Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 73


__ADS_3

Beberapa menit berlalu akhirnya sepasang suami istri itu pun telah sampai di sebuah restoran khas Sunda.


Hanif memarkirkan mobilnya perlahan ia pun segera turun dari mobilnya dan berjalan beriringan dengan Syifa yang kini bergelayut manja di lengan suaminya itu.


''Selamat siang Pak Hanif.'' Tutur pelayan yang membukakan pintu untuknya.


Hanif pun menanggapi dengan senyuman yang kemudian berlalu ke dalam restoran yang terlihat sangat ramai. Sementara Syifa ia berlalu begitu saja tanpa menanggapi sapaan yang tertuju pada suaminya. Ia merasa risih karena pelayan wanita itu menyapa dengan lembutnya dengan senyum yang ia tujukan pada suaminya.


''Kalian sudah saling kenal mas?'' tanya Syifa yang sudah melewati pelayan itu namun masih bergelayut di lengan Hanif karena ada beberapa pelayan lain yang juga terus menatap ke arah mereka bahkan tidak sedikit dari mereka yang melempar senyum pada Hanif.


''Lumayan. Mereka ngefans sama aku yang.'' kekeh Hanif mengerjai istrinya. Hanif merasa suka ketika ia melihat Syifa yang terlihat cemburu ia sengaja tidak memberi tahu jika kini mereka tengah berada di restoran milik Hanif.


''Kita cari restoran lain aja yuk mas, aku gak nyaman.'' Ucap Syifa meminta agar Hanif memilih restoran lain.


''Gak papa yang biarin aja, lagian di restoran ini makanan nya enak-enak sayang.'' Hanif berusaha menahan Syifa agar tidak terus memaksanya agar pindah ke restoran lain.


Syifa hanya bisa pasrah ia pun tidak mempunyai pilihan lain dan duduk bersama Hanif.


''Kamu mau pesan apa yang?'' tanya Hanif menatap Syifa.


''Apa aja yang kamu pesan aku bakal makan.'' Ucap Syifa tak ambil pusing ia hanya ingin segera keluar dari restoran yang membuatnya cukup merasa gerah.


Hanif pun memesan berbagai makanan untuknya dan juga untuk Syifa dengan menu hidangan yang berbeda-beda.


Tak lama kemudian makanan yang telah Hanif pesan pun segera datang. Seorang pelayan itu menyajikan di meja bos nya dengan senyum mengembang di bibirnya karena baru pertama kali mereka melihat bos nya itu makan di restorannya dengan seorang wanita.


''Silahkan Pak.'' Ucap seorang pelayan wanita yang kemudian berlalu dari hadapan mereka.


Syifa hanya berdecak kesal dengan pemandangan yang sejak tadi membuat mood nya menjadi hancur.


Hanif pun mengusap punggung tangan Syifa yang terlihat begitu kesal.


''Kamu kenapa sayang? mau aku suapin?'' tanya Hanif yang menahan tawanya karena Syifa begitu terlihat kesal.


''Mas aku gak suka disini.'' Tutur Syifa yang sejak tadi tidak nyaman dengan para pelayan restoran yang mereka kunjungi.


Hanif tak bisa lagi membuat Syifa terus terlihat kesal ia pun mengambil tangan Syifa kembali.

__ADS_1


''Karena para pelayan itu? Jadi kamu gak mau ikutin mau suami kamu gitu?'' Tanya Hanif yang menahan tawanya.


''Mas, kali ini saja. aku kesal mas.'' Syifa mengerutkan kening nya bukannya berselera makan yang ada selera makannya juga hilang.


Hanif pun tersenyum melihat Syifa yang berbeda dalam dirinya.


''Mereka semua pekerja aku sayang. ini restoran milik aku jadi wajar jika mereka mengenal aku bukan?'' ucap Hanif yang merasa gemas karena ternyata Syifa cemburu padanya.


''Mas gak asik tahu bohong sama aku percuma. pokonya aku ganti restoran.''


Hanif pun tertawa kembali dan mengecup lengan Syifa yang kemudian menunjuk nama restoran yang terpampang nama belang Hanif saja.


