya.


''Oh Yusuf, sepertinya dia tidak ada di rumah, soalnya ummi kunci rumahnya, mungkin dia ada di kelasnya.'' Tutur ummi yang menebak keberadaan putranya.


''Baik ummi kalau begitu Nurul pamit, assalamualaikum'' Nurul pun segera berlalu ia tak ingin jika tamunya menanti terlalu lama.


Nurul pun segera ke kelas Yusuf, ia menyusuri jalan dan terlihat jelas Yusuf yang sedang diam di dekat pintu kelas nya.


''Ustadz.'' Nurul memanggil Yusuf yang sedang memainkan ponselnya.


''Oh iya ada apa?'' Tanya Yusuf yang melihat kedatang Nurul secara tiba-tiba.


Nurul pun menyampaikan maksud kedatangannya kepada Yusuf, karena ia pun tak mengenali sosok tamu yang sedang mencari Yusuf.


''Oke suruh dia menunggu di ruangan saya, mungkin sebentar lagi lagi saya akan ke sana.''


Nurul pun mematuhi perintah Yusuf dan ia pun berlalu.


''Apa masih banyak?'' tanya Yusuf yang menghampiri meja Syifa.


''Sedikit lagi Ustadz'' Syifa terus fokus pada lembaran soal di tangannya.


''Syifa saya ingin berbicara sama kamu.''


''Ustadz silahkan bicara saja,'' mata Syifa terus melihat lembar soalnya ia tak sedikitpun beralih.


''Apa kamu benar mencintai Hanif?''


''Ustadz,'' Syifa kaget dengan pertanyaan Ustadz Yusuf, sungguh ia merasa ingin tertawa di saat seperti ini Ustadz Yusuf masih bisa mempertanyakan perasaannya.

__ADS_1


''Jika Hanif hanya mempermainkan mu, aku akan pastikan kamu akan menjadi istriku.''


Syifa menatap Ustadz Yusuf ia tak habis pikir dengan apa yang di katakan Ustadz Yusuf padanya.


__ADS_2