''Ih mas, kamu nyebelin banget sih.'' Syifa pun mengerucutkan bibirnya karena kesal.


.


''Kita pulang yuk ian aku udah kenyang.'' Ucap Lita yang sudah ingin segera keluar dari restoran yang sejak tadi membuatnya kembali sesak.


Lita yang baru saja merasa sedikit lega dan tidak memikirkan Hanif namun apa daya takdir kembali mempertemukan mereka kembali.


Lita yang sejak tadi melihat kemesraan Hanif dan juga istri barunya itu di buat kembali merasa sesak di dadanya.


Pandangannya terus saja tertuju pada kedua pasangan yang kini terlihat sangat mesra. Rian pun mengikuti arah sorot mata Lita.


'''Kenapa harus dia yang kamu cinta ta, apa kamu tidak sedikitpun memberikan hati kamu untuk aku.'' Rian berkata dalam hatinya untuk ke sekian kali ia menatap wajah wanita yang kini ia cintai bersedih.


''Ta.''


Lita pun menatap kembali wajah lelaki yang sejak tadi bersamanya.


''Aku ingin kamu kembali bersama aku ta, biarkan aku menghapus segala luka mu, aku mencintaimu Lita.'' Rian berkata lirih sungguh hatinya lebih perih melihat Lita yang selalu berharap pada lelaki yang tak pernah memberikan hatinya kembali.


''Aku gak bisa Ian.''


''Kenapa? apa kurang aku ta di banding lelaki yang tak pernah menganggap mu?'' Rian merasa frustasi ia hanya tidak ingin melihat Lita kembali bersedih.


''Aku ingin pulang ian. Aku mohon jangan paksa aku seperti ini.'' Lita pun segera berdiri dari duduknya hatinya sangat perih mendapati kenyataan yang begitu menyayat hatinya.

__ADS_1


Rian pun segera mengikuti Lita yang sudah lebih dulu meninggalkan nya.


Ia pun mengusap punggung Lita yang diam di depan restoran itu dengan linangan air mata yang bercucuran yang entah kapan air mata itu akan berhenti.


''Aku mohon ta jangan seperti ini.'' Rian pun memeluk Lita yang kini masih terisak.


''Biarlah aku hanya akan menjadi obat untukmu ta, aku akan sabar menanti hingga kamu mampu membuka hati untukku ta, aku sangat mencintai kamu.''


Beberapa menit telah berlalu hanya keheningan di antara mereka berdua.


Lita masih terdiam meski ia kini tidak menangis lagi membuat Rian sedikit bernapas lega.


''Kamu mau pulang ta?'' tanya Rian pada wanita yang kini masih terdiam mengalihkan pandangan ke jalanan.


''Aku gak mau pulang ian.''


Rian menarik napasnya berat sungguh ia bingung dengan keadaan seperti ini.


''Kamu mau kemana?''


''Apakah pantas jika aku mengejar cinta yang tak mungkin aku dapatkan lagi ian.'' Tanya Lita yang kembali menangis.


''Ta, sadar dia sudah menikah. aku tak akan biarkan kamu mengejar dia lagi ta,''


Lita menggeleng ia tidak bisa hatinya sangat mencintai Hanif dan itu akan tetap sama meski ia sudah menikah.


''Aku bersedia jadi istri keduanya.''


''Kamu gila ta.'' Rian sedikit menaikan suaranya ia sangat tidak menyangka begitu besarnya cinta Lita pada lelaki yang sudah berapa kali Menyakitinya.


''Ya ian aku sudah gila karena aku mencintainya, sangat.''


Rian tertawa miris dengan keadaan wanita yang selalu mengisi hatinya ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi hanya harapan yang mungkin harus ia kubur dalam. itulah kenyataan yang harus ia dapatkan.


''Aku mencintai kamu ta, berulang kali aku bilang itu tapi tak sedikitpun rasa cinta yang kamu berikan.''


Rian pun melajukan mobilnya kembali untuk mengantar Lita pulang bagaimana pun ia tetap peduli meski berulang kali bahkan sampai saat ini ia tetap mencintainya.

__ADS_1


......................


__ADS_2